Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/12/03

My Dandelion It's You (Part 2)

Tittle                    : My Dandelion It’s You
Genre                  : Romance, Friends
Length                : Short Story
Rating                 : M
Author                : Richia Kayoru Nanahira
Supporting Cast : Please, find them by yourself 
Keterangan        :  Link Opening


*** My Dandelion It’s You ***
~before~
Diary yang kemarin terselip kehalaman bukuku kenapa bisa? Padahal sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak pernah memeganginya, apalagi mencoret isi dalamnya. Seingatku aku membiarkannya terletak diatas lemari. Dan kenapa bisa berada didalam tasku. Apa itu pertanda?
Dan aku menjadikan Rio sebagai pacar dan belajar untuk melupakannya. Sesaat dulu aku menyadari aku berada dikelas yang sama dengannya, aku hanya bersikap biasa saja. Dia hanya menyapa ketiga temanku di depanku, aku biasa saja. Namun seketika kubuka kembali buku itu..
              Sesuatu terjadi pada hidupku sesaat melihatnya kemarin sore.


*** My Dandelion It’s You ***

PART 2 : aku berhenti berharap dan kau kembali!

              “hey hey palen kenapa menyandang tas, bel pulang belum berbunyi, masih ada satu mata pelajaran lagi” suara Finscha dan Fresha terdengar sangat jelas sekali memanggilku dari belakang
              Aku sama sekali tidak mempedulikannya. Aku merangkul tas dan berjalan perlahan keluar pintu kelas tanpa mempedulikan siapapun. Hey, tidak hanya mereka, seluruh siswa lainnya juga meneriaki ku. Tapi entah kenapa rasanya aku ingin segera cepat pulang. Tak ingin pulang, tapi kakiku tetap melangkah kedepan.
              Dan tiba-tiba banyak dari mereka yang mengejarku dari belakang dan menarik tanganku.
              “fallen, kau kenapa? Ada masalah?” Tanya beberapa anak perempuan memegangi erat tanganku. Dengan wajah sedikit lesu kutatapi mereka. Aku tak menjawab apa-apa. Rasanya suaraku terkunci sangat rapat sehingga tak ada satu kata yang terpikir olehku untuk menjawab pertanyaan mereka. Aku tatapi mereka satu persatu.
              Semua karena beberapa jam yang lalu~
.
.
.
              “Finscha, ada pulpen dua?” sosok suara membayang ditelingaku. Mataku yang masih terpejam itu tetap tertidur pulas diatas meja
              “oh kalau aku nggak ada, mungkin fallen ada?”
              “begitu ya,” suara itu terdiam dan agak sedikit keras mulai kembali bersua “Fresha, Grace, ada pulpen dua? Boleh pinjam?”
              “kami? Heyhey Grace, ada pulpen nggak?”
              “ooh ada banyak SEKALI pulpen di dalam tasku dong Fresss..” suara Grace sambil tertawa seolah menyindir dirinya sendiri
              Sayup-sayup matakupun mulai terbuka. Kulihat seorang Yoga berdiri di dekat mejaku. Dengan baju sekolahnya yang masih putih dan memegangi sebuah buku. Ia tampak melihat kesegala arah. Hanya menatapnya dan tiba-tiba jantungku kembali berdebar. Kenapa tidak meminjam padaku? Walau aku sering malas belajar, tapi aku bawa banyak sekali stok pulpen di kotak pensil. Aku berpikir sambil terus menatapinya dari balik tangan yang menutupi wajah tidurku.
              “Yoga, fallen punya banyak pulpen!” tambah Finscha kembali.
              Yoga sama sekali tidak meladeni perkataan Finscha dan kemudian berjalan kearah anak-anak yang lain. Entah dia tidak mendengar ataukah bersikap seolah tak mendengarkan. Tapi rasanya aku kecewa. Dan pelajaran berikutnya aku terus tertidur tanpa mempedulikan anak-anak yang lain memanggilku.
              Begitulah yang kurasa dan aku ingin segera pulang hingga aku bisa menatapi langit-langit kamarku dan bisa bertanya, apakah diary itu telah mengembalikan perasaanku padanya?
.
.
.
bipbipbip..bip..
              Berkali-kali ponselku berdering didalam saku pertanda seseorang hendak menelfonku. Aku hanya diam. Wajahku yang tenang berjalan sesuka kaki ini. Melupakan banyak kejadian mengecewakan hari ini di sekolah, dan.. yap! Aku sampai..
              Tempat dimana pertama kali aku mengadu, tempat tiga tahun lalu dimana aku tersesat pertama kali karena menyukai sosok lelaki yang bertas hijau berjalan di depanku. Tempat dimana aku berharap dan tempat yang telah kutinggalkan sejak pertama kali aku menginjakkan kaki disini. Iyaa.. ini surga dandelionku!
              Sambil tersenyum aku meletakkan tasku di pinggiran dan berjalan kearah beberapa dandelion itu. Ini tempat yang paling indah yang pernah kujumpai, tempat dimana layangan-layangan dandelion berterbangan kesana dan kemari. Aku bisa sebebas nya menghembuskan semua dandelion ini ke udara.
Dan..
              Dandelion kecil, pernahkah menyukai seseorang?
              Seseorang yang tak pernah kau kenali?
              Menurutmu bagaimana? Apa ia yang pantas untukku?
              Beri aku jawaban dandelion..
              Aku ingin tau..
              Dan perasaan ini mekar sejak pertama aku bertemu dengannya dandelion..
              Bisakah aku memohon padamu?
              Memohon sampaikan perasaanku padanya?
              Memohon agar kau bisikan sesuatu kedalam mimpinya?
              Agar ia menyadari betapa dalamnya perasaanku
              Pada dia yang disana yang tidak kukenali?
Buuuusssshhh.. dan dandelion itu berterbangan indah di depan mataku. Kejadian beberapa tahun lalu yang tiba-tiba teringat kembali olehku.
              Aaakhh…. Yah! Perasaanku padanya telah kembali dan aku kembali berdebar. Kusadari akan hal itu..
bipbipbip..bip..
              Kemudian suara ponselku kembali berdering,. Dengan wajah sedikit agak kesal, kubuka ponsel itu. “dari Finscha?” dan segera kuangkat,
              “palen kamu kenapa? Ada yang merasukimu? Atau kamu sakit? Kenapa pulang? Sekarang kamu dimana? Semua orang sedang mengkhawatirkanmu!” finscha
              “iya kamu dimana palen? Kamu tidak memberikan jawaban apa-apa!” Fresha
              “aku…”
              “aku apa? Cepatlah kembali ke sekolah, masih ada satu mata pelajaran lagi, bel istirahat hampir saja habis!” grace
              Aku kembali menatapi dandelion itu. Seketika aku tutup telfonku dan membawa tas kembali berjalan menuju sekolah. Aku tidak tau apa yang sedang kupikirkan, aku terlalu takut untuk mengambil resiko. Jika aku kembali menyukainya, aku pikir aku akan jauh lebih menderita lagi. Karna dia berada di kelas yang sama.
.
.
.
Saat kuangkat kepalaku dan membuka perlahan mataku…
              “palen, kamu kenapa? Kenapa tadi pulang hah?” tiga temanku disertai beberapa orang teman lainnya segera menemuiku di depan pintu kelas
              Aku hanya membalas dengan senyuman dan berjalan meninggalkan mereka menuju tempat dudukku. Mataku melihat kearah Yoga yang kurasa ia juga melihat kearahku. Akh! Tatapan kami bertemu.. dan lelaki dengan style yang biasa itu tersenyum manis kepadaku. Ingin mengatakan sesuatu tapi gugup. Ya, begitulah dirinya yang kulihat beberapa saat.
              Aku meletakkan tasku dan membuka buku. Pelajaran yang dimulai selanjutnya, Sejarah.
Dan Finscha duduk disebelahku sambil berbisik kearahku, “tadi Yoga panik banget ngeliat kamu pulang. Aku nggak tau kenapa, tapi dari tatapannya. Dia aja ngeliat kamu jalan terus pulang. Habis itu terdiam lesu ditempat duduknya. Ohya, daritadi kamu masuk kelas dia liat kearahmu terus”. Eeh! Jantungku tersentak dan aku menatap wajah Finscha seolah tak percaya.
              “sungguh?”
              “beneran, aku nggak bohong Palen”
              “nggak percaya!”
              “liat aja kesana..” Finscha mengangkat kedua jarinya mencoba meyakinkanku
              Secara perlahan aku mulai melirikkan kedua mataku melihat kearah Yoga. Tempat duduk yang tidak jauh dari dudukku. Dan seketika melihat tatapannya itu, aku kembali terdiam. Mencoba agar tidak disadari aku segera mengganti arah penglihatan.
              Ada apa? Kenapa dia melihatku? Pikirku panjang
Sepulang sekolah…
Bip..Bip..
Ponselku kembali berdering, dan seperti biasa dari Rio..

From : oujisama
Himechan udah pulang sekolah?:( aku kangen.. balas pesan ku please!

Klik tombol kanan dan delete. Ok! Pesan berikutnya terhapus. Kukembali letakkan ponselku kedalam saku.
              “pesannya Rio nggak kamu balas?” Tanya Grace
              “lagi malas aja..” jawabku
              “kalau kamu selalu badmood karna dia, ngapain kamu dulu pacaran dengannya”
              “dulu aku suka dia sekarang udah nggak!” tatapan tajam ku mengarah kebeberapa siswa yang lewat di dekatku sambil tertawa keras. Wajahku masih saja lesu. Dan rasanya hidupku begitu tertekan.
              Melihat matahari siang yang masih berada sekitar pukul 2an dan panas terik matahari itu. Aku berjalan dibelakang mengikuti yang lainnya. Genggaman tangan Fresha masih menggenggam di tanganku..

              Hari ini sekitar pukul 9 malam..
              “aaaaakkh adaapa lagi Riooooo?” suaraku bersorak menghentikan kediaman kamar
              “kamu kenapa nggak balas-balas pesanku? Kamu marah padaku?” dibalik layar telepon terdengar suara Rio yang penuh serak. Mungkin karna sinyal malam yang sedikit susah
              “entahlah!” jawabku
              “aku ada salah sama kamu fallen? Kalau ada bilanglah, agar aku bisa merubah diri supaya tampak lebih baik di depanmu..”
              “sudahlah kamu nggak ada salah apa-apa”
              “kamu cepat sekali berubah padahal dulu di depanku kamu ceria..”
              “nggak tau ah!”
              “aku rela lakukan apapun demi kamu fallen. Bahkan buat ngelupain phiska saja aku rela walau berat!!” bentak Rio di telpon itu.
Dan Deg! Baru saja sepatah katanya tiba-tiba menyakiti perasaanku. Iya, Phiska. Tetanggaku yang usianya lebih muda dariku. Gadis cantik yang kaya itu, yang baik dan mudah tersenyum kebanyak orang. Wajar saja kalau dulu Rio sangat menyukainya. Namun pada akhirnya Rio memilihku. Tapi..
              “ah sudahlah Rio! Aku suka seseorang dan jangan salahkan aku!” balasku tanpa berpikir panjang. Dengan segera aku mematikan panggilan itu dan menghempaskan badanku keatas kasur. Sambil melihat ke langit-langit kamar aku terdiam. Baru saja aku membayangkan sesosok dandelion. Dan terbang melayang indah, hingga akhirnya dandelion itu mengacaukan setiap perkataanku. Kira-kira Rio akan tersinggung kah?
              “akh lupakan!” aku mengambil selimut dan memeluk erat guling. Kemudian mematikan lampu kamar dan bersegera untuk tidur.
.
.
.
Keesokan harinya di sekolah..
              “pagi Fallencia Elviorinada!!” sahut beberapa anak perempuan di kelas dengan senyuman paginya
              “hey pagi..” balasku lembut membalas senyum mereka.
              Pagi itu dimana bel masuk telah berbunyi namun guru di jam pelajaran belum masuk ke kelas. Siswa di kelas 12-G masih heboh. Tapi..
              “pagi, Fallen..” sapa lembut itu mendengung di telingaku. Yoga dari tempat duduknya kembali tersenyum ramah melihat kearahku
              “unn~” aku kehilangan kendali berbicara dan hanya menjawab dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Jantungku tiba-tiba kembali berdetak dan aku tidak tau kenapa tanganku sangat bergetar hari itu.
              Ketiga teman yang melihat kearahku dan tersenyum mencoba menahan tawa. Pertama kalinya ia menyapaku dengan ucapan “pagi” selama aku mengenalnya, dan aku sangat gugup sekali. Taukah? Rasa itu membuatku semangat belajar hari ini.
              “ciee palen yang hatinya lagi berdebar-debar tuh!” bisik Finscha tertawa
              “apa-apaan sih Finscha!”
              “yang hatinya balik lagi dan si Rio mau diapain deh hahaha”
              “Finscha! Diamlah aku lagi konsentrasi belajar!”
              “yang karna semangatnya mulai rajin belajar, biasanya juga tidur di kelas”
              “shit!” aku membalik-balikkan lembaran kertas dan mengisi beberapa pertanyaan di kertas itu tanpa mempedulikan Finscha.
              Aku yang biasanya selalu menunggu bel istirahat berbunyi, yang di kelas hanya datang duduk dan diam, sekarang tiba-tiba berubah menjadi siswa teladan yang aktif di kelas. Hanya karna Yoga menyapaku pagi-pagi sekali. Ya kurasa, seharusnya Anzu menyapaku tiap hari agar aku bisa mendapat peringkat lagi di kelas.
              Tapi..
              “fallen..” orang yang baru saja berada di pikiranku segera memanggilku
              Aku menghentikan tugas ku dan secepatnya melihat kebelakang.
              “aakh?”
              “hihhii….” Yoga duduk di depanku dan mengarahkan kursi kearahku. Meletakkan kedua tangannya diatas meja dan tersenyum tanpa kata-kata melihat jelas kearahku.
              Ooh mama… bulu matanya baru kusadari melentik sangat indah. Senyumannya itu dan paras wajahnya. Keren! Dan tiba-tiba pikiran itu membuat wajahku kembali memerah. Aku kembali kehilangan kendali dan tidak tau harus berbuat apa. Sementara anak-anak lain menyoraki kami di kelas. Tapi Yoga tetap tenang dan melihat lurus kearahku. Lama, dan bahkan sangat lama. Hingga aku hanyut diantara senyumannya. Angin yang menderu menerbangkan helai perhelai rambutku. Dan oooh… tiba-tiba saja semua terhenti seketika. Guru pelajaran yang tadi meninggalkan kelas, kembali dan semua berhamburan kembali duduk di tempat masing-masing.
Menyebalkan!
              “fallen..fallen…!” suara Yoga masih menderu pelan dari belakang. Terus memanggil namaku. Dan aku sama sekali tak menyahutinya.
              Hingga jam istirahat..
              “fallen istirahat nggak?” lelaki itu sengaja menemuiku dan berdiri di depanku
              “enggak, kenapa?” jawabku
              “kenapa begitu fallen?”
              “mau buat tugas” aku kembali duduk di kursiku dan pura-pura membuka tugas Sejarah yang tadi belum sempat kuselesaikan.
              Ajakan dari teman-temanpun sama sekali tak kugubris. Mungkin karna hari ini aku sedang berdebar-debar sekali ya, sampai-sampai aku tak begitu minat ingin membagikan kebahagiaanku dengan yang lainnya.
              Tapi saat bel masuk berbunyi dan ketiga temanku memakan beberapa buah permen loli di mulutnya.. aiiisssuudaaaah..
              “Finscha kenapa tidak belikan aku satu?” bentakku
              “ah kamu nggak bilang!”
              “aku pengen finscha..”
Dan plakk.. sebuah permen loli terletak di atas mejaku dan kusadari itu Yoga yang membelikan. Akh! Maksudnya apa?
              Aku terkaget melihat wajah Yoga dan tak berkutik melakukan apa-apa. Tapi segera kuambil permen itu dan kusimpan di dalam saku. Berharap kan kubukan nanti sepulang sekolah, dan bungkusannya akan kuabadikan untuk pertama kalinya dalam sebuah kaleng. Haha!

=TBC=
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman