Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/03/16

Ame no You ni, Nakanaide. Anata no Egao Suki !


Tittle : Ame no you ni, Nakanaide. Anata no egao suki! (雨のように、泣かないで。 貴方の笑顔好き(Part 2/2)
Genre : AU
Length : Double Shot
Rating : M
Author : Nanahira Ichi
Cast : Morita Kyoko
Chara : Morita Kyoko, Nishihata Daigo a.k.a Keiichiro Iori
Keterangan : Cerita ini hanya fiktif belaka, tidak ada kesamaan karakter atau sejenisnya
.
Download full story : Klik here >>  pw : ichi1303
.
Episode sebelumnya, Klik Here >> 

 Okee, Hajimemashou !


~~
9 September, 12.15pm

“Iori~” panggilku lagi. Hari ini aku pulang cepat. Dan aku segera menghampirinya di depan rumah.
“Kyoko..” sapa ibunya lagi membuka pintu kamar.
“Bibi, Iorinya ada?” pertanyaan yang sama kembali kutanyakan pada ibunya.
Tapi kali ini sang ibu sepertinya tidak semangat. “bibi, ada apa?” tanyaku
“sejak kamu pulang 2 hari yang lalu, Iori sepertinya sedang bersedih. Ia tak ingin makan. Dan apapun ia selalu menggelengkan kepalanya. Sekarang panasnya naik lagi” jawab ibu.
“apa?” aku kaget. “bibi aku boleh menemui Iori sekarang?”
Bibi menganggukkan kepalanya dan membiarkan aku berlari masuk dan segera menuju kamar Iori. Ketika aku membuka pintu kamarnya, aku melihat Iori sedang tertidur dan kain di kepalanya. Wajahnya pucat.
“Iori~ aku minta maaf” ucapku
Mendengar ucapanku, Iori perlahan membuka matanya. Melihatku namun seketika ia kembali menutupnya.
“Iori, gomen nasai! Aku tidak sengaja membawa bukumu!” aku membungkukkan badanku. Yang aku tau, dia pasti seperti ini karena ulahku. Tapi Iori kembali membuka matanya dan tersenyum. Lalu menggelengkan kepalanya. Mengambil selembar kertas dan menulisnya, “melihat Kyoko datang, aku senang”
“benarkah?” aku membuka tasku dan mengeluarkan buku itu. Lalu duduk di sebelahnya. “aku membaca semuanya. Kenapa Iori menyembunyikannya dariku? Apa Iori tak percaya padaku? Padahal aku begitu mempercayaimu, Iori” ucapku
“aku malu memperlihatkan lagu itu pada Kyoko” balasnya
“kenapa?”
“aku pikir aku tak punya kata-kata yang bagus untuk menulis”
Aku tersenyum lagi, “kupikir itu kata-kata yang sangat bagus. Kurasa kalau Iori memberanikan diri untuk memberikan padanya, kuyakin gadis itu akan suka.”
Iori terdiam dan menatap kelangit-langit kamarnya. Seketika matanya kembali berair.
“saa, Iori. Kemarin dan kemarinnya lagi aku membuat nadanya untuk lagu ini. Iori ingin mendengarkannya?”
Iori menganggukkan kepalanya. Dan akupun berdiri dari dudukku dan membunyikan piano itu. Lalu aku memainkan perlahan. Seperti musik yang sudah kurangkai ini.
.
.
.
.
3 Desember

“mama, hari ini aku ingin ke rumah Iori” ucapku memakai syall dan kaos kaki hendak keluar rumah
Musim dingin telah datang. Musim yang sudah kunantikan. Dan disaat musim yang sangat dingin ini aku ingin menemani Iori di rumahnya.
“kyoko, tidak apa-apa keluar hari ini? Cuaca masih sangat dingin” Tanya mama
“tidak apa-apa mama. Rumah Iori tidak begitu jauh”
“apa mama perlu membuatkanmu bekal yang hangat?”
Aku menggelengkan kepala. Segera membungkukkan badan dan berlari keluar melawan salju yang turun.
.
.
“Iori~” kali ini aku memanggil tepat di depan pintu. Jadi seketika pintu itu dibuka,
“Kyoko” sahut bibi lagi
Belum sempat untuk bertanya, bibi langsung mempersilahkanku masuk. Membiarkanku berjalan ke kamar Iori.
“Iori, bagaimana keadaanmu” tanyaku membuka pintu
Iori menganggukkan kepalanya. Terlihat ia duduk seperti biasa di depan meja piano dengan secangkir teh.

“Iori, sekarang sudah bulan Desember. Apa ayahmu tidak memberikan kabar apapun?” tanyaku
Iori menggelengkan kepalanya. Dan menulis sesuatu, “kukira ayah sudah lupa padaku”
“tidak mungkin ayahmu melupakanmu”
Iori tersenyum mendengar ucapanku. Selembar buku yang masih saja terbuka lebar di atas meja piano. Nada yang beberapa bulan lalu ku buat.
“apa Iori menyukainya?”
Iori kembali mengangguk. Aku membuat lagu itu sangat mellow, habisnya aku belum terlalu bisa mengenal nada. Kukira Iori bisa membuat musik sendiri tanpa harus menghafal nada yang kuberikan. Tapi semenjak aku berikan nada itu padanya, dia terlihat bahagia sekali.

Hari ini dengan secangkir teh. Iori tidak bisa minum yang terlalu panas. Tapi dengan dinginnya hari ini, terasa begitu hangat. Duduk di sebelah Iori sambil bermain dengan piano.
.
.
.
20 Januari, 10.25am

“aku ingin melihat Iori, seperti apa orangnya?” Tanya Arii berdiri di depan mejaku. Sambil memegangi beberapa minuman di kedua tangannya
“dia anak yang baik..” jawabku
“apa kamu menyukainya? Sejak bertemu dengannya, kamu jarang bermain bersama kami. Kamu selalu menghabiskan setiap harimu dengannya”
Aku tersenyum sambil menundukkan kepala. “sejak pertama bertemu aku ingin menjadi bagian dari setiap hari-harinya. Aku belajar cara tersenyum dengannya. Dia membuatku terus ingin bermain musik. Sejak pertemuan itu, aku ingin dia tetap pada senyumannya. Aku ingin bersamanya hingga ayahnya datang menjemput. Aku ingin dia cepat sembuh. Ingin mendengar dia menyanyi. Mungkin hanya ini yang dapat kulakukan untuk membuatnya tetap bersabar menunggu datangnya hari itu” jelasku.
Arii segera duduk di depanku. Meminum setegup air.
“kalau menjadi Iori mungkin aku sudah tidak sanggup hidup lagi. Soalnya ketika audisi itu dibatalkan itu pasti sangat menyakitkan. Ne~ kyoko, bagaimana dengan infeksi kakinya?”
“itu…” aku terdiam seketika. Menatap keluar jendela kelas. Matahari belum terlihat. Tapi cuaca sangat cerah. Aku terduduk di kelas bersama Arii, pertanyaan yang baru saja ku dengar itu..
“kenapa diam, kyoko?” tambah Arii
“ne~ daijoubu. Sampai saat inipun kakinya belum bisa bergerak. Yang kemarin ku tau, dia bisa menggerakkan jempol kakinya walau sedikit sulit. Kurasa itu tidak begitu membebaninya. Dia selalu menjalani perawatan. Hingga ayahnya datang menjemput, kurasa kakinya sudah pulih lagi.” Jawabku
Arii mengangguk mengerti.
“aa~ kyoko bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita ke rumah Iori? Aku ingin melihatnya secara langsung. Apa seceria yang sering kau katakan?” Arii menatapku dengan senyuman lebarnya.
Terpaksa, aku harus mengangguk memperbolehkannya ikut denganku hari ini.
Dan sepulang sekolah..

“kyoko, kau datang lagi” ujar bibi tersenyum membuka pintu. “akh, itu temanmu?” tambah bibi menunjuk Arii
“iya bibi. Aku boleh menemui Iori sekarang?”
Bibi mengangguk dan mengantar kami menuju kamar Iori.
“Iori~” akupun membuka pintu. Seperti biasa Iori masih tertidur di tempat tidurnya. Tapi ketika mendengarku datang ia membuka matanya dan tersenyum. Kemudian berusaha bangun dari tempat tidurnya itu.
“Iori, ini temanku, Arii” tunjukku pada Arii
Arii tersenyum, “megumi arii. Yoroshiku” dan Arii pun membungkukkan badannya
Kata-kata itu dibalas dengan senyuman Iori biasanya.
“wah Iori hebat, ya” tambah Arii
Aku dan Iori segera menatap bingung wajah Arii. Dengan tenangnya ia perlahan melihat ke segala arah kamar. “aku baru tau sosok Iori. Ini pertama kalinya aku kemari, ya.. sugoii~” Arii seperti tak mendengar bagaimana ekspresi wajah kami melihatnya.
Tapi, “ne~ Kyoko, kau sudah berteman sangat lama dengan Iori, kenapa tak pernah berfoto bersama?” ucap Arii kemudian
“ee~?” Iori segera menatapiku. Mengambil kertas dan menulisnya, “aku sampai tidak memikirkannya. Ayo foto bersama kapan-kapan, Kyoko-chan”
Tulisan itu sempat dibaca Arii juga. “nah kalau sekarang ada aku, kenapa harus bilang kapan-kapan?” ujarnya. Ucapan itu membuat kami menatap kembali wajah Arii. Lalu iya mengambil ponselku.
Dan seketika itu,
Jepretan hasil kamera berbunyi. Kedua wajah kami pun muncul di depan kamera.
“sugoii~ Iori terlihat keren disini” sorak Arii memperlihatkan padaku
“iya~ dan aku terlihat cantik disini” balasku
“Kyoko, sepulang dari sini mari kita abadikan fotonya. Kita buat dua. Yang satu untuk Iori dan yang satunya untuk Kyoko”
Aku mengangguk. Iori sangat senang hari itu.
Lalu sepulang dari rumah Iori, aku dan Arii segera mencuci foto itu. Hasilnya segera diberikan pada Iori. Dan yang untukku..

“yapp~ disini lebih baik” aku menghiasi foto itu dan menggantungnya di depan meja belajar agar setiap saat bisa terlihat. Wajahku dan Iori sangat cocok sekali di depan sana.
.
.
.
19 Februari, 04.25pm

Hari ini membawa Iori keluar dari rumah untuk pertama kalinya. Ibunya yang menyuruhku. Aku mendorong kursi roda nya di sepanjang kompleks. Cuaca yang cerah itu membuat kami betah terlalu lama diluar rumah. Dan Iori nyaman sekali. Terlihat dari wajahnya yang tak henti melihat ke sekeliling.
“berapa lama lagi kita akan pulang, Iori” tanyaku
Iori menggelengkan kepalanya.
“apa maksudmu?”
Ia kembali menulis, “sudah hampir setahun tidak melihat keindahan yang seperti ini, Kyoko-chan. Biarkan aku menikmatinya hingga malam tiba”
Begitu, aku mengerti. Kemudian tetap berjalan mendorong kursi rodanya. Kami melihat berbagai hal. Berjalan menuju taman, melihat danau, melewati sekolahku dan tempat-tempat lainnya.
Tapi tiba-tiba di tengah jalan..
“ngg~” suara serak tiba-tiba kudengar dari arah Iori. Aku menghentikan langkahku.
“Iori, itu suaramu?” tanyaku
Iori melihat kearahku. “unn~” seketika aku mulai mendengar suaranya.
“Iori, apa pita suaramu sudah mulai membaik? Kamu bisa mengeluarkan suara” aku terlihat sangat senang. Namun Iori menuliskannya, “kurasa inilah yang terburuk”
“doushita?”
Iori menolehkan wajahnya dariku. Ia menundukkan kepalanya.
“aku pikir ayah akan datang beberapa hari lagi, makanya walau keadaan memburuk aku tetap akan sabar. Bukankah ada Kyoko?”
“ayahmu akan datang? Benarkah?”
Iori mengangguk. “ibu yang mengatakannya padaku”
“souka” aku kembali mendorong kursi rodanya. “saa, kalau begitu kita tidak akan bertemu lagi?” tanyaku
Iori seolah tak mendengarku bicara.
“oh ya, nanti kalau suatu hari Iori bisa bicara, bernyanyi untukku, ya?” tambahku. Dan Iori mengangguknya.

Hingga seharian itu Iori bersamaku. Tepat pukul 10 malam kami pulang.
.
.
.
Dan suatu ketika, terjadi pada hari itu.
24 Februari, 03.25pm

“Iori~” panggilku hari itu di depan halaman rumah Iori.
Sudah 4 hari aku tak berkunjung ke rumahnya. Dan hari ini aku bermaksud mengajaknya lagi ke taman, tapi..

“maaf, mencari si pemilik rumah?” Tanya seorang ibu-ibu dari rumah sebelah
“iya?” jawabku
“baru saja sang pemilik rumah kemarin pergi bersama dengan sebuah mobil. Kalau tidak salah ibu dari anak yang bernama Iori itu menitipkan pesan pada saya. Apa kamu yang bernama Morita Kyoko?”
Aku mengangguk. Kemudian berjalan menuju ibu-ibu itu. “pesan apa, bibi?”
“kalau Kyoko datang, sampaikan salamku padanya”
Aku terdiam seketika. Pipiku tiba-tiba basah, matanya berair seketika.

“itu Iori yang bilang, kan? Apa dia tidak menungguku?” pikirku. Lalu aku berlari pulang mengatakan pada mama. Rasanya ingin menangis. Tapi mama sempat membujukku agar tak menangis.
Akhirnya kubiarkan waktu berlalu. Sama sekali tak ada kabar dari Iori datang ke rumah. Dan aku tidak begitu mempedulikannya.
Tapi, di hari ini..

2 tahun semuanya berlalu.
Baru saja melihat Iori tersenyum di dalam mimpiku. Ketika menceritakan pada mama, ia malah mengacuhkanku. Tapi aku percaya, hari inipun Iori masih baik-baik saja.
.
.
.
“are?” tiba-tiba di keheningan pagi itu, kepalaku terbentur bawahan tempat tidur. Sebuah bingkai foto tergeletak di depan ku. “ini foto aku dan Iori yang sudah lama hilang?” aku mengambil foto itu. Sudah agak berdebu. Namun dengan bahagianya aku beranjak dari bawah sana. Membersihkan foto tersebut.
“tanda apa ini?” pikirku lagi.
Dan tak lama setelah itu..
“Kyoko, kyoko..” panggil mama dari lantai bawah.
Mendengar sorakan mama aku segera berlari. Terlihat mama sedang duduk di depan televisi.
“ada apa mama?” tanyaku
“lihat, orang ini menyebutkan namamu lengkapmu” tunjuk mama pada seorang lelaki di depan tv. Ia membawa sebuah gitar dan mic. Dan coba kuperhatikan itu,

“Iori?” ucapku. Aku segera memperbesar suara tv dan mendengar ucapan itu.

“aku harap Kyoko-chan mendengarku. Aku harap Kyoko-chan sedang melihatku hari ini. Ini pertama kalinya aku tampil di tv. Aku senang ketika aku lolos audisi untuk kedua kalinya. Orang yang selalu ada dipikiranku hingga hari ini.. teman sejak kecilku yang kutinggalkan. Kurasa ini cukup 2 tahun setelah aku menghilang darinya” lelaki yang kukenali dengan sebutan Iori itu memperlihatkan sebuah foto ke depan kamera.
Tau itu foto apa? Iya itu foto yang baru saja kudapatkan di bawah tempat tidur. Ternyata dia masih menyimpannya.

