Fanfic
ini muncul ketika berada pada fanfic sebelumnya klik here >>
Dan
di episode ini aku baru saja menemukan alur lengkapnya klik here >>
Saya
punya blog yang benar-benar merepotkan~ Setiap kali menulis ada posting demi
posting yang saling berhubungan. Makanya setiap kali saya selalu memeriksa
postingan, agar taka da yang rusak atau sebagainya XD dan itu sangat
melelahkan~ Tapi menyenangkan ketika melakukannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tittle : Ame no you
ni, Nakanaide. Anata no egao suki! (雨のように、泣かないで。 貴方の笑顔好き)(Part 1/2)
Genre : AU
Length : Double Shot
Rating : M
Author : Nanahira
Ichi
Cast : Morita Kyoko
Chara : Morita
Kyoko, Nishihata Daigo a.k.a Keiichiro Iori
Keterangan : Cerita
ini hanya fiktif belaka, tidak ada kesamaan karakter atau sejenisnya
Download full story : Klik here >> pw : ichi1303
Download full story : Klik here >> pw : ichi1303
okee, Hajimemashou~
~~
Pagi itu di kediaman
Morita
23 Februari
08.15am
“mamaaaaa~!! Mamaaaaa~!!” aku berlari ke lantai dua
memecah keheningan di pagi itu.
“ada apa, sayang?” Tanya mama segera berlari keluar
dapur untuk menemuiku.
Aku berhenti di depan mama pagi itu. Nafasku
terengah-engah. Baru saja aku bangun dari tidurku. Semua keringat membahasi
tubuhku di pagi itu. Tatapan mama menatap jelas kearahku.
“mama, ada Iori di dalam mimpiku!” jawabku seketika
“Iori?”
“iya. Ada Iori di mimpiku. Dia tersenyum padaku, ma”
“begitu” mama mengacuhkan pembicaraanku dan kembali
berjalan ke dapur dengan wajah tanpa ekspressipun. “kalau dia tidak mengingatmu
lagi, untuk apa kau masih mengingatnya?” tambah mama
Aku terdiam seketika. Itu teman masa kecilku. Yang
selalu menjadi alasanku untuk tetap bermain musik. Seorang anak yang berani dan
penuh semangat. Sejak ia meninggalkan Tokyo, tak ada berita apapun lagi yang
kuterima. Dia seperti hilang ditelan lautan. Itu yang membuat mama semakin tak
menyukainya. Tapi ini tanggal 23 Februari. Tepat 2 tahun sebelum dia
benar-benar menghilang.
“akh mama~ mungkin dia belum pulih. Tapi mungkin hari
ini aku akan mencoba mencari foto itu dulu. Siapa tahu bertemu” aku kembali
menaiki tangga dan memasuki kamar. Foto itu, kenangan Iori yang ditinggalkannya
padaku. Namanya yang sangat berarti, Keiichiro Iori.
2 Tahun lalu
3 Agustus, 03.25pm
“Konnichi wa~!!” teriakku di depan sebuah rumah.
Siang itu sangat cerah, tapi rumah itu masih saja sepi.
Seperti tak berpenghuni. Namun ada seseorang yang membuatku selalu ingin
kesana. Seorang anak laki-laki dengan syall merah dan kursi roda nya.
“Kyoko-chan” soraknya sayup-sayup dari jendela kamarnya
di lantai 2. Wajahnya berubah sangat bahagia ketika melihatku berdiri di depan
rumahnya. Dengan cepat lelaki itu memanggil ibunya. Segera mengambil tongkat di
tepi tempat tidurnya dan berdiri dari kursi roda, kemudian berjalan keluar
kamar dengan kedua tongkat di tangannya.
“Kyoko-chan, sudah pulang sekolah?” tulisnya diatas
kertas penuh semangat membuka pintu rumah.
Aku mengangguk. Masih menyandangi tas dan mengenakan
seragam sekolah. “bagaimana keadaanmu, Iori?”
Mendengar pembicaraanku Iori menundukkan kepalanya.
Wajahnya berubah seketika. Iapun menggelengkan kepalanya.
Aku tersenyum. Memegangi bahunya, “daijoubu. Kau akan
baik-baik saja”
Dia tetanggaku yang baru pindah sekitar 2 minggu yang
lalu. Dia anak yang baik. Tapi kekecewaan besar yang membuatnya harus menjadi
anak yang seperti ini.
Awal pindah ibunya menceritakan semuanya padaku. Lelaki
sebaya denganku ini, sering menjadi padanan bagi teman-temannya sewaktu masih
di Hokkaido. Dia punya banyak bakat di bidang musik. Seperti bernyanyi dan
bermain gitar atau alat musik lainnya. Dalam pelajaranpun dia masih unggul. Dan hari itu, ia mendapat
berita dari Osaka kalau ia lulus dalam audisi musik. Dengan perasaan sangat
bahagia, ia ingin menemui ayahnya yang saat itu bekerja di Yokohama. Namun
sesuatu terjadi ketika hendak menuju bandara Hokkaido. Mobil yang ia naiki
kecelakaan parah dan ia berada pada posisi yang kurang tepat. Sehingga ia
mengalami kerusakan pada pita suara dan saraf kakinya yang tak bisa digunakan.
Ia dibawa ke Tokyo untuk menjalani perawatan harian sebelum ayahnya yang
menjemput untuk menjalani operasi di Yokohama.
Dan kekecewaan yang ia rasakan itu ialah kelulusannya
dibatalkan. Dan untuk sementara ia tidak bisa datang ke sekolah.
“Iori yang aku tahu selalu dalam keadaan sehat, kan Iori
yang mengajarkan tersenyum padaku?” tambahku lagi
Iori kembali mengangkat kepalanya melihatku. Kedua
tangannya yang masih bertahan diatas kedua tongkat. Berusaha tersenyum padaku. “kalau
aku bisa berjalan, aku ingin berlari ke tempatmu Kyoko-chan” ujarnya menulis
diatas kertas.
“berlari? Kenapa? Aku tidak kemana-mana” balasku
Iori seolah mengetupkan bibirnya dan kembali menulis, “iya
aku ingin mencubit kedua pipimu” tunjuknya kearahku.
Mendengar itu aku terdiam. Angin tiba-tiba berhembus
kencang menerbangi rambutku. Aku tidak tau harus berkata apapun, tapi ada
beberapa yang selalu kulakukan ketika Iori membuatku terdiam seperti ini.
Tersenyum dan terus menatapinya.
“Oh ya Iori, bagaimana dengan lagu yang kemarin
kubilang?” aku menghentikan keheningan seketika. Tiba-tiba saja aku teringat
akan lagu yang pernah ia janjikan padaku. Beberapa waktu yang lalu Iori
mengatakan kalau dia pernah membuat lagu untuk teman perempuannya di Hokkaido
dulu. Tapi setelah lagu itu selesai, ia tidak berani untuk memberikannya.
Dengan alasan gadis itu tidak menyukai hasil karangannya. Tapi,
Aku ingin perlihatkan pada Kyoko.
Aku akan mencarinya, aku pasti membawanya ke Tokyo.
Dan setiap kali aku meminta, ia selalu menjawab dengan
jawaban yang sama.
“Aku masih belum menemukannya” tulisnya lagi
Aku hanya tersenyum mengerti. Dengan keadaan dia yang
sekarang, dia tidak mungkin bisa banyak bergerak. Lagipula masih ada beberapa
bulan lagi untuk kami bertemu. Dan bulan-bulan itu ingin kumanfaatkan. Jika
lagu itu ditemukan, aku akan mencarikan lyrik yang tepat untuknya. Hingga suatu
hari, jika Iori bisa bernyanyi, ia akan menyanyikannya untuk gadis itu.
“saa, Kyoko-chan segeralah pulang. Nanti ibumu mencari”
tambahnya lagi.
Aku kemudian menganggukkan kepala. “baiklah, besok aku
akan segera kembali. Kupastikan kertas itu sudah kau temukan” aku memegangi
sebelah bahunya. Lalu berjalan keluar dari halaman rumah Iori.
Beberapa bulan lagi musim dingin akan datang. Dan pada
awal musim dingin sekolah akan diliburkan. Dan masa-masa itu ingin kulewati
bersama Iori. Semenjak kedatangannya, kehidupanku mulai berubah. Aku sangat
menyukai musik. Ketika mendengarnya bermain piano, aku benar-benar berdebar dan
ingin terus mendengar suara lantunan pianonya. Aku yang masih duduk di bangku
kelas 2 SMP sering bolos jam pelajaran dan memakai ruang musik untuk bermain
beberapa jam. Lalu sepulang sekolah aku sering lewat di depan rumahnya, menyapanya
dari luar dan melihat senyuman bahagianya itu..
Rasanya mataku ingin menangis. Dibalik senyuman ia
menyimpan kesedihan yang begitu menyakitkan. Tak bisa berbicara layaknya anak
lain dan berjalan. Tapi ada semangat Iori yang selalu kunantikan.
Dan kali ini..
7 September, 02.17pm
“Iori~” panggilku lagi.
Hari ini aku selalu balik ke rumahnya. Dan hari-hari
berlalu membuatku selalu bertanya tentang lirik yang ia ceritakan. Bahkan
sampai saat inipun ia belum menemukannya.
“kyoko, sudah pulang sekolah?” jawab ibunya membuka
pintu. Hari ini jendela kamar Iori masih tertutup. Biasanya ia selalu membuka
ketika aku memanggilnya dengan suara keras seperti ini.
“bibi, Iorinya ada?” tanyaku
Bibi tersenyum dan menjawab “Iori sepertinya kurang enak
badan. Tapi dia tidak apa-apa. Kyoko, ayo masuk”
Pintu dibuka dan aku di persilahkan masuk. Tas yang
masih kusandangi, dan seragam sekolah yang kukenakan. Aku berjalan perlahan
masuk ke rumah itu. Kedua kalinya aku masuk ke dalam rumah ini dan aku pikir
rumah ini selalu saja dalam keadaan rapi.
Sang ibu menunjuk kamar Iori yang masih tertutup di
lantai 2. Mengantarku segera ke lantai atas.
“Iori~ ini Kyoko datang” bisik bibi membuka pintu kamar
perlahan. Kemudian bibi melihatku dan membuka lebar pintu kamarnya.
Terlihat sosok Iori yang masih duduk diatas meja
pianonya. Bentuk kamar yang gelap. Dan tirai jendela yang tak terbuka. Bibipun
meninggalkan kami. Dengan sedikit agak gugup, aku melangkah masuk ke dalam.
“Iori, kenapa tidak menghidupkan lampu?” tanyaku
Iori diam. Ia sama sekali tak menoleh kearahku.
“kertasmu mana?” tanyaku lagi. Aku melihat kesekitar
kamar. Dan seketika mataku berhenti mencari. Itu ketika melihat sebuah kertas yang
sedikit agak besar terletak rapi diatas tempat tidurnya. Aku berjalan kearah
kertas itu. Berusaha mengambil. Tapi..
Buuuugggh~
Aku melihat Iori terjatuh dari tempat duduknya. Ia
menatapiku. Seolah melarangku mendekati kertas itu. Ia berulang kali
menggelengkan kepalanya. Dengan matanya yang agak berkaca-kaca.
Dalam keadaan seperti ini, “ada apa dengan kakimu Iori?”
ucapku. Aku kembali berjalan ketempat Iori. Menggapai tangannya dan membawanya
berdiri. Iori masih menggelengkan kepalanya.
“kau melarangku mengambil kertas itu?”
Iori mengangguk cepat. Seketika aku berpikir aneh
tentang kertas yang baru saja ingin kugapai itu. Tapi Iori melarangku dan
kakinya, “Iori kakimu kenapa?” tambahku lagi. Ketika aku mengangkat tubuhnya
untuk kembali duduk, ia sama sekali tak menggerakkan kakinya.
Lalu aku menghidupkan lampu kamarnya, mengeluarkan
kertas dan pulpen yang ada di dalam tasku. Segera memberikan pada Iori.
“kakiku sudah tak bisa digerakan” tulisnya
“apa? Kenapa bisa? Memangnya ada apa?” tanyaku mulai
terlihat panik
“kakiku mengalami infeksi. Dan secepatnya aku harus
operasi. Layaknya infeksi mungkin harus memilih amputasi tapi aku tak
menginginkan itu” Iori mengeluarkan air matanya. Kali ini aku tak melihat lagi
senyumannya itu.
Aku khawatir sesuatu akan terjadi pada Iori. Aku
berharap ayahnya bisa segera datang menjemputnya. Iori yang bahagia itu, aku
ingin lihat. Ingin selalu melihatnya.
Itu ketika pertama kali aku datang bertemu dengannya. Ia
seperti ingin terus berbicara. Tetapi tak ada suara apapun yang ia bisa
keluarkan. Ia hanya bisa menulis.
“Iori masih kuat. Aku percaya padamu Iori” sahutku
sedikit agak pelan. Dan kata-kata itu dijawab dengan anggukannya. Setelah itu
Iori kembali menggerakkan tangannya diatas piano dan kembali bermain musik.
Dengan perasaan yang sedikit tenang aku biarkan ia
bermain dan aku mendengar setiap lantunannya. Bahkan Iori bisa membunyikan
suara dengan nada yang indah tanpa melihat teks atau apapun. Itu seperti dia
bisa membunyikan musik apapun yang ia inginkan.
Dan kertas itu,
Seketika aku kembali melihatnya. Tanpa ragu-ragu aku
perlahan menggapai tanganku dan mengambil kertas itu dan segera memasukkannya
ke dalam tas. Habisnya, aku ingin tau itu kertas apa.
Aku segera berdiri dan menyandangi tas. “Iori mungkin
aku sudah harus pulang.” Ucapku. Iori mengangguk tersenyum. Aku lalu berlari
keluar kamar dan meminta izin untuk pulang.
Siang ini..
03.20pm
“mama aku pulang, aku segera ke kamar!” aku berlari
menuju lantai 2 kamarku. Nafasku terengah-engah. Segera membuka pintu kamar,
meletakkan tas diatas meja belajar seketika dan mengambil kertas itu.
Kemudian menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan
membuka lembar pertama.
“ini, bukan kertas?” pikirku. Ada beberapa lembar kertas
dan ini terlihat seperti sebuah buku.
Aku kaget ketika membuka setiap lembarannya.
Di lembaran pertama itu seperti menunjukkan beberapa
prestasi yang ia raih. Seperti lomba bernyanyi tingkat sekolah, kota, dan
daerah-daerah lainnya. Setidaknya Iori punya banyak perlombaan dalam bernyanyi.
Di lembar berikutnya, melihat gambar coretan. Itu tidak begitu bagus tapi
terlihat nyata. Seperti potret diri antara dirinya sendiri dengan beberapa
teman lainnya.
Dan lihat ketika lembar berikutnya, ia menggambar
dirinya dengan sebuah tongkat dan perban dimana-mana bersama ibunya. Menggambar
sosok ayah dan mencoretnya. Kata-kata yang ia tulis, Doko otousan?
“Apa Iori merindukan sang ayah?” pikirku lagi.
Aku kembali membuka lembaran berikutnya.
Dan kali ini benar-benar merasuki jiwaku. Aku melihat
gambaran teman-temannya. Tapi Iori mencoret semuanya dan meninggalkan gambaran
dirinya yang masih utuh.
.
.
.
“mama..mama…” aku menyoraki mama dan berlari kedapur
tempat biasa mama berada.
“ada apa Kyoko?” Tanya mama
“mama lihat ini. Apa mama mengerti?”
Aku memperlihatkan buku milik Iori. Membuka lembar
pertama dan hingga sampai ke lembaran dimana Iori mencoret teman-temannya.
Melihat itu mama segera diam. Dan menatapiku.
Satu kata yang mama ucapkan padaku,
“apa Iori tidak bisa bertemu teman-temannya lagi?”
Aku menatap wajah mama. Seketika aku mulai tak
sanggup mendengar kata-kata mama berikutnya aku pun segera kembali ke kamar.
Menuju jalan kamar aku membuka perlahan lembaran berikutnya.
Ada beberapa tulisan Iori, itu tulisan ketika
ingin berbicara denganku. Beberapa lembaran lainnya yang masih sama. Dan saat
aku membalikkan lembaran berikutnya, tertulis dengan sebuah kanji. Tulisan yang
sangat besar.
俺が歌いたかった
俺の歌は独自に!!
Itu seperti sebuah ucapan keras. "Aku
ingin bernyanyi, diatas laguku sendiri!"
Aku kembali tersenyum membaca ucapan itu. Dia
begitu ingin sekali bernyanyi. Bahkan di setiap tulisan atau gambarannya, ia selalu
menulis dengan menggunakan simbol nada.
Dan lembaran selanjutnya,
"are?" aku menghentikan langkahku.
Tepat di depan pintu aku berhenti. Itu seperti aliran sebuah musik piano.
Sebuah lirik lagu, dengan rangkaian kata yang sangat indah.
Seperti,
ada beberapa rangkaian kata
yang ingin kulantunkan di depanmu
seperti bait pada sebuah lagu
hanya ingin kau yang dengarkan
aku ingin bisa bernyanyi semampuku
menyanyi untukmu
bayanganku padamu
senyumanmu yang kusuka
itu ketika musim semi datang
dan ketika musim gugur sakura
angin meniupkan rambutmu
saat itu aliran suaraku akan melantun
sebuah nyanyian untukmu
yang kubuat karena melihatmu
Dan beberapa bait berikutnya. Sebuah kata-kata
yang tidak tersusun rapi tapi sangat indah ketika dibaca.
"apa ini lagu yang dimaksud Iori? Padahal
ia selalu membawanya, kenapa mengatakan kalau ia belum menemukannya?"
pikirku. Aku menutup kembali buku itu. Ketika membacanya tubuhku seolah
merinding. Seperti membaca sebuah rangkaian kata, seperti kata-kata untuk orang
yang disuka.
"aku pikir gadis itu sangat beruntung
sekali."
aku melangkah membuka pintu kamar. Membuka
penutup pianoku dan mulai memainkannya. Aku membaca setiap bait. Suara pianoku
memang tak seperti lantunan piano yang dimainkan Iori. Tapi ketika lantunan
musik kumainkan, dan aku seolah berada dalam lagu itu. Ini seperti terasa
sangat indah sekali.
Siang itupun aku tetap tenang dikamar sambil
membiarkan musikku melantun sangat indah sesuai dengan jari-jari yang kubiarkan
bermain.
-TO BE CONTINUED-
Oke Part 1 selesai :))
Dan lanjut ke Part 2, KLIK HERE >>














Tidak ada komentar:
Posting Komentar