Tittle :
♥ My Dandelion It’s You ♥
Genre : Romance, Friends
Length : Short Story
Rating : M
Author : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself
Keterangan : Link Opening
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
~before~
Diary
yang kemarin terselip kehalaman bukuku kenapa bisa? Padahal sudah beberapa
bulan ini aku sama sekali tidak pernah memeganginya, apalagi mencoret isi
dalamnya. Seingatku aku membiarkannya terletak diatas lemari. Dan kenapa bisa
berada didalam tasku. Apa itu pertanda?
Dan aku menjadikan Rio sebagai pacar
dan belajar untuk melupakannya. Sesaat dulu aku menyadari aku berada dikelas
yang sama dengannya, aku hanya bersikap biasa saja. Dia hanya menyapa ketiga
temanku di depanku, aku biasa saja. Namun seketika kubuka kembali buku itu..
***♥
My Dandelion It’s You ♥***
PART 2 : aku berhenti berharap dan kau kembali!
“hey hey palen kenapa menyandang tas,
bel pulang belum berbunyi, masih ada satu mata pelajaran lagi” suara Finscha
dan Fresha terdengar sangat jelas sekali memanggilku dari belakang
Aku
sama sekali tidak mempedulikannya. Aku merangkul tas dan berjalan perlahan
keluar pintu kelas tanpa mempedulikan siapapun. Hey, tidak hanya mereka, seluruh siswa lainnya juga meneriaki ku. Tapi
entah kenapa rasanya aku ingin segera cepat pulang. Tak ingin pulang, tapi
kakiku tetap melangkah kedepan.
Dan
tiba-tiba banyak dari mereka yang mengejarku dari belakang dan menarik
tanganku.
“fallen,
kau kenapa? Ada masalah?” Tanya beberapa anak perempuan memegangi erat
tanganku. Dengan wajah sedikit lesu kutatapi mereka. Aku tak menjawab apa-apa. Rasanya
suaraku terkunci sangat rapat sehingga tak ada satu kata yang terpikir olehku
untuk menjawab pertanyaan mereka. Aku tatapi mereka satu persatu.
Semua
karena beberapa jam yang lalu~
.
.
.
“Finscha,
ada pulpen dua?” sosok suara membayang ditelingaku. Mataku yang masih terpejam
itu tetap tertidur pulas diatas meja
“oh
kalau aku nggak ada, mungkin fallen
ada?”
“begitu
ya,” suara itu terdiam dan agak sedikit keras mulai kembali bersua “Fresha,
Grace, ada pulpen dua? Boleh pinjam?”
“kami?
Heyhey Grace, ada pulpen nggak?”
“ooh ada banyak SEKALI pulpen di dalam
tasku dong Fresss..” suara Grace
sambil tertawa seolah menyindir dirinya sendiri
Sayup-sayup
matakupun mulai terbuka. Kulihat seorang Yoga berdiri di dekat mejaku. Dengan
baju sekolahnya yang masih putih dan memegangi sebuah buku. Ia tampak melihat
kesegala arah. Hanya menatapnya dan tiba-tiba jantungku kembali berdebar. Kenapa tidak meminjam padaku? Walau aku
sering malas belajar, tapi aku bawa banyak sekali stok pulpen di kotak pensil.
Aku berpikir sambil terus menatapinya dari balik tangan yang menutupi wajah
tidurku.
“Yoga,
fallen punya banyak pulpen!” tambah Finscha kembali.
Yoga
sama sekali tidak meladeni perkataan Finscha dan kemudian berjalan kearah
anak-anak yang lain. Entah dia tidak mendengar ataukah bersikap seolah tak
mendengarkan. Tapi rasanya aku kecewa. Dan pelajaran berikutnya aku terus
tertidur tanpa mempedulikan anak-anak yang lain memanggilku.
Begitulah
yang kurasa dan aku ingin segera pulang hingga aku bisa menatapi langit-langit
kamarku dan bisa bertanya, apakah diary itu telah mengembalikan perasaanku
padanya?
.
.
.
♪bipbipbip..bip..♪
Berkali-kali
ponselku berdering didalam saku pertanda seseorang hendak menelfonku. Aku hanya
diam. Wajahku yang tenang berjalan sesuka kaki ini. Melupakan banyak kejadian
mengecewakan hari ini di sekolah, dan.. yap!
Aku sampai..
Tempat
dimana pertama kali aku mengadu, tempat tiga tahun lalu dimana aku tersesat
pertama kali karena menyukai sosok lelaki yang bertas hijau berjalan di
depanku. Tempat dimana aku berharap dan tempat yang telah kutinggalkan sejak
pertama kali aku menginjakkan kaki disini. Iyaa.. ini surga dandelionku!
Sambil
tersenyum aku meletakkan tasku di pinggiran dan berjalan kearah beberapa
dandelion itu. Ini tempat yang paling indah yang pernah kujumpai, tempat dimana
layangan-layangan dandelion berterbangan kesana dan kemari. Aku bisa sebebas
nya menghembuskan semua dandelion ini ke udara.
Dan..
Dandelion kecil, pernahkah menyukai
seseorang?
Seseorang
yang tak pernah kau kenali?
Menurutmu
bagaimana? Apa ia yang pantas untukku?
Beri
aku jawaban dandelion..
Aku
ingin tau..
Dan
perasaan ini mekar sejak pertama aku bertemu dengannya dandelion..
Bisakah
aku memohon padamu?
Memohon
sampaikan perasaanku padanya?
Memohon
agar kau bisikan sesuatu kedalam mimpinya?
Agar
ia menyadari betapa dalamnya perasaanku
Pada
dia yang disana yang tidak kukenali?
Buuuusssshhh.. dan dandelion itu berterbangan indah
di depan mataku. Kejadian beberapa tahun lalu yang tiba-tiba teringat kembali
olehku.
Aaakhh….
Yah! Perasaanku padanya telah kembali dan aku kembali berdebar. Kusadari akan
hal itu..
♪bipbipbip..bip..♪
Kemudian
suara ponselku kembali berdering,. Dengan wajah sedikit agak kesal, kubuka
ponsel itu. “dari Finscha?” dan segera kuangkat,
“palen
kamu kenapa? Ada yang merasukimu? Atau kamu sakit? Kenapa pulang? Sekarang kamu
dimana? Semua orang sedang mengkhawatirkanmu!” finscha
“iya
kamu dimana palen? Kamu tidak memberikan jawaban apa-apa!” Fresha
“aku…”
“aku
apa? Cepatlah kembali ke sekolah, masih ada satu mata pelajaran lagi, bel
istirahat hampir saja habis!” grace
Aku
kembali menatapi dandelion itu. Seketika aku tutup telfonku dan membawa tas
kembali berjalan menuju sekolah. Aku tidak tau apa yang sedang kupikirkan, aku
terlalu takut untuk mengambil resiko. Jika aku kembali menyukainya, aku pikir
aku akan jauh lebih menderita lagi. Karna dia berada di kelas yang sama.
.
.
.
Saat kuangkat kepalaku dan membuka
perlahan mataku…
“palen,
kamu kenapa? Kenapa tadi pulang hah?” tiga temanku disertai beberapa orang
teman lainnya segera menemuiku di depan pintu kelas
Aku
hanya membalas dengan senyuman dan berjalan meninggalkan mereka menuju tempat
dudukku. Mataku melihat kearah Yoga yang kurasa ia juga melihat kearahku. Akh! Tatapan
kami bertemu.. dan lelaki dengan style
yang biasa itu tersenyum manis kepadaku. Ingin mengatakan sesuatu tapi gugup. Ya,
begitulah dirinya yang kulihat beberapa saat.
Aku
meletakkan tasku dan membuka buku. Pelajaran yang dimulai selanjutnya, Sejarah.
Dan Finscha duduk disebelahku sambil
berbisik kearahku, “tadi Yoga panik
banget ngeliat kamu pulang. Aku nggak tau kenapa, tapi dari tatapannya. Dia aja
ngeliat kamu jalan terus pulang. Habis itu terdiam lesu ditempat duduknya. Ohya,
daritadi kamu masuk kelas dia liat kearahmu terus”. Eeh! Jantungku
tersentak dan aku menatap wajah Finscha seolah tak percaya.
“sungguh?”
