Tittle :
♥ My Dandelion It’s You ♥
Genre : Romance, Friends
Length : Short Story
Rating : M
Author : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself
Keterangan : Link Opening
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
~before~
Tapi saat bel masuk berbunyi dan ketiga
temanku memakan beberapa buah permen loli di mulutnya.. aiiisssuudaaaah..
“Finscha
kenapa tidak belikan aku satu?” bentakku
“ah
kamu nggak bilang!”
“aku
pengen finscha..”
Dan plakk..
sebuah permen loli terletak di atas mejaku dan kusadari itu Yoga yang
membelikan. Akh! Maksudnya apa?
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
PART 3 : jika
kau ada dan kucuma bisa meradang menjadi yang disisimu
“hoaaaammm…” pertama kalinya aku pulang
cepat dan kutidurkan diriku diatas tempat tidur. Aku mulai tersenyum dan
perlahan mengambil permen loli tadi dari dalam sakuku. Kuarahkan tanganku
keatas dan kutatapi bentuk sederhana permen itu.
Sederhana
tapi entah kenapa aku bahagia sekali. Padahal dihari biasa aku selalu membeli
permen dan sampahnya selalu kubuang ketempat sampah. Namun..
Kreek..kreek..
Permen
loli merah itu menempel dimulutku dan sampah nya kumasuki kedalam sebuah
kaleng. Kaleng kosong yang sudah banyak sekali terdampar di dalam kamarku. Kaleng
itu kuletakkan diatas lemari dan kupajang indah sekali.
“fallen
sayang, sudah makan? Kenapa belum ganti baju?” tiba-tiba mama datang membuka
pintu kamar
“mama,
ketok dulu sebelum masuk!” balasku
“itu
urusan nanti, sekarang ganti baju mu dan cepat kebawah, hari ini mama dan papa
ada urusan penting diluar, jadi makanan yang tersedia hanya sampai sore” jelas
mama dan ia pergi meninggalkan kamarku
Akhirnya
dengan malasnya, aku berjalan pelan menuju lantai bawah sambil menenteng sebuah
kaleng yang isinya hanya sampah permen. Sementara permen yang kumakan belum
saja habis. Tanpa pikir panjang, aku meletakkan permen itu dan melanjutkan
makan siangku.
.
.
.
Malam ini ada banyak sekali tugas dari sekolah. Waktu
pengumpulan masih lama, tapi aku ingin segera menyelesaikannya agar tak
menumpuk di jadwal yang dekat nanti.
Rambut
yang kukuncir dan poni yang kuikat rapi. Dengan sebuah kacamata, aku duduk di
meja belajar dan menjawab semua soal-soal itu. Bahkan ponselku bergetar
beberapa kali sama sekali tak kuhiraukan. “yaaah.. ini fallen yang sedang
serius..”
Keesokan paginya..
“pagi
palen!” sapa fresha dengan wajah imutnya menyapaku setiap pagi di depan pintu
“eh
tumben fresha nggak telat datang” candaku padanya dan tertawa pelan
“hari
ini aku lagi semangat!” jawabnya hampir bergaya seperti seorang anak-anak
remaja di film kartun.
“semangat
atas?”
“kenal
daffa nggak? Temannya Hagi, pacarnya
Finscha”
“daffa..
hmm.. anggota osis kah fresha?” aku sedikit mengarahkan mataku keatas sambil
berfikir
“iya
iya, kemarin dia nembak aku..”
“hah?
Masa? Loh kok bisa? Bukankah dia dulu nggak
suka gaya sok imut mu? Kalian sering bertengkar malah. Sejak kapan?”
“itu
sih tanyakan langsung padanya. Aku juga tidak tau apa-apa. Tapi kuterima. Yang
tak mungkin bisa jadi mungkin kali pallen. Akupun juga lebih sangat tidak
menyangka” fresha tertawa dengan semangatnya dan berjalan keluar pintu kelas.
Satu
kalimat yang tiba-tiba teringat olehku. Yang
tak mungkin bisa jadi mungkin. Kata-kata itu entah kenapa membuat
perasaanku terdiam. Benar! Daffa itu teman sekelas kami dulu di kelas 11-G. dia
anak yang menyebalkan dan diantara kedua orang ini sering sekali terjadi
pertengkaran yang luar biasa. Mendengar pernyataan Fresha pun aku sama sekali
belum mempercayainya. Tapi..
“Anzu…”
mulutku tergerak mengucapkan sebuah kata
Di
depan pintu aku terhenti melangkah. Wajahku tertunduk. Tiba-tiba tergambar
dalam bayanganku, sosoknya berjalan dengan penuh senyuman dan dia merangkul
tanganku perlahan berjalan mengikutinya dari belakang. Semua orang tampak
sedang tertawa. Menertawakan diriku yang bersamanya.
Aaakh! Aku sedang berpikir apa!
“fallen..”
lentikan jari dan suara lembut itu bersuara di telingaku.
“Yoga?”
begitu aku menyebutnya dan segera membuka mata dan melihat kearahnya
Dia
tersenyum melihatku yang menghentikan jalannya di depan pintu. Dengan sebuah
helm dan tas hitam yang ia sandang. Ia menatapku. Ya ampuun! Wajahnya keren sekali waktu itu..
“jangan
menghalangi jalan disana fallen. Kenapa nggak
masuk?” Tanya Yoga dan mendekat kearahku
Aku
gugup.. berusaha sedikit menjauh darinya dan seperti biasa tanganku bergetar. “a-anoo…
aku..” karna terlalu bergetar aku sampai tidak berani mengucapkan satu atau dua
patah katapun.
“kenapa
fallen? Kenapa gugup begitu?”
“ti-tidaaak…”
aku masih gugup dan menggelengkan kepala dengan cepat
Sementara
itu semua orang di dalam kelas sedang memperhatikan kami. Ya, hanya
memperhatikan. Kemudian aku membalas senyumnya dan berjalan seketika masuk ke
dalam segera duduk di sebelah Finscha yang daritadi sedang menahan tawa nya
melihatku.
“grogimu
terlalu jelas pallen” bisik Finscha tiba-tiba
“hah?
Iya? Benarkah?”
“aku
yakin sekali perasaanmu padanya udah balik lagi kan? Jelas sekali dari raut
wajahmu. Sebenarnya sejak kapan? Bukankah dulu kamu cerita padaku kan lupakan
semua tentangnya?”
Aku
terdiam. Sorot mata keingintahuan Finscha mulai menakutiku seketika. Dan.. “ohya,
benarkah tentang hubungan Fresha dengan Daffa? Wah kira-kira bagaimana ya cara
pacaran orang yang sudah berapa lama musuhan?” aku mulai mengalihkan
pembicaraan dan tertawa geli
“iya,
maaf ya aku dan Grace juga Hagi belum ceritakan semua padamu. Habisnya terlalu
mendadak sih. Sebenarnya waktu kamu
nyuruh kami pulang duluan itu, Fresha lagi tidak enak badan dan duluan pulang. Lalu
dijalan aku dan Grace bertemu Hagi yang saat itu membawa Daffa. Yap, dan Daffa
cerita semuanya” Finscha
“cerita
apa Finscha?”
“iya,
dia bilang Karena terlalu sering bertengkar itu, perasaannya tiba-tiba saja
tumbuh. Dan entah kenapa Daffa senang sekali melihat wajah Fresha” jelas
Finscha
“waaah
keren! Pasti enak ya jadi Fresha, disukai sama orang yang sudah lama dianggap
musuh” ujarku dan duduk kembali ditempat duduk. Aku tersenyum sangat ramah
sekali pada Finscha. Melupakan semuanya.
Seharusnya
hatiku bahagia sekali melihat Fresha dengan Daffa bisa damai begini. Tapi
kenapa ya? Rasanya ingin seperti mereka. Yang tak bisa mungkin bisa jadi
mungkin. Fresha yang tidak punya perasaan apa-apa bisa menerima Daffa dengan
semangatnya. Sementara aku? “sudah tiga
tahun, ya?”
Seketika
air mata mulai mengalir pelan di pipiku. Aku mencoba untuk menahannya. Tapi.. hiks.. dan ingus ku berbunyi.
“aaa
Palen kamu kenapa? Kenapa menangis?” Finscha yang mendengar suara ingusku itu
segera melihat kearahku.
“tidak
apa-apa..” aku kembali tersenyum. Dan mataku masih seolah melihat kearah Yoga. Sosoknya
yang selalu tewarna indah di depanku. Kuperhatikan semua gerakannya dan
senyumannya. Yah bahkan jika hari ini aku menyoraki nama “Anzu” sekerasnya pun
ia juga tidak akan pernah sadar..
“palen
jangan menangis! Kamu kenapa? Aku ada salah bicara?” Finscha terlihat panik dan
berusaha mencari-cari tisu dari dalam tas nya
“Finscha..
kalau aku kapan ya bisa mendapatkan Anzu?” ucapku seketika
“jadi
benar kan dugaanku, perasaan kamu sama Yoga atau lebih terkenal dengan Anzu mu
itu sudah balik? Kamu pikirkan perasaan Rio dulu lah! Bagaimana dia yang selalu
peduli padamu? Pandangan kedua orang tua mu?”
“Finscha
belum mengerti kenapa aku memilih Rio!”
“iya
aku tau itu, tapi aku hanya mengingatkan”
“AKU
SUDAH LAMA SUKA SAMA ANZU!!” sontak aku berteriak. Hingga kelas segera hening
dan semua melihat kearahku termasuk Yoga.
Sementara
Finscha tetap menatapiku tanpa respon apa-apa. Kemudian tersenyum. Dalam
keadaanku yang terurai air mata itu, ponselku segera berdering.
Dan
tau itu dari siapa? Iya, Rio menyapaku. Tapi kali ini dia hanya mengirim pesan
dengan ucapan, “Fallen..”. hanya itu dan aku segera membalasnya dengan kata “iya”.
Dan tanpa melanjutkan perkataan apapun lagi, aku seperti biasa menidurkan
kepalaku keatas meja.
.
.
.
Menulis semua tentangmu..
Bahkan jika kujadikan semua harapanku
ini sebuah cerita..
Mungkin saja aku bisa membuat sebuah
novel
Dan karanganku kubuat dengan nama “dandelion”
Warnamu tercium indah oleh mataku
Dan mendengar suaramu itu
Melihat langkah mu berjalan pelan di
depan
Seketika mendengar musik gitarmu
Membuatku serasa melayang diudara
Satu harapanku, ingin memilikimu..
Bayangan
berjalan di sampingmu, bayangan naik diatas motormu, bayangan tertawa
bersamamu, dan bayangan berada di sampul foto tersenyum bersama denganmu. Tiba-tiba
mengingatmu kembali membuat pikiranku kacau balau. Bagaimana seseorang bisa
merasakan perasaan seperti yang kurasakan?
Aku
tersenyum dibalik ketidaksadaran dirinya. Terhadap orang yang benar-benar tulus
menyukainya. Terhadap orang yang selalu menulis tentang namanya. Dan mengingat
namanya saja membuat diriku seakan ingin menulis dan terus menulis. Karangan
yang aneh. Dan aku selalu tersenyum sendiri. Akh!
Kriiing..kriing…
Itu bunyi bel istirahat yang membangunkanku. Bukan!
Itu bel pulang.
Aku
mengangkat kepalaku dan melihat beberapa siswa sudah mulai duduk rapi dengan
menyandang tas masing-masing. Wajahku yang terlihat kusam, mengusapkan mata
dengan tanganku. Perlahan aku mulai bergerak dan mengambil tas kemudian
menyandang nya.
“sudah
berapa jam aku tertidur?”
“dari
pagi palen..”
“ooh..”
Aku
berbicara seolah tak tentu arah. Lalu melangkah meninggalkan tempat duduk
dengan pandangan yang masih berbinar-binar. Kulihat Yoga berdiri di depanku dan
menghentikan langkahnya. Kepalanya yang sudah ditutupi helm tapi aku masih
merasakan dia tersenyum padaku. Dan tiga temanku yang juga ikut berhenti
melangkah di belakangku. Dengan suara serak aku mulai mengeluarkan beberapa
kata,
“ada
apa Yoga?” tanyaku, menghentikan menyambung namanya karena aku yang tidak
terlalu bisa menyebut namanya dengan benar.
