Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/02/07

Kirakira, Kirakira Taiyou no You ni 2

Tittle :  kirakira, kirakira taiyo no you ni 2 (キラキラ、キラキラ たいよう の よう に 2) (part 2/6 S.2)
Genre : Romance
Length : Short Story
Rating : M
Author : Nanahira Ichi
Cast : Naomi
Character :
1) Iwahashi Genki a.k.a Kiriyama Shota, Nakamura Reia a.k.a Tatsuya Miku, Jinguji Yuta a.k.a Hamada Yuta, Kishi Yuta a.k.a Oonishi Yuta
2) Miyachika Naomi a.k.a Miyachika Ren,
3) dll
Keterangan : Menggunakan ucapan untuk menggambarkan kejadian di masa lampau dengan menggunakan tinta Biru Muda.


Okee, HAJIMEMASHOU :D


Episode sebelumnya di Kirakira Taiyou No You Ni Klik Here >> 

Mataku masih terbuka, padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Lampu kamar sudah padam. Berkali-kali aku membalikkan badan kesana kemari memaksa supaya bisa tertidur. Dan perlahan aku melihat teman sekamar ku. Double Yuta, begitulah aku menyebut kedua anak itu.

Mereka seperti anak kecil. Bahkan aku sempat kaget melihat perilaku mereka berdua sejak memasuki kamar ini. Mereka yang terlihat seperti anak laki-laki menyeramkan selama di kelas ternyata punya kepribadian yang begitu unik!

Hari ini aku tersenyum menatapi mereka yang tertidur sangat pulas.

Mereka terlihat seperti Noel dan Yuuki--

"are?" seketika aku menatapi mereka, mata Hamada tiba-tiba terbuka.
Membuatku kaget dan segera berpura-pura tidur, tapi terdengar suara langkah Hamada mendekat.

"oi, Ren kau belum tidur?" tanyanya
Mendengar suara itu aku segera membuka mata. Wajahnya tak terlihat, lampu sangat padam sekali.

Click!
Dan Hamada berdiri untuk menghidupkan lampu kamar.
"menatapi kami tidur ya?" tanyanya lagi sambil menggaruk rambutnya yang sangat kacau
Aku hanya tertawa ketakutan. 
"sekarang jam berapa? jam setengah 2, ya?" Hamada membuka ponselnya. Habisnya di kamar tidak ada jam, sih!
Aku kemudian duduk. Dan bertanya, "kenapa bisa terbangun?"
"biasanya juga bangun jam segini, dan sama sekali tidak bisa tidur" Hamada duduk di sebelahku.
"apa? jam segini? Dan apa yang kau lakukan menunggu pagi datang?" aku mulai mengubah suaraku sedikit agak besar seperti anak laki-laki.
Dengan senyum ia lalu berdiri dan menarik tanganku keluar kamar.
"mau kemana?" tanyaku

"sssst.." dia menutup mulutku, tetapi tetap berjalan pelan. Kamar demi kamar kami lewati, dan yapp sampai di sebuah ruangan yang tak ada nomornya. Hamada membukanya. Mengintip ke dalam dan menghidupkan lampu.
Tau apa yang baru saja kulihat?
Ya, Televisi.
"mau menonton televisi malam-malam begini? Apa tidak membosankan?" bisikku
"hahaa, tidak mungkin.." Hamada menutup pintu, kemudian memasang beberapa kabel yang tak kumengerti. Kabel itu terlihat seperti..

"main GAME ????????" wajahku terkaget ketika melihat ia memasang semuanya dan memasukkan kaset Game.
"iya, biasanya aku main sendiri, tapi karena melihatmu juga belum tidur bagaimana kalau kita bermain bersama? Menyenangkan! Ayo duduk disini dan pegang ini" jawabnya

Oh ya, kebanyakan anak laki-laki suka sekali main GAME

"kau pernah bermain Game?" Hamada melihat gerakan tanganku yang kacau
Aku menggelengkan kepala. Tetap mengikuti permainan, meski beberapa kali masih kalah.
"kau terlihat seperti anak perempuan! Sungguh, bahkan sejak melihatmu pertama masuk ke kelas. Suaramu bahkan masih lembut seperti mereka. Apa kau tidak mengalami perubahan pada suara? Kalau aku sudah mulai mengalami perubahan" celoteh Hamada yang menghentikan permainannya. Menatap lama wajahku.
Dengan sedikit grogi aku masih menatap balik.
"padahal anak laki-laki seusia ini sudah mengalami perubahan" tambahnya
"benarkah? aku tidak mengerti itu"
"hahaa, Kalau kau cewek pasti cantik sekali ya!!" Dia tertawa, dan segera menolehkan pandangan. Kembali bermain game dan memfokuskan kesana.

Aku memang anak perempuan!
Bukan laki-laki kok

Pernyataan yang sungguh konyol. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika suatu hari Hamada mengetahui aku adalah anak perempuan. Entah dia akan membenciku atau sebaliknya.
Tapi..
"hahaa, Kalau kau cewek pasti cantik sekali ya!!"

Aku masih menundukkan kepala dan mencoba tetap tersenyum.
Bukankah rasa suka yang membuatku kemari?
Tanpa berpikir apa yang akan terjadi nanti. Tapi kalau tau sesuatu, kenapa Shota menyetujui aku mengikutinya begini? Apa Shota punya rencana lain?

~~~
"saa, Ren bagaimana rasanya sekolah di Tokyo?" tanya Hamada lagi
"di Tokyo? Menyenangkan" jawabku singkat
"Aku ke Tokyo tujuh tahun yang lalu, sih. Ingin kesana lagi~" sahutnya.
"so desu.." aku menganggukkan kepala sedikit agak mengerti.
Hamada memegangi bahuku, "kau tau? Aku mau memfokuskan diriku di bidang olahraga. Aku mengikuti Sepak Bola, berharap saja dengan kemampuanku yang begini aku bisa dipilih jadi pemain, setidaknya untuk Tokyo, aku pasti sangat bahagia!!"ia memperlihatkan jempolnya kearahku. Memperlihatkan keyakinannya itu.

"memangnya, kenapa kau sangat ingin kesana? Bukankah kalau ada libur sekolah kau bisa pergi sendiri? Shibuya dengan Tokyo bukankah dekat?" ujarku
"libur sekolah aku ingin belajar sepak bola. Aku tidak ingin hanya berlibur kesana, tapi aku ingin kesana dengan prestasiku setelah lulus SMU"

Aku tidak ingin hanya berlibur kesana, tapi aku ingin kesana dengan prestasiku setelah lulus SMU

Kata-kata yang membuatku sedikit agak berpikir. Aku tidak tau kenapa aku bisa mendengar ini. Aku sama sekali tak pernah memikirkan masa depanku. Yang ku tahu, hanya lulus SMU melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan kemudian bisa mencari pekerjaan.
Tetapi aku baru saja mendengar Hamada dengan cerita yang berbeda..

"Dan Ren, kau berada di jurusan apa? Olahraga atau Musik?" Hamada kembali bersikap sedikit agak tenang
"aku? Karena kepala sekolah belum meyakinkan aku bisa di kedua bidang ini, dia menambahkanku ke Olahraga. Kalau tidak salah untuk sementara menjadi sekretaris, hmm bidang Sepakbola" jawabku
"Ahhhaaa !! Kenapa kau masuk kesini tanpa pengalaman apa-apa? Setidaknya kau berusaha menyukai saja, kan? Dan lagi, sekretaris bukankah biasanya dari kalangan perempuan? Tapi kami sudah beberapa tahun tidak punya sekretaris, sih. Tugas sekretaris di gantikan oleh kapten"jelas Hamada dan beberapa kali tertawa.

Membuatku hanya bisa menganggukkan kepala. Shota berada di bidang BaseBall dan Miku-nii dibidang Tari, biasanya Tari lebih menjuru ke Dance dalam dunia anak laki-laki. Mereka dapat posisi yang sangat tepat. Tapi aku hanya bisa di tempatkan disini karena tak punya bakat apa-apa.

#FLASHBACK#

"Mizuki-kun, aku bawa bekal untukmu, kau sudah lelah, kan?" aku menghampiri Mizuki di depan tempat ia berlatih. Membawa bekal yang sangat besar
"ini apakah kau lagi yang membuatnya? Bekal yang kemarin enak sekali, Naomi" Mizuki tersenyum sambil mengambil bekal di tanganku
"Mizuki-kun apakah tidak lelah setiap hari berlatih?" aku melihat Mizuki dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Perlahan ia terkadang menghapus keringatnya dengan handuk kecil yang menggantung di leher.
"tentu saja tidak, karena aku ingin sekali bisa tampil sebaik mungkin" Mizuki tersenyum padaku. Sepulang kuliah dia selalu berlatih dan terkadang ia menghabiskan harinya di suatu ruangan hanya untuk berlatih.

"apa kau tidak punya kegiatan lain?"
Sedikit menggelengkan kepala dan itu cukup sudah membuat Mizuki mengerti

#FLASHBACK END#

"waaaah~ kau mengingatkanku pada adikku, mungkin aku akan mengunjunginya minggu ini" Hamada merusaki rambutku dan kemudian tertawa. Wajah tertawanya yang menarik itu membuatku mulai ikut tertawa dan malam itu kami menunggu pagi datang sambil bermain game bersama di ruangan itu.

Pagi
07.15am

"hey! Semua orang terlihat sibuk!" sorakku ketika membuka pintu kamar.
Beberapa orang anak berlari kian kemari. Membawa handuk juga alat-alat mandi mereka. Tampak tergesa-gesa.
"tentu saja, bel kelas berbunyi lebih awal, 7 lewat 40. Dan kami hanya punya beberapa kamar mandi" ujar Hamada berdiri di sebelahku
Aku mengangguk seolah mengerti.
Tapi, biasanya di rumahku, jam segini sudah harus ke stasiun. Atau jika terlambat, akan ketinggalan stasiun. Dan jarak jauh itu hanya bisa di tempuh dengan sepeda~

Aku terkadang melihat mereka sedikit agak tersenyum. Mereka bisa bangun pagi sebaik itu. Meskipun tiap anak punya kesibukan masing-masing, Dan satu kamar hanya berisi paling banyak 3 orang. Betapa besarnya asrama kami disini!
Dan soal yang kemarin malam itu..
Setidaknya kau berusaha menyukai saja, kan?
Membuatku terus memikirkannya. Masuk kesini bukankah hanya karena tak ingin melepas Shota-kun? Dan aku tidak tau apakah nanti akan menyesali hal ini atau tidak sama sekali. Yang pastinya..

"Ren, kau sibuk?" pertanyaan yang membuatku terhenti dari lamunan, terdengar di sebelahku
Aku melihat Oonishi-kun berdiri di sebelahku. Sudah berpakaian sangat rapi. Dan tersenyum di depanku.
Terlihat dewasa.. "aa, Oonishi! Doushita?" tanyaku balik
"tidak menunggu Hamada, kan? Biasanya dia pergi dengan teman populer lainnya"
"teman populer?"
"iya~ Hamada terlihat memiliki dua kepribadian. Di satu sisi dia terlihat menyenangkan dan mudah merasa nyaman ketika di dekatnya. Tapi di satu sisi dia terlihat menyebalkan, suka bersikap sombong dan menganggap rendah semuanya. Itu, antara di kamar ini dan di kelas. Jadi, kalau berkenan, mau pergi sekolah bersama?" jelas Oonishi
"aku juga merasa demikian ketika bertemu dengannya pertama kali. Sama sekali tidak bisa melihat apa yang dia pikirkan. Dan kalau kamu yang mengajak, mari pergi bersama" aku mulai kehilangan kepercayaan diri di saat itu. Berbicara dengan Oonishi rasanya berbicara melebihi orang populer, berbeda dengan Hamada. Dia terlihat sangat dewasa dan itu membuatku sedikit gugup.

Tapi, pada akhirnya kamipun pergi bersama. Dimana jarak asrama dan Sekolah yang tak begitu jauh, tapi ketika berjalan kaki membutuhku waktu 6 atau 10 menit--

Perjalanan dimulai ketika kami keluar gerbang asrama. Oonishi seperti seorang psikolog yang bertanya tentang diriku dan kemudian segera mengerti ketika aku menjelaskan. Dan, satu hal yang ia tanyakan. Membuatku bingung-

"pertanyaanku yang waktu itu belum di jawab, bukan?"
"kenapa kau pindah kemari? Bukankah sebaiknya bergabung dengan sekolah campuran saja?
 Kau terlihat ketakutan berada disini"

"aku ingin mendengar jawabanmu walau hanya sedikit, waktu itu Miku menyuruhku bertanya lain kali, kan?" tambah Oonishi bertanya
Aku menundukkan kepala dan menghentikan langkahku.
"ada apa? kenapa berhenti?" Oonishi ikut berhenti
Mencoba tersenyum dan melanjutkan kembali perjalanan. Lalu menggelengkan kepala. Aku tidak tau apa yang harus ku jawab karena sepertinya dari tadi lelaki yang satu ini mengetahui yang mana perkataanku yang berbohong dan bukan, yang jelas "ada hal penting yang menarikku kemari. Dan aku tidak bisa jelaskan apa-apa"

Hal penting itu,
tentang perasaan, bukan?
Dan aku tak ingin siapapun mengetahui,
karena bagaimanapun aku bersikap, aku tetap bukan anak laki-laki

Penjelasanku yang singkat membuatnya menganggukkan kepala dan mengerti kembali. Mereka double Yuta yang unik. Apapun itu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka pikirkan. Tapi berharap, bisa lebih dekat lagi dengan mereka.-

--TO BE CONTINUED--


NB : EPISODE 3 SEASON 2 KLIK HERE >>

Episode 2 season 2 selesai ^o^
aku tidak tau bagaimana menurut pendapat kalian, yang jelas menurutku sudah ada perkembangannya. Walau cerita sedikit agak nyambung, tapi entah kenapa saat aku memikirkan cerita aku ingin membahas kedua Double Yuta ini-- mungkin aku akan membuatnya sekitar 5 atau sekurangnya 6 episode -_- aku terlalu mengidolakan mereka berdua sih! hahaa
Dan ngomong-ngomong, pic diatas, Jingu terlihat imut deh dengan mulutnya yang manyun begitu haha :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman