Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/12/03

My Dandelion It's You (Part 4)

Tittle                    : My Dandelion It’s You
Genre                  : Romance, Friends
Length                : Short Story
Rating                 : M
Author                : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself 
Keterangan        :  Link Opening


*** My Dandelion It’s You ***

              Aku melangkahkan kaki menuju halaman rumah. Wajahku tersenyum terasa sangat cantik hari ini. Angin sepoi dan..
              Oh ya tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Dengan wajah bahagia ku yang berubah menjadi kusam. Aku menghentikan langkahku. Segera kukeluarkan ponselku. Kutatapi layar pesan yang belum tadi kubalas.
              “pesan dari Rio..” bisikku membuka isi pesan terakhir itu. Aku tidak mengerti kenapa harus di saat seperti ini dia harus mengucapkan kata-kata yang menyakitkan begini. Belum ingin membalasnya. Tapi.

.

To : oujisama
Iya baiklah, aku menyetujuinya!

              Aku mengirim dan mematikan ponselku segera. Kemudian kembali tersenyum. Aku masuk ke dalam rumah, dan tau siapa yang aku sapa pertama kali? Iya sebuah kaleng yang isinya permen. Dan sejak saat itu aku mulai menyebutnya om permen. Sebuah saksi dimana di hari itu aku terkaget melihat wajahnya. Dan dimana hari itu perasaanku mulai mekar..
.
.
.
              “palen.. besok sekolah?” suara dari ponselku. Suara milik Finscha
              “tentu saja, kenapa memangnya Finscha?” balasku
              “besok aku mau kerumah sakit, aku izin sama kamu boleh palen?”
              “lalu nanti aku duduk bersama?”
              “hmm..” suara Finscha terdiam. Dan kemudian mulai bersuara lagi “lihat saja besok”
              “baiklah Finscha..”
              Dan panggilan itu segera berakhir. Aku kembali memandangi layar ponselku, layar sepi yang biasanya di penuhi dengan pesan-pesan milik Rio. Aaakhh! Bip..bip.. tiba-tiba satu pesan di terima dari nomor yang tak di kenal. “siapa?”

From : xxxxxxxxxxxx
Fallen.. :)

Dengan wajah penuh penasaran, segera ku balas pesan itu. Dan tak lama sesaat aku mengirimnya balasan pesan itu segera kuterima. Balasannya.. “lagi sibuk belajar, Fallen? Finscha memberiku nomor telepon mu. Aku Yoga” dan setelah aku membaca pesan itu aku tersentak kaget. Aku segera duduk dari tidurku. Membaca pesan itu.. tiba-tiba aku begitu semangat untuk mengetik pesan. Aku tersenyum berkali-kali.
Hingga esok paginya..
              “hey fallen duduk bareng yuk!” begitu ucapan anak-anak di kelas 12-G padaku. Kebanyakan dari mereka ingin duduk di sebelahku. Tapi aku hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Entah kenapa membayang di benakku, Yoga membawa tas nya dan meletakkan di tempat duduk Finscha. Kemudian duduk bersebalahan denganku. Dan.. baaaarr sebuah tas melayang di sebelahku. Sontak membuat kaget seluruh siswa.
              “yang duduk di sebelah Fallen itu aku..” ucap Yoga yang baru saja datang pagi itu
              Seluruh siswa terdiam dan beberapa anak yang ingin duduk di sebelahkupun segera beranjak dari sana. Mataku yang fokus menatapi Yoga itu.. dan jantungku yang berdebar.
              “Anzu..” bisikku kembali menundukkan kepala
              “hah? Anzu?” suaraku terdengar oleh Yoga yang ingin melangkah ke tempat dudukku. Tapi aku hanya tersenyum dan tetap menatapinya.
              Sementara pelajaran berlangsung, Yoga terus berbicara padaku. Dia berbicara begitu banyak sekali. Entah kenapa anak yang satu itu mudah sekali mengatakan semua tentang dia padaku. Setiap guru menerangkan pelajaran, mencatat beberapa buah catatan, aku hanya mendengarkan dia berbicara tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Suara cempreng tapi entah kenapa aku begitu suka. Mengalir deras seperti terbang lembut nya bunga dandelion. Alis matanya yang indah itu, berkali-kali tatapan kami bertemu. Ia selalu berbagi senyumnya padaku.        
              Kami perlahan mulai akrab. Dan hingga mata pelajaran berakhir, ia tetap duduk disana. Baik! Begitu pikirku tentangnya. Semua masa lalunya, harapannya, cita-citanya, tentang keluarganya, selalu dibagi denganku. Dia ucapkan semuanya. Tau satu kata yang kudapatkan darinya? Yap, dia terbuka..
              Begitu aku menulisnya di lembaran terakhir buku catatan PKN. “aku suka semua tentangmu, Dandelionku”
              “Fresha, ke kantin, yuk” ucapku berdiri di depan meja Fresha
              “akh lagi badmood palen. Ajak Grace saja” Fresha berkali-kali menekan tombol ponselnya seakan mengetik pesan untuk seseorang. Pastinya pacar barunya, ya?
              “Grace, mau ke kantin bersamaku?” tambahku lagi melihat kearah Grace
              “kalau Palen jadi aku, akan milih tidur atau makan?”
              “tidur lah Grace. Hahaha” aku tertawa
              “yasudah, night!” Grace menidurkan dirinya diatas meja.
              Biasanya disaat seperti ini, Finscha selalu paling semangat apabila diajak ke kantin. Jauh berbeda dengan Grace dan Fresha.
              Dan pada akhirnya dengan wajah tidak semangat, aku berjalan sendiri menuju kantin. Perutku yang terasa sangat lapar.
.
.
.
              “hey, lihat itu anak kelas 12-G”
              “hah iya? Dia jarang sekali kelihatan. Anak baru, ya?”
              nggak, dia sih biasanya bergantung sama teman-temannya”
              “yang selalu bertiga itu ya?”
              “iya siapa lagi. Aneh banget kan anaknya?”
              Beberapa orang sedang berbisik di tempat yang tidak jauh dari tempat makanku. Mendengar bisikan itu, selera makanku tiba-tiba hilang. Semangkok mie rebus yang aroma nya masih terbau sangat nikmat. Berkali-kali kutatapi mereka yang sama sekali tak kukenali. Ya, biasanya aku selalu bersama yang lainnya. Aku tidak pernah pergi ke kantin sendiri. Dan itupun jarang sekali, waktu istirahat selalu kuhabiskan dengan tidur di kelas.
Plaaaak.. sendok yang baru saja beberapa detik lalu ku genggam, segera kuletakkan diatas piring. Mie nya masih banyak, tapi entah kenapa selera makanku hilang. Aku segera berdiri dari tempat dudukku dan membayar makanan kemudian kembali lagi ke kelas.
“kok cepat?” begitu Tanya Fresha yang melihatku berjalan masuk kelas
“aku kehilangan nafsu makan ku tanpa kalian” jawabku
“cieee Paleen paleen..” Fresha tertawa.
Disana kulihat Daffa dan Hagi sedang berdiri di depan meja mereka. Dan tersenyum padaku. Di saat senyuman itu, seketika aku melihat kearah tempat dudukku. Disana aku melihat Yoga yang sedang membalikkan catatanku. Begitu kuingat kalau itu adalah catatan PKN ku, aku segera berlari kesana dan mengambil catatanku yang di pegang Yoga.
“ANZU!!” teriakku tiba-tiba
Fresha, Grace, Hagi, dan Daffa yang menyadari tentang nama Anzu melihat kearahku. Wajahku sedikit agak marah dan memerah. Aku menatap tajam kearah Yoga.
“Anzu? Ini yang kedua, Anzu itu artinya apa, fallen?” lelaki itu melihatku sambil tetap tersenyum.
“itu..” aku kehilangan kemarahanku dan terdiam seketika. Sementara yang lain masih melihat kearahku sambil cengar-cengir. “akh, i-itu hanya kata-kataku kalau sedang marah” tambahku
“berarti kamu juga marah kalau aku duduk disini tadi?” tanyanya
Deg.. jantungku terdetak.
“bu-bukan, itu hanya kata yang biasa kuucapkan kalau sedang emosi. Lupakan saja, ya? Yoga?” balasku. Wajahku yang tadi sangat jelas sedang marah, berubah menjadi tersenyum kembali. Rasanya aku tidak bisa marah pada orang yang kusukai.. tapi..

@kediaman Viori..
20:15
“Buku ini bagian belakangnya, dibacakah sama Anzu?” ucapku di dalam kamar sendiri sambil melihat lembar perlembar buku PKN ku. Ada rasa panik yang sangat kutakuti saat Yoga melihat tulisan di belakang ini. Aku takut ia akan menyadari tentang perasaanku. Tapi, hatiku malah berkata sebaliknya. Aku ingin Yoga segera mengetahui tentang perasaanku. walau tak terbalaskan, aku hanya ingin perasaanku tersampaikan. Begitu pikiranku sejak pertama menyukainya. Tulisan itu bahkan berkali-kali kutulis di setiap lembaran harianku.
Bip..bip..bip..
Suara ponselku berdering, dan aku menerima pesan dari Yoga

From : Anzu ♥♥
Malam fallen..

Secepatnya pesan itu segera kubalas. Dan tak lama setelahnya, balasan pesannya segera kuterima.

From : Anzu ♥♥
Tadi aku buka halaman terakhir buku PKN mu fallen, maaf yaa..

              “tuhkan! Anzu benar-benar melihat bukuku!! Ya ampuuuun!” teriakku seketika. Tapi pesan itu segera kubalas, “iya, tidak apa-apa”. Dan balasan pesan yang kuterima itu malah..

Dandelion ya? Dandelion itu apa? Eh maksudku, dandelion yang kamu maksud itu siapa?

              Pesan itu membuat aku terkaku di tempat tidur. Tidak tau bagaimana harus membalasnya. Sementara aku hanya menatapinya berulang kali.
              Ingin membalas, “it’s you” tapi so scary! Tak ingin membalas, tapi impossible. Rasa panik yang berulang kali kurasakan malam itu. Yah! Dan pada akhirnya aku memilih tak membalas apa-apa malam itu.
.
.
.
              “fallen..” dan pagi-pagi sekali suara itu menyapaku dari belakang
              Seketika aku membalikkan badanku ke belakang dan bertanya “apa Yoga?”
              Yoga seolah tersenyum padaku ingin mengatakan sesuatu. Tapi yang ia lakukan hanyalah melihat kearahku sambil tersenyum berkali-kali. Aku tegap berdiri di depannya kini, menatapi wajahnya yang sangat malu-malu itu. Tatapan kami yang seiring selalu bertemu dan senyuman yang ia berikan padaku.
              “kenapa tidak membalas pesanku kemarin malam, Fallen? Marah padaku?” dia Afrananda Yoga yang bertanya padaku hari itu
              “kemarin aku ketiduran..” jawabku singkat menahan gugup
              “lalu kenapa kamu tidak membalas lagi paginya? Aku ingin tau jawabannya..”
              “itu..”

              “Yoga!!” suara teriakan beberapa orang temannya dari luar seketika menghentikan pembicaraan kami
              Yoga melihat kearahku. “lanjutkan nanti, ya?” dengan wajah sedikit kesal pada teman-temannya ia meninggalkanku yang masih menundukkan kepala.
              Begitu ingin tau nya Anzu akan Dandelionku. Bagaimana aku harus menjawab? Sementara orang itu ada di depanku kini? Akh! Aku takut ia akan membenciku seketika mengetahui kalau KAMU ADALAH DANDELION YANG KUMAKSUD!
              Dalam pendirianku, air mataku mengalir. Aku tidak tau kenapa aku bisa menangis seperti ini. Yang kubisa hanya menghapus air mata. Tetap berdiri di kelas yang masih kosong. Tatapan kami yang baru saja bertemu beberapa waktu lalu, dia yang berdiri di depanku sambil tersenyum. Tak ada siapapun di ruangan ini kecuali wajahnya yang berdiri di depanku. Akh! Konyol..
              “PAGI PALLEN!!” seseorang menepuk bahuku dari belakang. Dan itu Finscha
              “sudah sehat Finscha?” tanyaku sambil tersenyum
              “loh kamu menangis? Apa yang terjadi fallen?” Finscha kembali menatapiku
Hug.. tiba-tiba segera kupeluk erat Finscha. Kumenangis di bahunya. Finscha yang sempat kaget, mengusap-usap rambutku.

Hitori jyanai yo nanimo dekinai kedo tsurai toki koso kokoro ni uta wo kakagete.. Ganbatte hoshii norikoete hoshii todoite hoshii kono kimochi.. Anata ni okuru uta watashi ni dekiru koto

        Aku terus menangis tanpa mempedulikan sudah berapa lama aku menangis dibahu Finscha. Teringat aku semua masa laluku. Sorakannya, semangatnya, candanya yang dulu kukenal sebelum kami bertemu dikelas yang sama. Gambaran wajahnya yang selalu membayang diwajahku. Sosoknya yang peduli terhadapku itu.. sebelum semua berakhir setelah ia benar-benar menjauh dulu. Sebelum ia benar-benar menghilang dipikiranku.
              Seseorang yang menjadi alasan senyumanku. Seseorang yang selalu tertulis indah di setiap lembaran buku harianku. Dan seketika perasaanku kini kembali, karena hanya dengan membaca buku itu.. buku yang penuh makna. Aku yang jauh disini yang selalu memperhatikannya. Yang selalu menangis karenanya.

              “akh.. kamu tau kenapa aku menangis seperti ini, Finscha?” aku mulai sedikit berbicara
              “aku tau, semua karena Yoga, kan? Aku bisa melihat semuanya.”
              “benarkah?”
              “iya, dari cara-cara ia memperhatikanmu. Dari cara ia melihatmu. Dari cara tatapan ia kepadamu. Aku tau semuanya Pallen..”
              “aku? Aku harus bagaimana?”
              “sampaikan perasaanmu padanya, Pallen. Walau jika nanti tak terbalaskan, cobalah. Yang penting sudah tersampaikan, bukan? Kupikir perasaanmu akan sedikit reda nanti..” Finscha tersenyum mencoba menghapuskan air mataku.
              Aku yang dipagi itu hanyut pada setiap perkataan Finscha. Jantungku yang tiba-tiba berdebar. Berulang kali aku sempat tak mempercayainya. Tapi inilah takdir. Iya..
              Hosh..hosh..
              Aku berlari meninggalkan Finscha di kelas.
              Iya, 12-H, 11-G, 11-F, 11-E, dan.. aku lihat dia yang berdiri berjalan mencoba menaiki tangga sendirian.
              “AFRANANDA YOGA !!” teriakku
              “hah? Fallen? Kenapa menangis?” yoga melihat kearahku dan mempercepat langkahnya.
              “Yoga mau tau siapa Dandelionku?”
              “iya, mau..”
              “kalau sudah tau?”
              “mau bantuin Fallen buat ngungkapin ke dia..”
              “haha, nggak perlu” aku tertawa kecil
              “kenapa begitu Fallen?”
              “Dandelion yang kusuka, pertama kali melihat dia saat masa orientasi siswa. Melihat namanya tertera di bajunya. Melihat tawanya. Maafkan aku, dandelion kecilku itu…”
Krriiing..krringg..
              Bel masuk berbunyi menghentikan ucapanku. Akh! Lagi-lagi!!
              “nanti saja fallen, istirahat nanti saja beritahu aku, ya. Sebenarnya ingin tahu banyak, tapi aku takut teman-teman meledekmu nanti berdiri disini bersamaku. Ayo kekelas!” Yoga menarik tanganku melewati kelas yang barusaja tadi kulewati.
              Hah haruskah setiap aku ingin jujur semua terhenti seperti ini?
              Coba kulanjutkan..
              Dandelion yang kusuka, pertama kali melihat dia saat masa orientasi siswa. Melihat namanya tertera di bajunya. Melihat tawanya. Maafkan aku, dandelion kecilku itu adalah orang yang sekarang berada di depanku, seseorang yang menarik tanganku kini. Dan seseorang yang tadinya bertanya “siapa dandelionmu?” iya, itu kamu. Seseorang dengan nama.. AFRANANDA YOGA..

=TBC=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman