Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/03/16

Ame no You ni, Nakanaide. Anata no Egao Suki !


Fanfic ini muncul ketika berada pada fanfic sebelumnya klik here >>
Dan di episode ini aku baru saja menemukan alur lengkapnya klik here >>
Saya punya blog yang benar-benar merepotkan~ Setiap kali menulis ada posting demi posting yang saling berhubungan. Makanya setiap kali saya selalu memeriksa postingan, agar taka da yang rusak atau sebagainya XD dan itu sangat melelahkan~ Tapi menyenangkan ketika melakukannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tittle : Ame no you ni, Nakanaide. Anata no egao suki! (雨のように、泣かないで。 貴方の笑顔好き(Part 1/2)
Genre : AU
Length : Double Shot
Rating : M
Author : Nanahira Ichi
Cast : Morita Kyoko
Chara : Morita Kyoko, Nishihata Daigo a.k.a Keiichiro Iori
Keterangan : Cerita ini hanya fiktif belaka, tidak ada kesamaan karakter atau sejenisnya

Download full story : Klik here >>  pw : ichi1303

 okee, Hajimemashou~

~~
Pagi itu di kediaman Morita

23 Februari

08.15am

“mamaaaaa~!! Mamaaaaa~!!” aku berlari ke lantai dua memecah keheningan di pagi itu.
“ada apa, sayang?” Tanya mama segera berlari keluar dapur untuk menemuiku.
Aku berhenti di depan mama pagi itu. Nafasku terengah-engah. Baru saja aku bangun dari tidurku. Semua keringat membahasi tubuhku di pagi itu. Tatapan mama menatap jelas kearahku.
“mama, ada Iori di dalam mimpiku!” jawabku seketika
“Iori?”
“iya. Ada Iori di mimpiku. Dia tersenyum padaku, ma”
“begitu” mama mengacuhkan pembicaraanku dan kembali berjalan ke dapur dengan wajah tanpa ekspressipun. “kalau dia tidak mengingatmu lagi, untuk apa kau masih mengingatnya?” tambah mama
Aku terdiam seketika. Itu teman masa kecilku. Yang selalu menjadi alasanku untuk tetap bermain musik. Seorang anak yang berani dan penuh semangat. Sejak ia meninggalkan Tokyo, tak ada berita apapun lagi yang kuterima. Dia seperti hilang ditelan lautan. Itu yang membuat mama semakin tak menyukainya. Tapi ini tanggal 23 Februari. Tepat 2 tahun sebelum dia benar-benar menghilang.
“akh mama~ mungkin dia belum pulih. Tapi mungkin hari ini aku akan mencoba mencari foto itu dulu. Siapa tahu bertemu” aku kembali menaiki tangga dan memasuki kamar. Foto itu, kenangan Iori yang ditinggalkannya padaku. Namanya yang sangat berarti, Keiichiro Iori.

2 Tahun lalu

3 Agustus, 03.25pm

“Konnichi wa~!!” teriakku di depan sebuah rumah.
Siang itu sangat cerah, tapi rumah itu masih saja sepi. Seperti tak berpenghuni. Namun ada seseorang yang membuatku selalu ingin kesana. Seorang anak laki-laki dengan syall merah dan kursi roda nya.
“Kyoko-chan” soraknya sayup-sayup dari jendela kamarnya di lantai 2. Wajahnya berubah sangat bahagia ketika melihatku berdiri di depan rumahnya. Dengan cepat lelaki itu memanggil ibunya. Segera mengambil tongkat di tepi tempat tidurnya dan berdiri dari kursi roda, kemudian berjalan keluar kamar dengan kedua tongkat di tangannya.
“Kyoko-chan, sudah pulang sekolah?” tulisnya diatas kertas penuh semangat membuka pintu rumah.
Aku mengangguk. Masih menyandangi tas dan mengenakan seragam sekolah. “bagaimana keadaanmu, Iori?”
Mendengar pembicaraanku Iori menundukkan kepalanya. Wajahnya berubah seketika. Iapun menggelengkan kepalanya.
Aku tersenyum. Memegangi bahunya, “daijoubu. Kau akan baik-baik saja”
Dia tetanggaku yang baru pindah sekitar 2 minggu yang lalu. Dia anak yang baik. Tapi kekecewaan besar yang membuatnya harus menjadi anak yang seperti ini.
Awal pindah ibunya menceritakan semuanya padaku. Lelaki sebaya denganku ini, sering menjadi padanan bagi teman-temannya sewaktu masih di Hokkaido. Dia punya banyak bakat di bidang musik. Seperti bernyanyi dan bermain gitar atau alat musik lainnya. Dalam pelajaranpun dia masih unggul. Dan hari itu, ia mendapat berita dari Osaka kalau ia lulus dalam audisi musik. Dengan perasaan sangat bahagia, ia ingin menemui ayahnya yang saat itu bekerja di Yokohama. Namun sesuatu terjadi ketika hendak menuju bandara Hokkaido. Mobil yang ia naiki kecelakaan parah dan ia berada pada posisi yang kurang tepat. Sehingga ia mengalami kerusakan pada pita suara dan saraf kakinya yang tak bisa digunakan. Ia dibawa ke Tokyo untuk menjalani perawatan harian sebelum ayahnya yang menjemput untuk menjalani operasi di Yokohama.
Dan kekecewaan yang ia rasakan itu ialah kelulusannya dibatalkan. Dan untuk sementara ia tidak bisa datang ke sekolah.
“Iori yang aku tahu selalu dalam keadaan sehat, kan Iori yang mengajarkan tersenyum padaku?” tambahku lagi
Iori kembali mengangkat kepalanya melihatku. Kedua tangannya yang masih bertahan diatas kedua tongkat. Berusaha tersenyum padaku. “kalau aku bisa berjalan, aku ingin berlari ke tempatmu Kyoko-chan” ujarnya menulis diatas kertas.
“berlari? Kenapa? Aku tidak kemana-mana” balasku
Iori seolah mengetupkan bibirnya dan kembali menulis, “iya aku ingin mencubit kedua pipimu” tunjuknya kearahku.
Mendengar itu aku terdiam. Angin tiba-tiba berhembus kencang menerbangi rambutku. Aku tidak tau harus berkata apapun, tapi ada beberapa yang selalu kulakukan ketika Iori membuatku terdiam seperti ini. Tersenyum dan terus menatapinya.
“Oh ya Iori, bagaimana dengan lagu yang kemarin kubilang?” aku menghentikan keheningan seketika. Tiba-tiba saja aku teringat akan lagu yang pernah ia janjikan padaku. Beberapa waktu yang lalu Iori mengatakan kalau dia pernah membuat lagu untuk teman perempuannya di Hokkaido dulu. Tapi setelah lagu itu selesai, ia tidak berani untuk memberikannya. Dengan alasan gadis itu tidak menyukai hasil karangannya. Tapi,

Aku ingin perlihatkan pada Kyoko.

Aku akan mencarinya, aku pasti membawanya ke Tokyo.

Dan setiap kali aku meminta, ia selalu menjawab dengan jawaban yang sama.
“Aku masih belum menemukannya” tulisnya lagi
Aku hanya tersenyum mengerti. Dengan keadaan dia yang sekarang, dia tidak mungkin bisa banyak bergerak. Lagipula masih ada beberapa bulan lagi untuk kami bertemu. Dan bulan-bulan itu ingin kumanfaatkan. Jika lagu itu ditemukan, aku akan mencarikan lyrik yang tepat untuknya. Hingga suatu hari, jika Iori bisa bernyanyi, ia akan menyanyikannya untuk gadis itu.
“saa, Kyoko-chan segeralah pulang. Nanti ibumu mencari” tambahnya lagi.
Aku kemudian menganggukkan kepala. “baiklah, besok aku akan segera kembali. Kupastikan kertas itu sudah kau temukan” aku memegangi sebelah bahunya. Lalu berjalan keluar dari halaman rumah Iori.
Beberapa bulan lagi musim dingin akan datang. Dan pada awal musim dingin sekolah akan diliburkan. Dan masa-masa itu ingin kulewati bersama Iori. Semenjak kedatangannya, kehidupanku mulai berubah. Aku sangat menyukai musik. Ketika mendengarnya bermain piano, aku benar-benar berdebar dan ingin terus mendengar suara lantunan pianonya. Aku yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP sering bolos jam pelajaran dan memakai ruang musik untuk bermain beberapa jam. Lalu sepulang sekolah aku sering lewat di depan rumahnya, menyapanya dari luar dan melihat senyuman bahagianya itu..
Rasanya mataku ingin menangis. Dibalik senyuman ia menyimpan kesedihan yang begitu menyakitkan. Tak bisa berbicara layaknya anak lain dan berjalan. Tapi ada semangat Iori yang selalu kunantikan.
Dan kali ini..

7 September, 02.17pm

“Iori~” panggilku lagi.
Hari ini aku selalu balik ke rumahnya. Dan hari-hari berlalu membuatku selalu bertanya tentang lirik yang ia ceritakan. Bahkan sampai saat inipun ia belum menemukannya.
“kyoko, sudah pulang sekolah?” jawab ibunya membuka pintu. Hari ini jendela kamar Iori masih tertutup. Biasanya ia selalu membuka ketika aku memanggilnya dengan suara keras seperti ini.
“bibi, Iorinya ada?” tanyaku
Bibi tersenyum dan menjawab “Iori sepertinya kurang enak badan. Tapi dia tidak apa-apa. Kyoko, ayo masuk”
Pintu dibuka dan aku di persilahkan masuk. Tas yang masih kusandangi, dan seragam sekolah yang kukenakan. Aku berjalan perlahan masuk ke rumah itu. Kedua kalinya aku masuk ke dalam rumah ini dan aku pikir rumah ini selalu saja dalam keadaan rapi.
Sang ibu menunjuk kamar Iori yang masih tertutup di lantai 2. Mengantarku segera ke lantai atas.
“Iori~ ini Kyoko datang” bisik bibi membuka pintu kamar perlahan. Kemudian bibi melihatku dan membuka lebar pintu kamarnya.
Terlihat sosok Iori yang masih duduk diatas meja pianonya. Bentuk kamar yang gelap. Dan tirai jendela yang tak terbuka. Bibipun meninggalkan kami. Dengan sedikit agak gugup, aku melangkah masuk ke dalam.
“Iori, kenapa tidak menghidupkan lampu?” tanyaku
Iori diam. Ia sama sekali tak menoleh kearahku.
“kertasmu mana?” tanyaku lagi. Aku melihat kesekitar kamar. Dan seketika mataku berhenti mencari. Itu ketika melihat sebuah kertas yang sedikit agak besar terletak rapi diatas tempat tidurnya. Aku berjalan kearah kertas itu. Berusaha mengambil. Tapi..

Buuuugggh~

Aku melihat Iori terjatuh dari tempat duduknya. Ia menatapiku. Seolah melarangku mendekati kertas itu. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya. Dengan matanya yang agak berkaca-kaca.
Dalam keadaan seperti ini, “ada apa dengan kakimu Iori?” ucapku. Aku kembali berjalan ketempat Iori. Menggapai tangannya dan membawanya berdiri. Iori masih menggelengkan kepalanya.
“kau melarangku mengambil kertas itu?”
Iori mengangguk cepat. Seketika aku berpikir aneh tentang kertas yang baru saja ingin kugapai itu. Tapi Iori melarangku dan kakinya, “Iori kakimu kenapa?” tambahku lagi. Ketika aku mengangkat tubuhnya untuk kembali duduk, ia sama sekali tak menggerakkan kakinya.
Lalu aku menghidupkan lampu kamarnya, mengeluarkan kertas dan pulpen yang ada di dalam tasku. Segera memberikan pada Iori.
“kakiku sudah tak bisa digerakan” tulisnya
“apa? Kenapa bisa? Memangnya ada apa?” tanyaku mulai terlihat panik
“kakiku mengalami infeksi. Dan secepatnya aku harus operasi. Layaknya infeksi mungkin harus memilih amputasi tapi aku tak menginginkan itu” Iori mengeluarkan air matanya. Kali ini aku tak melihat lagi senyumannya itu.
Aku khawatir sesuatu akan terjadi pada Iori. Aku berharap ayahnya bisa segera datang menjemputnya. Iori yang bahagia itu, aku ingin lihat. Ingin selalu melihatnya.

Itu ketika pertama kali aku datang bertemu dengannya. Ia seperti ingin terus berbicara. Tetapi tak ada suara apapun yang ia bisa keluarkan. Ia hanya bisa menulis.

“Iori masih kuat. Aku percaya padamu Iori” sahutku sedikit agak pelan. Dan kata-kata itu dijawab dengan anggukannya. Setelah itu Iori kembali menggerakkan tangannya diatas piano dan kembali bermain musik.
Dengan perasaan yang sedikit tenang aku biarkan ia bermain dan aku mendengar setiap lantunannya. Bahkan Iori bisa membunyikan suara dengan nada yang indah tanpa melihat teks atau apapun. Itu seperti dia bisa membunyikan musik apapun yang ia inginkan.

Dan kertas itu,
Seketika aku kembali melihatnya. Tanpa ragu-ragu aku perlahan menggapai tanganku dan mengambil kertas itu dan segera memasukkannya ke dalam tas. Habisnya, aku ingin tau itu kertas apa.
Aku segera berdiri dan menyandangi tas. “Iori mungkin aku sudah harus pulang.” Ucapku. Iori mengangguk tersenyum. Aku lalu berlari keluar kamar dan meminta izin untuk pulang.

Siang ini..
03.20pm

“mama aku pulang, aku segera ke kamar!” aku berlari menuju lantai 2 kamarku. Nafasku terengah-engah. Segera membuka pintu kamar, meletakkan tas diatas meja belajar seketika dan mengambil kertas itu.
Kemudian menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan membuka lembar pertama.
“ini, bukan kertas?” pikirku. Ada beberapa lembar kertas dan ini terlihat seperti sebuah buku.
Aku kaget ketika membuka setiap lembarannya.
Di lembaran pertama itu seperti menunjukkan beberapa prestasi yang ia raih. Seperti lomba bernyanyi tingkat sekolah, kota, dan daerah-daerah lainnya. Setidaknya Iori punya banyak perlombaan dalam bernyanyi. Di lembar berikutnya, melihat gambar coretan. Itu tidak begitu bagus tapi terlihat nyata. Seperti potret diri antara dirinya sendiri dengan beberapa teman lainnya.
Dan lihat ketika lembar berikutnya, ia menggambar dirinya dengan sebuah tongkat dan perban dimana-mana bersama ibunya. Menggambar sosok ayah dan mencoretnya. Kata-kata yang ia tulis, Doko otousan?
“Apa Iori merindukan sang ayah?” pikirku lagi.
Aku kembali membuka lembaran berikutnya.
Dan kali ini benar-benar merasuki jiwaku. Aku melihat gambaran teman-temannya. Tapi Iori mencoret semuanya dan meninggalkan gambaran dirinya yang masih utuh.
.
.
.
“mama..mama…” aku menyoraki mama dan berlari kedapur tempat biasa mama berada.
“ada apa Kyoko?” Tanya mama
“mama lihat ini. Apa mama mengerti?”
Aku memperlihatkan buku milik Iori. Membuka lembar pertama dan hingga sampai ke lembaran dimana Iori mencoret teman-temannya.
Melihat itu mama segera diam. Dan menatapiku.
Satu kata yang mama ucapkan padaku,
“apa Iori tidak bisa bertemu teman-temannya lagi?”


Aku menatap wajah mama. Seketika aku mulai tak sanggup mendengar kata-kata mama berikutnya aku pun segera kembali ke kamar. Menuju jalan kamar aku membuka perlahan lembaran berikutnya.



Ada beberapa tulisan Iori, itu tulisan ketika ingin berbicara denganku. Beberapa lembaran lainnya yang masih sama. Dan saat aku membalikkan lembaran berikutnya, tertulis dengan sebuah kanji. Tulisan yang sangat besar.

 俺が歌いたかった
俺の歌は独自に!!

Itu seperti sebuah ucapan keras. "Aku ingin bernyanyi, diatas laguku sendiri!"
Aku kembali tersenyum membaca ucapan itu. Dia begitu ingin sekali bernyanyi. Bahkan di setiap tulisan atau gambarannya, ia selalu menulis dengan menggunakan simbol nada.

Dan lembaran selanjutnya,
"are?" aku menghentikan langkahku. Tepat di depan pintu aku berhenti. Itu seperti aliran sebuah musik piano. Sebuah lirik lagu, dengan rangkaian kata yang sangat indah.

Seperti,
ada beberapa rangkaian kata
yang ingin kulantunkan di depanmu
seperti bait pada sebuah lagu
hanya ingin kau yang dengarkan
aku ingin bisa bernyanyi semampuku
menyanyi untukmu

bayanganku padamu
senyumanmu yang kusuka
itu ketika musim semi datang
dan ketika musim gugur sakura
angin meniupkan rambutmu
saat itu aliran suaraku akan melantun
sebuah nyanyian untukmu
yang kubuat karena melihatmu

Dan beberapa bait berikutnya. Sebuah kata-kata yang tidak tersusun rapi tapi sangat indah ketika dibaca. 
"apa ini lagu yang dimaksud Iori? Padahal ia selalu membawanya, kenapa mengatakan kalau ia belum menemukannya?" pikirku. Aku menutup kembali buku itu. Ketika membacanya tubuhku seolah merinding. Seperti membaca sebuah rangkaian kata, seperti kata-kata untuk orang yang disuka.

"aku pikir gadis itu sangat beruntung sekali."
aku melangkah membuka pintu kamar. Membuka penutup pianoku dan mulai memainkannya. Aku membaca setiap bait. Suara pianoku memang tak seperti lantunan piano yang dimainkan Iori. Tapi ketika lantunan musik kumainkan, dan aku seolah berada dalam lagu itu. Ini seperti terasa sangat indah sekali.

Siang itupun aku tetap tenang dikamar sambil membiarkan musikku melantun sangat indah sesuai dengan jari-jari yang kubiarkan bermain.
 
-TO BE CONTINUED-



Oke Part 1 selesai :))
Dan lanjut ke Part 2, KLIK HERE >>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman