Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/04/06

Mokuyoubi-san? I'll Remember it!



.


This Fanfic is imagination of Travis Jr as Johnny’s Jr. I make this because some today love them XD so, this just Fanfic and not same with that happened in this story!
Ne~ wanna read? Douzo!
But, if my Fanfic not PERFECT, forgive me >< I’m just writing!


Tittle : Moku Youbi-san? I’ll Remember it!
Character : Member Travis Jr, Natsumi Wataru (OC) and Other
Genre : Alternative Universe
Length : Oneshoot
Author : Nanahira Ichi


Download Full Story Klik Here >> Pass : ichi0407
.

Moku youbi-san? I’ll remember it!
.

(Natsu POV)
.
“saa~ Natsumi hari ini membosankan sekali!” sahut teman sebangkuku, Nene.
Aku segera memalingkan wajahku melihat wajahnya yang sedang melesu itu. Seperti Nene yang biasanya. “Nene, doushita?” Tanyaku setelah melamun sebentar.
Nene menggelengkan kepalanya dan duduk di tempat.
Biar kutebak hari ini, seperti kejadian yang sebelumnya, alasan yang sama pasti akan terlontar di benaknya hari ini.
“apa kau merindukan mereka semua??” ucapku
Nene segera mengangguk. “aku merindukan dimana seluruh sekolah heboh ketika mereka lewat di koridor! Aku merindukan ketika mereka menyapa ramah kami semua!” cetus Nene. Aku tersenyum.
“tapi bukankah ada baiknya ketika mereka pergi? Bukankah diacara TV kau masih bisa melihatnya?”
“tetap saja! Satu sekolah dengan artis-artis itu hal yang menakjubkan!” soraknya.
Seketika itu beberapa siswa lainnya mendengar pembicaraan kami. Dan langsung sebut itu, Travis Junior! Dan mereka segera berlari menuju kearah kami untuk kembali bercerita tentang mereka semua..
.
.
Hal ini terjadi beberapa minggu yang lalu.
Saat sekolah benar-benar heboh dengan mereka. Entah kenapa para gerombolan itu selalu jadi topik pembicaraan. Sekolah kami yang adalah termasuk sekolah biasa, tidak terlalu elit dan bukan sekolah swasta, dihadiri oleh 5 orang lelaki. Yang kami sadari identitasnya adalah sebuah grup musik yang sering tampil diacara TV. Aku tidak begitu mengetahui tentang mereka, tetapi beberapa siswa sering menceritakan itu di koridor.
Mereka yang adalah Abe Aran, Kajiyama Asahi, Miyachika Kaito, Yoshizawa Shizuya, dan Nakamura Kaito.
Semua mulai bermula..

#FLASHBACK
.
.
“Natsu! Apa kau tidak ikut bersorak dengan mereka semua?” Tanya Nene berdiri di depan mejaku.
Aku menggelengkan kepala. Mataku masih melihat keluar kelas. Rasanya setiap hari selalu begini. Suasana sekolah selalu berisik dan sangat mengganggu sekali dengan sorakan anak perempuan itu.
Aku hanya diam di kelas sambil mendengarkan musik. “tidak begitu tertarik!” ucapku
“kapan kau akan sadar kalau mereka itu benar-benar keren?” Nene memukul mejaku sambil tertawa dan kemudian meninggalkanku di kelas.
Hari ini di kelas hanya ada aku dan beberapa anak cowok yang tidak tertarik dengan hal yang sama. Semua anak perempuan di kelas berada di luar melihat mereka di kelas sebelah.
“sama..” pikirku. Aku menidurkan kepalaku keatas meja. Berharap ini segera berakhir agar aku bisa tenang belajar seperti biasanya.
“Natsu, kau satu-satunya anak perempuan yang masih ada dikelas!” sorak beberapa orang teman laki-lakiku.
“itu urusanku!” jawabku seolah membentak
Mereka tertawa. “kami pikir kau bukan wanita tomboy”
“memang tidak! Dan aku tidak begitu tertarik dengan sorakan itu” aku segera berdiri dari tempat dudukku. Ingin melakukan suatu hal. Dan yang kulihat setiap harinya, papan tulis yang kotor. Sehingga aku harus membersihkannya daripada harus tidur-tiduran tak jelas di kelas.
Apa yang kupikirkan. Aku baru saja masuk ke SMU ini. Berbeda sekali dengan sekolahku sewaktu SMP. Aku benar-benar masuk ke dalam sebuah sarang dimana hanya aku yang tidak menyukainya.
Dan aku membiarkan semua itu segera berlalu.
.
.
Pagi itu..
“Nene~ nanti saja hubungi aku! Aku terlambat lagi!” aku segera menutup telepon. Berlari di sepanjang jalan. Aku tau sekarang sudah mendekati setengah delapan. Dan kereta sudah dipenuhi oleh orang-orang dewasa. Pada jam saat ini aku harus mengantri sangat lama, sehingga tidak mungkin bisa tiba di sekolah pada jam delapan.
“yabai~”
Aku mempercepat lariku. Hingga tiba di depan stasiun. Aku berhenti seketika. Ada banyak gerombolan orang yang beramai-ramai masuk ke dalam kereta.
“aku takkan mungkin bisa masuk..” bisikku
“juga dari SMU yang sama..” ulas seseorang berada di belakangku. Aku segera menoleh kearah suara itu. Dan aku melihat seorang anak laki-laki sebayaku. Pakaian sekolah yang sama. Aku tak mengenalinya. Tapi, “wajahmu terlihat tidak asing, ya?” ucapku kemudian.
Dia tertawa. Menutup mulutnya. “ini pertama kalinya aku melihat siswa dari SMU yang sama tidak mengenaliku.. terlebih kau anak perempuan, bukan?”
“apa maksudmu?”
“ayo!” ia menarik tanganku keluar stasiun dan berlari.
“hei mau kemana? Nanti kita semakin terlambat!” bentakku. Genggamannya cukup keras sehingga akupun tak bisa melepasnya.
Wajah yang tak asing itu, tersenyum di depanku. Membawaku semakin menjauh dari stasiun.
“Natsu aku suka yang ini.. kau yang mana?”
Tiba-tiba saja aku mendengar suara Nene dibayanganku. Aku baru saja mengingatnya.
“apa kau anggota Travis Jr?” tanyaku.
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya. “iya!” jawabnya. Kemudian membungkukkan setengah badannya, “Miyachika kaito desu.. Yoroshiku” tambahnya
Ucapan itu membuatku terdiam. Suaranya sangat ramah sekali sehingga akupun tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun.
“namae wa?” tanyanya balik
“anoo.. Natsumi wataru desu” aku sedikit gugup.
Selama sekolah heboh dengan kedatangan mereka aku sama sekali tidak begitu peduli. Aku membiarkan Nene berceloteh ria di depan tempat dudukku. Aku tidak mengenali siapapun dari mereka. Dan ini kali pertama aku bertemu langsung salah satu dari mereka. Yang mana Nenepun belum pernah merasakan hal yang sama.
“Miyachika, kau tidak bersama yang lainnya?” aku memperhatikan wajahnya. Dia tetap tersenyum. Kemudian menggelengkan kepalanya.
“doushita?” tanyaku lagi
“kukira aku bisa mencoba pergi sekolah sendirian, tapi aku benar-benar terlambat tanpa mereka…” Miyachika-kun. Begitu aku menyebutnya. Lelaki yang tidak terlalu tinggi itu, berdiri di depanku sambil menundukkan kepalanya.
“apa kau tidak takut kalau nanti beberapa anak perempuan menyorakimu?”
“so~ aku tidak memikirkan hal itu..” ia tertawa. “tapi kalau terlambat bersamaku, tidak apa-apa, kan? Mari berjalan kaki ke sekolah. Kurasa itu cukup baik.” Tambahnya. Ia berjalan meninggalkanku. Dan entah kenapa langkah kakiku serasa mengikutinya. Berpikir takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
“hey, kau anak laki-laki, bukan?” teriakku dan mempercepat langkah untuk mengikutinya dari belakang.
Akhirnya aku dan orang yang baru saja kukenal itupun segera mencari arah yang sangat jauh untuk menuju sekolah..
.
.
“kenapa kau tidak seperti anak perempuan yang lain?” Tanya Miyachika berjalan di sampingku.
“berteriak yang tidak jelas hanya membuang-buang energi” jawabku
Miyachika tertawa. “pikiranmu cukup jauh, ya?”
Aku mengangguk.
“eto~ kupikir aku dan yang lain hanya biasa saja. Tetap saja segerombolan anak sekolah yang tetap harus belajar dan menuntut ilmu. Perbedaan kami hanya kami sering berada di depan layar. Itu saja-“
“aku juga berpikir hal yang sama..” dan kami berdua pun terdiam.
.
“saa~ syukurlah aku melihatmu di stasiun. Kalau tidak ada kau mungkin aku akan berjalan sendiri!” tambahnya. Wajahnya sangat ramah, dan itu yang membuatku bisa selalu tersenyum di depannya.
Perbincangan kami pun dimulai menuju sekolah. Banyak yang ia ceritakan dan banyak yang kujawab untuk itu. Bagaimanapun mereka punya banyak penggemar, tapi tetap saja ketika bersama orang-orang biasa, merekapun juga bisa berperilaku layaknya orang biasa. Bisa tertawa ketika hal lucu dan dapat mengerti perasaan orang lain juga. Mereka juga bisa berbaur dengan baik. Dan juga..
“kupikir Travis Jr itu orang yang keren!!” bisikku di telinga Nene
“itu karena kau baru saja melihat karismanya Miyachika-kun~” ucapnya
Aku hanya tertawa.
Kemudian beberapa saat kemudian, sekolah kembali dihebohkan dengan sorakkan mereka. Aku hanya diam. Nene yang saat itu duduk di depanku, mencoba mengajakku. Tapi aku hanya menggelengkan kepala. Mungkin nanti aku akan bertemu Travis jr, atau lebih dekat nya kepada Miyachika dan melihat senyumannya lagi.
.
.
.
Dan hari itu tetap beberapa hari setelah kejadian pergi sekolah bersama Miyachika. Tepatnya hari Kamis, dimana aku tak bisa lupakan semua itu..
.
.
“Nene~nene~!! Jangan tutup telfonnya!!” sorakku. Langkah kakiku semakin cepat berlari. Sudah jam setengah 9 lewat dan aku masih berlari menuju sekolah. Hari ini aku terlambat lagi dan aku benar-benar kehabisan kereta. Aku harus berlari sendiri sepanjang jalan dan membiarkan waktu segera berlalu.
Dan di pagi itu, aku lagi-lagi melihat Miyachika duduk tenang dibawah pohon. Seperti sedang bersembunyi dan ia terlihat memperhatikanku dari kejauhan.
Kemudian ketika melihatku yang mulai mendekat, iapun berdiri dari duduknya.
“wataru-san! Kemari~” panggilnya melambaikan tangan
Aku melihat sekeliling dan bergegas menemuinya.
“doushita, miyachika-kun?” tanyaku
Ia tersenyum lega dan menggelengkan kepala. “aku menungguimu sejak pagi disini. Dan seperti dugaanku kau terlambat lagi..” jawabnya
“kenapa menungguiku? Mana teman-temanmu?”
“semua itu nanti saja, sekarang kita harus pergi dari sekolah ini..”
“eh~?”
“aku mohon tolong aku sehari ini saja..!” ia membungkukkan badannya 90 derajat
Membuatku tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa harus mengikutinya dari belakang.
.
.
(Author POV)
.
.
Terlihat di koridor sekolah, 4 orang anak laki-laki sedang berjalan dengan wajah tanpa senyumannya. Segerombolan anak perempuan telah menunggui mereka di setiap pintu kelas. Guru sedang mengadakan rapat sehingga para siswa lainnya sama sekali tidak belajar hari itu.
“Nene~ Natsumi, mana?” Tanya seorang pada Nene. Seorang gadis dengan ikatan kecil di rambutnya yang agak tipis itu.
Gadis yang bernama Nene itu hanya menggeleng dengan wajah paniknya. Berkali-kali ia membuka ponselnya dan menutup kembali.
“saa~ Nene, Miyachika-kun juga tidak datang hari ini..” tambah mereka
