Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/03/31

E-GA-O (え。が。お)

.
Terbentuk karena sedikit hayalanku-_- memakai Kobayashi mizuki dari Johnny's Jr karena kurasa itu peran yang cocok untuknya XD cerita ini hanya kubuat sekedar, untuk mencapai ENDING, jadi cerita yang tertulis ini hanya sedikit bagian-bagian penting dari kisah yang sempat kuhayalkan :) tidak ingin terlalu panjang, takutnya punya ending yang menyedihkan :D
.


Tittle : E-GA-O ! (え。が。お)
Genre : Alternative Universe
Length : Oneshoot
Character : Kobayashi Mizuki a.k.a Ishikawa kyouhei, Kirika Sakura
Autrhor : 七平一
Keterangan : Saya belum berani memakai nama aslinya di cerita kali ini-_- jadi saya akan menggunakan nama samaran!
Okee~ yang penasaran, silahkan baca :))
Seperti biasa, jika Fanfic ku tidak begitu sempurna, harap dimaklumi..


Download Full Story : Klik Here >> pw: ichi0331
.
.
Bukan setangkai sakura, tapi lebih tepatnya adalah ketika musim gugur datang, kelopak sakura itu ikut berguguran. Adakalanya ketika musim semi sakura, seseorang dengan pakaian kotornya datang sambil membawa senyuman. Tapi lain halnya ketika musim panas berujung pada musim gugur. Seseorang dengan senyumannya itu pergi menuju cahaya putih dengan pakaiannya yang sangat rapi. Menghilang di tengahnya terangnya cahaya tersebut..
Ishikawa Kyouhei
.
.
“aa~!! Sakura!!” seseorang menepuk bahuku dari belakang dan kemudian tertawa.
“Ishikawa-kun! Kau menggangguku!” bentakku
Lelaki dengan wajah yang menarik itu tersenyum di depanku. Bulatan matanya terlihat sangat besar. Dan pakaiannya yang sama sekali tidak rapi.
“ada apa melihatku seperti itu?” tanyaku. Ucapan itu membuatnya tersenyum lebih lebar lagi dan menutup matanya.
“pitamu miring!” tunjuknya pada pita dikerah bajuku. Seketika mataku segera terfokus pada pita yang berwarna merah itu. Aku menggerakkan kedua tanganku untuk merapikannya. “hah, terima kasih!”
“jaa~ satu lagi! Jangan berdiri sambil melamun seenaknya di depan kelas!” cetus Ishikawa. Lalu berjalan pelan melewatiku.
Setiap hari dia selalu memperhatikan semua orang. Dia selalu ada pada semangatnya. Setiap kata-kata yang ia keluarkan selalu bermakna dan membawa perubahan besar.
Ini tiga tahunku di sekolah menengah. Dan Ishikawa selalu berada dikelas yang sama. Dia satu-satunya anak laki-laki disekolah ini yang dekat dengan siapapun. Selalu berbagi senyuman. Dan selama tiga tahun terakhir ini hanya dia yang pikirannya sulit di tebak.
Tapi,
“Ishikawa itu orang yan keren. Dan selalu tampil seadanya!” bisikku di depan pintu kelas. Arah mataku masih terfokus pada seorang lelaki yang kini berjalan dikoridor dengan santainya.
“sakura, kau juga menyukai Ishikawa?” tambah beberapa anak perempuan yang tiba-tiba berdiri di dekatku.
“aakh~ iie~iie~!!” jawabku sambil menggelengkan kepala.
“tidak usah berbohong, semua orang juga tahu kalau Ishikawa itu terkenal dikalangan anak perempuan” sahut salah satu diantaranya
Aku hanya diam. Ini bukan tentang rasa suka. Tapi hanya ingin mengenalinya lebih jauh lagi. Ia tidak punya teman dekat, tempat ia mengutarakan semua yang dipikirkan. Bisa dikatakan ia sangat tertutup dan berteman baik dengan semua orang.
.
.
Hari ini sepulang sekolah..
.
“Sakura, chotto matte~!!” panggilan itu segera tertuju padaku. Lagi-lagi Ishikawa memanggilku dari tempat duduknya. Aku menghentikan langkah kakiku dan menungguinya membereskan buku.
“sakura, kita pulang bersama lagi, ya?” pintanya
Iapun segera menarik tanganku keluar kelas. Ada banyak orang yang memperhatikan kami, tapi itu terlihat ia sama sekali tidak mempedulikan mereka.
.
.
“Ishikawa-kun, sampai kapan kau akan memegangi tanganku seperti ini?” ucapku ketika sudah berjalan cukup jauh
“are?” dan ia segera melepasnya. Kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.
“ne~ sakura, jangan panggil aku dengan sebutan Ishikawa lagi!” tambahnya
“doushita?”
“ketika menyebut kata ‘shi’ suaramu terdengar aneh”
“souka~”
“kupikir kata ‘kyouhei’ cocok untukmu.” Ia memperlihatkan dua jarinya dan tersenyum seperti anak kecil. Ini terlihat ia sudah ribuan kali mengomentariku.
“aa~ Ishikawa! Kau banyak omong”
Ucapanku itu segera ia balas dengan tawanya, “itu karena aku, Ishikawa kyouhei!!”
Lagi-lagi.. setiap kata yang ia keluarkan itu, bahkan akupun belum bisa menerkanya. Kira-kira kalau sudah dekat begini, apa yang ia pikirkan?
.
Kediaman Kirika
07.25pm
.
“sakura, cepatlah makan, kami menungguimu!” teriak ibu dari ruang tamu
Malam ini sedang bermalas-malasan didalam kamar. Belum membersihkan buku dan yang lainnya. Masih tetap akan ingatan tentang ucapan Ishikawa siang tadi.
“ne~ sakura, jangan panggil aku dengan sebutan Ishikawa lagi!”
“shi~” aku kembali mengucapkan kata yang sama. “susah” begitu pikirku. Aku segera menutup wajahku dengan bantal. Lelaki itu sudah lebih dahulu menyadarinya. Bahkan akupun sama sekali tidak tau ketika lidahku bergerak menyebutkan kata “shi”
“esok pagi akan kutanyakan padanya..”
Kemudian aku segera duduk dan berjalan keluar kamar.
.
.
“sakura, kenapa kau lama sekali?” sapa ayah dari meja makan.
Aku menggelengkan kepala dan bergegas untuk duduk. Semua orang di meja makan menatapiku. Terlebih ayah yang berada di depan.
“doushita, tousan?” tanyaku
“setelah lulus SMA, kau ingin meneruskan ke universitas mana?” Tanya ayah balik
“akh~ ingin tetap disini, ayah” jawabku
“neechan, bukankah kau pintar berbahasa inggris? Dan sering juara kelas? Kenapa tidak mencoba mencari pengalaman diluar?” ucap adikku. Kata-katanya sedikit membuatku kembali melihat ayah.
“ayah?”
Ayah tersenyum padaku. “ayah pikir sebaiknya dirimu melanjutkannya diluar. Kau pasti juga menginginkannya, bukan?” jelas ayah
Aku hanya mengangguk tenang sambil memakan makananku. Wajahku sedikit tidak bersemangat ketika harus bertemu dengan orang diluar sana. Tapi disisi lain aku menganggap keputusan ayah cukup baik dan aku tidak harus kaget mendengar penjelasan itu.
.
.
Paginya di sekolah..
.
“ohayou, Sakura!” sapa teman-teman menghampiriku di depan kelas
“ohayou” balasku
Tidak seperti biasanya mereka menyapaku. “ada hubungan dengan kyouhei?” tanyaku
“are? Kau memanggilnya dengan sebutan ‘kyouhei’?” seketika mereka semua terkaget
“iya, dia menyuruhku dengan sebutan itu”
“yabaii~ kita benar-benar tidak punya sedikitpun peluang untuk mendapatkannya!” mereka semua terlihat sangat panik. Tapi aku tidak mempedulikannya. Kupikir ada baiknya mengikuti saran Ishikawa. Lidahku terasa lebih ringan ketika menyebutnya. Kyouhei!
.
.
Pagi ini aku duduk sendiri di tempat duduk sambil menunggu Kyouhei datang. Sebuah buku yang terbuka diatas meja dan aku perlahan membalikkannya sambil membaca.
.
“ne~ Ishikawa-kun?” tiba-tiba saja aku kembali mendengar suara anak perempuan itu.
Aku segera mengangkat kepala dan melihat sosok kyouhei berjalan memasuki pintu kelas. Ia terlihat kurang enak badan. Wajahnya memucat dan syall putih yang ia kenakan itu. Ia masih mampu tersenyum dan menyapa segerombolan anak perempuan yang menemuinya di depan pintu.
“yoh, Sakura!” sapanya padaku. Lalu segera duduk. Meletakkan tas dan menidurkan kepalanya keatas meja.
“sakura, kenapa Ishikawa?” Tanya mereka didepan mejaku
“aku tidak tau itu..” jawabku
“kupikir dia lebih dekat denganmu”
Aku menggelengkan kepala. Mataku masih tertuju padanya. Aku sama sekali tidak dekat dengan orang itu. Buktinya, aku belum tau apa yang ia pikirkan.
.
.
Hari ini kelas dimulai. Sensei sudah berdiri di depan kelas sambil mengabsen. Hari ini pertama kalinya tak ada siswa yang bersuara kecuali sensei. Beberapa orang dilarang untuk bersuara keras. Menjaga ketenangan ketika kyouhei dalam keadaan sakit. Semua terlihat sedang mengkhawatirkannya.
“Ishikawa, kalau tidak kuat sebaiknya pulang saja..” ucap sensei dengan nada pelan.
Kyouhei seolah kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum. Bibirnya terlihat benar-benar sangat pucat.
“mungkin salah seorang dari kalian ingin mengantarnya pulang?” sensei melihat kearah kami semua. Ada banyak yang bersedia mengantar. Dan memilih tiga orang dari mereka.
Tiga orang siswa itu berdiri dan membawa kyouhei keluar kelas. Kemudian kelas kembali sangat berisik. Beragam ucapan penuh kepanikkan terlontar dari mereka semua. Kelas tanpa kyohei itu rasanya..
“sakura, kami kira kau akan mengangkat tangan untuk mengantar Ishikawa pulang..” Tanya mereka lagi setelah jam istirahat berbunyi.
Masih membahas tentang Kyouhei. Dan aku hanya menggelengkan kepala.
.
.
.
Hari pertama dia sakit, semua heboh.
Bahkan keesokkan harinya setelah mendengar kabar kalau Kyohei benar-benar tidak datang, beberapa kelas juga ikut sangat berisik. Pembicaraan yang selalu menjadi topik. Hingga jam istirahatpun. Dan berikutnya dihari ketiga. Disaat yang ditunggu masih belum datang.
“Ishikawa-kun sakit apa?”
“Apakah sangat parah?”
“Dia tidak biasanya terlihat sakit”
“Aku mengkhawatirkannya…”
Ucapan itu terlontar, baik anak perempuan maupun laki-laki. Dan kami berniat melihatnya kerumah jika hari keempat ia masih belum datang.
Tapi, dihari keempat..
“Ohayou, minna!!” dan sorakan yang telah lama tak didengarkan itu akhirnya kembali bersua.
Semua siswa terdiam. Mereka segera melihat kearah pintu kelas. Terlihat sosok Kyouhei yang biasanya berdiri sambil menyandangi tas. Wajahnya bersemangat kembali.
“Ishikawa! Yokatta na~!!” semua yang ada dikelas menemuinya. Begitu juga dengan siswa dikelas lain. Dia terlihat seperti orang yang sangat disenangi. Lain halnya denganku yang masih tetap duduk diatas kursi sambil tersenyum menatapinya.
Rasanya perasaanku cukup lega ketika melihatnya yang biasa.
“Sakura! Kau tak ingin menemui Ishikawa juga?” Tanya seorang temanku
Aku menggelengkan kepala dan hanya tersenyum.
Yang kutau, Kyouhei akan ketempatku dan menyapa. “Sakura~” begitu sapaan yang sudah kuduga. Ia tertawa dan kemudian duduk di tempatnya.
.
.
“Kyohei~ kupikir sakitmu sangat parah” ucapku sepulang sekolah.
Ia mengangguk, “menurutku bahkan lebih parah..”
“kamu sakit apa?”
“ne~ tidak apa-apa, lupakan itu.” Ia kembali tertawa. “lihat aku sebagai orang yang selalu bersemangat. Karena aku tak ingin semua orang mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja..” tambahnya lagi
Aku diam. Mendengarkan ia berbicara. Dia benar-benar Ishikawa Kyouhei, orang yang selalu menyapa semua orang dan sangat tertutup. Bahkan melebihi ketertutupan diriku pada yang lain.
“anoo.. Kyohei!” ujarku. Lalu mengejarnya yang berjalan cukup cepat di depan sana.
“ada apa, Sakura?”
“aku ingin tau apa yang kau pikirkan!”
Mendengar ucapanku dia terdiam seketika. Menghentikan langkahnya dan menatapiku.
“Doushita?” tanyaku yang merasa diperhatikan cukup lama.
Kyouhei menggelengkan kepalanya dan terdiam.
“untuk apa? Jika kau mengetahuinya pun kau takkan pernah bisa memahaminya” jawabnya.
“kenapa?”
“aku merasa demikian..”
“souka~ tapi, sepertinya aku benar-benar ingin mengetahuinya”
.
“hahaa! Begitu! Oh ya sakura, musim semi akan datang!” tambahnya
“begitulah..”
“kita akan ujian kelulusan dan menerima surat kelulusan! Kau ingin melanjutkan dimana?” Tanya Kyohei
“ayah menyarankan untuk keluar negri”
Iapun mengangguk mendengar penjelasanku. “aku akan tetap disini, dan sepertinya tidak akan bertemu lagi, ya!”
Aku tersenyum. Dan ia kembali melanjutkan ucapannya, “saat kau akan berangkat keluar, tunggu aku ya! Aku akan bawakanmu serangkaian sakura. Walau diluar sana sakura tak bisa mekar, aku akan membungkusnya dengan rapi. Sehingga kau akan mengenangnya!”
Ucapan yang diluar pikiranku.
“kau bohong!” sahutku sedikit meledek
Tapi lelaki itu hanya tersenyum, “itu karena kau teman yang berharga!”
“apa?”
“akh~ lupakan, lupakan..” ia kembali tertawa.
Teman yang berharga? Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan itu padaku. Rasanya mendebarkan, ketika seseorang menganggapku sangat berharga.
Apa Kyohei mengatakan hal yang sama pada semua orang?
.
.
.
Coba kubuktikan ucapan itu!
Beberapa minggu setelah semuanya berlalu. Semuanya usai pada ujian. Dan menerima surat kelulusan. Kami semua dinyatakan lulus dengan nilai yang baik.
Sesuai janji ayah, pemesanan tiket sudah dilakukan. Hingga ketika saat musim semi ini, aku juga keluargaku akan menuju bandara untuk berangkat. Bahagia! Dan hari ini adalah hari terakhirku bisa merasakan bunga sakura bemekaran dimana-mana.
Tapi sejak kelulusan itu, sama sekali belum melihat Kyohei. Ia sama sekali belum berani memperlihatkan wajahnya di depanku. Kupikir ia sibuk mencari cara untuk membuat sakura-sakura itu. Dan aku menungguinya..
.
“Sakura, ayo bersiap-siap.. pesawat sebentar lagi akan berangkat” ujar ibu mencoba membawaku ke dalam pesawat.
Aku menggelengkan kepala.
“kau tidak ingin berangkat?” tanyanya lagi
“bukan, aku sedang menunggui seseorang, ibu..” jawabku.
Mataku masih melihat kesekeliling. Ada banyak sekali orang, dan aku belum melihat wajah Kyouhei. Sekitar kurang sejam lagi pesawat akan berangkat.
“Sakura, cepatlah!” teriak ayah dari kejauhan.
Ibu yang sudah mulai menarik tanganku..
.
“SAKURAAAAA~!!!” tiba-tiba saja aku mendengarnya. Mataku segera tertuju pada seseorang yang berlari dari arah yang berbeda. Dia berlari dengan penuh semangat. Pakaiannya sama sekali tidak rapi dan terlihat sangat kotor.
“Kyohei? Kau lama!” bentakku sambil tersenyum
Dengan menghela nafas cukup panjang, ia membungkukkan badannya. “maafkan, aku!” lalu sebuah bunga dengan bungkusan sangat rapi ia berikan padaku. Itu terlihat sangat kreatif dan menarik. Bunga itu jika dilihat sekejap terlihat seperti bunga sakura yang nyata. Tapi jika memperhatikan lebih, itu hanya Sakura yang dibuat menggunakan plastik dan dicat cantik berwarna pink. Kemudian dibungkus dan terbentuk sebuah rangkaian sakura yang terkesan sangat mewah.
“Sugoii na~!!” ucapku memeganginya
“kuharap kau menyukainya!”
“tentu saja, ini sangat bagus”
Kyouhei kembali tersenyum. Rasanya tidak ingin berpisah dengannya. Tiga tahun dikelas yang sama dan dia terkenal sangat baik. Teman yang berharga! Kupikir aku juga menganggapnya demikian, walaupun hingga saat ini belum mengetahui apa yang ia pikirkan.
“jaa~ aku harus pergi, semoga suatu hari nanti bisa bertemu!” tambahku. Aku meninggalkannya dan segera pergi bersama ibu.
Rasanya ingin menangis. Tak ingin meninggalkan kota ini, dan masih ingin terus berada di SMU bersama Kyouhei dan yang lainnya.
Ketika ia selalu mengomentari yang lain, sibuk membawa perubahan pada orang lain, yang mana ia juga layak untuk dikomentari. “saa~ semua belum berakhir..”
.
.
.
.
Setelah berada diluar negri, di negri orang lain. Aku mulai menjalani aktifitas sendiri. Mulai terbiasa dengan kehidupan baru. Aku berada pada Universitas yang cukup bagus. Bertemu banyak teman-teman yang baru kukenal dan berbicara menggunakan bahasa asing. Sekolah yang baru yang cukup berbeda dengan sekolah yang lama. Dimana peraturan dan kedisiplinan disini cukup kuat.
.
5 bulan kemudian..
.
Kriing..kriing..kriing..
“Sir!” ucapku segera mengangkat tangan
“Kirika, any question?” Tanyanya
Aku menggelengkan kepala, “Can permission to leave?”
“okay,! Just one minutes!” dan guru itu memperbolehkanku untuk keluar
Sebenarnya belum berani untuk meminta izin keluar disaat pelajaran. Tapi seseorang sudah berulang kali menghubungiku. Dan sepertinya ia menyuruhku untuk mengangkatnya.
“hai~ moshi-moshi!” jawabku
“Sakura, sedang dimana?” Tanya seseorang di balik telepon itu
“sedang dalam pelajaran, ini siapa?” tanyaku kembali
“sayya, teman sekelas di 3-B dulu.. bisakah kau kembali ke Jepang hari ini?”
“aakh~ gomen, gomen. Aku tidak bisa. Satu minggu ini aku sibuk. Kalau itu penting, minggu depan aku akan berusaha balik dan aku akan mengabarimu.”
“tapi kan Sakura..”
Dan aku segera mematikan telepon itu karena waktu yang ditentukan sudah habis. Lalu secepatnya masuk kembali kedalam kelas.
Perasaanku mulai tidak enak pada saat itu. Suara Sayya terlihat sangat panik.
“aku akan pulang minggu depan!”
.
.
1 minggu kemudian..
.
“tadaiima!” sorakku di depan pintu rumah. Tanpa membawa apapun aku mengetuk pintu.
“sakura, kenapa pulang?” Tanya ibu
“ada urusan penting bersama teman sekelas, bu” aku bergegas masuk ke dalam rumah dan memegangi ponsel. Mencoba menghubungi nomor Sayya~
“Sayya-chan! Aku sudah pulang!” ucapku di telepon.
“kau terlambat sekali!” bentaknya
“ada apa?”
Sayya terdiam seketika.
“sayya, ada apa? Cepat katakan!” bentakku balik
“kau bahkan lebih dekat dengannya dibanding kami semua! Kukira kau bisa tau lebih awal walau kau jauh disana! Tapi rupanya kau sibuk! Bahkan kau mematikan teleponku disaat yang penting! Selama berada di SMU kami semua anak perempuan selalu memuji mu di belakang! Kau itu seperti satu-satunya anak perempuan yang istimewa untuknya! Dan kau selalu tidak peduli ketika ia dalam masalah! Saat dia sakit dulupun, kau sama sekali tidak terlihat panik!” jelasnya.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud Sayya. Tapi,
“apa maksudmu? Apa ada hubungannya dengan Kyohei?”
“lagi-lagi kau menanyakan hal yang sama! Kau tidak tau kan kalau seminggu yang lalu Ishikawa telah meninggalkan kita semua?”
“meninggalkan?”
“iya dia terkena penyakit ‘kekurangan darah putih selama bertahun-tahun! Dan Dokterpun sudah tidak bisa lagi membantunya..” suara Sayya tiba-tiba saja berubah jadi samar-samar. Ia terdengar sedang menangis.
.
“meninggalkan kita semua? Tidak bisa membantunya? Jangan kau bilang kalau Kyohei sudah..”
“iya! Dia sudah meninggal!”
*deg*
Tiba-tiba debaran jantungku berdegup kencang.
Orang sekuat dan sesemangat Kyouhei berujung pada kematian? Dia selalu terlihat sangat bahagia dihadapan semua orang. Saat sakitpun ia masih tetap bersemangat. Kyouhei itu…
 “lihat aku sebagai orang yang selalu bersemangat. Karena aku tak ingin semua orang mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja..”
“Kyouhei…”
“setelah kematiannya, sang ibu menemukan selembar kertas yang terselip dibawah bantalnya. Ia menulisnya tentangmu. Makanya aku disuruh teman-teman yang lain untuk segera menghubungimu! Tapi sebelum aku menjelaskannya, kau..”
“URASHAAAII!!!” bentakku
Kali ini ingin sekali menangis. Air mata yang kubiarkan tergelinang dipipiku. Rasa penyesalan membuatku tak ingin mendengar apapun.
Dia menganggapku teman yang berharga dan ia selalu mengomentariku. Aku berusaha untuk mengetahui apa yang ia pikirkan, tapi aku selalu tidak mempedulikan itu.
“sudahlah~ aku tak ingin mendengar itu! Aku tak ingin rasa penyesalan datang! Nanti aku akan mengunjungi rumahnya dan ingin meminta maaf pada semuanya” jelasku. Tak ada satu katapun yang bisa kuucap lebih dari ini. Karena kutau,
Lelaki dengan senyuman yang selalu hadir dihidupku.
Pelajaran yang berharga, ketika ia selalu menyembunyikan semua dibalik kesedihannya. Karena itu, siapapun takkan bisa mengetahui tentang dia, dan ia salah satu orang yang tak ingin ada yang mengkhawatirkannya. Teman di 3 tahun SMU ku. Ishikawa Kyohei- Sayoonara!
.
.
-END-


Ucapan terakhir Kyohei di lembaran kertasnya :
KIRIKA SAKURA!
Selama tiga tahun ini, ingin segera mengetahui apa yang kau pikirkan!
Kau terlalu misterius untukku!! –July.14 (di kelas 1.A)
~~

Kata terakhir seluruh siswa :
“Kyohei itu walau sudah tiada, dia tetap akan selalu hidup dihati kami. Dengan senyuman, semangat, juga kejujurannya!”

Kelas 3-B. Dan aku, Kirika Sakura-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman