Tittle :
♥ My Dandelion It’s You ♥
Genre : Romance, Friends
Length : Short Story
Rating : M
Author : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself
Keterangan : Link Opening
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
~before~
Dandelion yang kusuka, pertama kali melihat dia saat masa orientasi
siswa. Melihat namanya tertera di bajunya. Melihat tawanya. Maafkan aku,
dandelion kecilku itu adalah orang yang sekarang berada di depanku, seseorang
yang menarik tanganku kini. Dan seseorang yang tadinya bertanya “siapa
dandelionmu?” iya, itu kamu. Seseorang dengan nama.. AFRANANDA YOGA..
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
“cieee.. Falleeeeen!!” sorakan
para siswa itu membising seketika aku masuk ke kelas bersama dengan Yoga. Aku
tak menggubris sorakan mereka. Tetap tersenyum seperti aku yang biasanya. Kemudian
duduk di tempat.
Hari
ini aku begitu semangat sekali. Wajah ku yang biasa, bahkan dari tempat duduk
ini aku melihat kearahnya, kebelakang sana sambil melihat dia yang tersenyum
padaku.
“hey,
bagaimana palen?” Finscha berbisik kearahku
“itu..”
“dia
responkah? Aku rasa Yoga juga suka sama kamu Palen. Tapi dia menunggu
pernyataan kamu dulu..”
“aku
belum sempat menyampaikannya Finscha..”
“loh?
Kenapa?”
“tadi
bel berbunyi”
“yaaaaah….
Yaudah tidur gih kamu sono, pasti udah ngantuk kan habis nangis? Kamu banget tuh..” Finscha membuka buku
catatannya
Benar
kata Finscha. Mengeluarkan terlalu banyak air mata membuat seseorang mudah
sekali mengantuk. Dan hari ini seperti aku yang biasanya, menidurkan diri
diatas meja. Tak merisaukan yang lainnya.
.
.
.
“Fallen..”
suara indah itu tiba-tiba terdengar di tengah tidurku siang itu. Aku membuka
mata dan melihat kesebelah. Bukan wajah Finscha yang kulihat, tapi senyum
cantik milik Yoga. Dia bertukar tempat dengan Finscha. “akh?”
“fallen
tidurnya jam berapa? Kenapa selalu kuperhatikan selalu tidur di kelas?” Tanyanya
“jam
10” jawabku
“cobalah
sesekali tidak tidur di kelas? Kamu cewek loh. Lebih baik kamu semangat seperti
anak yang lainnya. Lihat mereka yang tertawa. Masa SMA ini singkat, Fallen. Jangan
puaskan dirimu datang kesekolah hanya untuk tidur. Pasti Fallen suka begadang,
yah?” jelas Yoga. Wajahnya dan senyumannya tiba-tiba rasanya sangat tulus
sekali. Tatapan kami bertemu lagi dan kali ini kupaksa diriku untuk tak
menghindari. Kupaksa tatapanku untuk melihat kearahnya. Kearah mata cantiknya
itu.
Tanpa
menjawab apapun aku mengangguk dan memberikan senyumanku padanya.
Dan
setelah kejadian itu, aku berusaha untuk tidak tidur. Bahkan keesokan harinya
aku untuk pertama kalinya memperhatikan guru menerangkan pelajaran walau
rasanya berat. Sayupan mataku yang seketika sering melemah, tetap memaksakan
melihat kedepan. Berbagi senyum kepada anak yang lain. Aku ingin melakukan yang
terbaik untuk Yoga..
“palen,
besok hari libur mau kemana?” suara Fresha di telfon pada malam itu
“minggu,
ya? Entahlah. Ada apa?”
“aku
dan yang lainnya mau ngajak kamu
pergi belajar kelompok di lapangan sekolah. Ada Yoga, lho? Mau?” serunya
“baiklah,
jam berapa?”
“12
lah”
“sip
Plecha..”
Kemudian
aku membaringkan tubuhku keatas tempat tidur. Wajahku tersenyum pada om permen
diatas lemari. Dan hatiku berulang kali berkata, perasaanku hampir tersampaikan…
“besok
Yoga pasti bertanya lagi? Dan aku harus jawab apa?” berkali-kali aku memutarkan
arah mataku ke segala arah
.
.
.
Hari
ini makan malam ku berikutnya dengan keluarga di meja makan. Sejak aku
memutuskan untuk tidak bersama Rio lagi, mama jarang sekali menyapaku. Terlihat
dari wajahnya yang sangat kecewa. Di meja makan bahkan hanya aku seorang yang
tidak diajak berbicara. Sementara yang lainnya, sibuk tertawa dan membahas
banyak hal.
Rasanya
bagaikan aku ditinggal sendiri di tempat gelap. Akh!
“mama
papa aku ke kamar duluan” aku meletakkan sendok diatas piring yang masih banyak
bersisa. Aku segera berdiri dan berlari menuju kamar.
Hari ini..
Aku benci ketika semua orang mulai
mengatur hidupku..
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
Pagi
ini aku terbangun dari tidurku. Eh bukan pagi sekarang sudah menunjukkan pukul
11 siang. Kemarin malam aku begadang hingga pukul 3 pagi. Dan siang ini yang
membangunkan ku adalah bunyi getaran ponselku yang berulang kali berdering
diatas lemari. Dengan paras wajah yang masih hancur aku segera mengangkat
panggilan itu.
“hallo?”
ucapku
“sekarang
ada dimana fallen?” suara itu terdengar ribut dan keras.
“akh?”
aku terkaget dan menjauhkan suara panggilan dengan telingaku. Seketika aku
melihat nomor panggilan itu. “yoga?”
“fallen?
Kamu mendengarku?”
“aa
iya iya, aku sedang di rumah. Ada apa Yoga?” jawabku semangat
“nanti
aku jemput di rumah, ya?”
“ha?”
“sekarang
bersiap-siap sekitar setengah jam lagi aku kesana” dan ia segera mematikan
panggilan itu.
Ohya,
kemarin malam aku sudah berjanji dengan Fresha akan belajar kelompok bersama di
lapangan. Aku hampir lupa..
Dan
dengan cepatnya aku segera berlari ke kamar mandi. Mandi secepatnya dan mencari
baju yang bisa kupakai untuk hari ini. Namun dengan rambut yang masih kukuncir,
suara klakson motor terdengar berbunyi di depan halaman rumahku. Iya itu pasti
Yoga! Dengan langkah yang cepat sebelum bersiap-siap rapi aku berlari menuju
lantai bawah dan menuju pintu keluar.
Tiba-tiba
langkahku itu terhenti setelah aku melihat mama mengintip dari jendela. Mama
yang melihatkupun menutup jendela itu.
“itu
siapa?” Tanya mama
Deg! Aku kehilangan kata-kata segera
“itu
pacar barumu, ya?” mama berjalan mendekat kearahku
“i-itu..”
“yasudah
kalau itu yang terbaik untukmu, terserahlah. Cepat bergegas sebelum ia lama
menunggumu” mama meninggalkanku di depan pintu.
Rasa
panikku segera menghilang dan aku melangkahkan kaki membuka pintu.
“maaf
menunggu lama, Yoga..” ucapku
“tidak
apa-apa, Fallen..” lelaki itu tersenyum padaku. Lalu kembali menghidupkan mesin
motornya dan mulai memutar kearah sebaliknya
“eh
aku masih belum siap. Bisa tunggu sebentar lagi?” ucapku sedikit menekan. Rambutku
masih belum kering. Dan kuncir nya belum kurapikan.
“belum
siap? Kukira sudah. Fallen terlihat rapi, sih” jawab Yoga kembali menghentikan
motornya.
Aku
mengangguk ketakutan. Tetapi perlahan berjalan ke kamar. Dan bersiap-siap
segera. Ingin, ingin sekali tampak cantik hanya di depan Yoga. Namun, seperti
apapun aku takkan bisa secantik yang dia inginkan.
Perlahan
aku merapikan rambutku. Memakai bedak seperti biasanya. Dan tampil apa adanya. Kemudian
berjalan pelan keluar membuka pintu. Menatapi wajah tersenyum Yoga dan naik
keatas motornya. Ini kedua kalinya aku duduk diatas sini.
Saat
motornya mulai berjalan disana aku mulai berdebar-debar..
.
.
.
Setengah perjalanan..
“Fallen,
kamu masih di belakang, kan?” tanyanya tetap melihat ke depan
“iya?
Ada apa yoga?” balasku
“tidak,
hey lihat dua orang yang berjalan di depan sana. Keren, ya?” Yoga mulai
menghentikan motornya dan menunjuk kearah dua orang wanita dan pria yang sedang
berjalan menyebrangi jalan.
Mataku
yang hari itu tanpa kacamata masih sayup-sayup buram. Tapi aku coba untuk
melihat. Dan lihat itu, baru saja aku melihat sosok Rio berjalan bergandengan
tangan dengan seorang wanita lain. Hal yang baru pertama kali kulihat.
Baru
saja kemarin aku memutuskan hubungan dengannya dan sekarang aku melihatnya
berjalan dengan yang lain. Iya, itu mungkin wanita yang ia maksud di pesan
terakhir. Shit!
“mengenalnya,
Fallen?” Tanya Yoga sekali lagi
“unn~
tidak” aku tertawa kecil
“oke,
kita lanjutkan perjalanan” suara motornya kembali berbunyi dan kami melanjutkan
perjalanan
Aku
sama sekali tidak merasakan rasa sakit apa-apa. Bahkan aku ingin sekali cepat
perasaan ini sampai. Cepat aku ungkapkan pada sosok Anzu yang di depan kini.
Cepat ia mengetahui meski takkan membalas apa-apa. Iya, karena kuyakin
bagaimanapun itu antara aku dan Yoga takkan pernah bersama.
Semua
ada sejak pertama aku menyukainya dan aku merasakan bayangan itu. Diatas
motornya ini dan kulihat bahunya yang sedikit agak besar dariku. Hah!
“ciee
Paleeeen!!” sorakkan aneh itu kembali kudengar setelah aku turun dari motor
milik Yoga
Teman-teman
menghampiriku dengan semangatnya. “kamu tidak apa-apa Palen? Yoga bawa motornya
hati-hati,kan?” dan pertanyaan itu mulai muncul lagi
“iya,
tidak apa-apa. Kenapa kalian yang panik,?” jawabku
“hey
Yoga, kalian cocok, lho! Dari sekian banyak cewek yang suka sama kamu, kayaknya
Cuma Palen lah yang cocok sama kamu. Haha” suara Fresha terdengar mulai sangat
menjengkelkan di telingaku
“Fresha
apa-apaan!” aku berjalan menuju lapangan. Meletakkan tasku dan mulai
mengeluarkan buku. Yap, mata pelajaran yang paling aku benci keluar dengan
sendirinya karena tanganku. Matematika. Dan kurasa itu adalah mata pelajaran
yang paling disukai oleh Yoga.
….
“Fallen..”
Finscha berdiri di depanku
“ada
apa Finscha?” tanyaku
Finscha
menatapiku panjang. Tanpa tersenyum ia duduk di depanku.
“kemarin
sama tadi pagi Yoga masih mengirim pesan ke aku”
“mengirim
pesan?”
“aku
rasa Yoga juga punya rasa lah sama kamu Fallen. Hanya saja belum berani
berbicara. Aku sudah berapa kali berbicara begini padamu. Aku tidak akan
membicarakannya di depan Fresha dan Grace karena kuyakin mereka punya pikiran
yang berbeda. Dia bertanya terus padaku siapa dandelionmu. Padahal aku sudah
bilang bertanya langsung padamu. Tapi dia hanya bilang kamu takkan jawab
apa-apa” jelas Finscha
“aku
takut. Menurutku dia hanya ingin menjadi temanku kok Finscha. Dia dekat karena
dia juga dekat dengan kalian. Aku juga dekat dengan kalian, kan?”
“aku
tidak bisa berpikir seperti yang kau pikirkan. Tapi coba kuulangi sekali lagi,
ingat semua masa lalu yang mengingatkanmu padanya? Bukankah tidak sengaja waktu
kelas 11 aku melihat buku harianmu? Tertulis ingin segera perasaan ini sampai
kan? Aku paling tau tentangmu. Kita sudah tiga tahun berada di kelas yang sama,
Fallen. Aku tau apa yang terbaik untukmu. Percayakan semuanya padaku”
Aku
terdiam seketika. Aku menatap lurus tatapan Finscha. Tatapan penuh keyakinan. Aku
tidak perlu harus mengingat semuanya dihari ini. Mengingat sosok bayangannya
dulu yang buram untuk kuingat.
Mengingat
semua hari-hariku. Mengingat semua tangisanku. Dan sekarang ia ada di dekatku. Iya,
aku hanya butuh satu langkah untuk menyampaikan perasaan ini.
Mataku
yang kembali mencari-cari keberadaannya. Angin berhembus sepoi-sepoi
mengeringkan rambutku yang tadi agak sedikit basah. Tiba-tiba kulihat dia yang
tertawa bersama yang lainnya di depan sana. Sesosok teman sejak kecilku yang
berada di depanku dengan penuh keyakinan. Membawa mataku melihat kearahnya. Wajah
tertawa Yoga.
“ini..”
Finscha memperlihatkan ponselnya padaku.
Pesan
dari Yoga..
From :
Yoga 12-G
Beritahu
aku siapa dandelionnya Fallen.. aku ingin tahu..
Sebuah pesan yang membuat nafasku
sedikit teraliri. Aku menutup wajah ini. Perlahan langkah kakiku berjalan kearah
Yoga mulai meninggalkan Finscha. Tatapanku tiba-tiba lurus. Dan rasanya aku
seperti di hipnotis Finscha sehingga tak ada kata yang bisa kuucapkan selain
memanggil namanya pelan.
“hah?
Fallen? Ada apa?” wajah Yoga yang agak sedikit keren itu menoleh kearahku
“kenapa
kamu selalu bertanya siapa Dandelionku, hah?”
“itu
karena aku teman kamu..”
“teman?”
“iya,
aku tak ingin melihat teman-temanku punya hari yang buruk. Aku ingin mereka
bahagia. Aku tidak suka melihat sebuah perasaan yang tak sampai. Ingin
membantumu Fallen tapi takut kamu mengiraku ikut campur. Aku tidak berani
bertanya padamu. Dan jika kamu ingin memberitahuku tentang itu, aku janji akan
mem…” penjelasan itu segera kuakhiri dengan kata-kataku berikutnya.
“kenapa
Yoga begitu sekali ingin membantuku? Apakah kebahagiaan besar untukmu bila
melihatku bahagia? Akh, dasar Yoga bodoh!”
Ucapakanku
hanya ia balas dengan senyuman ramahnya. Hah! Melihat senyumannya itu rasanya
begitu mendebarkan. Apalagi kami berada di suatu titik dimana hari ini
daun-daun hijau aneh itu berguguran dengan indah di pertengah jarak kami.
“benar-benar
ingin tahukah Yoga? Yasudah biar kuberitahu sekarang ya?”
Aku
melirik kearah yang lainnya. Mereka semua menatapi kami berdua seperti ada
adegan dramatis disebuah pementasan drama. Dan itu sangat keren!
Bolehkah
aku mulai menyebutkannya disini? Apapun jawabannya itu akan kuterima dengan
senang hati.
“iya,
dandelion kecilku itu adalah Anzu, seseorang dengan nama Afrananda Yoga!”
=END=












Tidak ada komentar:
Posting Komentar