“mungkin mereka bertemu~” sahut Nene. Dengan wajahnya yang lesu ia segera duduk di kursinya dan menidurkan kepala diatas meja.
“Natsu dan Miyachika itu ada hubungan apa? Padahal seingatku, Natsu tidak suka menunggui dan menyoraki mereka diluar sana” beberapa siswa menemui Nene di tempat duduknya.
“sudah kubilang, aku tidak tau apa-apa!!” bentaknya
Semua terdiam. Wajah ketakutan yang tetap manatapi Nene. Ada rasa kesal di wajah Nene hari itu.
.
.
“Anoo minnasan!” tiba-tiba terdengar suara seorang dari luar.
Kelas yang tadinya diam kembali heboh. Sosok Abe Aran yang tiba-tiba saja berbicara di depan semuanya.
“kami ingin membicarakan sesuatu. Dan kami harap itu tidak membuat satu sekolah khawatir atau sebagainya..” Aran menghentikan pembicaraannya dan melihat kearah teman-temannya sambil tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.
.
.
(Natsu POV)
.
“jadi karena itu kau tak ingin masuk sekolah?” ucapku dengan nada sedikit kaget.
Miyachika mengangguk dan hanya menundukkan kepalanya. Kami berdua sudah berada di depan sebuah tempat makan. Karena anak sekolah dilarang memasuki tempat itu, kami berdua terpaksa hanya duduk diluar sambil membeli beberapa minuman.
“aku tidak mengerti kenapa kepala sekolah harus berpikir demikian” tambah Miyachika
Aku mengangguk mengerti.
Sesaat setelah itu lagi-lagi ponselku bergetar. Sebenarnya sudah berulang kali berbunyi, tapi Miyachika menyuruhku untuk tidak melihatnya.
“anoo~ miyachika-kun sepertinya Nene menelfonku” ucapku. Aku segera mengambil ponsel itu di dalam tas dan mengangkatnya.
Sebelum aku sempat mengucapkan “hallo”, ia sudah langsung berbicara dengan nada panik. “kamu dimana Natsu? Kenapa tidak datang sekolah? Kamu sudah dengar kabar tentang Travis Jr, belum? Hari ini Miyachika-kun juga tidak datang tanpa alasan yang jelas. Semua orang dalam keadaan panik!”
“aku sudah tau itu..” jawabku
“sudah tau? Apa maksudmu? Dimana sekarang?”
“aku bersama Miyachika-kun. Ia mengajakku bolos hari ini. Sekarang sedang duduk didepan tempat makan, tidak jauh dari sekolah”
Suara hening seketika. Terlihat mereka yang sedang mendengar percakapanku di telfon disana.
“Aku tau itu.. ketika kepala sekolah membuat sebuah kesepakatan resmi. Miyachika dan teman-temannya harus pindah sekolah ke tempat ia dan yang lainnya pantas berada, bukan berada di sekolah biasa seperti tempat kami. Dan keributan beberapa anak perempuan setiap harinya selalu mengganggu aktifitas belajar.. tapi…” aku menghentikan pembicaraan itu seketika aku mengetahui Nene sudah menutup panggilan itu lebih awal. Kupikir sensei datang lebih awal.
Tapi bahkan Miyachikapun senang berada di sekolah yang biasa seperti itu.
“anoo~ Natsu, apa semua orang membencimu?” tanyanya
Aku menggeleng dan tersenyum. “aku harap tidak~”
“yah~ tapi aku belum ingin ke sekolah. Kepala sekolah pasti akan memanggil kami hari ini dan menyetujui surat pengunduran diri. Sehingga esok kami tidak akan ada disini lagi” tambahnya.
“jadi kalau kau tidak ada disana?”
“mungkin waktu penandatanganan dan persetujuan akan diundur keesokkan harinya” Miyachika menyandarkan dirinya di depan tempat duduk. Matanya tertutup seketika. Wajahnya sama sekali tidak tersenyum dan ia terlihat sangat khawatir.
Angin yang membiarkan berhembus begitu saja. Menghempas sebuah keheningan. Aku hanya bisa menatapi wajahnya.
Aku bisa berpikir bagaimana semua orang khawatir akan hal ini, bagaimana mereka yang telah nyaman harus dipindahkan ke tempat yang baru, bagaimana rasa kehilanganku pada keajaiban yang tiba-tiba membawaku bisa dekat dengan Miyachika.
Kedua kalinya pertemuan ini..
..
kriing..kriing..” tiba-tiba ponselku berbunyi lagi.
Ada pesan masuk dari nomor yang sama sekali tidak kukenal. Dan aku segera membukanya.
Itu dari Aran.
“Natsumi desuka? Apa kau bersama Miyachika? Bisa kami memohon untuk membawanya kembali ke sekolah? Ini bukan tentang bagaimana rasa kehilangan atas segalanya. Ini demi kebaikan semuanya. Aku harap kamu pun bisa mengerti” tulisnya. Ada beberapa emotion menyedihkan diketikan pesan itu.
Sekali lagi aku menatap wajahnya. Ada alasan yang sama sekali tak kutahu ketika ia benar-benar tak ingin pindah sekolah.
“Miyachika-kun, lihat ini” panggilku sambil memperlihatkan pesan di ponselku.
“dari aran?” ia seolah mengabaikanku. “hapus saja pesan itu” tambahnya.
Aku segera menghapusnya. Mataku mulai berbinar dan tersenyum.
“sekeras apapun keegoisanmu untuk tidak ingin pindah sekolah itu, kupikir hanya percuma. Bagaimanapun kamu sekarang, itu memang adalah sebuah keputusan yang harus kalian patuhi. Teman-temanmu, aku rasa mereka juga sama. Tapi mereka berusaha untuk tenang dan mengikuti semua peraturan yang ada”ucapku
Kata-kata itu membuat Miyachika bangun dari sandarannya dan menatapiku.
“kalian itu seorang penyanyi. Berada dilayar TV setiap waktu. Ketika berada disekolah ini, semua akan terlihat mengganggu. Kau juga harus menyusul beberapa pelajaranmu yang tertinggal. Meskipun kau harus pindah, sekolah ini tetap ada pada kenanganmu, bukan? Kenangan indahmu ketika berada disekolah biasa, kenangan ketika semua anak perempuan selalu menunggui kalian di koridor, menyoraki kalian. Kenangan karena mereka terlihat sangat mengganggu. Dan kamipun juga punya kenangan sendiri ketika melepas kalian pergi. Kenangan berada satu sekolah dengan orang seperti kalian, kenangan menyoraki kalian dan…”
“hentikan itu!” bentak Miyachika. Bentakkan itu membuatku terhenti melanjutkan kata-kata. “aku tidak ingin pindah!” tambahnya lagi
“menurutku kau orang yang tenang dan bisa berpikir sedikit dewasa. Aku mengerti apa yang semua orang pikirkan hari ini. Dan mungkin lebih baik untuk melepas. Dan berharap suatu hari akan bertemu. Bukankah ketika kalian tampil di sebuah konser nantinya, kami semua satu sekolah akan mengunjungi kalian disana dan berteriak mendukung? Berapa harga tiketnya pun tidak masalah, benar?”
Lagi-lagi Miyachika terdiam. Ia kembali berpikir.
“semua orang sedang menungguimu di sekolah~” ujarku.
Miyachika menganggukkan kepalanya. Segera berdiri dari duduknya dan berlari meninggalkanku. Kali ini tak ingin mengikutinya. Mungkin lebih baik aku tetap disini dan menunggui mereka keluar dengan mobil mewahnya.
.
.
.
#FLASHBACK END
.
.
“lalu apa yang terjadi ketika kau menungguinya?” Tanya salah seorang di depanku. Kali ini kelas sudah ramai sekali. Ada banyak anak perempuan dan anak laki-laki mendengarku bercerita.
Aku hanya menggelengkan kepala.
Kemudian Nene mulai mengeluarkan kata-katanya, “Miyachika datang ke sekolah dan semua orang bersorak. Ketika ia datang itu benar-benar luar biasa. Aku belum menceritakan ini pada Natsu. Ia berlari dengan nafas terengah-engah dan bergegas keruangan kepala sekolah. Kami semua melihatnya dari jendela. Ketika ia banyak berbicara yang tak kami pastikan pembicaraan itu, ia tersenyum dan menandatangani sebuah kertas. Setelah selesai, kepala sekolah menyalami mereka dan mereka semua terlihat sangat bahagia. Ada beberapa siswa yang menangis karena itu. Tapi seketika mereka keluar dari ruangan, Miyachika bilang ~itu karena aku pikir ini pilihan terbaik, dan walau berpisahpun, kalian semua tetap menjadi teman-teman sekolahku yang akan kukenang selamanya~ kata-kata itu membuat kami terharu. Dan membiarkan mereka pergi keluar dengan mobil”
Aku kembali tersenyum. “menunggui mereka, dan mereka datang. Miyachika menemuiku. Dan ia katakan, ~senang bertemu Natsu disini walau hanya beberapa saat”
“sugeeee~~!! Aku pikir ketika menjadi natsu aku akan sangat bahagia sekali” sorak mereka.
Iya, itu sangat menyenangkan. Kejadian dihari kamis. Aku memanggilnya dengan sebutan saudara. Hari itu bahkan sebulan setelah semuanya berlalu pun, aku akan masih tetap ingat itu. Mokuyoubi-san~ aku selalu ingat dimana bertemu seseorang yang walau hanya beberapa saat tapi menjadi kenangan tersendiri..

-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman