Terbentuk karena sedikit hayalanku-_- memakai Kobayashi mizuki dari Johnny's Jr karena kurasa itu peran yang cocok untuknya XD cerita ini hanya kubuat sekedar, untuk mencapai ENDING, jadi cerita yang tertulis ini hanya sedikit bagian-bagian penting dari kisah yang sempat kuhayalkan :) tidak ingin terlalu panjang, takutnya punya ending yang menyedihkan :D
.
Tittle : E-GA-O ! (え。が。お)
Genre : Alternative Universe
Length : Oneshoot
Character : Kobayashi Mizuki a.k.a Ishikawa kyouhei, Kirika Sakura
Autrhor : 七平一
Keterangan : Saya belum berani
memakai nama aslinya di cerita kali ini-_- jadi saya akan menggunakan nama samaran!
Okee~ yang penasaran, silahkan baca :))
Seperti biasa, jika Fanfic ku tidak begitu sempurna, harap dimaklumi..
Seperti biasa, jika Fanfic ku tidak begitu sempurna, harap dimaklumi..
Download
Full Story : Klik Here >> pw: ichi0331
.
.
Bukan setangkai sakura,
tapi lebih tepatnya adalah ketika musim gugur datang, kelopak sakura itu ikut
berguguran. Adakalanya ketika musim semi sakura, seseorang dengan pakaian
kotornya datang sambil membawa senyuman. Tapi lain halnya ketika musim panas
berujung pada musim gugur. Seseorang dengan senyumannya itu pergi menuju cahaya
putih dengan pakaiannya yang sangat rapi. Menghilang di tengahnya terangnya
cahaya tersebut..
“Ishikawa Kyouhei”
.
.
“aa~!!
Sakura!!” seseorang menepuk bahuku dari belakang dan kemudian tertawa.
“Ishikawa-kun!
Kau menggangguku!” bentakku
Lelaki
dengan wajah yang menarik itu tersenyum di depanku. Bulatan matanya terlihat
sangat besar. Dan pakaiannya yang sama sekali tidak rapi.
“ada
apa melihatku seperti itu?” tanyaku. Ucapan itu membuatnya tersenyum lebih
lebar lagi dan menutup matanya.
“pitamu
miring!” tunjuknya pada pita dikerah bajuku. Seketika mataku segera terfokus
pada pita yang berwarna merah itu. Aku menggerakkan kedua tanganku untuk
merapikannya. “hah, terima kasih!”
“jaa~
satu lagi! Jangan berdiri sambil melamun seenaknya di depan kelas!” cetus
Ishikawa. Lalu berjalan pelan melewatiku.
Setiap
hari dia selalu memperhatikan semua orang. Dia selalu ada pada semangatnya. Setiap
kata-kata yang ia keluarkan selalu bermakna dan membawa perubahan besar.
Ini
tiga tahunku di sekolah menengah. Dan Ishikawa selalu berada dikelas yang sama.
Dia satu-satunya anak laki-laki disekolah ini yang dekat dengan siapapun. Selalu
berbagi senyuman. Dan selama tiga tahun terakhir ini hanya dia yang pikirannya
sulit di tebak.
Tapi,
“Ishikawa
itu orang yan keren. Dan selalu tampil seadanya!” bisikku di depan pintu kelas.
Arah mataku masih terfokus pada seorang lelaki yang kini berjalan dikoridor
dengan santainya.
“sakura,
kau juga menyukai Ishikawa?” tambah beberapa anak perempuan yang tiba-tiba
berdiri di dekatku.
“aakh~
iie~iie~!!” jawabku sambil menggelengkan kepala.
“tidak
usah berbohong, semua orang juga tahu kalau Ishikawa itu terkenal dikalangan
anak perempuan” sahut salah satu diantaranya
Aku
hanya diam. Ini bukan tentang rasa suka. Tapi hanya ingin mengenalinya lebih
jauh lagi. Ia tidak punya teman dekat, tempat ia mengutarakan semua yang
dipikirkan. Bisa dikatakan ia sangat tertutup dan berteman baik dengan semua
orang.
.
.
Hari ini sepulang
sekolah..
.
