Genre : Romance
Length : Short Story
Rating : M
Author : Nanahira Ichi
Cast : Naomi
Character :
1) Iwahashi Genki a.k.a Kiriyama Shota, Jinguji Yuta a.k.a Hamada Yuta, Kishi Yuta a.k.a Oonishi Yuta
2) Miyachika Naomi a.k.a Miyachika Ren,
3) dll
Keterangan : Menggunakan ucapan untuk menggambarkan kejadian di masa lampau dengan menggunakan tinta Biru Muda.
LINK~LINK~ :D
OKEE, HAJIMEMASHOU :))
Episode Sebelumnya di Kirakira Taiyou no You ni Klik Here >>
~~
"mau membelinya untuk pacarmu itu, ya?" Hamada mengambil salah satu boneka dan melihat ke arahku
"pacar?"
"iya~ yang ada di wallpaper ponsel mu itu, loh!"
"walpaper ponsel? Are??" mendengar ucapan itu aku terkaget dan kehilangan beberapa kata-kata.
~~
Aku memegangi pundakku sedikit agak khawatir. Melihat dengan wajah sedikit panik ke arah Hamada.
"kenapa wajahmu panik begitu? Araaaa~ takut rahasiamu terbongkar, ya? Ayolah kita berteman, mengaku saja~" Hamada tertawa sambil menepuk pundakku.
Dengan terpaksa aku menganggukkan kepala. Dan mengambil salah satu boneka lain, "aku mau beli yang ini.." ucapku pada Hamada dan Oonishi.
Noel bilang aku cantik seperti boneka ini
"boleh, kan? Tapi aku tidak punya uang" bisikku lagi
"tenang saja, biar aku yang membayar semuanya, ada lagi yang ingin kau beli? Aku yang akan membayar" balas Hamada mengeluarkan kartu ATM nya, (Atm?)
"yattaaa~ sankyuu Hamada" dan aku berteriak di dalam toko seperti anak perempuan. Yang membuat Oonishi terus menatapiku. Tapi dia selalu tersenyum melihat sifatku :)
.
Sore inipun kami selesai berbelanja di toko. Hamada akhirnya memilih bola seoak untuk Kakaknya. Katanya, kalau misalkan kakaknya tidak menerima bola itu, maka ia yang akan menggunakannya untuk latihan jikalau pulang ke rumah~
Di taman, kami berhenti. Hari ini ingin menatapi matahari terbenam. Sejak berada di sekolah ini, jarang sekali ada waktu untuk keluar tanpa alasan yang jelas. Tapi..
"Ren, hubunganmu dengan Shota sedekat apakah? Apa dia sudah menganggapmu adik?" tanya Oonishi di keheningan kami.
Hamada dan aku segera melihat ke arah Oonishi.
Terlihat seperti kakak adik?
Aku menggelengkan kepala. Mengetupkan kedua mulutku dan menjawab, "mungkin aku lebih dekat dengan adiknya"
"adiknya? Dare?" Hamada bersorak kaget "bukankah ibunya sudah meninggal dan dia satu-satunya anak tunggal?" tambahnya lagi
"ne~ne" aku kembali menggelengkan kepala. Dan menjawab, "ayah dan ibunya bercerai. Dan ayahnya membawa Shota, sementara ibunya tetap bersama adiknya. Shota sebenarnya satu tahun lebih tua dari kita dan adiknya sebaya. Aku dan adiknya itu..."
Seperti seorang sahabat
Dan aku lebih nyaman ketika bersama Noel
"kenapa kau menangis?" suara Hamada terdengar pada sayup-sayup bayanganku
Aku melihat kembali wajah Noel yang selalu tersenyum untukku. Selalu bersamaku. Dan tertawa untukku. Dari semua bayangan itu, aku merasakan pipiku tiba-tiba basah. Tak bisa mengungkapkan banyak kata, kemudian aku kembali membuka mataku dan melihat dua orang laki-laki yang baru beberapa hari ini kukenali. Wajahnya terlihat panik.
"Ren..?" Oonishi menatapi wajahku. Tatapannya terlihat sangat serius. Memegangi pundakku dan tersenyum, "kalau air matamu sudah berhenti mengalir ceritakan padaku, ya?" ucapnya. Dan kami segera kembali pulang~
~~
Aku tiba-tiba menangis ketika membayangi wajah Noel. Terlihat seperti aku yang sudah mulai menyesali semuanya. Perasaanku pada Shota seperti tak terbalaskan, dia membawaku kemari dan membiarkanku bersama yang lainnya.
Hanya menyapa dan tersenyum padaku di depan kelas, dan tak pernah menemuiku di ruangan ini.
Setidaknya bertanya bagaimana keadaanku, bukan?
"Aku, bersedia menjadi pacarmu"
"ba~ka..!!" aku menidurkan diri diatas tempat tidur. Menatapi langit-langit kamar.
Dan seketika itu aku melihat wajah Oonishi tersenyum duduk di depanku. "belum tidur?" bisiknya.
Matanya seolah melihat kearah Hamada yang tidur sangat nyenyak. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Aku dan Oonishi kemudian keluar pintu masuk asrama. Duduk di depan pintu sambil menatapi langit.
"apa.. Ren.....seorang wanita?" bisiknya tetap menghadap ke langit, tersenyum
Aku yang terkaget segera melihat ke arahnya, "apa maksudmu?"
"aku sudah menyadarinya ketika kau masuk ke kelas pertama kali.." balasnya
Aku berusaha menggelengkan kepala, tapi ia membantah dan dengan nada lembut mengucapkannya, "jangan menghindar dariku, aku bisa melihat jelas bagaimana anak perempuan berpenampilan seperti anak laki-laki. Kau tau, anak laki-laki tidak pernah membuat-buat tingkah lakunya sendiri terlihat seperti laki-laki. Iya, itu karena mereka terlahir sebagai seorang laki-laki" Oonishi tertawa.
Aku terdiam dan tak mengatakan apapun.
"makanya pertama kali aku bertanya padamu- kenapa masuk kemari? Dan seperti dugaanku kau akan takut menjawabnya. Miku bilang karena kau masih gugup, tapi bukankah wajah gugup dan tak bisa menjawab apa-apa itu berbeda?" tambah oonishi
Aku berdiri dan menjauh darinya. Aku kembali terlihat panik. Seperti lantunan musik drum? Bukan, ini terlihat seperti musik biola. Aku tidak takut dia mengetahuiku, tapi hanya takut kalau seseorang mendengar kami.
"sebenarnya kau siapa?" tanyaku
"mungkin kau akan tau- hanya belum menyadari? Karena itulah aku diangkat menjadi ketua kelas. Kau tau, aku juga seorang ketua osis" Oonishi ikut berdiri dan berjalan ke arahku. "tenanglah, karena itu aku menjadi ketua, aku ingin mendengar penjelasanmu. Makanya aku banyak bertanya" tambahnya lagi
Menundukkan kepala. Keringatku sudah mulai membasahi pipiku tapi Oonishi dengan wajah tanpa beban sedikitpun masih sanggup menatapiku.
"kalau ada seseorang yang lebih spesial dan istimewa dari Shota, kenapa kau harus melanjutkannya dengan beban? Bukankah lebih baik ketika kau melanjutkan hidupmu dengan senyuman daripada harus mengulangi semua dengan beban itu? Shota.. pindah kemari karena harapannya, bukan? Dan kau?"
"Aku..." mataku mulai sedikit berair. Tak ada kata yang bisa kujawab lagi.
"Jika tak kuat, aku mau jadi sandaranmu" ucapan lembut Oonishi, seperti seorang kakak.
"Naomi-chan kenapa menangis?"
"aku tidak apa-apa, Mizuki-kun.."
"Jangan paksakan dirimu ketika kau sedang bersedih, bersandarlah padaku jika kau tak sanggup"
Mizuki-kun...
Malam yang bertabur bintang itu, di bawah gelapnya malam, aku bersandar pada Oonishi sambil membiarkan air mataku mengalir.
Perasaanku masih sepenuhnya untuk Mizuki..
Dan aku punya banyak sekali cerita ketika Mizuki melepaskanku
"Oonishi.." ucapku
"iya? ada apa?"
"kenapa kau tidak memberitahuku ketika kau menyadari semuanya?"
"itu karena aku ingin mendengar penjelasan lebih jelas sebelum membuka semuanya.." Oonishi menjawab dengan santai sekali. Nyaman ketika mendengar dia berbicara seperti ini.
"kemarin malam Hamada memeriksa ponselmu, kan? Dia membangunkanku dan melihatkannya. Aku rasa itu bukan pacarmu tapi adalah dirimu. Tapi aku yang meyakinkan Hamada kalau itu pacarmu. Awalnya dia kira dulu masa-masa Tokyomu suka berpenampilan seperti wanita karena dia melihat sikapmu seperti anak perempuan. Dan Hamada kurang menyukai itu" jelas Oonishi. kemudian dia kembali berbicara sebelum aku menjawabnya, "aku pikir Shota adalah pacarmu.."
"iya, dia pacarku. Tapi sekarang seperti sudah tidak lagi" balasku
"doushite?"
"dia sepertinya sangat sibuk"
"souka.."
Kami terdiam.
Dan aku kembali mengawalinya dengan bercerita menjelaskan semuanya..
"aku menyayangi seorang lelaki yang 5 tahun lebih tua dariku. Dan dia membuatku tersakiti, kemudian teman dekatku membawa kakaknya untuk menemuiku. Rasa itu ku yakin ada dan kami mulai berpacaran. Aku setiap kali mengunjunginya ketika istirahat dan ia memberikan respon baik. Tapi ketika aku mengetahui dia dipisahkan oleh ayahnya karena dilarang bertemu adiknya, hatiku memberontak untuk mengikutinya"
"lalu, apa yang terjadi?"
"aku merindukan mereka semua di Tokyo. Teman-teman bahkan melebihi perasaanku. Membawaku untuk tertawa seketika dan berkeliling dari kota ke kota.. Noel, Yuuki, Arii, Kyoko....." aku kembali mengeluarkan air mata tapi tetap tersenyum.
"kau pindah kesini apa tak memikirkan yang terjadi jika kami semua mengetahui siapa kau sebenarnya?"
Aku mendengar ucapan itu dan melepaskan sandaranku. Kemudian menggelengkan kepala.
"Aku rasa Shota memiliki perasaan yang sama denganmu. Aku melihatnya. Dia menyapamu di depan kelas. Melihat ke arahku dan sepertinya dia tidak menyukai kau bersamaku. Dia ingin tetap bersamamu, tapi dia terlalu sibuk, dan Klub kalian berbeda, bukan?"
"are?!!" aku kembali menjauhi Oonishi dan memasang wajah sedikit kaget "kau itu peramal? Kakek sihir? atau orang yang bisa membaca masa depan? Kenapa kau mengucapkan semuanya tanpa beban? Apa sekarang kau tau apa yang aku pikirkan?"
Oonishi menganggukkan kepala. "kalau tidak sanggup jangan paksakan dirimu" "saa, ayo kembali tidur, besok harus sekolah" Oonishi kembali masuk ke dalam asrama dan meninggalkanku diluar.
Aku tak mengikuti Oonishi. Tetap berdiri diluar. Wajahku kembali menatapi langit. Ada banyak bintang di atas sana.
Bahagia,
Ketika dia ucapkan Shota punya perasaan yang sama--
Perasaanku mulai lega ketika berhenti mengeluarkan semua air mata. Berpikir kalau aku dan Mizuki juga berada di sekolah yang berbeda dan kesibukkan Mizuki membuat kami jarang bertemu. Tokyo dan Shibuya itu.. dekat, bukan?
Saat ini, mendengar semuanya aku rasanya ingin pulang.
Tersenyum melihat mereka menungguiku di stasiun dan ingin menceritakan kepada mereka semua tentang semua orang yang membuatku nyaman berada disini.
Ketua kelas, Oonishi Yuta--
-TO BE CONTINUED-
NB : Episode 5 Season 2 Klik Here >>
Episode 4 selesai ^_^
Dan aku tidak tau kenapa aku bisa menulis ini, rasanya ketika membayangkan wajah Kishi Yuta ketika bermain dorama dan melihatnya tersenyum itu aku ingin membuatnya seperti malaikat dan orang yang dewasa. Yang tersenyum dan membuat lawan mainnya merasa nyaman. Ahhay !!
Demo, arigatou Gozaimasu bagi yang sudah membaca, yaa :))
Maaf ceritanya tak seperfect para penulis lainnya ToT















Tidak ada komentar:
Posting Komentar