Tittle : Ame no you
ni, Nakanaide. Anata no egao suki! (雨のように、泣かないで。 貴方の笑顔好き)(Part 2/2)
Genre : AU
Length : Double Shot
Rating : M
Author : Nanahira Ichi
Cast : Morita Kyoko
Chara : Morita
Kyoko, Nishihata Daigo a.k.a Keiichiro Iori
Keterangan : Cerita ini
hanya fiktif belaka, tidak ada kesamaan karakter atau sejenisnya
.
Download full story : Klik here >> pw : ichi1303
.
.
Download full story : Klik here >> pw : ichi1303
.
Episode sebelumnya, Klik Here >>
Okee,
Hajimemashou !
~~
9 September, 12.15pm
“Iori~” panggilku lagi. Hari ini aku pulang
cepat. Dan aku segera menghampirinya di depan rumah.
“Kyoko..” sapa ibunya lagi membuka pintu
kamar.
“Bibi, Iorinya ada?” pertanyaan yang sama
kembali kutanyakan pada ibunya.
Tapi kali ini sang ibu sepertinya tidak
semangat. “bibi, ada apa?” tanyaku
“sejak kamu pulang 2 hari yang lalu, Iori
sepertinya sedang bersedih. Ia tak ingin makan. Dan apapun ia selalu
menggelengkan kepalanya. Sekarang panasnya naik lagi” jawab ibu.
“apa?” aku kaget. “bibi aku boleh menemui Iori
sekarang?”
Bibi menganggukkan kepalanya dan membiarkan
aku berlari masuk dan segera menuju kamar Iori. Ketika aku membuka pintu
kamarnya, aku melihat Iori sedang tertidur dan kain di kepalanya. Wajahnya
pucat.
“Iori~ aku minta maaf” ucapku
Mendengar ucapanku, Iori perlahan membuka
matanya. Melihatku namun seketika ia kembali menutupnya.
“Iori, gomen nasai! Aku tidak sengaja membawa
bukumu!” aku membungkukkan badanku. Yang aku tau, dia pasti seperti ini karena
ulahku. Tapi Iori kembali membuka matanya dan tersenyum. Lalu menggelengkan
kepalanya. Mengambil selembar kertas dan menulisnya, “melihat Kyoko datang, aku
senang”
“benarkah?” aku membuka tasku dan mengeluarkan
buku itu. Lalu duduk di sebelahnya. “aku membaca semuanya. Kenapa Iori
menyembunyikannya dariku? Apa Iori tak percaya padaku? Padahal aku begitu
mempercayaimu, Iori” ucapku
“aku malu memperlihatkan lagu itu pada Kyoko”
balasnya
“kenapa?”
“aku pikir aku tak punya kata-kata yang bagus
untuk menulis”
Aku tersenyum lagi, “kupikir itu kata-kata
yang sangat bagus. Kurasa kalau Iori memberanikan diri untuk memberikan
padanya, kuyakin gadis itu akan suka.”
Iori terdiam dan menatap kelangit-langit
kamarnya. Seketika matanya kembali berair.
“saa, Iori. Kemarin dan kemarinnya lagi aku
membuat nadanya untuk lagu ini. Iori ingin mendengarkannya?”
Iori menganggukkan kepalanya. Dan akupun
berdiri dari dudukku dan membunyikan piano itu. Lalu aku memainkan perlahan.
Seperti musik yang sudah kurangkai ini.
.
.
.
.
3 Desember
“mama, hari ini aku ingin ke rumah Iori”
ucapku memakai syall dan kaos kaki hendak keluar rumah
Musim dingin telah datang. Musim yang sudah
kunantikan. Dan disaat musim yang sangat dingin ini aku ingin menemani Iori di
rumahnya.
“kyoko, tidak apa-apa keluar hari ini? Cuaca masih
sangat dingin” Tanya mama
“tidak apa-apa mama. Rumah Iori tidak begitu
jauh”
“apa mama perlu membuatkanmu bekal yang
hangat?”
Aku menggelengkan kepala. Segera membungkukkan
badan dan berlari keluar melawan salju yang turun.
.
.
“Iori~” kali ini aku memanggil tepat di depan
pintu. Jadi seketika pintu itu dibuka,
“Kyoko” sahut bibi lagi
Belum sempat untuk bertanya, bibi langsung mempersilahkanku
masuk. Membiarkanku berjalan ke kamar Iori.
“Iori, bagaimana keadaanmu” tanyaku membuka
pintu
Iori menganggukkan kepalanya. Terlihat ia
duduk seperti biasa di depan meja piano dengan secangkir teh.
“Iori, sekarang sudah bulan Desember. Apa
ayahmu tidak memberikan kabar apapun?” tanyaku
Iori menggelengkan kepalanya. Dan menulis
sesuatu, “kukira ayah sudah lupa padaku”
“tidak mungkin ayahmu melupakanmu”
Iori tersenyum mendengar ucapanku. Selembar
buku yang masih saja terbuka lebar di atas meja piano. Nada yang beberapa bulan
lalu ku buat.
“apa Iori menyukainya?”
Iori kembali mengangguk. Aku membuat lagu itu
sangat mellow, habisnya aku belum terlalu bisa mengenal nada. Kukira Iori bisa
membuat musik sendiri tanpa harus menghafal nada yang kuberikan. Tapi semenjak
aku berikan nada itu padanya, dia terlihat bahagia sekali.
Hari ini dengan secangkir teh. Iori tidak bisa
minum yang terlalu panas. Tapi dengan dinginnya hari ini, terasa begitu hangat.
Duduk di sebelah Iori sambil bermain dengan piano.
.
.
.
20 Januari, 10.25am
“aku ingin melihat Iori, seperti apa orangnya?”
Tanya Arii berdiri di depan mejaku. Sambil memegangi beberapa minuman di kedua
tangannya
“dia anak yang baik..” jawabku
“apa kamu menyukainya? Sejak bertemu
dengannya, kamu jarang bermain bersama kami. Kamu selalu menghabiskan setiap
harimu dengannya”
Aku tersenyum sambil menundukkan kepala. “sejak
pertama bertemu aku ingin menjadi bagian dari setiap hari-harinya. Aku belajar
cara tersenyum dengannya. Dia membuatku terus ingin bermain musik. Sejak
pertemuan itu, aku ingin dia tetap pada senyumannya. Aku ingin bersamanya
hingga ayahnya datang menjemput. Aku ingin dia cepat sembuh. Ingin mendengar
dia menyanyi. Mungkin hanya ini yang dapat kulakukan untuk membuatnya tetap
bersabar menunggu datangnya hari itu” jelasku.
Arii segera duduk di depanku. Meminum setegup
air.
“kalau menjadi Iori mungkin aku sudah tidak
sanggup hidup lagi. Soalnya ketika audisi itu dibatalkan itu pasti sangat
menyakitkan. Ne~ kyoko, bagaimana dengan infeksi kakinya?”
“itu…” aku terdiam seketika. Menatap keluar
jendela kelas. Matahari belum terlihat. Tapi cuaca sangat cerah. Aku terduduk
di kelas bersama Arii, pertanyaan yang baru saja ku dengar itu..
“kenapa diam, kyoko?” tambah Arii
“ne~ daijoubu. Sampai saat inipun kakinya
belum bisa bergerak. Yang kemarin ku tau, dia bisa menggerakkan jempol kakinya
walau sedikit sulit. Kurasa itu tidak begitu membebaninya. Dia selalu menjalani
perawatan. Hingga ayahnya datang menjemput, kurasa kakinya sudah pulih lagi.” Jawabku
Arii mengangguk mengerti.
“aa~ kyoko bagaimana kalau sepulang sekolah
nanti kita ke rumah Iori? Aku ingin melihatnya secara langsung. Apa seceria
yang sering kau katakan?” Arii menatapku dengan senyuman lebarnya.
Terpaksa, aku harus mengangguk
memperbolehkannya ikut denganku hari ini.
Dan sepulang sekolah..
“kyoko, kau datang lagi” ujar bibi tersenyum
membuka pintu. “akh, itu temanmu?” tambah bibi menunjuk Arii
“iya bibi. Aku boleh menemui Iori sekarang?”
Bibi mengangguk dan mengantar kami menuju
kamar Iori.
“Iori~” akupun membuka pintu. Seperti biasa
Iori masih tertidur di tempat tidurnya. Tapi ketika mendengarku datang ia
membuka matanya dan tersenyum. Kemudian berusaha bangun dari tempat tidurnya
itu.
“Iori, ini temanku, Arii” tunjukku pada Arii
Arii tersenyum, “megumi arii. Yoroshiku” dan
Arii pun membungkukkan badannya
Kata-kata itu dibalas dengan senyuman Iori
biasanya.
“wah Iori hebat, ya” tambah Arii
Aku dan Iori segera menatap bingung wajah
Arii. Dengan tenangnya ia perlahan melihat ke segala arah kamar. “aku baru tau
sosok Iori. Ini pertama kalinya aku kemari, ya.. sugoii~” Arii seperti tak
mendengar bagaimana ekspresi wajah kami melihatnya.
Tapi, “ne~ Kyoko, kau sudah berteman sangat
lama dengan Iori, kenapa tak pernah berfoto bersama?” ucap Arii kemudian
“ee~?” Iori segera menatapiku. Mengambil kertas
dan menulisnya, “aku sampai tidak memikirkannya. Ayo foto bersama kapan-kapan,
Kyoko-chan”
Tulisan itu sempat dibaca Arii juga. “nah kalau
sekarang ada aku, kenapa harus bilang kapan-kapan?” ujarnya. Ucapan itu membuat
kami menatap kembali wajah Arii. Lalu iya mengambil ponselku.
Dan seketika itu,
Jepretan hasil kamera berbunyi. Kedua wajah
kami pun muncul di depan kamera.
“sugoii~ Iori terlihat keren disini” sorak
Arii memperlihatkan padaku
“iya~ dan aku terlihat cantik disini” balasku
“Kyoko, sepulang dari sini mari kita abadikan
fotonya. Kita buat dua. Yang satu untuk Iori dan yang satunya untuk Kyoko”
Aku mengangguk. Iori sangat senang hari itu.
Lalu sepulang dari rumah Iori, aku dan Arii
segera mencuci foto itu. Hasilnya segera diberikan pada Iori. Dan yang
untukku..
“yapp~ disini lebih baik” aku menghiasi foto
itu dan menggantungnya di depan meja belajar agar setiap saat bisa terlihat.
Wajahku dan Iori sangat cocok sekali di depan sana.
.
.
.
19 Februari, 04.25pm
Hari ini membawa Iori keluar dari rumah untuk
pertama kalinya. Ibunya yang menyuruhku. Aku mendorong kursi roda nya di
sepanjang kompleks. Cuaca yang cerah itu membuat kami betah terlalu lama diluar
rumah. Dan Iori nyaman sekali. Terlihat dari wajahnya yang tak henti melihat ke
sekeliling.
“berapa lama lagi kita akan pulang, Iori”
tanyaku
Iori menggelengkan kepalanya.
“apa maksudmu?”
Ia kembali menulis, “sudah hampir setahun
tidak melihat keindahan yang seperti ini, Kyoko-chan. Biarkan aku menikmatinya
hingga malam tiba”
Begitu, aku mengerti. Kemudian tetap berjalan
mendorong kursi rodanya. Kami melihat berbagai hal. Berjalan menuju taman,
melihat danau, melewati sekolahku dan tempat-tempat lainnya.
Tapi tiba-tiba di tengah jalan..
“ngg~” suara serak tiba-tiba kudengar dari
arah Iori. Aku menghentikan langkahku.
“Iori, itu suaramu?” tanyaku
Iori melihat kearahku. “unn~” seketika aku
mulai mendengar suaranya.
“Iori, apa pita suaramu sudah mulai membaik?
Kamu bisa mengeluarkan suara” aku terlihat sangat senang. Namun Iori
menuliskannya, “kurasa inilah yang terburuk”
“doushita?”
Iori menolehkan wajahnya dariku. Ia menundukkan
kepalanya.
“aku pikir ayah akan datang beberapa hari
lagi, makanya walau keadaan memburuk aku tetap akan sabar. Bukankah ada Kyoko?”
“ayahmu akan datang? Benarkah?”
Iori mengangguk. “ibu yang mengatakannya
padaku”
“souka” aku kembali mendorong kursi rodanya. “saa,
kalau begitu kita tidak akan bertemu lagi?” tanyaku
Iori seolah tak mendengarku bicara.
“oh ya, nanti kalau suatu hari Iori bisa
bicara, bernyanyi untukku, ya?” tambahku. Dan Iori mengangguknya.
Hingga seharian itu Iori bersamaku. Tepat
pukul 10 malam kami pulang.
.
.
.
Dan suatu ketika, terjadi pada hari itu.
24 Februari, 03.25pm
“Iori~” panggilku hari itu di depan halaman
rumah Iori.
Sudah 4 hari aku tak berkunjung ke rumahnya. Dan
hari ini aku bermaksud mengajaknya lagi ke taman, tapi..
“maaf, mencari si pemilik rumah?” Tanya seorang
ibu-ibu dari rumah sebelah
“iya?” jawabku
“baru saja sang pemilik rumah kemarin pergi
bersama dengan sebuah mobil. Kalau tidak salah ibu dari anak yang bernama Iori
itu menitipkan pesan pada saya. Apa kamu yang bernama Morita Kyoko?”
Aku mengangguk. Kemudian berjalan menuju
ibu-ibu itu. “pesan apa, bibi?”
“kalau Kyoko datang, sampaikan salamku padanya”
Aku terdiam seketika. Pipiku tiba-tiba basah,
matanya berair seketika.
“itu Iori yang bilang, kan? Apa dia tidak
menungguku?” pikirku. Lalu aku berlari pulang mengatakan pada mama. Rasanya
ingin menangis. Tapi mama sempat membujukku agar tak menangis.
Akhirnya kubiarkan waktu berlalu. Sama sekali tak
ada kabar dari Iori datang ke rumah. Dan aku tidak begitu mempedulikannya.
Tapi, di hari ini..
2 tahun semuanya berlalu.
Baru saja melihat Iori tersenyum di dalam
mimpiku. Ketika menceritakan pada mama, ia malah mengacuhkanku. Tapi aku
percaya, hari inipun Iori masih baik-baik saja.
.
.
.
“are?” tiba-tiba di keheningan pagi itu,
kepalaku terbentur bawahan tempat tidur. Sebuah bingkai foto tergeletak di
depan ku. “ini foto aku dan Iori yang sudah lama hilang?” aku mengambil foto
itu. Sudah agak berdebu. Namun dengan bahagianya aku beranjak dari bawah sana. Membersihkan
foto tersebut.
“tanda apa ini?” pikirku lagi.
Dan tak lama setelah itu..
“Kyoko, kyoko..” panggil mama dari lantai
bawah.
Mendengar sorakan mama aku segera berlari. Terlihat
mama sedang duduk di depan televisi.
“ada apa mama?” tanyaku
“lihat, orang ini menyebutkan namamu lengkapmu”
tunjuk mama pada seorang lelaki di depan tv. Ia membawa sebuah gitar dan mic. Dan
coba kuperhatikan itu,
“Iori?” ucapku. Aku segera memperbesar suara
tv dan mendengar ucapan itu.
“aku harap Kyoko-chan mendengarku. Aku harap
Kyoko-chan sedang melihatku hari ini. Ini pertama kalinya aku tampil di tv. Aku
senang ketika aku lolos audisi untuk kedua kalinya. Orang yang selalu ada
dipikiranku hingga hari ini.. teman sejak kecilku yang kutinggalkan. Kurasa ini
cukup 2 tahun setelah aku menghilang darinya” lelaki yang kukenali dengan
sebutan Iori itu memperlihatkan sebuah foto ke depan kamera.
Tau itu foto apa? Iya itu foto yang baru saja
kudapatkan di bawah tempat tidur. Ternyata dia masih menyimpannya.
“Kyoko-chan, kau tau aku selalu menyimpan ini.
Kau terlihat cantik di foto ini. Oh ya, penampilan pertama kali ini aku ingin
menyanyi untukmu. Lagu yang kubilang untuk seorang gadis, sebenarnya itu lagu
untukmu.” Iori terdiam sejenak. Suara penonton juga sepertinya sedang menunggui
ia melanjutkan kata-kata berikutnya.
“Aku mengatakan aku belum menemukannya, tapi
aku selalu berpikir bagaimana membuat lyrik yang bagus agar kau menyukainya. Aku
mencoba mencari nadanya, dan ketika menemukannya, kau mencurinya dariku. Kau bilang
lagu itu bagus, dan kau buatkan nada untukku. Karena itu nada darimu, aku
membuang apa yang sudah kubuat. Lagu yang kau buat bagus sekali. Aku suka. Dan kali
ini, dengarkan aku bernyanyi. Suatu hari nanti kita akan bertemu. Di Tokyo, iya
kan?” jelasnya
“akh~ satu lagi, 2 tahun yang lalu itu tanggal
23 Februari kenapa kau tak mengunjungiku? Padahal aku menungguimu hingga sore
tiba! Aku kesal, tapi hari ini aku ingin tertawa. Aku ingin kau dengarkan
bagaimana aku yang sebenarnya. Aku lebih banyak omong dari yang kau pikirkan!”
seketika ia mengucapkan itu, ia mulai menggesek gitarnya. Dan lantunan pianopun
berbunyi seiring dengan lagu yang mulai ia nyanyikan.
Penjelasan yang agak panjang itu tiba-tiba
membuatku larut pada masa lalu. Mata yang kini kembali berair. Antara bahagia
dan terharu. 2 tahun lamanya dan ketika berada di tv dia hanya mengingatku.
Menyebutkan namaku..
“iya, Iori suatu hari aku akan bertemu. Tunggu
aku di Tokyo. Dan mari bermain musik bersama lagi! Dan aku akan memukuli mu
karena tidak pernah mengabariku selama ini!” ucapku sedikit agak keras.
Tapi walaupun kini aku berbicara sekeras
apapun, Iori takkan pernah mendengarnya.
Untuk saat ini, teman masa kecilku. Di 23
Februari. Bersama Keiichiro Iori-
-END-
Okee semua berakhir dengan ENDING yang agak berantakan XDD
Tapi TERIMA KASIH buat yang udah baca :))














indah sekali perkataan di cerita kamu rika,
BalasHapuscerita kamu bisa menghanyutkan hati ku,
hatiku bagaikan kapas yang terombang ambing di udara yang luas
kenapa tau namaku?
Hapushahaa terima kasih terima kasih :)
karena aku adalah hikaru nakamura..
Hapuswkkwkwkwkwk..
:D
lebay ya perkataan ku di atas..
Hapuswkwkwkw,,
baru baru belajar menggunakan bahasa yang tinggi..
wkkwkw..
:D :p ^,^
kayaknya aku ngomong sendiri yaa..
Hapuswkkwkwk..
kalau gitu berusaha menghibur diri..
ehm ehm..
( nagano ) : haaii ada orang di sini??
ehem ehem ..
Hapus(yuta) : ada, hallo anda siapa yang..*dare*?
saya kesepian disini..
(nagano) : kesepian yaa, mendingan naik gedung trus loncat kebawah..
Hapuskwkwkwkkw..
aisshh bosan nyaa,kayak gk ada kerjaan aja saya nhii,,
wkkwkwkw...
^,^
oh ya blog Rika bagus banget..
^.^
terima kasih pujiannya Partnert, Hikaru-san :D ahhaha
Hapuskau kebanyakan komment, berisik! wkwkkw
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuskyahh ini ceritanya bagus banget :3
BalasHapuskeep on writing ne :Dd
terima kasih ^_^
Hapusiya, aku akan terus berjuang :D