“beneran,
aku nggak bohong Palen”
“nggak
percaya!”
“liat
aja kesana..” Finscha mengangkat kedua jarinya mencoba meyakinkanku
Secara
perlahan aku mulai melirikkan kedua mataku melihat kearah Yoga. Tempat duduk
yang tidak jauh dari dudukku. Dan seketika melihat tatapannya itu, aku kembali
terdiam. Mencoba agar tidak disadari aku segera mengganti arah penglihatan.
Ada apa? Kenapa dia melihatku? Pikirku
panjang
Sepulang sekolah…
Bip..Bip..
Ponselku kembali berdering, dan seperti
biasa dari Rio..
From : oujisama
Himechan udah pulang sekolah?:( aku
kangen.. balas pesan ku please!
Klik tombol kanan dan delete. Ok! Pesan
berikutnya terhapus. Kukembali letakkan ponselku kedalam saku.
“pesannya
Rio nggak kamu balas?” Tanya Grace
“lagi
malas aja..” jawabku
“kalau
kamu selalu badmood karna dia, ngapain kamu dulu pacaran dengannya”
“dulu
aku suka dia sekarang udah nggak!” tatapan tajam ku mengarah kebeberapa siswa
yang lewat di dekatku sambil tertawa keras. Wajahku masih saja lesu. Dan
rasanya hidupku begitu tertekan.
Melihat
matahari siang yang masih berada sekitar pukul 2an dan panas terik matahari
itu. Aku berjalan dibelakang mengikuti yang lainnya. Genggaman tangan Fresha
masih menggenggam di tanganku..
Hari
ini sekitar pukul 9 malam..
“aaaaakkh
adaapa lagi Riooooo?” suaraku bersorak menghentikan kediaman kamar
“kamu
kenapa nggak balas-balas pesanku? Kamu
marah padaku?” dibalik layar telepon terdengar suara Rio yang penuh serak. Mungkin
karna sinyal malam yang sedikit susah
“entahlah!”
jawabku
“aku
ada salah sama kamu fallen? Kalau ada bilanglah, agar aku bisa merubah diri
supaya tampak lebih baik di depanmu..”
“sudahlah
kamu nggak ada salah apa-apa”
“kamu
cepat sekali berubah padahal dulu di depanku kamu ceria..”
“nggak
tau ah!”
“aku
rela lakukan apapun demi kamu fallen. Bahkan buat ngelupain phiska saja aku
rela walau berat!!” bentak Rio di telpon itu.
Dan Deg!
Baru saja sepatah katanya tiba-tiba menyakiti perasaanku. Iya, Phiska. Tetanggaku
yang usianya lebih muda dariku. Gadis cantik yang kaya itu, yang baik dan mudah
tersenyum kebanyak orang. Wajar saja kalau dulu Rio sangat menyukainya. Namun
pada akhirnya Rio memilihku. Tapi..
“ah
sudahlah Rio! Aku suka seseorang dan jangan salahkan aku!” balasku tanpa
berpikir panjang. Dengan segera aku mematikan panggilan itu dan menghempaskan
badanku keatas kasur. Sambil melihat ke langit-langit kamar aku terdiam. Baru
saja aku membayangkan sesosok dandelion. Dan terbang melayang indah, hingga
akhirnya dandelion itu mengacaukan setiap perkataanku. Kira-kira Rio akan
tersinggung kah?
“akh
lupakan!” aku mengambil selimut dan memeluk erat guling. Kemudian mematikan
lampu kamar dan bersegera untuk tidur.
.
.
.
Keesokan harinya di sekolah..
“pagi
Fallencia Elviorinada!!” sahut beberapa anak perempuan di kelas dengan senyuman
paginya
“hey
pagi..” balasku lembut membalas senyum mereka.
Pagi
itu dimana bel masuk telah berbunyi namun guru di jam pelajaran belum masuk ke
kelas. Siswa di kelas 12-G masih heboh. Tapi..
“pagi,
Fallen..” sapa lembut itu mendengung di telingaku. Yoga dari tempat duduknya
kembali tersenyum ramah melihat kearahku
“unn~”
aku kehilangan kendali berbicara dan hanya menjawab dengan sedikit senyum yang
dipaksakan. Jantungku tiba-tiba kembali berdetak dan aku tidak tau kenapa
tanganku sangat bergetar hari itu.
Ketiga
teman yang melihat kearahku dan tersenyum mencoba menahan tawa. Pertama kalinya
ia menyapaku dengan ucapan “pagi” selama aku mengenalnya, dan aku sangat gugup
sekali. Taukah? Rasa itu membuatku semangat belajar hari ini.
“ciee
palen yang hatinya lagi berdebar-debar tuh!” bisik Finscha tertawa
“apa-apaan
sih Finscha!”
“yang
hatinya balik lagi dan si Rio mau diapain deh
hahaha”
“Finscha!
Diamlah aku lagi konsentrasi belajar!”
“yang
karna semangatnya mulai rajin belajar, biasanya juga tidur di kelas”
“shit!”
aku membalik-balikkan lembaran kertas dan mengisi beberapa pertanyaan di kertas
itu tanpa mempedulikan Finscha.
Aku
yang biasanya selalu menunggu bel istirahat berbunyi, yang di kelas hanya
datang duduk dan diam, sekarang tiba-tiba berubah menjadi siswa teladan yang
aktif di kelas. Hanya karna Yoga menyapaku pagi-pagi sekali. Ya kurasa, seharusnya Anzu menyapaku tiap
hari agar aku bisa mendapat peringkat lagi di kelas.
Tapi..
“fallen..”
orang yang baru saja berada di pikiranku segera memanggilku
Aku
menghentikan tugas ku dan secepatnya melihat kebelakang.
“aakh?”
“hihhii….”
Yoga duduk di depanku dan mengarahkan kursi kearahku. Meletakkan kedua
tangannya diatas meja dan tersenyum tanpa kata-kata melihat jelas kearahku.
Ooh mama… bulu matanya baru kusadari
melentik sangat indah. Senyumannya itu dan paras wajahnya. Keren! Dan tiba-tiba
pikiran itu membuat wajahku kembali memerah. Aku kembali kehilangan kendali dan
tidak tau harus berbuat apa. Sementara anak-anak lain menyoraki kami di kelas. Tapi
Yoga tetap tenang dan melihat lurus kearahku. Lama, dan bahkan sangat lama. Hingga
aku hanyut diantara senyumannya. Angin yang menderu menerbangkan helai perhelai
rambutku. Dan oooh… tiba-tiba saja
semua terhenti seketika. Guru pelajaran yang tadi meninggalkan kelas, kembali
dan semua berhamburan kembali duduk di tempat masing-masing.
Menyebalkan!
“fallen..fallen…!”
suara Yoga masih menderu pelan dari belakang. Terus memanggil namaku. Dan aku
sama sekali tak menyahutinya.
Hingga
jam istirahat..
“fallen
istirahat nggak?” lelaki itu sengaja
menemuiku dan berdiri di depanku
“enggak,
kenapa?” jawabku
“kenapa
begitu fallen?”
“mau
buat tugas” aku kembali duduk di kursiku dan pura-pura membuka tugas Sejarah
yang tadi belum sempat kuselesaikan.
Ajakan
dari teman-temanpun sama sekali tak kugubris. Mungkin karna hari ini aku sedang
berdebar-debar sekali ya, sampai-sampai aku tak begitu minat ingin membagikan
kebahagiaanku dengan yang lainnya.
Tapi
saat bel masuk berbunyi dan ketiga temanku memakan beberapa buah permen loli di
mulutnya.. aiiisssuudaaaah..
“Finscha
kenapa tidak belikan aku satu?” bentakku
“ah
kamu nggak bilang!”
“aku
pengen finscha..”
Dan plakk..
sebuah permen loli terletak di atas mejaku dan kusadari itu Yoga yang
membelikan. Akh! Maksudnya apa?
Aku
terkaget melihat wajah Yoga dan tak berkutik melakukan apa-apa. Tapi segera
kuambil permen itu dan kusimpan di dalam saku. Berharap kan kubukan nanti
sepulang sekolah, dan bungkusannya akan kuabadikan untuk pertama kalinya dalam
sebuah kaleng. Haha!
=TBC=












Tidak ada komentar:
Posting Komentar