“benarkah
bertanya seperti itu padaku Fallen?” Yoga membuka kaca helm nya
“hah?
Maksudnya?” aku kembali melihat ketiga temanku. Mereka hanya tersenyum dan diam
menatapi kami berdua. Berdiri tegap di depannya, dan aku kehilangan kata-kata.
“hari
ini, fallen pulang bareng aku ya?”
Deg! Aku terkaget. Kutatapi tatapan matanya yang
terlihat sangat serius. Aku tak bisa menjawab apa-apa. Anggukan dan gelenganpun
aku tidak bisa. Hanya berdiri kaku.
“ciee
paleeen!!” sorakan Fresha yang keras
“terima
tawaran itu palen!” tambah Grace
“iya,
pulang sama Yoga!” Fresha dan Finscha mulai bertindak
“eeh
tapi aku pulang sama kalian kan?” jawabku gugup
“tidak
apa-apa, Yoga jaga temanku ya! Hati-hati dijalan!” tambah Fresha memegangi
bahuku dan secepatnya mereka bertiga berlari keluar dan meninggalkanku di dalam
kelas.
Saat itulah aku mulai tersenyum.. tapi..
Bip..bip..
Ponselku kembali bergetar. Segera kubuka pesan itu
karena aku mulai kehilangan arahku.
Dan tau pesan apa yang baru kudapatkan hari itu?
From : oujisama
Fallen maaf ya, aku mau jujur! Sebenarnya
selama ini aku suka sama teman sekelasku. Aku hanya tidak ingin menyakiti
perasaanmu. Tapi melihat sikapmu yang makin hari makin menyakitiku aku jadi semakin..
aakh! Apalagi mendengar kata-katamu waktu itu tentang orang yang kamu suka. Benarkah
kamu punya orang yang disuka? Kalau menurutmu dia lebih baik, aku boleh mundur?
Setelah membaca pesan itu aku sama
sekali tidak merasakan apa-apa. Apalagi melihat Yoga yang daritadi terus
menatapiku. Aku hanya tekan close dan exit. Kemudian kukunci tombol ponselku
dan mengangguk tersenyum padanya.
Entah
kenapa hatiku mulai sedikit bahagia. Kakiku yang mulai melangkah keluar kelas,
kemudian dengan dia yang berjalan di depan itu. Membuat debaran jantungku
terasa lebih indah. Berjalan di belakang dan melihat dirinya dari dekat. Warna
tas nya yang sekarang telah berganti menjadi hitam. Dia berjalan perlahan di
depanku. Iya, tanpa menoleh kearahku tapi entah kenapa hatiku begitu bahagia.
Ini
seperti mimpi ya? Aku hanya bisa meradang menjadi yang disisinya dan sekarang
aku benar-benar berjalan di dekatnya.
“Yoga!”
aku mulai percepat langkahku dan berjalan di sebelahnya. Berbagi senyum
padanya.
Dan
hal spesial padaku, naik diatas motor miliknya pertama kali. Hal yang telah
kuimpikan sejak pertama mengenalinya. Angin-angin sepoi yang mengarah kearahku.
Diriku yang duduk di belakangnya dan dia mengendara dengan baik. Suara
motornya..
“fallen,
bagaimana?” suara itu kudengar dari arah depan
“bagaimana
apanya?” mulaiku membalas
“naik
motorku tidak membebanimu kan?”
“tidak..
hihhi..” aku tersenyum
Melihat
seisi jalan. Padahal setiap harinya aku melihat tapi entah kenapa hari itu dari
atas sini jalanan itu tampak seperti dandelion-dandelion mekar dan angin ini
seperti menerbangkan gumpalan dandelion. Bolehkah aku menyentuhnya?
Ya,
tapi ini hanya anganku saja.. dan sangat nyata sekali aku duduk dibelakangnya
diatas motor yang baru saja kududuki, setelah beberapa tahun aku melihat kursi
yang ini. Tiba-tiba cintaku mulai sangat mekar dihari ini ♥
=TBC=












Tidak ada komentar:
Posting Komentar