.
This
Fanfic is imagination of Travis Jr as
Johnny’s Jr. I make this because some
today love them XD so, this just Fanfic and not same with that happened in
this story!
Ne~
wanna read? Douzo!
But,
if my Fanfic not PERFECT, forgive me
>< I’m just writing!
Tittle : Moku Youbi-san? I’ll
Remember it!
Character : Member Travis Jr, Natsumi
Wataru (OC) and Other
Genre : Alternative Universe
Length : Oneshoot
Author : Nanahira Ichi
Download Full Story Klik Here >> Pass : ichi0407
.
Moku
youbi-san? I’ll remember it!
(Natsu POV)
.
“saa~
Natsumi hari ini membosankan sekali!” sahut teman sebangkuku, Nene.
Aku
segera memalingkan wajahku melihat wajahnya yang sedang melesu itu. Seperti
Nene yang biasanya. “Nene, doushita?” Tanyaku setelah melamun sebentar.
Nene
menggelengkan kepalanya dan duduk di tempat.
Biar
kutebak hari ini, seperti kejadian yang sebelumnya, alasan yang sama pasti akan
terlontar di benaknya hari ini.
“apa
kau merindukan mereka semua??” ucapku
Nene
segera mengangguk. “aku merindukan dimana seluruh sekolah heboh ketika mereka
lewat di koridor! Aku merindukan ketika mereka menyapa ramah kami semua!” cetus
Nene. Aku tersenyum.
“tapi
bukankah ada baiknya ketika mereka pergi? Bukankah diacara TV kau masih bisa
melihatnya?”
“tetap
saja! Satu sekolah dengan artis-artis itu hal yang menakjubkan!” soraknya.
Seketika
itu beberapa siswa lainnya mendengar pembicaraan kami. Dan langsung sebut itu,
Travis Junior! Dan mereka segera berlari menuju kearah kami untuk kembali
bercerita tentang mereka semua..
.
.
Hal ini terjadi beberapa
minggu yang lalu.
Saat
sekolah benar-benar heboh dengan mereka. Entah kenapa para gerombolan itu
selalu jadi topik pembicaraan. Sekolah kami yang adalah termasuk sekolah biasa,
tidak terlalu elit dan bukan sekolah swasta, dihadiri oleh 5 orang lelaki. Yang
kami sadari identitasnya adalah sebuah grup musik yang sering tampil diacara
TV. Aku tidak begitu mengetahui tentang mereka, tetapi beberapa siswa sering
menceritakan itu di koridor.
Mereka
yang adalah Abe Aran, Kajiyama Asahi, Miyachika Kaito, Yoshizawa Shizuya, dan
Nakamura Kaito.
Semua
mulai bermula..
#FLASHBACK
.
.
“Natsu!
Apa kau tidak ikut bersorak dengan mereka semua?” Tanya Nene berdiri di depan
mejaku.
Aku
menggelengkan kepala. Mataku masih melihat keluar kelas. Rasanya setiap hari
selalu begini. Suasana sekolah selalu berisik dan sangat mengganggu sekali
dengan sorakan anak perempuan itu.
Aku
hanya diam di kelas sambil mendengarkan musik. “tidak begitu tertarik!” ucapku
“kapan
kau akan sadar kalau mereka itu benar-benar keren?” Nene memukul mejaku sambil
tertawa dan kemudian meninggalkanku di kelas.
Hari
ini di kelas hanya ada aku dan beberapa anak cowok yang tidak tertarik dengan
hal yang sama. Semua anak perempuan di kelas berada di luar melihat mereka di
kelas sebelah.
“sama..”
pikirku. Aku menidurkan kepalaku keatas meja. Berharap ini segera berakhir agar
aku bisa tenang belajar seperti biasanya.
“Natsu,
kau satu-satunya anak perempuan yang masih ada dikelas!” sorak beberapa orang
teman laki-lakiku.
“itu
urusanku!” jawabku seolah membentak
Mereka
tertawa. “kami pikir kau bukan wanita tomboy”
“memang
tidak! Dan aku tidak begitu tertarik dengan sorakan itu” aku segera berdiri
dari tempat dudukku. Ingin melakukan suatu hal. Dan yang kulihat setiap
harinya, papan tulis yang kotor. Sehingga aku harus membersihkannya daripada
harus tidur-tiduran tak jelas di kelas.
Apa
yang kupikirkan. Aku baru saja masuk ke SMU ini. Berbeda sekali dengan
sekolahku sewaktu SMP. Aku benar-benar masuk ke dalam sebuah sarang dimana
hanya aku yang tidak menyukainya.
Dan
aku membiarkan semua itu segera berlalu.
.
.
Pagi itu..
“Nene~
nanti saja hubungi aku! Aku terlambat lagi!” aku segera menutup telepon. Berlari
di sepanjang jalan. Aku tau sekarang sudah mendekati setengah delapan. Dan
kereta sudah dipenuhi oleh orang-orang dewasa. Pada jam saat ini aku harus
mengantri sangat lama, sehingga tidak mungkin bisa tiba di sekolah pada jam
delapan.
“yabai~”
Aku
mempercepat lariku. Hingga tiba di depan stasiun. Aku berhenti seketika. Ada
banyak gerombolan orang yang beramai-ramai masuk ke dalam kereta.
“aku
takkan mungkin bisa masuk..” bisikku
“juga
dari SMU yang sama..” ulas seseorang berada di belakangku. Aku segera menoleh
kearah suara itu. Dan aku melihat seorang anak laki-laki sebayaku. Pakaian
sekolah yang sama. Aku tak mengenalinya. Tapi, “wajahmu terlihat tidak asing,
ya?” ucapku kemudian.
Dia
tertawa. Menutup mulutnya. “ini pertama kalinya aku melihat siswa dari SMU yang
sama tidak mengenaliku.. terlebih kau anak perempuan, bukan?”
“apa
maksudmu?”
“ayo!”
ia menarik tanganku keluar stasiun dan berlari.
“hei
mau kemana? Nanti kita semakin terlambat!” bentakku. Genggamannya cukup keras
sehingga akupun tak bisa melepasnya.
Wajah
yang tak asing itu, tersenyum di depanku. Membawaku semakin menjauh dari
stasiun.
“Natsu
aku suka yang ini.. kau yang mana?”
Tiba-tiba
saja aku mendengar suara Nene dibayanganku. Aku baru saja mengingatnya.
“apa
kau anggota Travis Jr?” tanyaku.
Lelaki
itu menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya. “iya!” jawabnya. Kemudian
membungkukkan setengah badannya, “Miyachika kaito desu.. Yoroshiku” tambahnya
Ucapan
itu membuatku terdiam. Suaranya sangat ramah sekali sehingga akupun tak bisa
mengucapkan sepatah kata apapun.
“namae
wa?” tanyanya balik
“anoo..
Natsumi wataru desu” aku sedikit gugup.
Selama
sekolah heboh dengan kedatangan mereka aku sama sekali tidak begitu peduli. Aku
membiarkan Nene berceloteh ria di depan tempat dudukku. Aku tidak mengenali
siapapun dari mereka. Dan ini kali pertama aku bertemu langsung salah satu dari
mereka. Yang mana Nenepun belum pernah merasakan hal yang sama.
“Miyachika,
kau tidak bersama yang lainnya?” aku memperhatikan wajahnya. Dia tetap
tersenyum. Kemudian menggelengkan kepalanya.
“doushita?”
tanyaku lagi
“kukira
aku bisa mencoba pergi sekolah sendirian, tapi aku benar-benar terlambat tanpa
mereka…” Miyachika-kun. Begitu aku menyebutnya. Lelaki yang tidak terlalu
tinggi itu, berdiri di depanku sambil menundukkan kepalanya.
“apa
kau tidak takut kalau nanti beberapa anak perempuan menyorakimu?”
“so~
aku tidak memikirkan hal itu..” ia tertawa. “tapi kalau terlambat bersamaku,
tidak apa-apa, kan? Mari berjalan kaki ke sekolah. Kurasa itu cukup baik.” Tambahnya.
Ia berjalan meninggalkanku. Dan entah kenapa langkah kakiku serasa
mengikutinya. Berpikir takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
“hey,
kau anak laki-laki, bukan?” teriakku dan mempercepat langkah untuk mengikutinya
dari belakang.
Akhirnya
aku dan orang yang baru saja kukenal itupun segera mencari arah yang sangat
jauh untuk menuju sekolah..
.
.
“kenapa
kau tidak seperti anak perempuan yang lain?” Tanya Miyachika berjalan di
sampingku.
“berteriak
yang tidak jelas hanya membuang-buang energi” jawabku
Miyachika
tertawa. “pikiranmu cukup jauh, ya?”
Aku
mengangguk.
“eto~
kupikir aku dan yang lain hanya biasa saja. Tetap saja segerombolan anak
sekolah yang tetap harus belajar dan menuntut ilmu. Perbedaan kami hanya kami
sering berada di depan layar. Itu saja-“
“aku
juga berpikir hal yang sama..” dan kami berdua pun terdiam.
.
“saa~
syukurlah aku melihatmu di stasiun. Kalau tidak ada kau mungkin aku akan berjalan
sendiri!” tambahnya. Wajahnya sangat ramah, dan itu yang membuatku bisa selalu
tersenyum di depannya.
Perbincangan
kami pun dimulai menuju sekolah. Banyak yang ia ceritakan dan banyak yang
kujawab untuk itu. Bagaimanapun mereka punya banyak penggemar, tapi tetap saja
ketika bersama orang-orang biasa, merekapun juga bisa berperilaku layaknya
orang biasa. Bisa tertawa ketika hal lucu dan dapat mengerti perasaan orang
lain juga. Mereka juga bisa berbaur dengan baik. Dan juga..
“kupikir
Travis Jr itu orang yang keren!!” bisikku di telinga Nene
“itu
karena kau baru saja melihat karismanya Miyachika-kun~” ucapnya
Aku
hanya tertawa.
Kemudian
beberapa saat kemudian, sekolah kembali dihebohkan dengan sorakkan mereka. Aku
hanya diam. Nene yang saat itu duduk di depanku, mencoba mengajakku. Tapi aku
hanya menggelengkan kepala. Mungkin nanti aku akan bertemu Travis jr, atau
lebih dekat nya kepada Miyachika dan melihat senyumannya lagi.
.
.
.
Dan hari itu tetap
beberapa hari setelah kejadian pergi sekolah bersama Miyachika. Tepatnya hari
Kamis, dimana aku tak bisa lupakan semua itu..
.
.
“Nene~nene~!!
Jangan tutup telfonnya!!” sorakku. Langkah kakiku semakin cepat berlari. Sudah
jam setengah 9 lewat dan aku masih berlari menuju sekolah. Hari ini aku
terlambat lagi dan aku benar-benar kehabisan kereta. Aku harus berlari sendiri
sepanjang jalan dan membiarkan waktu segera berlalu.
Dan
di pagi itu, aku lagi-lagi melihat Miyachika duduk tenang dibawah pohon. Seperti
sedang bersembunyi dan ia terlihat memperhatikanku dari kejauhan.
Kemudian
ketika melihatku yang mulai mendekat, iapun berdiri dari duduknya.
“wataru-san!
Kemari~” panggilnya melambaikan tangan
Aku
melihat sekeliling dan bergegas menemuinya.
“doushita,
miyachika-kun?” tanyaku
Ia
tersenyum lega dan menggelengkan kepala. “aku menungguimu sejak pagi disini. Dan
seperti dugaanku kau terlambat lagi..” jawabnya
“kenapa
menungguiku? Mana teman-temanmu?”
“semua
itu nanti saja, sekarang kita harus pergi dari sekolah ini..”
“eh~?”
“aku
mohon tolong aku sehari ini saja..!” ia membungkukkan badannya 90 derajat
Membuatku
tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa harus mengikutinya dari belakang.
.
.
(Author POV)
.
.
Terlihat
di koridor sekolah, 4 orang anak laki-laki sedang berjalan dengan wajah tanpa
senyumannya. Segerombolan anak perempuan telah menunggui mereka di setiap pintu
kelas. Guru sedang mengadakan rapat sehingga para siswa lainnya sama sekali
tidak belajar hari itu.
“Nene~
Natsumi, mana?” Tanya seorang pada Nene. Seorang gadis dengan ikatan kecil di
rambutnya yang agak tipis itu.
Gadis
yang bernama Nene itu hanya menggeleng dengan wajah paniknya. Berkali-kali ia
membuka ponselnya dan menutup kembali.
“saa~
Nene, Miyachika-kun juga tidak datang hari ini..” tambah mereka
“mungkin
mereka bertemu~” sahut Nene. Dengan wajahnya yang lesu ia segera duduk di
kursinya dan menidurkan kepala diatas meja.
“Natsu
dan Miyachika itu ada hubungan apa? Padahal seingatku, Natsu tidak suka menunggui
dan menyoraki mereka diluar sana” beberapa siswa menemui Nene di tempat
duduknya.
“sudah
kubilang, aku tidak tau apa-apa!!” bentaknya
Semua
terdiam. Wajah ketakutan yang tetap manatapi Nene. Ada rasa kesal di wajah Nene
hari itu.
.
.
“Anoo
minnasan!” tiba-tiba terdengar suara seorang dari luar.
Kelas
yang tadinya diam kembali heboh. Sosok Abe Aran yang tiba-tiba saja berbicara
di depan semuanya.
“kami
ingin membicarakan sesuatu. Dan kami harap itu tidak membuat satu sekolah
khawatir atau sebagainya..” Aran menghentikan pembicaraannya dan melihat kearah
teman-temannya sambil tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.
.
.
(Natsu POV)
.
“jadi
karena itu kau tak ingin masuk sekolah?” ucapku dengan nada sedikit kaget.
Miyachika
mengangguk dan hanya menundukkan kepalanya. Kami berdua sudah berada di depan
sebuah tempat makan. Karena anak sekolah dilarang memasuki tempat itu, kami
berdua terpaksa hanya duduk diluar sambil membeli beberapa minuman.
“aku
tidak mengerti kenapa kepala sekolah harus berpikir demikian” tambah Miyachika
Aku
mengangguk mengerti.
Sesaat
setelah itu lagi-lagi ponselku bergetar. Sebenarnya sudah berulang kali
berbunyi, tapi Miyachika menyuruhku untuk tidak melihatnya.
“anoo~
miyachika-kun sepertinya Nene menelfonku” ucapku. Aku segera mengambil ponsel
itu di dalam tas dan mengangkatnya.
Sebelum
aku sempat mengucapkan “hallo”, ia sudah langsung berbicara dengan nada panik. “kamu
dimana Natsu? Kenapa tidak datang sekolah? Kamu sudah dengar kabar tentang
Travis Jr, belum? Hari ini Miyachika-kun juga tidak datang tanpa alasan yang
jelas. Semua orang dalam keadaan panik!”
“aku
sudah tau itu..” jawabku
“sudah
tau? Apa maksudmu? Dimana sekarang?”
“aku
bersama Miyachika-kun. Ia mengajakku bolos hari ini. Sekarang sedang duduk
didepan tempat makan, tidak jauh dari sekolah”
Suara
hening seketika. Terlihat mereka yang sedang mendengar percakapanku di telfon
disana.
“Aku
tau itu.. ketika kepala sekolah membuat sebuah kesepakatan resmi. Miyachika dan
teman-temannya harus pindah sekolah ke tempat ia dan yang lainnya pantas
berada, bukan berada di sekolah biasa seperti tempat kami. Dan keributan
beberapa anak perempuan setiap harinya selalu mengganggu aktifitas belajar..
tapi…” aku menghentikan pembicaraan itu seketika aku mengetahui Nene sudah
menutup panggilan itu lebih awal. Kupikir sensei datang lebih awal.
Tapi
bahkan Miyachikapun senang berada di sekolah yang biasa seperti itu.
“anoo~
Natsu, apa semua orang membencimu?” tanyanya
Aku
menggeleng dan tersenyum. “aku harap tidak~”
“yah~
tapi aku belum ingin ke sekolah. Kepala sekolah pasti akan memanggil kami hari
ini dan menyetujui surat pengunduran diri. Sehingga esok kami tidak akan ada
disini lagi” tambahnya.
“jadi
kalau kau tidak ada disana?”
“mungkin
waktu penandatanganan dan persetujuan akan diundur keesokkan harinya” Miyachika
menyandarkan dirinya di depan tempat duduk. Matanya tertutup seketika. Wajahnya
sama sekali tidak tersenyum dan ia terlihat sangat khawatir.
Angin
yang membiarkan berhembus begitu saja. Menghempas sebuah keheningan. Aku hanya
bisa menatapi wajahnya.
Aku
bisa berpikir bagaimana semua orang khawatir akan hal ini, bagaimana mereka
yang telah nyaman harus dipindahkan ke tempat yang baru, bagaimana rasa
kehilanganku pada keajaiban yang tiba-tiba membawaku bisa dekat dengan
Miyachika.
Kedua kalinya pertemuan
ini..
..
“kriing..kriing..” tiba-tiba ponselku
berbunyi lagi.
Ada
pesan masuk dari nomor yang sama sekali tidak kukenal. Dan aku segera
membukanya.
Itu
dari Aran.
“Natsumi
desuka? Apa kau bersama Miyachika? Bisa kami memohon untuk membawanya kembali
ke sekolah? Ini bukan tentang bagaimana rasa kehilangan atas segalanya. Ini demi
kebaikan semuanya. Aku harap kamu pun bisa mengerti” tulisnya. Ada beberapa
emotion menyedihkan diketikan pesan itu.
Sekali
lagi aku menatap wajahnya. Ada alasan yang sama sekali tak kutahu ketika ia
benar-benar tak ingin pindah sekolah.
“Miyachika-kun,
lihat ini” panggilku sambil memperlihatkan pesan di ponselku.
“dari
aran?” ia seolah mengabaikanku. “hapus saja pesan itu” tambahnya.
Aku
segera menghapusnya. Mataku mulai berbinar dan tersenyum.
“sekeras
apapun keegoisanmu untuk tidak ingin pindah sekolah itu, kupikir hanya percuma.
Bagaimanapun kamu sekarang, itu memang adalah sebuah keputusan yang harus
kalian patuhi. Teman-temanmu, aku rasa mereka juga sama. Tapi mereka berusaha
untuk tenang dan mengikuti semua peraturan yang ada”ucapku
Kata-kata
itu membuat Miyachika bangun dari sandarannya dan menatapiku.
“kalian
itu seorang penyanyi. Berada dilayar TV setiap waktu. Ketika berada disekolah
ini, semua akan terlihat mengganggu. Kau juga harus menyusul beberapa
pelajaranmu yang tertinggal. Meskipun kau harus pindah, sekolah ini tetap ada
pada kenanganmu, bukan? Kenangan indahmu ketika berada disekolah biasa,
kenangan ketika semua anak perempuan selalu menunggui kalian di koridor,
menyoraki kalian. Kenangan karena mereka terlihat sangat mengganggu. Dan kamipun
juga punya kenangan sendiri ketika melepas kalian pergi. Kenangan berada satu
sekolah dengan orang seperti kalian, kenangan menyoraki kalian dan…”
“hentikan
itu!” bentak Miyachika. Bentakkan itu membuatku terhenti melanjutkan kata-kata.
“aku tidak ingin pindah!” tambahnya lagi
“menurutku
kau orang yang tenang dan bisa berpikir sedikit dewasa. Aku mengerti apa yang
semua orang pikirkan hari ini. Dan mungkin lebih baik untuk melepas. Dan berharap
suatu hari akan bertemu. Bukankah ketika kalian tampil di sebuah konser
nantinya, kami semua satu sekolah akan mengunjungi kalian disana dan berteriak
mendukung? Berapa harga tiketnya pun tidak masalah, benar?”
Lagi-lagi
Miyachika terdiam. Ia kembali berpikir.
“semua
orang sedang menungguimu di sekolah~” ujarku.
Miyachika
menganggukkan kepalanya. Segera berdiri dari duduknya dan berlari
meninggalkanku. Kali ini tak ingin mengikutinya. Mungkin lebih baik aku tetap
disini dan menunggui mereka keluar dengan mobil mewahnya.
.
.
.
#FLASHBACK
END
.
.
“lalu
apa yang terjadi ketika kau menungguinya?” Tanya salah seorang di depanku. Kali
ini kelas sudah ramai sekali. Ada banyak anak perempuan dan anak laki-laki
mendengarku bercerita.
Aku
hanya menggelengkan kepala.
Kemudian
Nene mulai mengeluarkan kata-katanya, “Miyachika datang ke sekolah dan semua
orang bersorak. Ketika ia datang itu benar-benar luar biasa. Aku belum
menceritakan ini pada Natsu. Ia berlari dengan nafas terengah-engah dan
bergegas keruangan kepala sekolah. Kami semua melihatnya dari jendela. Ketika ia
banyak berbicara yang tak kami pastikan pembicaraan itu, ia tersenyum dan
menandatangani sebuah kertas. Setelah selesai, kepala sekolah menyalami mereka
dan mereka semua terlihat sangat bahagia. Ada beberapa siswa yang menangis
karena itu. Tapi seketika mereka keluar dari ruangan, Miyachika bilang ~itu
karena aku pikir ini pilihan terbaik, dan walau berpisahpun, kalian semua tetap
menjadi teman-teman sekolahku yang akan kukenang selamanya~ kata-kata itu
membuat kami terharu. Dan membiarkan mereka pergi keluar dengan mobil”
Aku
kembali tersenyum. “menunggui mereka, dan mereka datang. Miyachika menemuiku. Dan
ia katakan, ~senang bertemu Natsu disini walau hanya beberapa saat”
“sugeeee~~!!
Aku pikir ketika menjadi natsu aku akan sangat bahagia sekali” sorak mereka.
Iya,
itu sangat menyenangkan. Kejadian dihari kamis. Aku memanggilnya dengan sebutan
saudara. Hari itu bahkan sebulan setelah semuanya berlalu pun, aku akan masih
tetap ingat itu. Mokuyoubi-san~ aku selalu ingat dimana bertemu seseorang yang
walau hanya beberapa saat tapi menjadi kenangan tersendiri..
-END-













Tidak ada komentar:
Posting Komentar