“Sakura,
chotto matte~!!” panggilan itu segera tertuju padaku. Lagi-lagi Ishikawa
memanggilku dari tempat duduknya. Aku menghentikan langkah kakiku dan
menungguinya membereskan buku.
“sakura,
kita pulang bersama lagi, ya?” pintanya
Iapun
segera menarik tanganku keluar kelas. Ada banyak orang yang memperhatikan kami,
tapi itu terlihat ia sama sekali tidak mempedulikan mereka.
.
.
“Ishikawa-kun,
sampai kapan kau akan memegangi tanganku seperti ini?” ucapku ketika sudah
berjalan cukup jauh
“are?”
dan ia segera melepasnya. Kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong
celana.
“ne~
sakura, jangan panggil aku dengan sebutan Ishikawa lagi!” tambahnya
“doushita?”
“ketika
menyebut kata ‘shi’ suaramu terdengar aneh”
“souka~”
“kupikir
kata ‘kyouhei’ cocok untukmu.” Ia memperlihatkan dua jarinya dan tersenyum
seperti anak kecil. Ini terlihat ia sudah ribuan kali mengomentariku.
“aa~
Ishikawa! Kau banyak omong”
Ucapanku
itu segera ia balas dengan tawanya, “itu karena aku, Ishikawa kyouhei!!”
Lagi-lagi..
setiap kata yang ia keluarkan itu, bahkan akupun belum bisa menerkanya. Kira-kira
kalau sudah dekat begini, apa yang ia pikirkan?
.
Kediaman Kirika
07.25pm
.
“sakura,
cepatlah makan, kami menungguimu!” teriak ibu dari ruang tamu
Malam
ini sedang bermalas-malasan didalam kamar. Belum membersihkan buku dan yang
lainnya. Masih tetap akan ingatan tentang ucapan Ishikawa siang tadi.
“ne~ sakura, jangan
panggil aku dengan sebutan Ishikawa lagi!”
“shi~”
aku kembali mengucapkan kata yang sama. “susah” begitu pikirku. Aku segera
menutup wajahku dengan bantal. Lelaki itu sudah lebih dahulu menyadarinya. Bahkan
akupun sama sekali tidak tau ketika lidahku bergerak menyebutkan kata “shi”
“esok
pagi akan kutanyakan padanya..”
Kemudian
aku segera duduk dan berjalan keluar kamar.
.
.
“sakura,
kenapa kau lama sekali?” sapa ayah dari meja makan.
Aku
menggelengkan kepala dan bergegas untuk duduk. Semua orang di meja makan
menatapiku. Terlebih ayah yang berada di depan.
“doushita,
tousan?” tanyaku
“setelah
lulus SMA, kau ingin meneruskan ke universitas mana?” Tanya ayah balik
“akh~
ingin tetap disini, ayah” jawabku
“neechan,
bukankah kau pintar berbahasa inggris? Dan sering juara kelas? Kenapa tidak
mencoba mencari pengalaman diluar?” ucap adikku. Kata-katanya sedikit membuatku
kembali melihat ayah.
“ayah?”
Ayah
tersenyum padaku. “ayah pikir sebaiknya dirimu melanjutkannya diluar. Kau pasti
juga menginginkannya, bukan?” jelas ayah
Aku
hanya mengangguk tenang sambil memakan makananku. Wajahku sedikit tidak
bersemangat ketika harus bertemu dengan orang diluar sana. Tapi disisi lain aku
menganggap keputusan ayah cukup baik dan aku tidak harus kaget mendengar
penjelasan itu.
.
.
Paginya di sekolah..
.
“ohayou,
Sakura!” sapa teman-teman menghampiriku di depan kelas
“ohayou”
balasku
Tidak
seperti biasanya mereka menyapaku. “ada hubungan dengan kyouhei?” tanyaku
“are?
Kau memanggilnya dengan sebutan ‘kyouhei’?” seketika mereka semua terkaget
“iya,
dia menyuruhku dengan sebutan itu”
“yabaii~
kita benar-benar tidak punya sedikitpun peluang untuk mendapatkannya!” mereka
semua terlihat sangat panik. Tapi aku tidak mempedulikannya. Kupikir ada
baiknya mengikuti saran Ishikawa. Lidahku terasa lebih ringan ketika
menyebutnya. Kyouhei!
.
.
Pagi
ini aku duduk sendiri di tempat duduk sambil menunggu Kyouhei datang. Sebuah
buku yang terbuka diatas meja dan aku perlahan membalikkannya sambil membaca.
.
“ne~
Ishikawa-kun?” tiba-tiba saja aku kembali mendengar suara anak perempuan itu.
Aku
segera mengangkat kepala dan melihat sosok kyouhei berjalan memasuki pintu
kelas. Ia terlihat kurang enak badan. Wajahnya memucat dan syall putih yang ia
kenakan itu. Ia masih mampu tersenyum dan menyapa segerombolan anak perempuan
yang menemuinya di depan pintu.
“yoh,
Sakura!” sapanya padaku. Lalu segera duduk. Meletakkan tas dan menidurkan
kepalanya keatas meja.
“sakura,
kenapa Ishikawa?” Tanya mereka didepan mejaku
“aku
tidak tau itu..” jawabku
“kupikir
dia lebih dekat denganmu”
Aku
menggelengkan kepala. Mataku masih tertuju padanya. Aku sama sekali tidak dekat
dengan orang itu. Buktinya, aku belum tau apa yang ia pikirkan.
.
.
Hari
ini kelas dimulai. Sensei sudah berdiri di depan kelas sambil mengabsen. Hari
ini pertama kalinya tak ada siswa yang bersuara kecuali sensei. Beberapa orang
dilarang untuk bersuara keras. Menjaga ketenangan ketika kyouhei dalam keadaan
sakit. Semua terlihat sedang mengkhawatirkannya.
“Ishikawa,
kalau tidak kuat sebaiknya pulang saja..” ucap sensei dengan nada pelan.
Kyouhei
seolah kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum. Bibirnya terlihat
benar-benar sangat pucat.
“mungkin
salah seorang dari kalian ingin mengantarnya pulang?” sensei melihat kearah
kami semua. Ada banyak yang bersedia mengantar. Dan memilih tiga orang dari
mereka.
Tiga
orang siswa itu berdiri dan membawa kyouhei keluar kelas. Kemudian kelas
kembali sangat berisik. Beragam ucapan penuh kepanikkan terlontar dari mereka
semua. Kelas tanpa kyohei itu rasanya..
“sakura,
kami kira kau akan mengangkat tangan untuk mengantar Ishikawa pulang..” Tanya
mereka lagi setelah jam istirahat berbunyi.
Masih
membahas tentang Kyouhei. Dan aku hanya menggelengkan kepala.
.
.
.
Hari
pertama dia sakit, semua heboh.
Bahkan
keesokkan harinya setelah mendengar kabar kalau Kyohei benar-benar tidak
datang, beberapa kelas juga ikut sangat berisik. Pembicaraan yang selalu
menjadi topik. Hingga jam istirahatpun. Dan berikutnya dihari ketiga. Disaat yang
ditunggu masih belum datang.
“Ishikawa-kun
sakit apa?”
“Apakah
sangat parah?”
“Dia
tidak biasanya terlihat sakit”
“Aku
mengkhawatirkannya…”
Ucapan
itu terlontar, baik anak perempuan maupun laki-laki. Dan kami berniat
melihatnya kerumah jika hari keempat ia masih belum datang.
Tapi,
dihari keempat..
“Ohayou,
minna!!” dan sorakan yang telah lama tak didengarkan itu akhirnya kembali
bersua.
Semua
siswa terdiam. Mereka segera melihat kearah pintu kelas. Terlihat sosok Kyouhei
yang biasanya berdiri sambil menyandangi tas. Wajahnya bersemangat kembali.
“Ishikawa!
Yokatta na~!!” semua yang ada dikelas menemuinya. Begitu juga dengan siswa
dikelas lain. Dia terlihat seperti orang yang sangat disenangi. Lain halnya
denganku yang masih tetap duduk diatas kursi sambil tersenyum menatapinya.
Rasanya
perasaanku cukup lega ketika melihatnya yang biasa.
“Sakura!
Kau tak ingin menemui Ishikawa juga?” Tanya seorang temanku
Aku
menggelengkan kepala dan hanya tersenyum.
Yang
kutau, Kyouhei akan ketempatku dan menyapa. “Sakura~” begitu sapaan yang sudah
kuduga. Ia tertawa dan kemudian duduk di tempatnya.
.
.
“Kyohei~
kupikir sakitmu sangat parah” ucapku sepulang sekolah.
Ia
mengangguk, “menurutku bahkan lebih parah..”
“kamu
sakit apa?”
“ne~
tidak apa-apa, lupakan itu.” Ia kembali tertawa. “lihat aku sebagai orang yang
selalu bersemangat. Karena aku tak ingin semua orang mengkhawatirkanku. Aku
akan baik-baik saja..” tambahnya lagi
Aku
diam. Mendengarkan ia berbicara. Dia benar-benar Ishikawa Kyouhei, orang yang
selalu menyapa semua orang dan sangat tertutup. Bahkan melebihi ketertutupan
diriku pada yang lain.
“anoo..
Kyohei!” ujarku. Lalu mengejarnya yang berjalan cukup cepat di depan sana.
“ada
apa, Sakura?”
“aku
ingin tau apa yang kau pikirkan!”
Mendengar
ucapanku dia terdiam seketika. Menghentikan langkahnya dan menatapiku.
“Doushita?”
tanyaku yang merasa diperhatikan cukup lama.
Kyouhei
menggelengkan kepalanya dan terdiam.
“untuk
apa? Jika kau mengetahuinya pun kau takkan pernah bisa memahaminya” jawabnya.
“kenapa?”
“aku
merasa demikian..”
“souka~
tapi, sepertinya aku benar-benar ingin mengetahuinya”
.
“hahaa!
Begitu! Oh ya sakura, musim semi akan datang!” tambahnya
“begitulah..”
“kita
akan ujian kelulusan dan menerima surat kelulusan! Kau ingin melanjutkan
dimana?” Tanya Kyohei
“ayah
menyarankan untuk keluar negri”
Iapun
mengangguk mendengar penjelasanku. “aku akan tetap disini, dan sepertinya tidak
akan bertemu lagi, ya!”
Aku
tersenyum. Dan ia kembali melanjutkan ucapannya, “saat kau akan berangkat
keluar, tunggu aku ya! Aku akan bawakanmu serangkaian sakura. Walau diluar sana
sakura tak bisa mekar, aku akan membungkusnya dengan rapi. Sehingga kau akan
mengenangnya!”
Ucapan
yang diluar pikiranku.
“kau
bohong!” sahutku sedikit meledek
Tapi
lelaki itu hanya tersenyum, “itu karena kau teman yang berharga!”
“apa?”
“akh~
lupakan, lupakan..” ia kembali tertawa.
Teman
yang berharga? Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan itu padaku. Rasanya
mendebarkan, ketika seseorang menganggapku sangat berharga.
Apa
Kyohei mengatakan hal yang sama pada semua orang?
.
.
.
Coba
kubuktikan ucapan itu!
Beberapa
minggu setelah semuanya berlalu. Semuanya usai pada ujian. Dan menerima surat
kelulusan. Kami semua dinyatakan lulus dengan nilai yang baik.
Sesuai
janji ayah, pemesanan tiket sudah dilakukan. Hingga ketika saat musim semi ini,
aku juga keluargaku akan menuju bandara untuk berangkat. Bahagia! Dan hari ini
adalah hari terakhirku bisa merasakan bunga sakura bemekaran dimana-mana.
Tapi
sejak kelulusan itu, sama sekali belum melihat Kyohei. Ia sama sekali belum
berani memperlihatkan wajahnya di depanku. Kupikir ia sibuk mencari cara untuk
membuat sakura-sakura itu. Dan aku menungguinya..
.
“Sakura,
ayo bersiap-siap.. pesawat sebentar lagi akan berangkat” ujar ibu mencoba
membawaku ke dalam pesawat.
Aku
menggelengkan kepala.
“kau
tidak ingin berangkat?” tanyanya lagi
“bukan,
aku sedang menunggui seseorang, ibu..” jawabku.
Mataku
masih melihat kesekeliling. Ada banyak sekali orang, dan aku belum melihat
wajah Kyouhei. Sekitar kurang sejam lagi pesawat akan berangkat.
“Sakura,
cepatlah!” teriak ayah dari kejauhan.
Ibu
yang sudah mulai menarik tanganku..
.
“SAKURAAAAA~!!!”
tiba-tiba saja aku mendengarnya. Mataku segera tertuju pada seseorang yang
berlari dari arah yang berbeda. Dia berlari dengan penuh semangat. Pakaiannya
sama sekali tidak rapi dan terlihat sangat kotor.
“Kyohei?
Kau lama!” bentakku sambil tersenyum
Dengan
menghela nafas cukup panjang, ia membungkukkan badannya. “maafkan, aku!” lalu
sebuah bunga dengan bungkusan sangat rapi ia berikan padaku. Itu terlihat
sangat kreatif dan menarik. Bunga itu jika dilihat sekejap terlihat seperti
bunga sakura yang nyata. Tapi jika memperhatikan lebih, itu hanya Sakura yang
dibuat menggunakan plastik dan dicat cantik berwarna pink. Kemudian dibungkus
dan terbentuk sebuah rangkaian sakura yang terkesan sangat mewah.
“Sugoii
na~!!” ucapku memeganginya
“kuharap
kau menyukainya!”
“tentu
saja, ini sangat bagus”
Kyouhei
kembali tersenyum. Rasanya tidak ingin berpisah dengannya. Tiga tahun dikelas
yang sama dan dia terkenal sangat baik. Teman yang berharga! Kupikir aku juga
menganggapnya demikian, walaupun hingga saat ini belum mengetahui apa yang ia
pikirkan.
“jaa~
aku harus pergi, semoga suatu hari nanti bisa bertemu!” tambahku. Aku
meninggalkannya dan segera pergi bersama ibu.
Rasanya
ingin menangis. Tak ingin meninggalkan kota ini, dan masih ingin terus berada
di SMU bersama Kyouhei dan yang lainnya.
Ketika
ia selalu mengomentari yang lain, sibuk membawa perubahan pada orang lain, yang
mana ia juga layak untuk dikomentari. “saa~ semua belum berakhir..”
.
.
.
.
Setelah
berada diluar negri, di negri orang lain. Aku mulai menjalani aktifitas
sendiri. Mulai terbiasa dengan kehidupan baru. Aku berada pada Universitas yang
cukup bagus. Bertemu banyak teman-teman yang baru kukenal dan berbicara
menggunakan bahasa asing. Sekolah yang baru yang cukup berbeda dengan sekolah
yang lama. Dimana peraturan dan kedisiplinan disini cukup kuat.
.
5 bulan kemudian..
.
Kriing..kriing..kriing..
“Sir!”
ucapku segera mengangkat tangan
“Kirika,
any question?” Tanyanya
Aku
menggelengkan kepala, “Can permission to leave?”
“okay,!
Just one minutes!” dan guru itu memperbolehkanku untuk keluar
Sebenarnya
belum berani untuk meminta izin keluar disaat pelajaran. Tapi seseorang sudah
berulang kali menghubungiku. Dan sepertinya ia menyuruhku untuk mengangkatnya.
“hai~
moshi-moshi!” jawabku
“Sakura,
sedang dimana?” Tanya seseorang di balik telepon itu
“sedang
dalam pelajaran, ini siapa?” tanyaku kembali
“sayya,
teman sekelas di 3-B dulu.. bisakah kau kembali ke Jepang hari ini?”
“aakh~
gomen, gomen. Aku tidak bisa. Satu minggu ini aku sibuk. Kalau itu penting,
minggu depan aku akan berusaha balik dan aku akan mengabarimu.”
“tapi
kan Sakura..”
Dan
aku segera mematikan telepon itu karena waktu yang ditentukan sudah habis. Lalu
secepatnya masuk kembali kedalam kelas.
Perasaanku
mulai tidak enak pada saat itu. Suara Sayya terlihat sangat panik.
“aku
akan pulang minggu depan!”
.
.
1 minggu kemudian..
.
“tadaiima!”
sorakku di depan pintu rumah. Tanpa membawa apapun aku mengetuk pintu.
“sakura,
kenapa pulang?” Tanya ibu
“ada
urusan penting bersama teman sekelas, bu” aku bergegas masuk ke dalam rumah dan
memegangi ponsel. Mencoba menghubungi nomor Sayya~
“Sayya-chan!
Aku sudah pulang!” ucapku di telepon.
“kau
terlambat sekali!” bentaknya
“ada
apa?”
Sayya
terdiam seketika.
“sayya,
ada apa? Cepat katakan!” bentakku balik
“kau
bahkan lebih dekat dengannya dibanding kami semua! Kukira kau bisa tau lebih
awal walau kau jauh disana! Tapi rupanya kau sibuk! Bahkan kau mematikan
teleponku disaat yang penting! Selama berada di SMU kami semua anak perempuan
selalu memuji mu di belakang! Kau itu seperti satu-satunya anak perempuan yang
istimewa untuknya! Dan kau selalu tidak peduli ketika ia dalam masalah! Saat
dia sakit dulupun, kau sama sekali tidak terlihat panik!” jelasnya.
Aku
tidak mengerti apa yang dimaksud Sayya. Tapi,
“apa
maksudmu? Apa ada hubungannya dengan Kyohei?”
“lagi-lagi
kau menanyakan hal yang sama! Kau tidak tau kan kalau seminggu yang lalu
Ishikawa telah meninggalkan kita semua?”
“meninggalkan?”
“iya
dia terkena penyakit ‘kekurangan darah putih selama bertahun-tahun! Dan
Dokterpun sudah tidak bisa lagi membantunya..” suara Sayya tiba-tiba saja
berubah jadi samar-samar. Ia terdengar sedang menangis.
.
“meninggalkan
kita semua? Tidak bisa membantunya? Jangan kau bilang kalau Kyohei sudah..”
“iya!
Dia sudah meninggal!”
*deg*
Tiba-tiba
debaran jantungku berdegup kencang.
Orang
sekuat dan sesemangat Kyouhei berujung pada kematian? Dia selalu terlihat
sangat bahagia dihadapan semua orang. Saat sakitpun ia masih tetap bersemangat.
Kyouhei itu…
“lihat aku sebagai orang yang selalu
bersemangat. Karena aku tak ingin semua orang mengkhawatirkanku. Aku akan
baik-baik saja..”
“Kyouhei…”
“setelah
kematiannya, sang ibu menemukan selembar kertas yang terselip dibawah
bantalnya. Ia menulisnya tentangmu. Makanya aku disuruh teman-teman yang lain
untuk segera menghubungimu! Tapi sebelum aku menjelaskannya, kau..”
“URASHAAAII!!!”
bentakku
Kali
ini ingin sekali menangis. Air mata yang kubiarkan tergelinang dipipiku. Rasa
penyesalan membuatku tak ingin mendengar apapun.
Dia
menganggapku teman yang berharga dan ia selalu mengomentariku. Aku berusaha
untuk mengetahui apa yang ia pikirkan, tapi aku selalu tidak mempedulikan itu.
“sudahlah~
aku tak ingin mendengar itu! Aku tak ingin rasa penyesalan datang! Nanti aku
akan mengunjungi rumahnya dan ingin meminta maaf pada semuanya” jelasku. Tak
ada satu katapun yang bisa kuucap lebih dari ini. Karena kutau,
Lelaki
dengan senyuman yang selalu hadir dihidupku.
Pelajaran
yang berharga, ketika ia selalu menyembunyikan semua dibalik kesedihannya. Karena
itu, siapapun takkan bisa mengetahui tentang dia, dan ia salah satu orang yang
tak ingin ada yang mengkhawatirkannya. Teman di 3 tahun SMU ku. Ishikawa Kyohei- Sayoonara!
.
.
-END-
Ucapan
terakhir Kyohei di lembaran kertasnya :
KIRIKA SAKURA!
Selama tiga tahun ini,
ingin segera mengetahui apa yang kau pikirkan!
Kau terlalu misterius
untukku!! –July.14 (di kelas 1.A)
~~
Kata
terakhir seluruh siswa :
“Kyohei itu walau sudah
tiada, dia tetap akan selalu hidup dihati kami. Dengan senyuman, semangat, juga
kejujurannya!”
Kelas
3-B. Dan aku, Kirika Sakura-














Tidak ada komentar:
Posting Komentar