“Kyoko-chan, kau tau aku selalu menyimpan ini. Kau terlihat cantik di foto ini. Oh ya, penampilan pertama kali ini aku ingin menyanyi untukmu. Lagu yang kubilang untuk seorang gadis, sebenarnya itu lagu untukmu.” Iori terdiam sejenak. Suara penonton juga sepertinya sedang menunggui ia melanjutkan kata-kata berikutnya.
“Aku mengatakan aku belum menemukannya, tapi aku selalu berpikir bagaimana membuat lyrik yang bagus agar kau menyukainya. Aku mencoba mencari nadanya, dan ketika menemukannya, kau mencurinya dariku. Kau bilang lagu itu bagus, dan kau buatkan nada untukku. Karena itu nada darimu, aku membuang apa yang sudah kubuat. Lagu yang kau buat bagus sekali. Aku suka. Dan kali ini, dengarkan aku bernyanyi. Suatu hari nanti kita akan bertemu. Di Tokyo, iya kan?” jelasnya
“akh~ satu lagi, 2 tahun yang lalu itu tanggal 23 Februari kenapa kau tak mengunjungiku? Padahal aku menungguimu hingga sore tiba! Aku kesal, tapi hari ini aku ingin tertawa. Aku ingin kau dengarkan bagaimana aku yang sebenarnya. Aku lebih banyak omong dari yang kau pikirkan!” seketika ia mengucapkan itu, ia mulai menggesek gitarnya. Dan lantunan pianopun berbunyi seiring dengan lagu yang mulai ia nyanyikan.

Penjelasan yang agak panjang itu tiba-tiba membuatku larut pada masa lalu. Mata yang kini kembali berair. Antara bahagia dan terharu. 2 tahun lamanya dan ketika berada di tv dia hanya mengingatku.
Menyebutkan namaku..
“iya, Iori suatu hari aku akan bertemu. Tunggu aku di Tokyo. Dan mari bermain musik bersama lagi! Dan aku akan memukuli mu karena tidak pernah mengabariku selama ini!” ucapku sedikit agak keras.
Tapi walaupun kini aku berbicara sekeras apapun, Iori takkan pernah mendengarnya.
Untuk saat ini, teman masa kecilku. Di 23 Februari. Bersama Keiichiro Iori-

-END-




Okee semua berakhir dengan ENDING yang agak berantakan XDD
Tapi TERIMA KASIH buat yang udah baca :)) 

11 komentar:

  1. indah sekali perkataan di cerita kamu rika,
    cerita kamu bisa menghanyutkan hati ku,
    hatiku bagaikan kapas yang terombang ambing di udara yang luas

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa tau namaku?
      hahaa terima kasih terima kasih :)

      Hapus
    2. karena aku adalah hikaru nakamura..
      wkkwkwkwkwk..
      :D

      Hapus
    3. lebay ya perkataan ku di atas..
      wkwkwkw,,
      baru baru belajar menggunakan bahasa yang tinggi..
      wkkwkw..
      :D :p ^,^

      Hapus
    4. kayaknya aku ngomong sendiri yaa..
      wkkwkwk..
      kalau gitu berusaha menghibur diri..

      ehm ehm..
      ( nagano ) : haaii ada orang di sini??

      Hapus
    5. ehem ehem ..
      (yuta) : ada, hallo anda siapa yang..*dare*?
      saya kesepian disini..

      Hapus
    6. (nagano) : kesepian yaa, mendingan naik gedung trus loncat kebawah..
      kwkwkwkkw..


      aisshh bosan nyaa,kayak gk ada kerjaan aja saya nhii,,
      wkkwkwkw...
      ^,^

      oh ya blog Rika bagus banget..
      ^.^

      Hapus
    7. terima kasih pujiannya Partnert, Hikaru-san :D ahhaha
      kau kebanyakan komment, berisik! wkwkkw

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kyahh ini ceritanya bagus banget :3

    keep on writing ne :Dd

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih ^_^
      iya, aku akan terus berjuang :D

      Hapus

Total Tayangan Halaman