Genre : Romance
Length : Short Story
Rating : M
Author : Nanahira Ichi
Cast : Naomi
Character :
1) Iwahashi Genki a.k.a Kiriyama Shota, Jinguji Yuta a.k.a Hamada Yuta, Kishi Yuta a.k.a Oonishi Yuta
2) Miyachika Naomi a.k.a Miyachika Ren,
3) dll
Keterangan : Menggunakan ucapan untuk menggambarkan kejadian di masa lampau dengan menggunakan tinta Biru Muda.
OKEE, HAJIMEMASHOU :))
Episode Sebelumnya di Kirakira Taiyou no You ni Klik Here >>
~~
Setelah lama berbincang, akhirnya kami berdua sampai di sekolah. Dan suasana sekolah sudah sangat ramai sekali. Beberapa orang anak mulai menyapa kami berdua. Dan tak banyak dari mereka, selalu menyapa Oonishi~ aku serasa berjalan dengan orang populer.
"anoo Oonishi, apa kau tidak ingin bergabung bersama yang lainnya?" tanyaku pelan
"tidak, sendirian mungkin lebih baik" jawabnya kembali tersenyum
Aku mengerti, dan tetap melanjutkan perjalanan menuju kelas.
Di depan kelas tanpa sengaja bertemu langsung dengan Shota dan Miku-nii. Mereka menghentikan langkah seketika di depan pintu.
"Ohayou, Ren.." sapa Shota dengan suara lembutnya
"aa~ Ohayou mo, Shota.." aku mulai terlihat gugup
Dan tanpa mengatakan apapun mereka berdua segera meninggalkan kami dan masuk lebih awal ke dalam.
Doushita?
Tiba-tiba saja aku merasa jarak diantara kami semakin jauh
"Ren, ayo masuk!" Oonishi mengajakku masuk ke kelas. Dan aku mengikutinya.
Pagi itu aku mulai melihat Shota. Mereka terlihat bahagia sekali sambil tertawa di tempat duduk. Pagi itu ingin mengatakan, "apa tak ada tempat kosong yang bisa kududuki dipertengahan mereka?"
"apa yang kau lihat Ren?" tanya Oonishi tiba-tiba yang duduk di sebelahku
"be-betsuni" jawabku menggelengkan kepala
"apa kalian bertiga berteman akrab waktu di sekolah sebelumnya?" Oonishi melihatku
"unn~"
"aku ingin tau, bisa ceritakan sedikit padaku? Atau kau ingin bergabung bersama mereka?"
Pertanyaan Oonishi tiba-tiba membuat berdetak jantungku. Dia selalu bisa mengetahui apa yang kupikirkan. Banyak pertanyaannya membuatku tak bisa berbohong dan terpaksa memilih untuk tidak menjawab apa-apa daripada harus berbohong padanya. Namun,
"bukan, kami sama sekali tidak sekelas. Tapi aku senang melihat mereka seakrab itu" jawabku
Oonishi menganggukkan kepalanya dan mengetupkan bibirnya.
Dia bersikap seolah mengerti lagi.
Dan di kediaman pagi, tiba-tiba saja aku melihat Hamada dan beberapa anak lainnya masuk ke kelas sambil bersorak sangat bersemangat. Aku menatapi Hamada, Lewat di dekat tempat dudukku. Aku rasa dia akan menyapaku seperti halnya yang kemarin, tapi.. dia hanya melihatku seakan sama sekali tak mengenali.
Wajahnya yang terlihat tanpa ekspressi apa-apa hanya melewati tempat dudukku, dan bersama dengan yang lainnya segera mencari tempat duduk di belakang.
"Ren, jangan melihatnya.." bisik Oonishi
"kenapa?" aku masih melihat Hamada yang terlihat sangat nakal pagi itu
Oonishi menggelengkan kepalanya, dan menjawab "aku rasa bagaimanapun dia takkan mengenali kita"
"hah? kenapa? Bukankah kita teman satu kamar?"
"aku tidak tau, tapi di kelas aku tak pernah berusaha menyapanya"
"Hamada! Apa yang dipikirkannya? Apa dia malu berteman dengan kita? Hanya karena dia dijuluki orang populer?" ucapku balik sedikit kesal
Tapi Oonishi hanya tersenyum, "sudahlah, mungkin ada alasan lain yang membuat dia seperti itu. Biarkan saja.."
"tidak bisa begitu! Bagaimanapun itu termasuk hal yang jahat!" aku mulai meninggikan tingkat suaraku. Segera berdiri dan memukul meja. Melihat semua orang memperhatikanku. Kemudian aku menatap tajak ke arah Hamada. "Oi Hamada!! Apa kau tak mengenali kami??" bentakku
Hamada dan yang lainnya terdiam dan melihat balik ke arahku. Dan Hamada menaikkan sedikit senyumannya.
"kau.. Siapa?" ucapnya sangat menjengkelkan
"Hamada Yuta yang kukenal tak sesombong kau!!!!"
"Apa kita kenal?" Hamada melirik beberapa temannya dan tertawa bersama seperti sedang melecehkan perkataanku.
Membuatku semakin kesal dan ingin berjalan bersama kemudian memukulnya.
"Ren! Tenanglah!!" bentak Shota dari tempat duduknya
Aku terdiam seketika. Semua mata tertuju ke arah Shota. Wajah Shota terlihat marah sekali.
Ada apa?
Bukankah yang salah itu Hamada?
Kenapa semua orang menatap benci ke arahku?
"sebenarnya ada apa? Aku ingin tahu.." bisikku pada Oonishi
Ia hanya tersenyum dan bilang tak ada hal apa-apa, dan itu membuatku semakin tidak mengerti. Yang pada akhirnya tetap tenang di kelas dan mengikuti pelajaran berlangsung.
~pulang sekolah~
"hosh..hosh..hosh.. Ren!!" terdengar suara Hamada berlari ke arahku di halaman dengan nafas terengah-engah
Perasaan yang masih kesal, membuatku seakan tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan langkah. Tapi Hamada tetap mengejar dan memukul bahuku. "oi! Kau masih marah padaku?" soraknya mencoba tertawa
"tidak, aku hanya kesal. Hanya anak perempuan yang seringkali marah, bukan?" jawabku dan kembali meninggalkannya
"hey, jangan begitu. Anggap saja tak terjadi apa-apa tadi. Gomen nasai!!!" Hamada masih terus mengikutiku, berulang kali meminta maaf tapi aku tetap tak menghiraukannya.
"kau jelaskan padaku apa yang terjadi dan aku akan memaafkanmu"
"ta-tapi itu kan.." Hamada menghentikan pembicaraannya dan menghentikan langkahnya tak mengikutiku lagi. "besok hari Minggu, temani aku dan Oonishi ke Toko, ya. Kakakku akan ulangtahun dan temani aku mencarinya, ya" tambah Hamada menyorakiku dan segera pergi berbalik arah.
Aku kemudian ikut berhenti dan melihatnya dari belakang.
Dan malam ini..
suasana kamar masih sepi. Tak ada suara apapun~ Padahal kami bertiga ada di dalam dan yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing. Aku hanya mengotak-atik ponsel, membalas pesan dari Kyoko, Arii juga Noel yang tiap hari mengirim pesan menanyakan keadaanku.
Semua tetap tenang. Sepertinya masalah mulai muncul antara kami bertiga sejak di sekolah tadi. Hamada yang sudah meminta maaf tapi karna dia tak menjelaskan apa-apa, aku tidak bisa memberinya maaf semudah itu. Karena aku tau, teman adalah segalanya. Bukan karena popularitas membuang mereka~
Akhirnya, hari yang masih menunjukkan pukul 8, membuatku mulai bosan dan segera menarik selimut kemudian langsung tertidur.
Esok paginya~
"Ohayo Ren.." senyum lebar Hamada terlihat pertama kali ketika aku membuka mata
"KYAAAAA!!!" aku kaget dan melempari wajahnya dengan bantal.
Hamada segera membuang bantal itu dan tertawa.
"teriakmu perempuan sekali!!" Hamada tertawa sangat keras pagi itu. "hari ini temani aku, ya. Sesuai yang kukatakan kemarin?" tambahnya
"tidak~ jelaskan semuanya padaku maka aku akan temani kau kemanapun!" jawabku
"yang kemarin lupakan, yaaa. Onegai!!!" Hamada berdiri di depanku dan membungkukkan badannya.
Membuatku tak bisa mengucapkan apapun selain menuruti keinginannya.
Tiba-tiba saja di satu sisi aku yang masih kesal padanya tapi di satu sisi lain aku ingin memaafkannya. Dia benar-benar memiliki 2 karakter yang jauh berbeda seperti yang dikatakan Oonishi dan sangat jauh berbeda sehingga aku baru pertama kali bertemu orang seperti ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pukul 10.25am
"kau pernah kemari, Ren?" tanya Hamada ketika kami bertiga memasuki sebuah Toko
Iya, itu toko yang pernah kedatangi dulu. Bersama Rin-nii, Noel, Yuuki, Kyoko, Arii juga Mizuki.
Waktu itu kalau tidak salah aku masih berhubungan dengan Mizuki dan Rin-nii mentraktir kami karena dia berulang tahun. (Kak Rin waktu itu sedang dimasuki roh yang baik sekali hahaha)
"hey Hamada, hadiah yang mau kau berikan pada kakakmu, sejenis apa?" tanya Oonishi-kun dari dalam ruangan
"itu, aku tidak tau" jawabnya
"coba lihat kemari, siapa tau kau punya ide bagus" Oonishi menarik tangan Hamada pergi ke ruangan yang berada dibagian lain.
Aku tak mengikuti mereka, hanya melihat kesegala arah dan tiba-tiba saja aku melihatnya..
"Naomi-chan, coba lihat ini.." bayangan Noel dan diriku di beberapa kumpulan boneka. Noel memperlihatkanku sebuah boneka yang tidak terlalu besar. Tapi imut sekali~
"waaah, cantiik!!" aku memegangi boneka itu
"se cantik Naomi-chan!!"
"benarkah? Sankyuu Noeeeel!!" aku memeluk boneka itu dan tertawa bersama. Masa lalu yang menyenangkan~
Tiba-tiba saja membayangkannya, membuat mataku berair~
"Ren menangis?" Hamada mengagetkanku dari belakang
"apa? Aku tidak menangis! Mataku basah!!" bentakku berusaha tertawa dan menghapus air mata tersebut.
Hamada berjalan ke depan menuju ruangan yang penuh dengan boneka. "mau membelinya untuk pacarmu itu, ya?" Hamada mengambil salah satu boneka dan melihat ke arahku
"pacar?"
"iya~ yang ada di wallpaper ponsel mu itu, loh!"
"walpaper ponsel? Are??" mendengar ucapan itu aku terkaget dan kehilangan beberapa kata-kata.
--TO BE CONTINUED--
NB : Episode 4 Season 2 Klik Here >>
Episode 3 selesai -________________-
Aku bingung kenapa aku bisa membuat cerita seperti ini~ padahal sama sekali tak ada dalam imajinasi ingin membuat Jingu dengan dua karakter :O tapi tiba-tiba kenapa menjadikannya topik cerita ya? #plakk
Dan aku harus memikirkan kenapa alasan Jingu bersikap seperti itu dalam cerita -___-
Demo, arigatou Gozaimasu bagi yang sudah membaca, yaa :))
Maaf ceritanya tak seperfect para penulis lainnya ToT













Tidak ada komentar:
Posting Komentar