Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/12/03

My Dandelion It's You (Part 3)

Tittle                    : My Dandelion It’s You
Genre                  : Romance, Friends
Length                : Short Story
Rating                 : M
Author                : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself 
Keterangan        :  Link Opening



*** My Dandelion It’s You ***

~before~

Tapi saat bel masuk berbunyi dan ketiga temanku memakan beberapa buah permen loli di mulutnya.. aiiisssuudaaaah..
              “Finscha kenapa tidak belikan aku satu?” bentakku
              “ah kamu nggak bilang!”
              “aku pengen finscha..”
Dan plakk.. sebuah permen loli terletak di atas mejaku dan kusadari itu Yoga yang membelikan. Akh! Maksudnya apa?

 

*** My Dandelion It’s You ***

PART 3 : jika kau ada dan kucuma bisa meradang menjadi yang disisimu

              “hoaaaammm…” pertama kalinya aku pulang cepat dan kutidurkan diriku diatas tempat tidur. Aku mulai tersenyum dan perlahan mengambil permen loli tadi dari dalam sakuku. Kuarahkan tanganku keatas dan kutatapi bentuk sederhana permen itu.
              Sederhana tapi entah kenapa aku bahagia sekali. Padahal dihari biasa aku selalu membeli permen dan sampahnya selalu kubuang ketempat sampah. Namun..
Kreek..kreek..
              Permen loli merah itu menempel dimulutku dan sampah nya kumasuki kedalam sebuah kaleng. Kaleng kosong yang sudah banyak sekali terdampar di dalam kamarku. Kaleng itu kuletakkan diatas lemari dan kupajang indah sekali.
              “fallen sayang, sudah makan? Kenapa belum ganti baju?” tiba-tiba mama datang membuka pintu kamar
              “mama, ketok dulu sebelum masuk!” balasku
              “itu urusan nanti, sekarang ganti baju mu dan cepat kebawah, hari ini mama dan papa ada urusan penting diluar, jadi makanan yang tersedia hanya sampai sore” jelas mama dan ia pergi meninggalkan kamarku
              Akhirnya dengan malasnya, aku berjalan pelan menuju lantai bawah sambil menenteng sebuah kaleng yang isinya hanya sampah permen. Sementara permen yang kumakan belum saja habis. Tanpa pikir panjang, aku meletakkan permen itu dan melanjutkan makan siangku.
.
.
.
Malam ini ada banyak sekali tugas dari sekolah. Waktu pengumpulan masih lama, tapi aku ingin segera menyelesaikannya agar tak menumpuk di jadwal yang dekat nanti.
              Rambut yang kukuncir dan poni yang kuikat rapi. Dengan sebuah kacamata, aku duduk di meja belajar dan menjawab semua soal-soal itu. Bahkan ponselku bergetar beberapa kali sama sekali tak kuhiraukan. “yaaah.. ini fallen yang sedang serius..”

Keesokan paginya..
              “pagi palen!” sapa fresha dengan wajah imutnya menyapaku setiap pagi di depan pintu
              “eh tumben fresha nggak telat datang” candaku padanya dan tertawa pelan
              “hari ini aku lagi semangat!” jawabnya hampir bergaya seperti seorang anak-anak remaja di film kartun.
              “semangat atas?”
              “kenal daffa nggak? Temannya Hagi, pacarnya Finscha”
              “daffa.. hmm.. anggota osis kah fresha?” aku sedikit mengarahkan mataku keatas sambil berfikir
              “iya iya, kemarin dia nembak aku..”
              “hah? Masa? Loh kok bisa? Bukankah dia dulu nggak suka gaya sok imut mu? Kalian sering bertengkar malah. Sejak kapan?”
              “itu sih tanyakan langsung padanya. Aku juga tidak tau apa-apa. Tapi kuterima. Yang tak mungkin bisa jadi mungkin kali pallen. Akupun juga lebih sangat tidak menyangka” fresha tertawa dengan semangatnya dan berjalan keluar pintu kelas.

              Satu kalimat yang tiba-tiba teringat olehku. Yang tak mungkin bisa jadi mungkin. Kata-kata itu entah kenapa membuat perasaanku terdiam. Benar! Daffa itu teman sekelas kami dulu di kelas 11-G. dia anak yang menyebalkan dan diantara kedua orang ini sering sekali terjadi pertengkaran yang luar biasa. Mendengar pernyataan Fresha pun aku sama sekali belum mempercayainya. Tapi..
              “Anzu…” mulutku tergerak mengucapkan sebuah kata
              Di depan pintu aku terhenti melangkah. Wajahku tertunduk. Tiba-tiba tergambar dalam bayanganku, sosoknya berjalan dengan penuh senyuman dan dia merangkul tanganku perlahan berjalan mengikutinya dari belakang. Semua orang tampak sedang tertawa. Menertawakan diriku yang bersamanya.
              Aaakh! Aku sedang berpikir apa!
              “fallen..” lentikan jari dan suara lembut itu bersuara di telingaku.
              “Yoga?” begitu aku menyebutnya dan segera membuka mata dan melihat kearahnya
              Dia tersenyum melihatku yang menghentikan jalannya di depan pintu. Dengan sebuah helm dan tas hitam yang ia sandang. Ia menatapku. Ya ampuun! Wajahnya keren sekali waktu itu..
              “jangan menghalangi jalan disana fallen. Kenapa nggak masuk?” Tanya Yoga dan mendekat kearahku
              Aku gugup.. berusaha sedikit menjauh darinya dan seperti biasa tanganku bergetar. “a-anoo… aku..” karna terlalu bergetar aku sampai tidak berani mengucapkan satu atau dua patah katapun.
              “kenapa fallen? Kenapa gugup begitu?”
              “ti-tidaaak…” aku masih gugup dan menggelengkan kepala dengan cepat
              Sementara itu semua orang di dalam kelas sedang memperhatikan kami. Ya, hanya memperhatikan. Kemudian aku membalas senyumnya dan berjalan seketika masuk ke dalam segera duduk di sebelah Finscha yang daritadi sedang menahan tawa nya melihatku.

              “grogimu terlalu jelas pallen” bisik Finscha tiba-tiba
              “hah? Iya? Benarkah?”
              “aku yakin sekali perasaanmu padanya udah balik lagi kan? Jelas sekali dari raut wajahmu. Sebenarnya sejak kapan? Bukankah dulu kamu cerita padaku kan lupakan semua tentangnya?”
              Aku terdiam. Sorot mata keingintahuan Finscha mulai menakutiku seketika. Dan.. “ohya, benarkah tentang hubungan Fresha dengan Daffa? Wah kira-kira bagaimana ya cara pacaran orang yang sudah berapa lama musuhan?” aku mulai mengalihkan pembicaraan dan tertawa geli
              “iya, maaf ya aku dan Grace juga Hagi belum ceritakan semua padamu. Habisnya terlalu mendadak sih. Sebenarnya waktu kamu nyuruh kami pulang duluan itu, Fresha lagi tidak enak badan dan duluan pulang. Lalu dijalan aku dan Grace bertemu Hagi yang saat itu membawa Daffa. Yap, dan Daffa cerita semuanya” Finscha
              “cerita apa Finscha?”
              “iya, dia bilang Karena terlalu sering bertengkar itu, perasaannya tiba-tiba saja tumbuh. Dan entah kenapa Daffa senang sekali melihat wajah Fresha” jelas Finscha
              “waaah keren! Pasti enak ya jadi Fresha, disukai sama orang yang sudah lama dianggap musuh” ujarku dan duduk kembali ditempat duduk. Aku tersenyum sangat ramah sekali pada Finscha. Melupakan semuanya.
              Seharusnya hatiku bahagia sekali melihat Fresha dengan Daffa bisa damai begini. Tapi kenapa ya? Rasanya ingin seperti mereka. Yang tak bisa mungkin bisa jadi mungkin. Fresha yang tidak punya perasaan apa-apa bisa menerima Daffa dengan semangatnya. Sementara aku? “sudah tiga tahun, ya?
              Seketika air mata mulai mengalir pelan di pipiku. Aku mencoba untuk menahannya. Tapi.. hiks.. dan ingus ku berbunyi.
              “aaa Palen kamu kenapa? Kenapa menangis?” Finscha yang mendengar suara ingusku itu segera melihat kearahku.
              “tidak apa-apa..” aku kembali tersenyum. Dan mataku masih seolah melihat kearah Yoga. Sosoknya yang selalu tewarna indah di depanku. Kuperhatikan semua gerakannya dan senyumannya. Yah bahkan jika hari ini aku menyoraki nama “Anzu” sekerasnya pun ia juga tidak akan pernah sadar..
              “palen jangan menangis! Kamu kenapa? Aku ada salah bicara?” Finscha terlihat panik dan berusaha mencari-cari tisu dari dalam tas nya
              “Finscha.. kalau aku kapan ya bisa mendapatkan Anzu?” ucapku seketika
              “jadi benar kan dugaanku, perasaan kamu sama Yoga atau lebih terkenal dengan Anzu mu itu sudah balik? Kamu pikirkan perasaan Rio dulu lah! Bagaimana dia yang selalu peduli padamu? Pandangan kedua orang tua mu?”
              “Finscha belum mengerti kenapa aku memilih Rio!”
              “iya aku tau itu, tapi aku hanya mengingatkan”
              “AKU SUDAH LAMA SUKA SAMA ANZU!!” sontak aku berteriak. Hingga kelas segera hening dan semua melihat kearahku termasuk Yoga.
              Sementara Finscha tetap menatapiku tanpa respon apa-apa. Kemudian tersenyum. Dalam keadaanku yang terurai air mata itu, ponselku segera berdering.
              Dan tau itu dari siapa? Iya, Rio menyapaku. Tapi kali ini dia hanya mengirim pesan dengan ucapan, “Fallen..”. hanya itu dan aku segera membalasnya dengan kata “iya”. Dan tanpa melanjutkan perkataan apapun lagi, aku seperti biasa menidurkan kepalaku keatas meja.
.
.
.
Menulis semua tentangmu..
Bahkan jika kujadikan semua harapanku ini sebuah cerita..
Mungkin saja aku bisa membuat sebuah novel
Dan karanganku kubuat dengan nama “dandelion”
Warnamu tercium indah oleh mataku
Dan mendengar suaramu itu
Melihat langkah mu berjalan pelan di depan
Seketika mendengar musik gitarmu
Membuatku serasa melayang diudara
Satu harapanku, ingin memilikimu..

              Bayangan berjalan di sampingmu, bayangan naik diatas motormu, bayangan tertawa bersamamu, dan bayangan berada di sampul foto tersenyum bersama denganmu. Tiba-tiba mengingatmu kembali membuat pikiranku kacau balau. Bagaimana seseorang bisa merasakan perasaan seperti yang kurasakan?
              Aku tersenyum dibalik ketidaksadaran dirinya. Terhadap orang yang benar-benar tulus menyukainya. Terhadap orang yang selalu menulis tentang namanya. Dan mengingat namanya saja membuat diriku seakan ingin menulis dan terus menulis. Karangan yang aneh. Dan aku selalu tersenyum sendiri. Akh!
Kriiing..kriing…
Itu bunyi bel istirahat yang membangunkanku. Bukan! Itu bel pulang.
              Aku mengangkat kepalaku dan melihat beberapa siswa sudah mulai duduk rapi dengan menyandang tas masing-masing. Wajahku yang terlihat kusam, mengusapkan mata dengan tanganku. Perlahan aku mulai bergerak dan mengambil tas kemudian menyandang nya.
              “sudah berapa jam aku tertidur?”
              “dari pagi palen..”
              “ooh..”
              Aku berbicara seolah tak tentu arah. Lalu melangkah meninggalkan tempat duduk dengan pandangan yang masih berbinar-binar. Kulihat Yoga berdiri di depanku dan menghentikan langkahnya. Kepalanya yang sudah ditutupi helm tapi aku masih merasakan dia tersenyum padaku. Dan tiga temanku yang juga ikut berhenti melangkah di belakangku. Dengan suara serak aku mulai mengeluarkan beberapa kata,
              “ada apa Yoga?” tanyaku, menghentikan menyambung namanya karena aku yang tidak terlalu bisa menyebut namanya dengan benar.
              “benarkah bertanya seperti itu padaku Fallen?” Yoga membuka kaca helm nya
              “hah? Maksudnya?” aku kembali melihat ketiga temanku. Mereka hanya tersenyum dan diam menatapi kami berdua. Berdiri tegap di depannya, dan aku kehilangan kata-kata.
              “hari ini, fallen pulang bareng aku ya?”
Deg! Aku terkaget. Kutatapi tatapan matanya yang terlihat sangat serius. Aku tak bisa menjawab apa-apa. Anggukan dan gelenganpun aku tidak bisa. Hanya berdiri kaku.
              “ciee paleeen!!” sorakan Fresha yang keras
              “terima tawaran itu palen!” tambah Grace
              “iya, pulang sama Yoga!” Fresha dan Finscha mulai bertindak
              “eeh tapi aku pulang sama kalian kan?” jawabku gugup
              “tidak apa-apa, Yoga jaga temanku ya! Hati-hati dijalan!” tambah Fresha memegangi bahuku dan secepatnya mereka bertiga berlari keluar dan meninggalkanku di dalam kelas.
Saat itulah aku mulai tersenyum.. tapi..
Bip..bip..
Ponselku kembali bergetar. Segera kubuka pesan itu karena aku mulai kehilangan arahku.
Dan tau pesan apa yang baru kudapatkan hari itu?

From : oujisama
Fallen maaf ya, aku mau jujur! Sebenarnya selama ini aku suka sama teman sekelasku. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanmu. Tapi melihat sikapmu yang makin hari makin menyakitiku aku jadi semakin.. aakh! Apalagi mendengar kata-katamu waktu itu tentang orang yang kamu suka. Benarkah kamu punya orang yang disuka? Kalau menurutmu dia lebih baik, aku boleh mundur?

Setelah membaca pesan itu aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Apalagi melihat Yoga yang daritadi terus menatapiku. Aku hanya tekan close dan exit. Kemudian kukunci tombol ponselku dan mengangguk tersenyum padanya.
              Entah kenapa hatiku mulai sedikit bahagia. Kakiku yang mulai melangkah keluar kelas, kemudian dengan dia yang berjalan di depan itu. Membuat debaran jantungku terasa lebih indah. Berjalan di belakang dan melihat dirinya dari dekat. Warna tas nya yang sekarang telah berganti menjadi hitam. Dia berjalan perlahan di depanku. Iya, tanpa menoleh kearahku tapi entah kenapa hatiku begitu bahagia.
              Ini seperti mimpi ya? Aku hanya bisa meradang menjadi yang disisinya dan sekarang aku benar-benar berjalan di dekatnya.
              “Yoga!” aku mulai percepat langkahku dan berjalan di sebelahnya. Berbagi senyum padanya.
              Dan hal spesial padaku, naik diatas motor miliknya pertama kali. Hal yang telah kuimpikan sejak pertama mengenalinya. Angin-angin sepoi yang mengarah kearahku. Diriku yang duduk di belakangnya dan dia mengendara dengan baik. Suara motornya..
              “fallen, bagaimana?” suara itu kudengar dari arah depan
              “bagaimana apanya?” mulaiku membalas
              “naik motorku tidak membebanimu kan?”
              “tidak.. hihhi..” aku tersenyum
              Melihat seisi jalan. Padahal setiap harinya aku melihat tapi entah kenapa hari itu dari atas sini jalanan itu tampak seperti dandelion-dandelion mekar dan angin ini seperti menerbangkan gumpalan dandelion. Bolehkah aku menyentuhnya?
              Ya, tapi ini hanya anganku saja.. dan sangat nyata sekali aku duduk dibelakangnya diatas motor yang baru saja kududuki, setelah beberapa tahun aku melihat kursi yang ini. Tiba-tiba cintaku mulai sangat mekar dihari ini

=TBC=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman