Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/12/03

My Dandelion It's You (Part 1)

Tittle                    : My Dandelion It’s You
Genre                  : Romance, Friends
Length                : Short Story
Rating                 : M
Author                : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself 
Keterangan        :  Link Opening

 
*** My Dandelion It’s You ***

PART 1 : Semua Ingatan Tentangmu kembali merasuki Jiwaku!


              Aku Fallencia Elviorinada, cukup dipanggil dengan sebutan Fallen atau yang lebih dekatnya teman-teman memanggilku dengan sebutan Palen. Entah kenapa tiga tahun yang lalu aku terdampar di sekolah mengerikan dengan seluruh siswa yang lebih mementingkan tentang style daripada masa depan. Ini SMU swasta ELVIORI. Kedua orangtua ku yang selalu memikirkan tentang keinginannya mendamparkanku ke sekolah ini dikarenakan nama sekolah yang sama dengan namaku. Kedengarannya aneh, tapi itulah mama dan papaku!
              Dan bagaimana dengan sekolah ini? Mereka mempertemukanku dengan seorang anak laki-laki bertas hijau yang tak kukenali tapi aku menyebutnya dengan nama yang spesial, Dandelion kecil. Sadar atau tidaknya dia, selama beberapa tahun lamanya aku selalu tergila-gila padanya dan berharap suatu hari nanti ia bisa menganggapku telah lama ada di dunianya.
              Bagaimana rasanya menjadi sepertiku?
              Bagaimana rasanya menyukai seseorang yang kita tidak tau asal usulnya?
              Menyebalkan? Iya, menyebalkan
              Tapi inilah perasaanku yang sewaktu itu timbul
              Dan mekar sangat indah di dalam hati ini.
              “Palen lagi liat apa?” seketika aku terkaget dengan sapaan ramah Grace di depan meja ku
              “ah bukan apa-apa” sahutku segera menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tas
              Kemudian mereka duduk di dekatku dan menatapiku dengan tersenyum. Hingga salah satu dari mereka mengucapkan sepatah kata “Anzu!” aaakh sontak kata-kata itu membuatku terjaga dari sedikit lamunanku. Seseorang yang kumaksud, iya namanya Afrananda Yoga seiring waktu aku memanggilnya dengan ucapan Anzu dan pertama kalinya berada dikelas yang sama denganku. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali dan aku tidak tau harus berpikir dan menjawab bagaimana.
              “sudahlah Palen, katamu sudah nggak ada perasaan apa-apa lagi kan sama Yoga? Nggak usah panik begitu, nih kami beliin kue, pasti lapar kan?” finscha meletakkan beberapa kue diatas meja ku dan sebotol air. Dengan wajah tersenyumnya lalu memakan kue miliknya. Beriringan dengan fenscha dan grace yang sepertinya memang sudah kelaparan.
.
.
.
Pulang sekolah..
Dan rasanya kaki ku terlalu berat untuk melangkah keluar dari pintu kelas.
Aku terdiam kaku di depan pintu dimana ketiga temanku telah duluan pulang. Aku masih memutar-mutar ponselku dan menyandangi tas yang selalu berat dipundakku. Poni yang kuikat kuncir diatas kepala dan rambut yang kubiarkan terurai panjang.
Cih! Diriku sungguh konyol sekali.
              Rasa diam di depan pintu tiba-tiba mengingatkanku akan sebuah buku harian yang sempat terselip dibeberapa bukuku. Sudah beberapa bulan lamanya aku tidak melanjutkan tulisanku. Perasaan yang sangat menjengkelkan dan kata impossible yang berulang kali kutulis dengan tinta merah membuatku bosan membuka dan menulis lagi dibuku yang sudah hampir hancur itu.
              Ya, tentu saja aku selalu menulis berbagai harapanku disana, namun sangat tidak memungkinkan hal itu terjadi. Seperti halnya sekarang, Yoga terasa jauh sekali walau kusadari kami berada dikelas yang sama!
Bip..Bip..
Aaakh! Getaran ponsel yang kupegang tiba-tiba bergetar. Aku segera membukanya.

From : Oujisama
Hime-chan lagi dimana? Baru saja mamamu menghubungiku, kenapa belum pulang? Nggak ada hal buruk yang terjadi padamu kan hime-chan? Biasanya jam segini kamu sudah sampai di rumah

Ya, itu pacarku yang dulu kusuka namun sekarang sangat menyebalkan. Lelaki seusiaku yang berada disekolah yang berbeda. Dan bagi mama dia adalah pacar yang baik untukku. Meski kuakui, dia memang sangat jujur dan tingkahnya seperti anak-anak sekali.. Aku segera mengetik balasan pesan itu..

To : oujisama
Iyaiya aku lupa memberitahu mama, kamu aja yang bilang sana. Aku belajar kelompok di rumah Finscha

Dan sent!
Aku segera menutup kembali ponselku dan memasukannya kedalam tas. Berharap tak menerima balasan apa-apa lagi dari dia. Dengan wajah sangat malas aku membuka dan menutup pintu kelas dengan pelannya. Sekarang sudah hampir lewat jam 4 sore, dan aku masih betah untuk berdiri di kelas yang sepi ini.
              “belum pulang sekolah?”
              Aku tersentak. Seketika aku mendengar suara seseorang dibalik pintu. Dengan rasa sedikit agak terkaget, aku kembali membuka pintu itu dengan perlahan.
              Kulihat sosok lelaki dengan gitar nya mendatangiku dan berdiri tersenyum dari balik pintu. Anzu? Dia masih berada disekolah ini?
              Akhirnya dengan wajah tenang aku melepaskan tanganku dari pintu dan memegangi sandangan tasku. Kupandangi wajahnya yang sedikit agak keren itu dan berkata pelan “permisi!” aku segera jalan perlahan keluar kelas dan meninggalkan dirinya.

@kediaman viori..
07.44pm

              “fallen cepatlah turun! Saatnya makan malam!” teriak papa dari bawah berulang kali
              Aku seolah tidak mendengarkan. Raut wajahku yang kacau, dan rambutku yang masih dililitkan sehelai handuk bekas mandi beberapa jam yang lalu. Kedua tanganku masih dalam keadaan terkepal. Mulut yang kuketupkan sambil berbicara di dalam hati. “aku bodoh! Kenapa aku meninggalkan Anzu yang tadi menyapaku? Aku tau dia menyapa karna aku teman sekelasnya, toh selama 2 tahun lalu aku disekolah ini dia sama sekali tidak menyapaku dan mungkin dia tidak melihat kehadiranku. Coba bayangkan kalau tadi aku berbicara dengannya pasti bisa sedikit agak mulai dekat” aku melihat ke segala arah. Memutar-mutar kan kedua mataku dan melihat keadaan kacau nya kamarku.
              Lalu dengan sedikit agak geram, kubuka handuk itu dan melemparnya keatas tempat tidur. Tanpa menyisirnya, aku segera berlari keluar kamar untuk ikutserta makan malam dengan yang lainnya.
.
.
.
              “kenapa baru turun! Kami sudah kelaparan menunggu kakak!” sorak adikku Iva
              “kan aku sudah turun ngapain kamu masih sewot hah?” balasku sedikit agak keras
              “diam! Di meja makan bukan waktunya ribut!!” bentak papa tiba-tiba.
Kami berdua terdiam seketika. Aku segera mengambil makanan yang tersedia di meja makan dan memakannya dengan cepat.
              “tadi kamu benar belajar kelompok di rumah Finscha?” Tanya mama melihat kearahku
              “unn~” jawabku singkat. Dengan secangkir air yang kuminum.
              “kamu kenapa hah! Padahal Rio sudah sangat mengkhawatirkanmu, tapi pesan dari dia tidak pernah kamu balas, mau mu apa lagi Fallen?” tambah mama dengan nada yang cukup tinggi
              Hah. Akhirnya seluruh makanan dan minuman telah habis kulahap. Merapikan kedua sendok diatas piring. “mama..papa.. aku permisi dulu, ada banyak tugas yang harus kuselesaikan segera” ucapku segera berdiri dari tempat duduk dan menuju ke kamar tanpa mempedulikan tatapan dari mereka semua.
              Apa sih? Mama selalu menyebut-nyebut nama anak manja itu di depanku. Ya, dia pacarku tapi selalu mama lebih menyayanginya daripada aku sendiri.
             
*** My Dandelion It’s You ***

              “finscha fresha grace, kantin, yuk!” teriakku pagi-pagi sekali
              “pagi-pagi begini ngajak ke kantin? Ada angin apa kamu palen?” fresha merapikan rambutnya seperti hari pagi biasanya
              “ohya kemarin kamu pulang jam berapa? Mamamu telfon nggak kamu angkat, kamu kenapa? Syukurlah kemarin aku bisa bilang lagi belajar dirumah Finscha, kalau nggak gimana? Bisa mati kamu palen!” ucap Grace
              “wah benarkah kamu bilang begitu? Yattaaaaaa~ arigachuuuu Grace sayaaang ♥♥♥” sahutku sambil memeluk Grace dengan ramahnya
              Sudah beberapa hari ini tingkahku memang sedikit aneh. Terkadang aku sangat tidak bahagia dengan jam istirahat tapi aku lebih tidak bahagia sekali jika sibuk di dalam kelas sambil mendengarkan guru berbicara di depan. Aku sering melanggar perintah orangtua. Hanya tertidur di dalam kamar tanpa melakukan aktifitas apapun. Aku tau sekarang sudah berada di kelas 3 SMU dan sebaiknya harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional. Tapi dengan sifatku yang biasa selalu saja malas dalam berfikir untuk masa depan.
.
.
.
              “Fallen!” tiba-tiba sesosok suara memanggilku dari arah yang cukup jauh
              Aku menghentikan senyumanku dengan teman-teman dan menoleh kearah belakang. Dan kulihat Yoga yang berjalan kearahku. Aku dan yang lainnya saling bertatapan. Jarang sekali dia menyebutku dengan namaku sendiri semenjak aku yang tergila-gila padanya sejak kelas 1.
              “iya? Aku?” tanyaku menunjuk diriku sendiri
              “iya kamu fallen, kemarin kamu kenapa belum pulang? Menunggu pacarmu menjemput kah fallen?” Yoga tersenyum manis kearahku
              Pacar, ya? Entah kenapa berat untukku mengiyakan! Aaakh, lagipula kenapa aku harus takut untuk berbicara dengannya. Perasaanku padanya kan sudah lama hilang. Dan aku tidak harus tampak gugup bila ditanya begini. Dia, iya dia sekarang adalah teman sekelasku dan..
              “tidak, aku hanya merasa aneh dengan pintu kelas” tiba-tiba mulutku tergerak mengucapkan kata-kata aneh
              “hah?” dan Yogapun menatapi dengan tatapan yang aneh pula
              “a-a-a-a-aaaaa bu-bukan itu ta-ta-tapi…” aku tergugup kembali
              “haha aku mengerti, lain kali jangan terlalu pulang terlalu sore, ya. Takut nya hal buruk terjadi padamu” Yoga mengusap-usap kepalaku dengan tangannya yang sedikit besar dari tanganku. Wajah dan senyuman manisnya itu seketika membuat wajahku memerah dan tak sanggup mengatakan apa-apa selain menganggukkan kepala.
              Rasanya seluruh jiwaku terkumpul dan aku kehilangan kendali. Angin pagi yang menghembuskan rambutku seketika membuatku seolah melayang-layang entah kenapa. Bunga dandelion yang menghantui pikiranku dan serasa aku sedang melayang diantara ribuan dandelion. Angin.. angin apa yang kurasa? Dan jantungku kembali berdebar.
              “hey palen kau kenapa? Wajahmu memerah, tuh!” sesosok suara yang membayang dibenakku. Dan membuatku kembali tersadar dari layanganku beberapa detik yang lalu. Segera kututup wajahku. “ya ampuuuuuuun kemarin aku mimpi apa? Kenapa dia mengatakan hal itu padaku” aku mengucapkannya berulang kali hingga ketiga temanku melentikkan jarinya kearahku
              “oi sadar palen, kau kenapa? Yoga buat kamu berdebar-debar kah?” itu suara Grace
Bip..Bip..
Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, ponselku kembali berdering. Coba kutebak, itu pasti dari Rio dan pagi ini dia pasti menyapaku dengan sebutan ohayou gozaimasu, himechan!
Aakh membosankan! Tapi segera kubuka ponsel itu dan tebakanku meluncur dengan benar, seorang Rio yang pagi-pagi sekali selalu mengganggu aktifitasku. Dan aku harus membalasnya sebelum ia mengadukannya pada mama.

To : oujisama
Iya ohayou mo ouji, nanti dulu ya balasannya aku lagi sibuk belajar nih!

Pesan itu terkirim.
Dengan segera aku mematikan ponselku dan melanjutkan perbincanganku dengan yang lainnya.
              “pasti dari Rio kan, palen?” Tanya Finscha
              “iya finscha,” jawabku
              “wah enak nggak punya pacar kayak Rio? Baru pagi-pagi begini sudah mengirim ucapan selamat pagi..” Fresha tertawa geli
              Aku menggelengkan kepalaku dan kembali ketempat duduk. Nafsu makanku tiba-tiba hilang. Dan aku hanya bisa menyandarkan wajahku yang kembali melesu keatas meja. Seketika mengingat Rio seolah menghilangkan semangatku. Dan semenjak kejadian kemarin, aku kembali melihat wajah manis dandelionku.
              Diary yang kemarin terselip kehalaman bukuku kenapa bisa? Padahal sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak pernah memeganginya, apalagi mencoret isi dalamnya. Seingatku aku membiarkannya terletak diatas lemari. Dan kenapa bisa berada didalam tasku. Apa itu pertanda?
              Aaaakhh aku segera memejamkan mataku. Sejujurnya aku sengaja untuk melupakan kehadiran Yoga. Yang selama ini masuk kedalam jiwaku. Aku yang dulu selalu tersenyum mengikutinya diam-diam dari belakang itu.. berlari keruang musik untuk mendengarkan lantunan gitar nya. Menyaksikan diri nya berjalan di lapangan sekolah dari atas. Mengunjungi kelas nya dengan alasan ingin bertemu beberapa orang temanku disana. Aakh itu hal konyol yang memalukan untuk kuingat.
              Dan aku menjadikan Rio sebagai pacar dan belajar untuk melupakannya. Sesaat dulu aku menyadari aku berada dikelas yang sama dengannya, aku hanya bersikap biasa saja. Dia hanya menyapa ketiga temanku di depanku, aku biasa saja. Namun seketika kubuka kembali buku itu..
              Sesuatu terjadi pada hidupku sesaat melihatnya kemarin sore..

=TBC=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman