Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/12/03

My Dandelion It's You (Part 5) Ending

Tittle                    : My Dandelion It’s You
Genre                  : Romance, Friends
Length                : Short Story
Rating                 : M
Author                : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself 
Keterangan        :  Link Opening


*** My Dandelion It’s You ***

~before~

Dandelion yang kusuka, pertama kali melihat dia saat masa orientasi siswa. Melihat namanya tertera di bajunya. Melihat tawanya. Maafkan aku, dandelion kecilku itu adalah orang yang sekarang berada di depanku, seseorang yang menarik tanganku kini. Dan seseorang yang tadinya bertanya “siapa dandelionmu?” iya, itu kamu. Seseorang dengan nama.. AFRANANDA YOGA..

PART 5 (ENDING) : TETAP DENGAN RASAKU INI

 

*** My Dandelion It’s You ***

              “cieee.. Falleeeeen!!” sorakan para siswa itu membising seketika aku masuk ke kelas bersama dengan Yoga. Aku tak menggubris sorakan mereka. Tetap tersenyum seperti aku yang biasanya. Kemudian duduk di tempat.
              Hari ini aku begitu semangat sekali. Wajah ku yang biasa, bahkan dari tempat duduk ini aku melihat kearahnya, kebelakang sana sambil melihat dia yang tersenyum padaku.
              “hey, bagaimana palen?” Finscha berbisik kearahku
              “itu..”
              “dia responkah? Aku rasa Yoga juga suka sama kamu Palen. Tapi dia menunggu pernyataan kamu dulu..”
              “aku belum sempat menyampaikannya Finscha..”
              “loh? Kenapa?”
              “tadi bel berbunyi”
              “yaaaaah…. Yaudah tidur gih kamu sono, pasti udah ngantuk kan habis nangis? Kamu banget tuh..” Finscha membuka buku catatannya
              Benar kata Finscha. Mengeluarkan terlalu banyak air mata membuat seseorang mudah sekali mengantuk. Dan hari ini seperti aku yang biasanya, menidurkan diri diatas meja. Tak merisaukan yang lainnya.
.
.
.
              “Fallen..” suara indah itu tiba-tiba terdengar di tengah tidurku siang itu. Aku membuka mata dan melihat kesebelah. Bukan wajah Finscha yang kulihat, tapi senyum cantik milik Yoga. Dia bertukar tempat dengan Finscha. “akh?”
              “fallen tidurnya jam berapa? Kenapa selalu kuperhatikan selalu tidur di kelas?” Tanyanya
              “jam 10” jawabku
              “cobalah sesekali tidak tidur di kelas? Kamu cewek loh. Lebih baik kamu semangat seperti anak yang lainnya. Lihat mereka yang tertawa. Masa SMA ini singkat, Fallen. Jangan puaskan dirimu datang kesekolah hanya untuk tidur. Pasti Fallen suka begadang, yah?” jelas Yoga. Wajahnya dan senyumannya tiba-tiba rasanya sangat tulus sekali. Tatapan kami bertemu lagi dan kali ini kupaksa diriku untuk tak menghindari. Kupaksa tatapanku untuk melihat kearahnya. Kearah mata cantiknya itu.
              Tanpa menjawab apapun aku mengangguk dan memberikan senyumanku padanya.
              Dan setelah kejadian itu, aku berusaha untuk tidak tidur. Bahkan keesokan harinya aku untuk pertama kalinya memperhatikan guru menerangkan pelajaran walau rasanya berat. Sayupan mataku yang seketika sering melemah, tetap memaksakan melihat kedepan. Berbagi senyum kepada anak yang lain. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk Yoga..

              “palen, besok hari libur mau kemana?” suara Fresha di telfon pada malam itu
              “minggu, ya? Entahlah. Ada apa?”
              “aku dan yang lainnya mau ngajak kamu pergi belajar kelompok di lapangan sekolah. Ada Yoga, lho? Mau?” serunya
              “baiklah, jam berapa?”
              “12 lah”
              “sip Plecha..”
              Kemudian aku membaringkan tubuhku keatas tempat tidur. Wajahku tersenyum pada om permen diatas lemari. Dan hatiku berulang kali berkata, perasaanku hampir tersampaikan…
              “besok Yoga pasti bertanya lagi? Dan aku harus jawab apa?” berkali-kali aku memutarkan arah mataku ke segala arah
.
.
.
              Hari ini makan malam ku berikutnya dengan keluarga di meja makan. Sejak aku memutuskan untuk tidak bersama Rio lagi, mama jarang sekali menyapaku. Terlihat dari wajahnya yang sangat kecewa. Di meja makan bahkan hanya aku seorang yang tidak diajak berbicara. Sementara yang lainnya, sibuk tertawa dan membahas banyak hal.
              Rasanya bagaikan aku ditinggal sendiri di tempat gelap. Akh!
              “mama papa aku ke kamar duluan” aku meletakkan sendok diatas piring yang masih banyak bersisa. Aku segera berdiri dan berlari menuju kamar.
              Hari ini..
              Aku benci ketika semua orang mulai mengatur hidupku..



*** My Dandelion It’s You ***

              Pagi ini aku terbangun dari tidurku. Eh bukan pagi sekarang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Kemarin malam aku begadang hingga pukul 3 pagi. Dan siang ini yang membangunkan ku adalah bunyi getaran ponselku yang berulang kali berdering diatas lemari. Dengan paras wajah yang masih hancur aku segera mengangkat panggilan itu.
              “hallo?” ucapku
              “sekarang ada dimana fallen?” suara itu terdengar ribut dan keras.
              “akh?” aku terkaget dan menjauhkan suara panggilan dengan telingaku. Seketika aku melihat nomor panggilan itu. “yoga?
              “fallen? Kamu mendengarku?”
              “aa iya iya, aku sedang di rumah. Ada apa Yoga?” jawabku semangat
              “nanti aku jemput di rumah, ya?”
              “ha?”
              “sekarang bersiap-siap sekitar setengah jam lagi aku kesana” dan ia segera mematikan panggilan itu.
              Ohya, kemarin malam aku sudah berjanji dengan Fresha akan belajar kelompok bersama di lapangan. Aku hampir lupa..
              Dan dengan cepatnya aku segera berlari ke kamar mandi. Mandi secepatnya dan mencari baju yang bisa kupakai untuk hari ini. Namun dengan rambut yang masih kukuncir, suara klakson motor terdengar berbunyi di depan halaman rumahku. Iya itu pasti Yoga! Dengan langkah yang cepat sebelum bersiap-siap rapi aku berlari menuju lantai bawah dan menuju pintu keluar.
              Tiba-tiba langkahku itu terhenti setelah aku melihat mama mengintip dari jendela. Mama yang melihatkupun menutup jendela itu.
              “itu siapa?” Tanya mama
              Deg! Aku kehilangan kata-kata segera
              “itu pacar barumu, ya?” mama berjalan mendekat kearahku
              “i-itu..”
              “yasudah kalau itu yang terbaik untukmu, terserahlah. Cepat bergegas sebelum ia lama menunggumu” mama meninggalkanku di depan pintu.
              Rasa panikku segera menghilang dan aku melangkahkan kaki membuka pintu.
              “maaf menunggu lama, Yoga..” ucapku
              “tidak apa-apa, Fallen..” lelaki itu tersenyum padaku. Lalu kembali menghidupkan mesin motornya dan mulai memutar kearah sebaliknya
              “eh aku masih belum siap. Bisa tunggu sebentar lagi?” ucapku sedikit menekan. Rambutku masih belum kering. Dan kuncir nya belum kurapikan.
              “belum siap? Kukira sudah. Fallen terlihat rapi, sih” jawab Yoga kembali menghentikan motornya.
              Aku mengangguk ketakutan. Tetapi perlahan berjalan ke kamar. Dan bersiap-siap segera. Ingin, ingin sekali tampak cantik hanya di depan Yoga. Namun, seperti apapun aku takkan bisa secantik yang dia inginkan.
              Perlahan aku merapikan rambutku. Memakai bedak seperti biasanya. Dan tampil apa adanya. Kemudian berjalan pelan keluar membuka pintu. Menatapi wajah tersenyum Yoga dan naik keatas motornya. Ini kedua kalinya aku duduk diatas sini.
              Saat motornya mulai berjalan disana aku mulai berdebar-debar..
.
.
.
Setengah perjalanan..
              “Fallen, kamu masih di belakang, kan?” tanyanya tetap melihat ke depan
              “iya? Ada apa yoga?” balasku
              “tidak, hey lihat dua orang yang berjalan di depan sana. Keren, ya?” Yoga mulai menghentikan motornya dan menunjuk kearah dua orang wanita dan pria yang sedang berjalan menyebrangi jalan.
              Mataku yang hari itu tanpa kacamata masih sayup-sayup buram. Tapi aku coba untuk melihat. Dan lihat itu, baru saja aku melihat sosok Rio berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita lain. Hal yang baru pertama kali kulihat.
              Baru saja kemarin aku memutuskan hubungan dengannya dan sekarang aku melihatnya berjalan dengan yang lain. Iya, itu mungkin wanita yang ia maksud di pesan terakhir. Shit!
              “mengenalnya, Fallen?” Tanya Yoga sekali lagi
              “unn~ tidak” aku tertawa kecil
              “oke, kita lanjutkan perjalanan” suara motornya kembali berbunyi dan kami melanjutkan perjalanan
              Aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit apa-apa. Bahkan aku ingin sekali cepat perasaan ini sampai. Cepat aku ungkapkan pada sosok Anzu yang di depan kini. Cepat ia mengetahui meski takkan membalas apa-apa. Iya, karena kuyakin bagaimanapun itu antara aku dan Yoga takkan pernah bersama.
              Semua ada sejak pertama aku menyukainya dan aku merasakan bayangan itu. Diatas motornya ini dan kulihat bahunya yang sedikit agak besar dariku. Hah!             

              “ciee Paleeeen!!” sorakkan aneh itu kembali kudengar setelah aku turun dari motor milik Yoga
              Teman-teman menghampiriku dengan semangatnya. “kamu tidak apa-apa Palen? Yoga bawa motornya hati-hati,kan?” dan pertanyaan itu mulai muncul lagi
              “iya, tidak apa-apa. Kenapa kalian yang panik,?” jawabku
             
              “hey Yoga, kalian cocok, lho! Dari sekian banyak cewek yang suka sama kamu, kayaknya Cuma Palen lah yang cocok sama kamu. Haha” suara Fresha terdengar mulai sangat menjengkelkan di telingaku
              “Fresha apa-apaan!” aku berjalan menuju lapangan. Meletakkan tasku dan mulai mengeluarkan buku. Yap, mata pelajaran yang paling aku benci keluar dengan sendirinya karena tanganku. Matematika. Dan kurasa itu adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Yoga.
….
              “Fallen..” Finscha berdiri di depanku
              “ada apa Finscha?” tanyaku
              Finscha menatapiku panjang. Tanpa tersenyum ia duduk di depanku.
              “kemarin sama tadi pagi Yoga masih mengirim pesan ke aku”
              “mengirim pesan?”
              “aku rasa Yoga juga punya rasa lah sama kamu Fallen. Hanya saja belum berani berbicara. Aku sudah berapa kali berbicara begini padamu. Aku tidak akan membicarakannya di depan Fresha dan Grace karena kuyakin mereka punya pikiran yang berbeda. Dia bertanya terus padaku siapa dandelionmu. Padahal aku sudah bilang bertanya langsung padamu. Tapi dia hanya bilang kamu takkan jawab apa-apa” jelas Finscha
              “aku takut. Menurutku dia hanya ingin menjadi temanku kok Finscha. Dia dekat karena dia juga dekat dengan kalian. Aku juga dekat dengan kalian, kan?”
              “aku tidak bisa berpikir seperti yang kau pikirkan. Tapi coba kuulangi sekali lagi, ingat semua masa lalu yang mengingatkanmu padanya? Bukankah tidak sengaja waktu kelas 11 aku melihat buku harianmu? Tertulis ingin segera perasaan ini sampai kan? Aku paling tau tentangmu. Kita sudah tiga tahun berada di kelas yang sama, Fallen. Aku tau apa yang terbaik untukmu. Percayakan semuanya padaku”
              Aku terdiam seketika. Aku menatap lurus tatapan Finscha. Tatapan penuh keyakinan. Aku tidak perlu harus mengingat semuanya dihari ini. Mengingat sosok bayangannya dulu yang buram untuk kuingat.
              Mengingat semua hari-hariku. Mengingat semua tangisanku. Dan sekarang ia ada di dekatku. Iya, aku hanya butuh satu langkah untuk menyampaikan perasaan ini.
              Mataku yang kembali mencari-cari keberadaannya. Angin berhembus sepoi-sepoi mengeringkan rambutku yang tadi agak sedikit basah. Tiba-tiba kulihat dia yang tertawa bersama yang lainnya di depan sana. Sesosok teman sejak kecilku yang berada di depanku dengan penuh keyakinan. Membawa mataku melihat kearahnya. Wajah tertawa Yoga.
              “ini..” Finscha memperlihatkan ponselnya padaku.
              Pesan dari Yoga..
From : Yoga 12-G
Beritahu aku siapa dandelionnya Fallen.. aku ingin tahu..

              Sebuah pesan yang membuat nafasku sedikit teraliri. Aku menutup wajah ini. Perlahan langkah kakiku berjalan kearah Yoga mulai meninggalkan Finscha. Tatapanku tiba-tiba lurus. Dan rasanya aku seperti di hipnotis Finscha sehingga tak ada kata yang bisa kuucapkan selain memanggil namanya pelan.
              “hah? Fallen? Ada apa?” wajah Yoga yang agak sedikit keren itu menoleh kearahku
              “kenapa kamu selalu bertanya siapa Dandelionku, hah?”
              “itu karena aku teman kamu..”
              “teman?”
              “iya, aku tak ingin melihat teman-temanku punya hari yang buruk. Aku ingin mereka bahagia. Aku tidak suka melihat sebuah perasaan yang tak sampai. Ingin membantumu Fallen tapi takut kamu mengiraku ikut campur. Aku tidak berani bertanya padamu. Dan jika kamu ingin memberitahuku tentang itu, aku janji akan mem…” penjelasan itu segera kuakhiri dengan kata-kataku berikutnya.
             “kenapa Yoga begitu sekali ingin membantuku? Apakah kebahagiaan besar untukmu bila melihatku bahagia? Akh, dasar Yoga bodoh!”
              Ucapakanku hanya ia balas dengan senyuman ramahnya. Hah! Melihat senyumannya itu rasanya begitu mendebarkan. Apalagi kami berada di suatu titik dimana hari ini daun-daun hijau aneh itu berguguran dengan indah di pertengah jarak kami.
              “benar-benar ingin tahukah Yoga? Yasudah biar kuberitahu sekarang ya?”
              Aku melirik kearah yang lainnya. Mereka semua menatapi kami berdua seperti ada adegan dramatis disebuah pementasan drama. Dan itu sangat keren!
              Bolehkah aku mulai menyebutkannya disini? Apapun jawabannya itu akan kuterima dengan senang hati.
              “iya, dandelion kecilku itu adalah Anzu, seseorang dengan nama Afrananda Yoga!”

=END=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman