Tittle :
♥ My Dandelion It’s You ♥
Genre : Romance, Friends
Length : Short Story
Rating : M
Author : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself
Keterangan : Link Opening
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
Aku melangkahkan kaki menuju halaman
rumah. Wajahku tersenyum terasa sangat cantik hari ini. Angin sepoi dan..
Oh
ya tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Dengan wajah bahagia ku yang berubah
menjadi kusam. Aku menghentikan langkahku. Segera kukeluarkan ponselku. Kutatapi
layar pesan yang belum tadi kubalas.
“pesan
dari Rio..” bisikku membuka isi pesan terakhir itu. Aku tidak mengerti kenapa
harus di saat seperti ini dia harus mengucapkan kata-kata yang menyakitkan
begini. Belum ingin membalasnya. Tapi.
.
.
To : oujisama
Iya baiklah, aku menyetujuinya!
Aku
mengirim dan mematikan ponselku segera. Kemudian kembali tersenyum. Aku masuk
ke dalam rumah, dan tau siapa yang aku sapa pertama kali? Iya sebuah kaleng
yang isinya permen. Dan sejak saat itu aku mulai menyebutnya om permen. Sebuah saksi dimana di hari
itu aku terkaget melihat wajahnya. Dan dimana hari itu perasaanku mulai mekar..
.
.
.
“palen..
besok sekolah?” suara dari ponselku. Suara milik Finscha
“tentu
saja, kenapa memangnya Finscha?” balasku
“besok
aku mau kerumah sakit, aku izin sama kamu boleh palen?”
“lalu
nanti aku duduk bersama?”
“hmm..”
suara Finscha terdiam. Dan kemudian mulai bersuara lagi “lihat saja besok”
“baiklah
Finscha..”
Dan
panggilan itu segera berakhir. Aku kembali memandangi layar ponselku, layar
sepi yang biasanya di penuhi dengan pesan-pesan milik Rio. Aaakhh! Bip..bip.. tiba-tiba satu pesan di terima dari nomor yang
tak di kenal. “siapa?”
From : xxxxxxxxxxxx
Fallen.. :)
Dengan wajah penuh penasaran, segera ku balas pesan
itu. Dan tak lama sesaat aku mengirimnya balasan pesan itu segera kuterima. Balasannya..
“lagi sibuk belajar, Fallen? Finscha memberiku nomor telepon mu. Aku Yoga” dan
setelah aku membaca pesan itu aku tersentak kaget. Aku segera duduk dari
tidurku. Membaca pesan itu.. tiba-tiba aku begitu semangat untuk mengetik
pesan. Aku tersenyum berkali-kali.
Hingga esok paginya..
“hey
fallen duduk bareng yuk!” begitu ucapan anak-anak di kelas 12-G padaku. Kebanyakan
dari mereka ingin duduk di sebelahku. Tapi aku hanya tersenyum tanpa memberikan
jawaban. Entah kenapa membayang di benakku, Yoga membawa tas nya dan meletakkan
di tempat duduk Finscha. Kemudian duduk bersebalahan denganku. Dan.. baaaarr sebuah tas melayang di
sebelahku. Sontak membuat kaget seluruh siswa.
“yang
duduk di sebelah Fallen itu aku..” ucap Yoga yang baru saja datang pagi itu
Seluruh
siswa terdiam dan beberapa anak yang ingin duduk di sebelahkupun segera
beranjak dari sana. Mataku yang fokus menatapi Yoga itu.. dan jantungku yang
berdebar.
“Anzu..”
bisikku kembali menundukkan kepala
“hah?
Anzu?” suaraku terdengar oleh Yoga yang ingin melangkah ke tempat dudukku. Tapi
aku hanya tersenyum dan tetap menatapinya.
Sementara
pelajaran berlangsung, Yoga terus berbicara padaku. Dia berbicara begitu banyak
sekali. Entah kenapa anak yang satu itu mudah sekali mengatakan semua tentang
dia padaku. Setiap guru menerangkan pelajaran, mencatat beberapa buah catatan,
aku hanya mendengarkan dia berbicara tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Suara
cempreng tapi entah kenapa aku begitu suka. Mengalir deras seperti terbang
lembut nya bunga dandelion. Alis matanya yang indah itu, berkali-kali tatapan
kami bertemu. Ia selalu berbagi senyumnya padaku.
Kami
perlahan mulai akrab. Dan hingga mata pelajaran berakhir, ia tetap duduk
disana. Baik! Begitu pikirku tentangnya. Semua masa lalunya, harapannya,
cita-citanya, tentang keluarganya, selalu dibagi denganku. Dia ucapkan
semuanya. Tau satu kata yang kudapatkan darinya? Yap, dia terbuka..
Begitu
aku menulisnya di lembaran terakhir buku catatan PKN. “aku suka semua tentangmu,
Dandelionku”
“Fresha,
ke kantin, yuk” ucapku berdiri di
depan meja Fresha
“akh
lagi badmood palen. Ajak Grace saja”
Fresha berkali-kali menekan tombol ponselnya seakan mengetik pesan untuk
seseorang. Pastinya pacar barunya, ya?
“Grace,
mau ke kantin bersamaku?” tambahku lagi melihat kearah Grace
“kalau
Palen jadi aku, akan milih tidur atau makan?”
“tidur
lah Grace. Hahaha” aku tertawa
“yasudah,
night!” Grace menidurkan dirinya diatas meja.
Biasanya
disaat seperti ini, Finscha selalu paling semangat apabila diajak ke kantin. Jauh
berbeda dengan Grace dan Fresha.
Dan
pada akhirnya dengan wajah tidak semangat, aku berjalan sendiri menuju kantin. Perutku
yang terasa sangat lapar.
.
.
.
“hey,
lihat itu anak kelas 12-G”
“hah
iya? Dia jarang sekali kelihatan. Anak baru, ya?”
“nggak, dia sih biasanya bergantung sama
teman-temannya”
“yang
selalu bertiga itu ya?”
“iya
siapa lagi. Aneh banget kan anaknya?”
Beberapa
orang sedang berbisik di tempat yang tidak jauh dari tempat makanku. Mendengar
bisikan itu, selera makanku tiba-tiba hilang. Semangkok mie rebus yang aroma
nya masih terbau sangat nikmat. Berkali-kali kutatapi mereka yang sama sekali
tak kukenali. Ya, biasanya aku selalu bersama yang lainnya. Aku tidak pernah
pergi ke kantin sendiri. Dan itupun jarang sekali, waktu istirahat selalu
kuhabiskan dengan tidur di kelas.
Plaaaak.. sendok yang baru saja beberapa detik
lalu ku genggam, segera kuletakkan diatas piring. Mie nya masih banyak, tapi
entah kenapa selera makanku hilang. Aku segera berdiri dari tempat dudukku dan
membayar makanan kemudian kembali lagi ke kelas.
“kok cepat?” begitu Tanya Fresha yang
melihatku berjalan masuk kelas
“aku kehilangan nafsu makan ku tanpa
kalian” jawabku
“cieee Paleen paleen..” Fresha tertawa.
Disana kulihat Daffa dan Hagi sedang
berdiri di depan meja mereka. Dan tersenyum padaku. Di saat senyuman itu,
seketika aku melihat kearah tempat dudukku. Disana aku melihat Yoga yang sedang
membalikkan catatanku. Begitu kuingat kalau itu adalah catatan PKN ku, aku
segera berlari kesana dan mengambil catatanku yang di pegang Yoga.
“ANZU!!” teriakku tiba-tiba
Fresha, Grace, Hagi, dan Daffa yang
menyadari tentang nama Anzu melihat kearahku. Wajahku sedikit agak marah dan
memerah. Aku menatap tajam kearah Yoga.
“Anzu? Ini yang kedua, Anzu itu artinya
apa, fallen?” lelaki itu melihatku sambil tetap tersenyum.
“itu..” aku kehilangan kemarahanku dan
terdiam seketika. Sementara yang lain masih melihat kearahku sambil
cengar-cengir. “akh, i-itu hanya kata-kataku kalau sedang marah” tambahku
“berarti kamu juga marah kalau aku
duduk disini tadi?” tanyanya
Deg.. jantungku terdetak.
“bu-bukan, itu hanya kata yang biasa
kuucapkan kalau sedang emosi. Lupakan saja, ya? Yoga?” balasku. Wajahku yang
tadi sangat jelas sedang marah, berubah menjadi tersenyum kembali. Rasanya aku
tidak bisa marah pada orang yang kusukai.. tapi..
@kediaman Viori..
20:15
“Buku ini bagian belakangnya, dibacakah
sama Anzu?” ucapku di dalam kamar sendiri sambil melihat lembar perlembar buku
PKN ku. Ada rasa panik yang sangat kutakuti saat Yoga melihat tulisan di
belakang ini. Aku takut ia akan menyadari tentang perasaanku. Tapi, hatiku
malah berkata sebaliknya. Aku ingin Yoga segera mengetahui tentang perasaanku. walau tak terbalaskan, aku hanya ingin
perasaanku tersampaikan. Begitu pikiranku sejak pertama menyukainya. Tulisan
itu bahkan berkali-kali kutulis di setiap lembaran harianku.
Bip..bip..bip..
Suara ponselku berdering, dan aku menerima pesan
dari Yoga
From : Anzu ♥♥
Malam fallen..
Secepatnya pesan itu segera kubalas. Dan tak lama
setelahnya, balasan pesannya segera kuterima.
From : Anzu ♥♥
Tadi aku buka halaman terakhir buku PKN
mu fallen, maaf yaa..
“tuhkan!
Anzu benar-benar melihat bukuku!! Ya ampuuuun!” teriakku seketika. Tapi pesan
itu segera kubalas, “iya, tidak apa-apa”. Dan balasan pesan yang kuterima itu
malah..
Dandelion ya? Dandelion itu apa? Eh
maksudku, dandelion yang kamu maksud itu siapa?
Pesan
itu membuat aku terkaku di tempat tidur. Tidak tau bagaimana harus membalasnya.
Sementara aku hanya menatapinya berulang kali.
Ingin
membalas, “it’s you” tapi so scary! Tak ingin membalas, tapi impossible. Rasa panik yang berulang
kali kurasakan malam itu. Yah! Dan pada akhirnya aku memilih tak membalas
apa-apa malam itu.
.
.
.
“fallen..”
dan pagi-pagi sekali suara itu menyapaku dari belakang
Seketika
aku membalikkan badanku ke belakang dan bertanya “apa Yoga?”
Yoga
seolah tersenyum padaku ingin mengatakan sesuatu. Tapi yang ia lakukan hanyalah
melihat kearahku sambil tersenyum berkali-kali. Aku tegap berdiri di depannya
kini, menatapi wajahnya yang sangat malu-malu itu. Tatapan kami yang seiring
selalu bertemu dan senyuman yang ia berikan padaku.
“kenapa
tidak membalas pesanku kemarin malam, Fallen? Marah padaku?” dia Afrananda Yoga
yang bertanya padaku hari itu
“kemarin
aku ketiduran..” jawabku singkat menahan gugup
“lalu
kenapa kamu tidak membalas lagi paginya? Aku ingin tau jawabannya..”
“itu..”
“Yoga!!”
suara teriakan beberapa orang temannya dari luar seketika menghentikan
pembicaraan kami
Yoga
melihat kearahku. “lanjutkan nanti, ya?” dengan wajah sedikit kesal pada
teman-temannya ia meninggalkanku yang masih menundukkan kepala.
Begitu ingin tau nya Anzu akan Dandelionku. Bagaimana
aku harus menjawab? Sementara orang itu ada di depanku kini? Akh! Aku takut ia
akan membenciku seketika mengetahui kalau KAMU ADALAH DANDELION YANG KUMAKSUD!
Dalam pendirianku, air mataku mengalir.
Aku tidak tau kenapa aku bisa menangis seperti ini. Yang kubisa hanya menghapus
air mata. Tetap berdiri di kelas yang masih kosong. Tatapan kami yang baru saja
bertemu beberapa waktu lalu, dia yang berdiri di depanku sambil tersenyum. Tak
ada siapapun di ruangan ini kecuali wajahnya yang berdiri di depanku. Akh! Konyol..
“PAGI
PALLEN!!” seseorang menepuk bahuku dari belakang. Dan itu Finscha
“sudah
sehat Finscha?” tanyaku sambil tersenyum
“loh
kamu menangis? Apa yang terjadi fallen?” Finscha kembali menatapiku
Hug..
tiba-tiba segera kupeluk erat Finscha. Kumenangis
di bahunya. Finscha yang sempat kaget, mengusap-usap rambutku.
♪Hitori
jyanai yo nanimo dekinai kedo tsurai toki koso kokoro ni uta wo kakagete.. Ganbatte
hoshii norikoete hoshii todoite hoshii kono kimochi.. Anata ni okuru uta
watashi ni dekiru koto♪
Aku
terus menangis tanpa mempedulikan sudah berapa lama aku menangis dibahu
Finscha. Teringat aku semua masa laluku. Sorakannya, semangatnya, candanya yang
dulu kukenal sebelum kami bertemu dikelas yang sama. Gambaran wajahnya yang
selalu membayang diwajahku. Sosoknya yang peduli terhadapku itu.. sebelum semua
berakhir setelah ia benar-benar menjauh dulu. Sebelum ia benar-benar menghilang
dipikiranku.
Seseorang yang
menjadi alasan senyumanku. Seseorang yang selalu tertulis indah di setiap
lembaran buku harianku. Dan seketika perasaanku kini kembali, karena hanya
dengan membaca buku itu.. buku yang penuh makna. Aku yang jauh disini yang
selalu memperhatikannya. Yang selalu menangis karenanya.
“akh.. kamu tau
kenapa aku menangis seperti ini, Finscha?” aku mulai sedikit berbicara
“aku tau, semua
karena Yoga, kan? Aku bisa melihat semuanya.”
“benarkah?”
“iya, dari cara-cara
ia memperhatikanmu. Dari cara ia melihatmu. Dari cara tatapan ia kepadamu. Aku
tau semuanya Pallen..”
“aku? Aku harus
bagaimana?”
“sampaikan
perasaanmu padanya, Pallen. Walau jika nanti tak terbalaskan, cobalah. Yang
penting sudah tersampaikan, bukan? Kupikir perasaanmu akan sedikit reda nanti..”
Finscha tersenyum mencoba menghapuskan air mataku.
Aku yang dipagi itu
hanyut pada setiap perkataan Finscha. Jantungku yang tiba-tiba berdebar. Berulang
kali aku sempat tak mempercayainya. Tapi inilah takdir. Iya..
Hosh..hosh..
Aku berlari meninggalkan Finscha di kelas.
Iya, 12-H, 11-G,
11-F, 11-E, dan.. aku lihat dia yang berdiri berjalan mencoba menaiki tangga
sendirian.
“AFRANANDA YOGA !!”
teriakku
“hah? Fallen? Kenapa
menangis?” yoga melihat kearahku dan mempercepat langkahnya.
“Yoga mau tau siapa
Dandelionku?”
“iya, mau..”
“kalau sudah tau?”
“mau bantuin Fallen
buat ngungkapin ke dia..”
“haha, nggak perlu” aku tertawa kecil
“kenapa begitu
Fallen?”
“Dandelion yang
kusuka, pertama kali melihat dia saat masa orientasi siswa. Melihat namanya
tertera di bajunya. Melihat tawanya. Maafkan aku, dandelion kecilku itu…”
Krriiing..krringg..
Bel masuk berbunyi menghentikan ucapanku. Akh! Lagi-lagi!!
“nanti saja fallen,
istirahat nanti saja beritahu aku, ya. Sebenarnya ingin tahu banyak, tapi aku
takut teman-teman meledekmu nanti berdiri disini bersamaku. Ayo kekelas!” Yoga
menarik tanganku melewati kelas yang barusaja tadi kulewati.
Hah haruskah setiap aku ingin jujur semua
terhenti seperti ini?
Coba
kulanjutkan..
Dandelion
yang kusuka, pertama kali melihat dia saat masa orientasi siswa. Melihat
namanya tertera di bajunya. Melihat tawanya. Maafkan aku, dandelion kecilku itu
adalah orang yang sekarang berada di depanku, seseorang yang menarik tanganku
kini. Dan seseorang yang tadinya bertanya “siapa dandelionmu?” iya, itu kamu. Seseorang
dengan nama.. AFRANANDA YOGA..
=TBC=












Tidak ada komentar:
Posting Komentar