Tittle :
♥ My Dandelion It’s You ♥
Genre : Romance, Friends
Length : Short Story
Rating : M
Author : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself
Keterangan : Link Opening
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
PART 6 (bonus part) : TEGAP BERDIRI DI DEPANMU KINI DAN KUINGAT
SEMUANYA!
“mama! Sudah berapa kali kubilang, aku tak ingin masuk ke sekolah
ini!” teriakku di depan gerbang.
“masuk lah! Sekarang kamu sudah
SMA! Jangan manja! Masuk ke gerbang itu!” bentak mama mencoba melepaskan
tangannya dari genggamanku.
Mataku masih sangat basah. Teringat
olehku teman-teman dekatku yang berada di sekolah yang berbeda. Dan aku yang
tidak bisa mencari banyak teman ini hanya bergantung pada teman yang memang
dari dulu dekat denganku.
Tapi tiba-tiba air mataku berhenti
ketika melihat sesosok lelaki sebaya denganku yang berjalan di sampingku dengan
penuh senyuman. Hari itu hari pertama sekolah dan masa orientasi siswa. Dimana
semua mengenakan pakaian olahraga SMP. Semua siswa dikumpulkan untuk saling
berkenalan. Dan lihat sesosok lelaki yang baru saja lewat di sebelahku. Baju
sekolahnya berbeda. Dan di belakang bajunya itu ada namanya. AFRANANDA YOGA.
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
Itu sudah sangat lama. Hari pertama
aku membaca namanya. Rasa aneh itu tiba-tiba muncul di hatiku. Sosoknya yang
selalu kuperhatikan. Membuatku semangat terus datang ke sekolah untuk mengikuti
masa orientasi yang tak jelas ini.
Sosok yang tak kukenali. Dia
menjadi perhatian mata ini. Melihat terus kearahnya dan tersenyum sendiri. Mataku
terlalu buram untuk melihat jelas wajahnya. Tapi entah kenapa aku berpikir dia
sangat spesial.
7
Juli..
Bertemu
dengan seseorang yang membuat jantungku berdebar-debar..
Teman dekatku di sekolah ini, Dea.
Berada di kelas yang berbeda denganku. Aku yang dari kelas 10-F. eh siapa yang
tau kalau Dea berada di kelas yang sama dengan lelaki itu di 10-D. tapi rasa
itu belum bisa kubuka pada siapapun.
12
Juli..
Lelaki
yang berada di kelas yang berbeda. Hari pertama masuk kelas. Dan sosoknya
dengan tas hijau..
Hari-hariku berjalan di depan
koridor sekolah. Aku yang tak punya banyak teman tapi hari-hariku sangat
bahagia sekali. Setiap pagi-pagi sekali aku selalu memilih jalan menuju kelas
yang jauh supaya bisa lewat di depan kelas lelaki itu. Ya, hanya aku yang tahu.
Mengintip di depan kelas nya dan berpura-pura mencari Dea. Tatapannya itu, dia
yang jauh disana yang takkan pernah menyadari keberadaanku.
20
Juli..
Sosokmu
yang jauh disana dengan tas hijau..
Setiap kali aku menulis buku
harianku, aku selalu menulis dengan tinta hijau. Berbicara dengan Dea. Dan
setiap kali Dea selalu menceritakan tentang dirinya.
“hey, dari kelas aku nih namanya
Afrananda! Ish dia menyebalkan lah!”
“menyebalkan kenapa, Dea?”
“dia nakal, berisik, dan selalu
cari onar. Menurutku sih dia anaknya baik hanya saja dia mengganggu. Bayangkan
saja, dia dan beberapa orang teman nakalnya itu selalu membuat marah para guru”
“haha anak nakal itu sudah biasa
terjadi kok Dea, anak nakal itu kenangan yang berharga nanti”
Yah, dan Dea hanya menjawab
perkataanku dengan anggukan konyolnya itu. Dari sekian banyak cerita Dea itu,
aku membuat kesimpulan, Dea sangat benci padanya. Tetapi tanpa ia sadari kalau
aku begitu menyukai anak itu.
Hari-hariku selalu semangat bila
mendengar Dea setiap pulang sekolah selalu menceritakan sosok lelaki itu. Dia
yang tak kukenali, mulai berangsur aku mengenalnya. Mengetahui seperti apa dia
yang sebenarnya.
22
Juli..
Ingin
menjadi teman dekatmu hey kau lelaki yang disana..
Dan hari ini hari Senin. Badanku
terasa tidak enak sekali tapi mama tetap memaksaku untuk datang kesekolah. Mataku
yang setengah terbuka hari ini, melangkah menuju halaman rumah. Aku berjalan
perlahan.
Dalam ketidaksadaranku, ternyata
langkahan kakiku membawaku ketempat yang aneh. Aku tidak tau entah ini mimpi
atau apa. Saat aku mulai membuka mataku, kusadari aku berada di tengah taman
yang sungguh luas sekali..
26
Juli..
Kusadari
aku berada di tengah-tengah bunga harapan, bunga dandelion yang cantik..
Aku tersenyum pada bunga-bunga
itu. Kemudian kuletakkan tasku dan segera duduk dihamparan bunga itu. Aku
mengambil satu diantara mereka. Ini bunga yang sejak kecil selalu kumainkan. Sewaktu
kecil bunga ini sempat tumbuh di dekat rumahku namun seketika menghilang. Bunga
ini kuanggap bunga harapan, dan sebelum menghembuskannya keudara aku selalu
meminta permohonan. Dan hari ini bagaikan sebuah mimpi.
Dandelion
kecil, pernahkah menyukai seseorang?
Seseorang
yang tak pernah kau kenali?
Menurutmu
bagaimana? Apa ia yang pantas untukku?
Beri
aku jawaban dandelion..
Aku
ingin tau..
Dan
perasaan ini mekar sejak pertama aku bertemu dengannya dandelion..
Bisakah
aku memohon padamu?
Memohon
sampaikan perasaanku padanya?
Memohon
agar kau bisikan sesuatu kedalam mimpinya?
Agar
ia menyadari betapa dalamnya perasaanku
Pada
dia yang disana yang tidak kukenali?
Dan Buuuuusssss.. aku menghembuskan
dandelion itu. Layangan yang indah itu mulai berterbangan di depan mataku. Cantik,
dan sangat indah sekali. Berharap sekali layangan dandelion ini segera sampai
pada bisikan lelaki itu..
Dan di tempat ini aku bertemu satu
kata, Anzu. Dan entah kenapa nama itu terbayang spesial di telingaku.
30
juli..
Bolehkah
aku memanggilmu dengan sebutan Anzu, Yoga? Itu keren menurutku
Dan rahasia itu perlahan mulai
kusimpan di dalam hati ini. Hari-hariku bersama Dea. Aku seperti memanfaatkan
kehadirannya untuk melihat Yoga. Anzuku yang saat ini mulai mengingatkanku pada
sosok Dandelion. Iya, sejak pertama kali aku tersesat di tempat itu, hingga
sekarang aku tidak pernah kesana lagi.
Setiap hari aku selalu pulang
cepat untuk menunggu Dea di depan kelasnya. Berusaha untuk melihatnya yang
duduk di belakang sana. Menghampiri Dea dan mataku masih melihat kearah Yoga. Mata
yang selalu melihat ini, hanya bisa melihatnya dari belakang tanpa dia yang
menoleh kearahku untuk tersenyum sedikit saja. Akh! Pertama kalinya aku
mengenal kata IMPOSSIBLE!
Kemudian tahun dan bulan-bulan berlalu.
Hari-hariku masih seperti biasa. Entah kenapa aku belum merasakan rasa sakit
setelah menyadari perasaanku takkan kunjung sampai. Mulai melupakan tentang
harapanku pada Dandelion. Tentu saja takkan pernah sampai, iya itu karena dia
takkan pernah mengenaliku.
Namun beberapa hari sebelum
kenaikan kelas, Dea mulai merasakan tentang hidupku. Sehingga hari ini saat
penerimaan rapor dan kami baru saja dinyatakan naik kekelas 2, Dea mentraktir
ku makan di sebuah restoran milik pamannya. Dan tau apa yang ia tanyakan
padaku?
“sudah beberapa bulan ini aku
merasakan ada aura yang berbeda darimu Fallen. Kamu menyembunyikan sesuatu kah
dariku? Bukankah kita sudah lama berteman? Setiap kali aku membahas tentang
Yoga, kamu begitu semangat. Apa jangan-jangan..” Dea menghentikan kata-katanya
melihat kearahku
Aku hanya menundukkan kepala dan
melahap makanan yang ada di depanku secara perlahan. Terkadang aku mulai
melihat tatapan serius Dea.
“berbicaralah padaku Fallen. Kamu
tidak percaya padaku sebagai seorang teman? Aku selalu terbuka padamu, kan? Kamu
memiliki rasa pada Yoga?”
Akhirnya hari itu kuputuskan aku
menceritakan semuanya sehingga Dea menepuk bahuku dan tersenyum. “perasaanmu
tulus, kan? Aku dukung apapun itu. Tetap jaga perasaanmu, ya?” kata-kata yang penuh
keyakinan.
28 Juli
Perasaanku
akhirnya kuberitahu pada Dea. Dan Dea mengatakan sebuah kata keyakinan padaku. Akan
kuingat selamanya dan iya Anzu adalah Dandelionku..
Dan setelah libur kenaikan kelas
itu, aku sama sekali tidak sering kontak dengan Dea, kurasa dia sangat sibuk
dengan hari liburnya. Namun saat pertama sekolah dan kepala sekolah menyebutkan
kelas-kelas kami, nama Dea sama sekali tak tersebutkan. Dan kusadari kalau Dea
memilih untuk pindah sekolah karena ada urusan keluarga. Itu kata-kata
keyakinan yang terakhir kudengar dari Dea.
Di kelas 11-G aku mulai sedikit
hilang dari dunia pertemanan. Aku tak begitu banyak menyapa teman-teman. Walau
mereka banyak sekali yang ingin tau tentangku dan ingin dekat denganku.
Di kelas ini aku mulai bertemu
dengan tiga temanku. Semua kejadian bermula dari aku yang suka mencoret-coret
halaman bukuku dengan nama ANZU.
Mereka mulai mendekatiku dan
bertanya siapa ANZU itu.
15
Agustus..
Sejak
aku mulai menceritakan tentang rasaku pada Dea, rasanya aku berada pada titik
aman. Aku ingin juga memberitahu yang lain..
Aku ceritakan semuanya pada
teman-temanku. Tentang Yoga dari kelas 11-H. dan mereka memberikan respon yang
bahagia. Mereka seperti mendukungku dan membuatku mulai percaya.
Tau hal yang paling membosankan di
kelas? Iya itu adalah ketika guru dalam pelajaran mulai menerangkan di depan
kelas. Dan setiap kali hal itu terjadi, aku selalu tidur dan memejamkan mata. Mulai
sedikit menghayal, membayangkan antara diriku dan Yoga yang berjalan bersama. Tapi
taukah hal di dalam kelas yang paling menyenangkan?
29
Agustus..
Iya,
itu ketika Anzu keluar dari kelasnya dan lewat ke kelasku. Kemudian dalam
perjalanannya melewati pintu kelasku, ia melihat ke dalam. Dan tatapannya itu
mendebarkan..
Dan hari-hari kecil itu membuat
perasaanku semakin besar kepadanya. Dan entah kenapa itu terjadi. Tapi setiap
kali aku menulis, aku selalu membayangkan tentang kata-kata IMPOSSIBLE. Aku
tidak tau, kenapa kata-kata itu begitu menghantuiku. Harapanku yang besar untuk
memiliki Yoga. Rasanya seperti hanya sebuah butiran mimpi.
Berkali-kali teman-teman
menyemangatiku. Dan ketika hari itu Finscha tidak sengaja membuka buku
harianku, dan membaca sedikit bait dari isinya, ia tetap menyemangatiku. Tapi
kata-kata yang menghantuiku setiap harinya selalu menyakitiku.
Tidak mengerti dan tidak mengerti.
Air mataku yang dulu berhenti menetes ketika melihatnya lewat di depan gerbang.
Alasan kecilku pergi ke kelas 10-D untuk mencari Dea. Mencari jalan jauh agar
bisa lewat di depan kelasnya. Aku yang selalu terbangun ketika tidur di kelas
seketika teman-teman membangunkanku memberitahuku tentang dia yang lewat. Dan
jantungku yang selalu berdebar-debar karna secara tidak sengaja dia yang lewat
di dekatku. Rasa itu..
Dear
diary..
Dia
selalu lewat di depan sana.
Dia
indah seperti dandelion..
Akh
kurasa dia selalu masuk ke kelasku karena mencari teman-teman dekatnya di
kelasku
Terkadang
aku sempat salah tingkah ketika ia masuk ke kelas
Mencari
pekerjaan lain agar ia tidak meihat kearahku
Menghilangkan
grogi ini dengan tertawa bersama dengan yang lainnya
Diam-diam
memperhatikannya dari tempat ini..
Bahagia dengan perasaan yang tak
sampai ini.
Tapi pada akhirnya aku melupakan Dea
dan memilih untuk MOVE ON!
Aku mengenal sosok Rio di dunia
maya. Aku berkenalan dengannya. Dan dia adalah orang yang sangat baik, ramah,
dan sangat peduli. Membuat rasaku mudah sekali untuk melupakan Yoga. Aku mulai
dekat dengan Rio dan kusadari kami seperti pribadi yang sama. Kami mulai
berteman, aku mulai menghentikan untuk melihat Yoga. Sosok dandelion kecilku
yang tak pernah sampai itu. Menutup buku harianku, dan lalu membiarkannya
terletak diatas lemari. Semenjak aku bersama Rio aku sama sekali tak menyentuh
buku itu.
Aku perkenalkan Rio pada mama dan
mama sangat menerimanya dengan senang hati. Hari-hariku yang perlahan mulai
bahagia. Dan kami sangat dekat sekali. Berjanji pada teman-teman yang lain
untuk melupakan Yoga. Hingga mulai hari itu tak ada dari kami yang membahas
Yoga. Meski terkadang secara tidak sengaja mereka sering menyebutkan tentang
Yoga di depanku.
12
Januari..
MOVE ON
sukses!
Lalu aku beranjak duduk di kelas
12. Dan dimana hari sialan ini terjadi, aku berada di kelas yang sama
dengannya. 12-G. dan parahnya Yoga duduk tidak jauh berbeda dengan tempat
dudukku.
Baiklah, hari pertama masuk kelas
aku tidak begitu menganggapnya. Tapi di beberapa hari setelahnya, aku melihat
dia begitu dekat dengan ketiga temanku. Mereka sering tegur sapa dan tertawa
bersama. Aku sama sekali tidak menyadari kalau mereka bisa sedekat itu. Tiba-tiba
rasa yang belum pernah kurasa sebelumnya. Rasa sakit yang begitu menyakitiku
disini. Dihatiku ini. Dan semua itu membuatku melampiaskan pada Rio. Hari-hari
itu membuat sikapku berubah kepada Rio. Aku mulai cuek dan sering marah
padanya.
Setiap pagi Yoga selalu menyapa
mereka. Entah kenapa ia tidak melihat kearahku. Iya, mungkin saja ia tidak mengenaliku.
Namun di tanggal ini 26 september,
sesuatu terjadi. Seluruh isi tasku keluar berserakan. Kelas yang masih kosong. Dan
saat aku mencoba memasukan buku-bukuku aku melihat buku harian yang kuletakkan
diatas lemari beberapa bulan lalu terselip diantara buku-bukuku. Dan ketika aku
mulai membukanya, semua kembali bermula.
Tulisan kecil yang berada di
bagian kiri lembaranku..
26 Juli
saat aku tersesat di tengah taburan Dandelion..
Dandelion
kecil..
Sampaikan
perasaanku padanya
Walau
hanya sebuah bisikan mimpi..
Siapa
yang dia sukai?
Apa
yang sedang ia lakukan?
Aku
ingin tau..
Apakah
dia benci kalau aku terlalu menyukainya?
Tapi..
Sekiranya
aku bisa terbang
Kan
kutinggalkan jejak hatiku
Dan
kuukir namanya seindah pelangi..
Dan
sedikit terselip tulisan kecilku di bagian kanan..
28 Juli
ketika kami dinyatakan naik kelas..
Dea katakan
padaku sambil menepuk bahuku..
“perasaanmu
tulus, kan? Aku dukung apapun itu. Tetap jaga perasaanmu, ya?”
Iya aku
percaya, dan aku tetap akan berusaha agar perasaan ini segera sampai walau tak
terbalaskan Dea..
Dan tiba-tiba
kata-kata itu membuka batin dan pintu hatiku. Mataku kembali berbinar-binar. Sedikit
meneteskan air mata dan kemudian segera kuhapuskan. Aku melihat kedua bagian
lembaran itu. Kata-kataku yang tulus dulu yang membuat hatiku berdebar-debar.
Kemudian buku harianku segera
kututup seketika tiga temanku berdiri di depan ku hari itu. Hingga buku itu segera
kumasukkan ke dalam tas dan kembali tersenyum. Perasaan itu baru saja mulai
bangkit kembali..
Selesai,
2012.12.02
By :
Richia Kayoru Nanahira












Tidak ada komentar:
Posting Komentar