Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/12/03

My Dandelion It's You (Part 6) bonus

Tittle                    : My Dandelion It’s You
Genre                  : Romance, Friends
Length                : Short Story
Rating                 : M
Author                : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself 
Keterangan        :  Link Opening


*** My Dandelion It’s You ***

PART 6 (bonus part) : TEGAP BERDIRI DI DEPANMU KINI DAN KUINGAT SEMUANYA!

              “mama! Sudah berapa kali kubilang, aku tak ingin masuk ke sekolah ini!” teriakku di depan gerbang.
              “masuk lah! Sekarang kamu sudah SMA! Jangan manja! Masuk ke gerbang itu!” bentak mama mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.
              Mataku masih sangat basah. Teringat olehku teman-teman dekatku yang berada di sekolah yang berbeda. Dan aku yang tidak bisa mencari banyak teman ini hanya bergantung pada teman yang memang dari dulu dekat denganku.
              Tapi tiba-tiba air mataku berhenti ketika melihat sesosok lelaki sebaya denganku yang berjalan di sampingku dengan penuh senyuman. Hari itu hari pertama sekolah dan masa orientasi siswa. Dimana semua mengenakan pakaian olahraga SMP. Semua siswa dikumpulkan untuk saling berkenalan. Dan lihat sesosok lelaki yang baru saja lewat di sebelahku. Baju sekolahnya berbeda. Dan di belakang bajunya itu ada namanya. AFRANANDA YOGA.

 

*** My Dandelion It’s You ***

              Itu sudah sangat lama. Hari pertama aku membaca namanya. Rasa aneh itu tiba-tiba muncul di hatiku. Sosoknya yang selalu kuperhatikan. Membuatku semangat terus datang ke sekolah untuk mengikuti masa orientasi yang tak jelas ini.
              Sosok yang tak kukenali. Dia menjadi perhatian mata ini. Melihat terus kearahnya dan tersenyum sendiri. Mataku terlalu buram untuk melihat jelas wajahnya. Tapi entah kenapa aku berpikir dia sangat spesial.

7 Juli..
Bertemu dengan seseorang yang membuat jantungku berdebar-debar..

              Teman dekatku di sekolah ini, Dea. Berada di kelas yang berbeda denganku. Aku yang dari kelas 10-F. eh siapa yang tau kalau Dea berada di kelas yang sama dengan lelaki itu di 10-D. tapi rasa itu belum bisa kubuka pada siapapun.

12 Juli..
Lelaki yang berada di kelas yang berbeda. Hari pertama masuk kelas. Dan sosoknya dengan tas hijau..

              Hari-hariku berjalan di depan koridor sekolah. Aku yang tak punya banyak teman tapi hari-hariku sangat bahagia sekali. Setiap pagi-pagi sekali aku selalu memilih jalan menuju kelas yang jauh supaya bisa lewat di depan kelas lelaki itu. Ya, hanya aku yang tahu. Mengintip di depan kelas nya dan berpura-pura mencari Dea. Tatapannya itu, dia yang jauh disana yang takkan pernah menyadari keberadaanku.

20 Juli..
Sosokmu yang jauh disana dengan tas hijau..

              Setiap kali aku menulis buku harianku, aku selalu menulis dengan tinta hijau. Berbicara dengan Dea. Dan setiap kali Dea selalu menceritakan tentang dirinya.
              “hey, dari kelas aku nih namanya Afrananda! Ish dia menyebalkan lah!”
              “menyebalkan kenapa, Dea?”
              “dia nakal, berisik, dan selalu cari onar. Menurutku sih dia anaknya baik hanya saja dia mengganggu. Bayangkan saja, dia dan beberapa orang teman nakalnya itu selalu membuat marah para guru”
              “haha anak nakal itu sudah biasa terjadi kok Dea, anak nakal itu kenangan yang berharga nanti”
              Yah, dan Dea hanya menjawab perkataanku dengan anggukan konyolnya itu. Dari sekian banyak cerita Dea itu, aku membuat kesimpulan, Dea sangat benci padanya. Tetapi tanpa ia sadari kalau aku begitu menyukai anak itu.
              Hari-hariku selalu semangat bila mendengar Dea setiap pulang sekolah selalu menceritakan sosok lelaki itu. Dia yang tak kukenali, mulai berangsur aku mengenalnya. Mengetahui seperti apa dia yang sebenarnya.

22 Juli..
Ingin menjadi teman dekatmu hey kau lelaki yang disana..

              Dan hari ini hari Senin. Badanku terasa tidak enak sekali tapi mama tetap memaksaku untuk datang kesekolah. Mataku yang setengah terbuka hari ini, melangkah menuju halaman rumah. Aku berjalan perlahan.
              Dalam ketidaksadaranku, ternyata langkahan kakiku membawaku ketempat yang aneh. Aku tidak tau entah ini mimpi atau apa. Saat aku mulai membuka mataku, kusadari aku berada di tengah taman yang sungguh luas sekali..

26 Juli..
Kusadari aku berada di tengah-tengah bunga harapan, bunga dandelion yang cantik..

              Aku tersenyum pada bunga-bunga itu. Kemudian kuletakkan tasku dan segera duduk dihamparan bunga itu. Aku mengambil satu diantara mereka. Ini bunga yang sejak kecil selalu kumainkan. Sewaktu kecil bunga ini sempat tumbuh di dekat rumahku namun seketika menghilang. Bunga ini kuanggap bunga harapan, dan sebelum menghembuskannya keudara aku selalu meminta permohonan. Dan hari ini bagaikan sebuah mimpi.
Dandelion kecil, pernahkah menyukai seseorang?
              Seseorang yang tak pernah kau kenali?
              Menurutmu bagaimana? Apa ia yang pantas untukku?
              Beri aku jawaban dandelion..
              Aku ingin tau..
              Dan perasaan ini mekar sejak pertama aku bertemu dengannya dandelion..
              Bisakah aku memohon padamu?
              Memohon sampaikan perasaanku padanya?
              Memohon agar kau bisikan sesuatu kedalam mimpinya?
              Agar ia menyadari betapa dalamnya perasaanku
              Pada dia yang disana yang tidak kukenali?
Dan Buuuuusssss.. aku menghembuskan dandelion itu. Layangan yang indah itu mulai berterbangan di depan mataku. Cantik, dan sangat indah sekali. Berharap sekali layangan dandelion ini segera sampai pada bisikan lelaki itu..

              Dan di tempat ini aku bertemu satu kata, Anzu. Dan entah kenapa nama itu terbayang spesial di telingaku.


30 juli..
Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan Anzu, Yoga? Itu keren menurutku

              Dan rahasia itu perlahan mulai kusimpan di dalam hati ini. Hari-hariku bersama Dea. Aku seperti memanfaatkan kehadirannya untuk melihat Yoga. Anzuku yang saat ini mulai mengingatkanku pada sosok Dandelion. Iya, sejak pertama kali aku tersesat di tempat itu, hingga sekarang aku tidak pernah kesana lagi.
              Setiap hari aku selalu pulang cepat untuk menunggu Dea di depan kelasnya. Berusaha untuk melihatnya yang duduk di belakang sana. Menghampiri Dea dan mataku masih melihat kearah Yoga. Mata yang selalu melihat ini, hanya bisa melihatnya dari belakang tanpa dia yang menoleh kearahku untuk tersenyum sedikit saja. Akh! Pertama kalinya aku mengenal kata IMPOSSIBLE!

              Kemudian tahun dan bulan-bulan berlalu. Hari-hariku masih seperti biasa. Entah kenapa aku belum merasakan rasa sakit setelah menyadari perasaanku takkan kunjung sampai. Mulai melupakan tentang harapanku pada Dandelion. Tentu saja takkan pernah sampai, iya itu karena dia takkan pernah mengenaliku.
              Namun beberapa hari sebelum kenaikan kelas, Dea mulai merasakan tentang hidupku. Sehingga hari ini saat penerimaan rapor dan kami baru saja dinyatakan naik kekelas 2, Dea mentraktir ku makan di sebuah restoran milik pamannya. Dan tau apa yang ia tanyakan padaku?
              “sudah beberapa bulan ini aku merasakan ada aura yang berbeda darimu Fallen. Kamu menyembunyikan sesuatu kah dariku? Bukankah kita sudah lama berteman? Setiap kali aku membahas tentang Yoga, kamu begitu semangat. Apa jangan-jangan..” Dea menghentikan kata-katanya melihat kearahku
              Aku hanya menundukkan kepala dan melahap makanan yang ada di depanku secara perlahan. Terkadang aku mulai melihat tatapan serius Dea.
              “berbicaralah padaku Fallen. Kamu tidak percaya padaku sebagai seorang teman? Aku selalu terbuka padamu, kan? Kamu memiliki rasa pada Yoga?”
              Akhirnya hari itu kuputuskan aku menceritakan semuanya sehingga Dea menepuk bahuku dan tersenyum. “perasaanmu tulus, kan? Aku dukung apapun itu. Tetap jaga perasaanmu, ya?” kata-kata yang penuh keyakinan.

28 Juli
Perasaanku akhirnya kuberitahu pada Dea. Dan Dea mengatakan sebuah kata keyakinan padaku. Akan kuingat selamanya dan iya Anzu adalah Dandelionku..

              Dan setelah libur kenaikan kelas itu, aku sama sekali tidak sering kontak dengan Dea, kurasa dia sangat sibuk dengan hari liburnya. Namun saat pertama sekolah dan kepala sekolah menyebutkan kelas-kelas kami, nama Dea sama sekali tak tersebutkan. Dan kusadari kalau Dea memilih untuk pindah sekolah karena ada urusan keluarga. Itu kata-kata keyakinan yang terakhir kudengar dari Dea.
              Di kelas 11-G aku mulai sedikit hilang dari dunia pertemanan. Aku tak begitu banyak menyapa teman-teman. Walau mereka banyak sekali yang ingin tau tentangku dan ingin dekat denganku.
              Di kelas ini aku mulai bertemu dengan tiga temanku. Semua kejadian bermula dari aku yang suka mencoret-coret halaman bukuku dengan nama ANZU.
              Mereka mulai mendekatiku dan bertanya siapa ANZU itu.

15 Agustus..
Sejak aku mulai menceritakan tentang rasaku pada Dea, rasanya aku berada pada titik aman. Aku ingin juga memberitahu yang lain..

              Aku ceritakan semuanya pada teman-temanku. Tentang Yoga dari kelas 11-H. dan mereka memberikan respon yang bahagia. Mereka seperti mendukungku dan membuatku mulai percaya.
              Tau hal yang paling membosankan di kelas? Iya itu adalah ketika guru dalam pelajaran mulai menerangkan di depan kelas. Dan setiap kali hal itu terjadi, aku selalu tidur dan memejamkan mata. Mulai sedikit menghayal, membayangkan antara diriku dan Yoga yang berjalan bersama. Tapi taukah hal di dalam kelas yang paling menyenangkan?

29 Agustus..
Iya, itu ketika Anzu keluar dari kelasnya dan lewat ke kelasku. Kemudian dalam perjalanannya melewati pintu kelasku, ia melihat ke dalam. Dan tatapannya itu mendebarkan..

              Dan hari-hari kecil itu membuat perasaanku semakin besar kepadanya. Dan entah kenapa itu terjadi. Tapi setiap kali aku menulis, aku selalu membayangkan tentang kata-kata IMPOSSIBLE. Aku tidak tau, kenapa kata-kata itu begitu menghantuiku. Harapanku yang besar untuk memiliki Yoga. Rasanya seperti hanya sebuah butiran mimpi.
              Berkali-kali teman-teman menyemangatiku. Dan ketika hari itu Finscha tidak sengaja membuka buku harianku, dan membaca sedikit bait dari isinya, ia tetap menyemangatiku. Tapi kata-kata yang menghantuiku setiap harinya selalu menyakitiku.
              Tidak mengerti dan tidak mengerti. Air mataku yang dulu berhenti menetes ketika melihatnya lewat di depan gerbang. Alasan kecilku pergi ke kelas 10-D untuk mencari Dea. Mencari jalan jauh agar bisa lewat di depan kelasnya. Aku yang selalu terbangun ketika tidur di kelas seketika teman-teman membangunkanku memberitahuku tentang dia yang lewat. Dan jantungku yang selalu berdebar-debar karna secara tidak sengaja dia yang lewat di dekatku. Rasa itu..
Dear diary..
Dia selalu lewat di depan sana.
Dia indah seperti dandelion..
Akh kurasa dia selalu masuk ke kelasku karena mencari teman-teman dekatnya di kelasku
Terkadang aku sempat salah tingkah ketika ia masuk ke kelas
Mencari pekerjaan lain agar ia tidak meihat kearahku
Menghilangkan grogi ini dengan tertawa bersama dengan yang lainnya
Diam-diam memperhatikannya dari tempat ini..

              Bahagia dengan perasaan yang tak sampai ini.
              Tapi pada akhirnya aku melupakan Dea dan memilih untuk MOVE ON!
              Aku mengenal sosok Rio di dunia maya. Aku berkenalan dengannya. Dan dia adalah orang yang sangat baik, ramah, dan sangat peduli. Membuat rasaku mudah sekali untuk melupakan Yoga. Aku mulai dekat dengan Rio dan kusadari kami seperti pribadi yang sama. Kami mulai berteman, aku mulai menghentikan untuk melihat Yoga. Sosok dandelion kecilku yang tak pernah sampai itu. Menutup buku harianku, dan lalu membiarkannya terletak diatas lemari. Semenjak aku bersama Rio aku sama sekali tak menyentuh buku itu.
              Aku perkenalkan Rio pada mama dan mama sangat menerimanya dengan senang hati. Hari-hariku yang perlahan mulai bahagia. Dan kami sangat dekat sekali. Berjanji pada teman-teman yang lain untuk melupakan Yoga. Hingga mulai hari itu tak ada dari kami yang membahas Yoga. Meski terkadang secara tidak sengaja mereka sering menyebutkan tentang Yoga di depanku.

12 Januari..
MOVE ON sukses!

              Lalu aku beranjak duduk di kelas 12. Dan dimana hari sialan ini terjadi, aku berada di kelas yang sama dengannya. 12-G. dan parahnya Yoga duduk tidak jauh berbeda dengan tempat dudukku.
              Baiklah, hari pertama masuk kelas aku tidak begitu menganggapnya. Tapi di beberapa hari setelahnya, aku melihat dia begitu dekat dengan ketiga temanku. Mereka sering tegur sapa dan tertawa bersama. Aku sama sekali tidak menyadari kalau mereka bisa sedekat itu. Tiba-tiba rasa yang belum pernah kurasa sebelumnya. Rasa sakit yang begitu menyakitiku disini. Dihatiku ini. Dan semua itu membuatku melampiaskan pada Rio. Hari-hari itu membuat sikapku berubah kepada Rio. Aku mulai cuek dan sering marah padanya.
              Setiap pagi Yoga selalu menyapa mereka. Entah kenapa ia tidak melihat kearahku. Iya, mungkin saja ia tidak mengenaliku.
              Namun di tanggal ini 26 september, sesuatu terjadi. Seluruh isi tasku keluar berserakan. Kelas yang masih kosong. Dan saat aku mencoba memasukan buku-bukuku aku melihat buku harian yang kuletakkan diatas lemari beberapa bulan lalu terselip diantara buku-bukuku. Dan ketika aku mulai membukanya, semua kembali bermula.
              Tulisan kecil yang berada di bagian kiri lembaranku..

26 Juli saat aku tersesat di tengah taburan Dandelion..
Dandelion kecil..
Sampaikan perasaanku padanya
Walau hanya sebuah bisikan mimpi..
Siapa yang dia sukai?
Apa yang sedang ia lakukan?
Aku ingin tau..
Apakah dia benci kalau aku terlalu menyukainya?
Tapi..
Sekiranya aku bisa terbang
Kan kutinggalkan jejak hatiku
Dan kuukir namanya seindah pelangi..

              Dan sedikit terselip tulisan kecilku di bagian kanan..

28 Juli ketika kami dinyatakan naik kelas..
Dea katakan padaku sambil menepuk bahuku..
“perasaanmu tulus, kan? Aku dukung apapun itu. Tetap jaga perasaanmu, ya?”
Iya aku percaya, dan aku tetap akan berusaha agar perasaan ini segera sampai walau tak terbalaskan Dea..

              Dan tiba-tiba kata-kata itu membuka batin dan pintu hatiku. Mataku kembali berbinar-binar. Sedikit meneteskan air mata dan kemudian segera kuhapuskan. Aku melihat kedua bagian lembaran itu. Kata-kataku yang tulus dulu yang membuat hatiku berdebar-debar.
              Kemudian buku harianku segera kututup seketika tiga temanku berdiri di depan ku hari itu. Hingga buku itu segera kumasukkan ke dalam tas dan kembali tersenyum. Perasaan itu baru saja mulai bangkit kembali..

Selesai, 2012.12.02
By : Richia Kayoru Nanahira

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman