Tittle :
♥ My Dandelion It’s You ♥
Genre : Romance, Friends
Length : Short Story
Rating : M
Author : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself
Keterangan : Link Opening
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
Aku
Fallencia Elviorinada, cukup dipanggil dengan sebutan Fallen atau yang lebih
dekatnya teman-teman memanggilku dengan sebutan Palen. Entah kenapa tiga tahun
yang lalu aku terdampar di sekolah mengerikan dengan seluruh siswa yang lebih
mementingkan tentang style daripada
masa depan. Ini SMU swasta ELVIORI. Kedua orangtua ku yang selalu memikirkan
tentang keinginannya mendamparkanku ke sekolah ini dikarenakan nama sekolah
yang sama dengan namaku. Kedengarannya
aneh, tapi itulah mama dan papaku!
Dan
bagaimana dengan sekolah ini? Mereka mempertemukanku dengan seorang anak
laki-laki bertas hijau yang tak kukenali tapi aku menyebutnya dengan nama yang spesial,
Dandelion kecil. Sadar atau tidaknya
dia, selama beberapa tahun lamanya aku selalu tergila-gila padanya dan berharap
suatu hari nanti ia bisa menganggapku telah lama ada di dunianya.
Bagaimana rasanya menjadi sepertiku?
Bagaimana
rasanya menyukai seseorang yang kita tidak tau asal usulnya?
Menyebalkan?
Iya, menyebalkan
Tapi
inilah perasaanku yang sewaktu itu timbul
Dan
mekar sangat indah di dalam hati ini.
“Palen lagi liat apa?” seketika aku
terkaget dengan sapaan ramah Grace di depan meja ku
“ah
bukan apa-apa” sahutku segera menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tas
Kemudian
mereka duduk di dekatku dan menatapiku dengan tersenyum. Hingga salah satu dari
mereka mengucapkan sepatah kata “Anzu!” aaakh sontak kata-kata itu membuatku
terjaga dari sedikit lamunanku. Seseorang yang kumaksud, iya namanya Afrananda
Yoga seiring waktu aku memanggilnya dengan ucapan Anzu dan pertama kalinya
berada dikelas yang sama denganku. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali
dan aku tidak tau harus berpikir dan menjawab bagaimana.
“sudahlah
Palen, katamu sudah nggak ada perasaan apa-apa lagi kan sama Yoga? Nggak usah panik
begitu, nih kami beliin kue, pasti lapar kan?” finscha meletakkan beberapa kue
diatas meja ku dan sebotol air. Dengan wajah tersenyumnya lalu memakan kue
miliknya. Beriringan dengan fenscha dan grace yang sepertinya memang sudah kelaparan.
.
.
.
Pulang sekolah..
Dan rasanya kaki ku terlalu berat untuk
melangkah keluar dari pintu kelas.
Aku terdiam kaku di depan pintu dimana
ketiga temanku telah duluan pulang. Aku masih memutar-mutar ponselku dan
menyandangi tas yang selalu berat dipundakku. Poni yang kuikat kuncir diatas
kepala dan rambut yang kubiarkan terurai panjang.
Cih! Diriku sungguh konyol sekali.
Rasa
diam di depan pintu tiba-tiba mengingatkanku akan sebuah buku harian yang
sempat terselip dibeberapa bukuku. Sudah beberapa bulan lamanya aku tidak
melanjutkan tulisanku. Perasaan yang sangat menjengkelkan dan kata impossible yang berulang kali kutulis
dengan tinta merah membuatku bosan membuka dan menulis lagi dibuku yang sudah hampir
hancur itu.
Ya,
tentu saja aku selalu menulis berbagai harapanku disana, namun sangat tidak
memungkinkan hal itu terjadi. Seperti halnya sekarang, Yoga terasa jauh sekali
walau kusadari kami berada dikelas yang sama!
Bip..Bip..
Aaakh! Getaran ponsel yang kupegang
tiba-tiba bergetar. Aku segera membukanya.
From : Oujisama
Hime-chan lagi dimana? Baru saja mamamu
menghubungiku, kenapa belum pulang? Nggak ada hal buruk yang terjadi padamu kan
hime-chan? Biasanya jam segini kamu sudah sampai di rumah
Ya, itu pacarku yang dulu kusuka namun
sekarang sangat menyebalkan. Lelaki seusiaku yang berada disekolah yang
berbeda. Dan bagi mama dia adalah pacar yang baik untukku. Meski kuakui, dia
memang sangat jujur dan tingkahnya seperti anak-anak sekali.. Aku segera mengetik balasan pesan itu..
To : oujisama
Iyaiya aku lupa memberitahu mama, kamu
aja yang bilang sana. Aku belajar kelompok di rumah Finscha
Dan sent!
Aku segera menutup kembali ponselku dan
memasukannya kedalam tas. Berharap tak menerima balasan apa-apa lagi dari dia. Dengan
wajah sangat malas aku membuka dan menutup pintu kelas dengan pelannya. Sekarang
sudah hampir lewat jam 4 sore, dan aku masih betah untuk berdiri di kelas yang
sepi ini.
“belum
pulang sekolah?”
Aku
tersentak. Seketika aku mendengar suara seseorang dibalik pintu. Dengan rasa
sedikit agak terkaget, aku kembali membuka pintu itu dengan perlahan.
Kulihat
sosok lelaki dengan gitar nya mendatangiku dan berdiri tersenyum dari balik
pintu. Anzu? Dia masih berada
disekolah ini?
Akhirnya
dengan wajah tenang aku melepaskan tanganku dari pintu dan memegangi sandangan
tasku. Kupandangi wajahnya yang sedikit agak
keren itu dan berkata pelan “permisi!” aku segera jalan perlahan keluar kelas
dan meninggalkan dirinya.
@kediaman viori..
07.44pm
“fallen
cepatlah turun! Saatnya makan malam!” teriak papa dari bawah berulang kali
Aku
seolah tidak mendengarkan. Raut wajahku yang kacau, dan rambutku yang masih
dililitkan sehelai handuk bekas mandi beberapa jam yang lalu. Kedua tanganku
masih dalam keadaan terkepal. Mulut yang kuketupkan sambil berbicara di dalam
hati. “aku bodoh! Kenapa aku meninggalkan
Anzu yang tadi menyapaku? Aku tau dia menyapa karna aku teman sekelasnya, toh
selama 2 tahun lalu aku disekolah ini dia sama sekali tidak menyapaku dan
mungkin dia tidak melihat kehadiranku. Coba bayangkan kalau tadi aku berbicara
dengannya pasti bisa sedikit agak mulai dekat” aku melihat ke segala arah. Memutar-mutar
kan kedua mataku dan melihat keadaan kacau nya kamarku.
Lalu
dengan sedikit agak geram, kubuka handuk itu dan melemparnya keatas tempat
tidur. Tanpa menyisirnya, aku segera berlari keluar kamar untuk ikutserta makan
malam dengan yang lainnya.
.
.
.
“kenapa
baru turun! Kami sudah kelaparan menunggu kakak!” sorak adikku Iva
“kan
aku sudah turun ngapain kamu masih sewot hah?” balasku sedikit agak keras
“diam!
Di meja makan bukan waktunya ribut!!” bentak papa tiba-tiba.
Kami berdua terdiam seketika. Aku
segera mengambil makanan yang tersedia di meja makan dan memakannya dengan
cepat.
“tadi
kamu benar belajar kelompok di rumah Finscha?” Tanya mama melihat kearahku
“unn~”
jawabku singkat. Dengan secangkir air yang kuminum.
“kamu
kenapa hah! Padahal Rio sudah sangat mengkhawatirkanmu, tapi pesan dari dia
tidak pernah kamu balas, mau mu apa lagi Fallen?” tambah mama dengan nada yang
cukup tinggi
Hah. Akhirnya seluruh makanan dan
minuman telah habis kulahap. Merapikan kedua sendok diatas piring. “mama..papa..
aku permisi dulu, ada banyak tugas yang harus kuselesaikan segera” ucapku
segera berdiri dari tempat duduk dan menuju ke kamar tanpa mempedulikan tatapan
dari mereka semua.
Apa
sih? Mama selalu menyebut-nyebut nama anak manja itu di depanku. Ya, dia
pacarku tapi selalu mama lebih menyayanginya daripada aku sendiri.
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
“finscha
fresha grace, kantin, yuk!” teriakku
pagi-pagi sekali
“pagi-pagi
begini ngajak ke kantin? Ada angin
apa kamu palen?” fresha merapikan rambutnya seperti hari pagi biasanya
“ohya
kemarin kamu pulang jam berapa? Mamamu telfon nggak kamu angkat, kamu kenapa? Syukurlah
kemarin aku bisa bilang lagi belajar dirumah Finscha, kalau nggak gimana? Bisa
mati kamu palen!” ucap Grace
“wah
benarkah kamu bilang begitu? Yattaaaaaa~ arigachuuuu Grace sayaaang ♥♥♥” sahutku sambil memeluk Grace dengan
ramahnya
Sudah
beberapa hari ini tingkahku memang sedikit aneh. Terkadang aku sangat tidak
bahagia dengan jam istirahat tapi aku lebih tidak bahagia sekali jika sibuk di
dalam kelas sambil mendengarkan guru berbicara di depan. Aku sering melanggar
perintah orangtua. Hanya tertidur di dalam kamar tanpa melakukan aktifitas
apapun. Aku tau sekarang sudah berada di kelas 3 SMU dan sebaiknya harus
mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional. Tapi dengan sifatku yang biasa selalu
saja malas dalam berfikir untuk masa depan.
.
.
.
“Fallen!”
tiba-tiba sesosok suara memanggilku dari arah yang cukup jauh
Aku
menghentikan senyumanku dengan teman-teman dan menoleh kearah belakang. Dan
kulihat Yoga yang berjalan kearahku. Aku dan yang lainnya saling bertatapan. Jarang
sekali dia menyebutku dengan namaku sendiri semenjak aku yang tergila-gila
padanya sejak kelas 1.
“iya?
Aku?” tanyaku menunjuk diriku sendiri
“iya
kamu fallen, kemarin kamu kenapa belum pulang? Menunggu pacarmu menjemput kah
fallen?” Yoga tersenyum manis kearahku
Pacar, ya? Entah kenapa berat untukku
mengiyakan! Aaakh, lagipula kenapa aku harus takut untuk berbicara dengannya. Perasaanku
padanya kan sudah lama hilang. Dan aku tidak harus tampak gugup bila ditanya
begini. Dia, iya dia sekarang adalah teman sekelasku dan..
“tidak,
aku hanya merasa aneh dengan pintu kelas” tiba-tiba mulutku tergerak
mengucapkan kata-kata aneh
“hah?”
dan Yogapun menatapi dengan tatapan yang aneh pula
“a-a-a-a-aaaaa
bu-bukan itu ta-ta-tapi…” aku tergugup kembali
“haha
aku mengerti, lain kali jangan terlalu pulang terlalu sore, ya. Takut nya hal
buruk terjadi padamu” Yoga mengusap-usap kepalaku dengan tangannya yang sedikit
besar dari tanganku. Wajah dan senyuman manisnya itu seketika membuat wajahku
memerah dan tak sanggup mengatakan apa-apa selain menganggukkan kepala.
Rasanya
seluruh jiwaku terkumpul dan aku kehilangan kendali. Angin pagi yang
menghembuskan rambutku seketika membuatku seolah melayang-layang entah kenapa.
Bunga dandelion yang menghantui pikiranku dan serasa aku sedang melayang
diantara ribuan dandelion. Angin.. angin apa
yang kurasa? Dan jantungku kembali berdebar.
“hey
palen kau kenapa? Wajahmu memerah, tuh!”
sesosok suara yang membayang dibenakku. Dan membuatku kembali tersadar dari
layanganku beberapa detik yang lalu. Segera kututup wajahku. “ya ampuuuuuuun
kemarin aku mimpi apa? Kenapa dia mengatakan hal itu padaku” aku mengucapkannya
berulang kali hingga ketiga temanku melentikkan jarinya kearahku
“oi
sadar palen, kau kenapa? Yoga buat kamu berdebar-debar kah?” itu suara Grace
Bip..Bip..
Sebelum aku menjawab pertanyaan itu,
ponselku kembali berdering. Coba kutebak, itu pasti dari Rio dan pagi ini dia
pasti menyapaku dengan sebutan ohayou
gozaimasu, himechan!
Aakh membosankan! Tapi segera kubuka
ponsel itu dan tebakanku meluncur dengan benar, seorang Rio yang pagi-pagi
sekali selalu mengganggu aktifitasku. Dan aku harus membalasnya sebelum ia
mengadukannya pada mama.
To : oujisama
Iya ohayou mo ouji, nanti dulu ya
balasannya aku lagi sibuk belajar nih!
Pesan itu terkirim.
Dengan segera aku mematikan ponselku
dan melanjutkan perbincanganku dengan yang lainnya.
“pasti
dari Rio kan, palen?” Tanya Finscha
“iya
finscha,” jawabku
“wah
enak nggak punya pacar kayak Rio? Baru pagi-pagi begini sudah mengirim ucapan
selamat pagi..” Fresha tertawa geli
Aku
menggelengkan kepalaku dan kembali ketempat duduk. Nafsu makanku tiba-tiba
hilang. Dan aku hanya bisa menyandarkan wajahku yang kembali melesu keatas
meja. Seketika mengingat Rio seolah menghilangkan semangatku. Dan semenjak
kejadian kemarin, aku kembali melihat wajah manis dandelionku.
Diary yang kemarin terselip kehalaman bukuku
kenapa bisa? Padahal sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak pernah
memeganginya, apalagi mencoret isi dalamnya. Seingatku aku membiarkannya
terletak diatas lemari. Dan kenapa bisa berada didalam tasku. Apa itu pertanda?
Aaaakhh aku segera memejamkan mataku. Sejujurnya
aku sengaja untuk melupakan kehadiran Yoga. Yang selama ini masuk kedalam
jiwaku. Aku yang dulu selalu tersenyum mengikutinya diam-diam dari belakang
itu.. berlari keruang musik untuk mendengarkan lantunan gitar nya. Menyaksikan
diri nya berjalan di lapangan sekolah dari atas. Mengunjungi kelas nya dengan
alasan ingin bertemu beberapa orang temanku disana. Aakh itu hal konyol yang
memalukan untuk kuingat.
Dan
aku menjadikan Rio sebagai pacar dan belajar untuk melupakannya. Sesaat dulu
aku menyadari aku berada dikelas yang sama dengannya, aku hanya bersikap biasa
saja. Dia hanya menyapa ketiga temanku di depanku, aku biasa saja. Namun seketika
kubuka kembali buku itu..
Sesuatu
terjadi pada hidupku sesaat melihatnya kemarin sore..
=TBC=












Tidak ada komentar:
Posting Komentar