Tittle : Ai Kotoba ~Kimi ga suki de, Aishite Kurete, Konna Kitte, Naite Kurete, Arigatou~ Part 2
Genre :
Romance, Mysterious
Author :
Kazue Hara
Character :
·
Johnny's Jr [Fujita Yuuya, Hanawa Daiki, Chida
Kyohei, Kawaguchi Yuu, Wakiyama Rei, Takahashi Saneyasu, Tanaka Seiji, Yamagata
Yuki]
·
OC [Harukawa Mana, Matsumoto Reina]
__________
愛ことば「君が好きで、愛してくれて、こんなきって、ないてくれて、ありがとう」
@chdkyhei
Johnny's
Jr Fanfic Book
.
.
Past
"Kenapa
semua anak laki-laki itu menyebalkan!"
Kau
biarkan dirimu berlari tanpa arah
.
Kau
yang kehilangan rasa percaya
Kau
yang menangis di sepanjang jalan itu
Basah
Air
mata yang menetes di pipimu
Kau
benar-benar merasa kecewa? Sedih?
Menangislah
Aku
ulurkan tanganku untukmu
Lihatlah
wajah yang sekarang kau ingin lihat
Menatap
matamu
"ayo,
ikut aku..."
"hosh...hosh...hosh...
Ka-wa-gu-chi!!!!!!!!" teriakan yang sangat keras saat itu di sebuah rumah.
Dengan cepat pintu itu segera di buka
dari dalam. "ada apa?" tanya seseorang yang keluar dari dalam ruangan
itu. Ia masih menggantung sisir di rambutnya yang cukup tebal. Chida dengan
nafas terengah engah hanya diam dengan tubuh penuh rasa panik. Pikirannya
bercampur aduk dari segala arah. Matanya berair.
"kau itu kenapa menangis! Laki-laki
woy!" bentak lelaki bernama Kawaguchi Yuu. Ia menyisir perlahan rambutnya
sambil menatap aneh temannya.
Chida mengambil nafas nya sedikit agak
dalam. "Mana, membenciku!" ucapnya kemudian.
Yuu memiringkan sedikit kepalanya. Lalu
tertawa. "doushita? Kalian sudah lama bersama. aku pikir...."
"aku tidak bisa.." sambungnya
memotong pembicaraan. "Kalau aku mengungkapkan perasaanku sekarang, aku
pikir dengan kelebihan yang ia miliki hanya membuat hubungannya renggang"
tambahnya kembali,
"jadi kau ingin dia kehilangan apa
yang sekarang ia miliki?"
Chida mengangguk pelan. Seolah mengerti,
Yuu memegang bahu Chida dan tertawa lebar sambil menepuk bahu tersebut.
...
Mana POV
...
Aku terbangun dari alam bawah sadarku.
Aku membuka mataku sedikit. Guncangan ringan di kepalaku yang masih terasa.
Hamparan langit yang biru di hadapanku. Tawa riang burung-burung di langit itu.
"bahagia sekali..."
Aku tersenyum sesaat. Merasakan terpaan angin
di wajahku. Hawa yang sangat dingin, kelembutan yang kurasakan. Aku seperti
telah melupakan rasa kecewa yang telah ada dalam hidupku,
Dan tiba-tiba di tengah kelembutan yang
kurasakan itu, aku mendengar suara anak kecil tertawa, manis sekali. Mendengarnya
aku lalu bangun dari tidurku. Aku baru saja menyadari dimana aku berada. Tempat
yang selama ini selalu kukunjungi dalam tidurku. Sungai kecil itu, Tapi saat
ini sungai itu terlihat sungguh berbeda. Beberapa pondok kecil, Rerumputan yang
masih hijau, Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar, tak ada bangunan besar diatas
sana, Tak ada kendaraan juga tak ada jalan setapak. Sungai kecil yang masih
bersih.
Sambil melihat kesekeliling itu, aku
dikagetkan oleh sesuatu yang meletus di wajahku. Aku lalu memeganginya.
Merasakan sebuah gelembung sabun yang wangi sekali. Dengan cepat aku segera
menoleh dari kumpulan gelembung sabun yang berterbangan itu.
Dari balik tangan yang perlahan ku geser
untuk memperjelas pandanganku, aku melihat dua sosok anak kecil, eh, itu
seperti anak tiga atau dua tahun dibawahku. Gadis yang cantik dengan dress
pink, dan seorang anak laki-laki dengan pakaian sekolahnya. Mereka membuat
gelembung sabun di sebuah pondok kecil tersebut. Gadis itu menghembuskannya.
Berulang kali gagal, dan ketika berhasil, anak laki-laki disebelahnya selalu
bertepuk tangan dan mengatakan sesuatu yang tak jelas oleh pendengaranku.
...siapa
mereka...
"wakki-sama, coba kau yang meniup
balon itu" sahut gadis kecil itu. Ia memberikan tangkai peniup nya pada
lelaki yang ia panggil dengan sebutan 'sama' itu.
"hai~" dengan ramah lelaki itu
mengambil dan menghembuskannya. Hingga berbentuk sebuah balon sabun yang besar.
"Sugoooooiiiii!" teriak gadis
itu sambil meloncat-loncat kegirangan.
Entah bagaimana melihat mereka bereaksi
seperti itu, aku jadi ingat saat-saat aku belum bertengkar dengan Hanada, Walau
kami hanya bertemu sejak kelas 1 SMP dan berpisah ketika akhir kelas 2 SMP,
tapi rasa persahabatan kami sangat kuat. Tertawa bersama dan mengalami semua
yang tidak sanggup dialami anak seusia kami.
Mataku yang berbinar tiba-tiba saja
mengubah pandanganku, mengubah wajah mereka seperti wajah kami.
"Hanada, hari ini kau tak pulang
dulu? seperti mengganti baju sekolah mu?" tanya gadis kecil yang
samar-samar terlihat seperti diriku itu.
"Kalau aku pulang, aku sudah harus
membantu ibu. Sekarang, selagi aku diluar kita puaskan main bersama!"
jelasnya.
Aku seperti mengangguk dengan ajakan itu,
meraih tangan Hana dan menarik nya ke sekeliling sungai. Mereka berdua yang sepertinya
tak menyaksikan keberadaanku, berputar dan hanya lewat begitu saja. Tertawa
yang tulus, bahagia, dan sangat lucu itu.
Perlahan aku memegangi dadaku. Ada
detakan keras dari dalam. Dan aku seperti ingin menangis.
"Mana-chan,
Gomennasai!"
"doushita,
Hanada?"
"Ada
suatu hal yang ingin kukatakan, tapi tolong jangan membenciku. Aku juga baru
saja menyadarinya"
"kita
berteman, kan? Untuk apa aku marah denganmu? Apa itu?"
"Janji
ya...."
"iya!"
"Sebenarnya,
alasan ayahmu tak pulang itu, sudah memiliki istri lain di luar sana. Dan itu,
ternyata adalah.. ibuku.."
Mendengar kata-kata itu aku yang pada
awalnya, hanya bersikap sedikit tenang. Walau ketika saat itu, tepat dimana
rasanya jantungku berdenyut sangat cepat, dan aku seperti tak berada dalam
kehidupan. Tanganku bergetar. Tapi di depannya aku berusaha tenang dan
tersenyum. Sambil menepuk bahunya, "itu bukan salahmu.."
kata-kata yang perlahan membuat kami semakin renggang, dan jauh lebih renggang.
Hingga ketika kelas 3 SMP, saat dimana ia memilih untuk pindah sekolah dan
kemudian kami tak pernah bertemu lagi. Jarak yang jauh, membuatku semakin
membencinya karena perasaan tenang yang berbalik dengan rasa kecewa. Aku mulai
melupakan senyuman dan kebahagiaan itu. Hidup sebagai orang yang menyendiri dan
membiarkan ketakutan dari apa yang menghantuiku setiap hari.
"ah...."
Aku kaget pada satu hal. Aku mengangkat
kepalaku dan melihat ke arah depan. Masih di tempat yang sama. Namun aku sama
sekali tak mendengar suara apapun di sekitarku. "dimana mereka?"
pikirku.
Menanyakan itu, tiba-tiba saja aku
merasakan sebuah arwah kembali mendekat kearahku. Angin yang membuatku
merinding. "dimana? di belakang? depan? Kanan atau Kiriku?" ucapku
dengan nada keras. Roh itu seperti mengelilingi tubuhku Dan berdiri pada satu
garis. Di depan!
Aku merasakan hal yang jelas sekali.
"apa maksudmu dengan semua
ini?" tanyaku.
Perlahan roh itu menampakkan kembali
wujudnya. Matanya yang sipit dan alisnya yang rebah sangat manis itu, ia
tersenyum padaku. "sekarang, apa kau sudah paham, maksudku?" tanyanya
balik padaku.
"siapa dua orang itu? Kenapa mereka
tiba-tiba menghilang? Dimana sungai yang tak terurus dulu? Kenapa menjadi
tempat yang sunyi dan terawat seperti ini? Siapa kau?" Aku menatapnya
dengan wajah yang sedikit agak panik.
"Mereka bukan menghilang, tapi
mereka dipisahkan, mereka sama-sama kehilangan arah dan tidak tau bagaimana
cara untuk kembali kemari. Aku, Wakiyama Rei" jelasnya.
Wakiyama
Rei?
Wakki-sama?
...
kau...
"Iya, bocah itu aku, sebelum aku
menjadi seperti ini" tambahnya kembali.
"bisa kau jelaskan sesuatu
padaku?"
Ia mengangguk pelan. Lalu berusaha duduk
di depanku. Menatap mataku seolah pembicaraan itu adalah yang terpenting
baginya.
"Pertemuan kami yang sementara,
gadis yang sudah lama kuinginkan. Aku mengira, ia yang lebih dulu pergi dariku.
Penyakitnya di tahun itu, membuat semua orang menjauhinya. Wajahnya berubah
menjadi sangat keriput. Penyakit menular, tapi aku selalu menungguinya di rumah
sakit. Hari itu, 3 hari sebelum ulangtahunnya. Aku menghilang beberapa minggu,
menuju kota, bekerja untuk memberikan sebuah hadiah. Kotak kecil, berisikan bel
emas. Bel dengan suara yang menarik. Aku yakin dia sangat menyukainya. Aku
berharap ketika mendapatkannya, ia bisa melupakan rasa sakitnya. Tapi hari itu,
aku....." ia menghentikan pembicaraannya. Menundukkan wajahnya. Aku yakin
dia ingin mengatakan kalau saat itu ia meninggal, tapi ia sama sekali tak
terlihat bersedih. Memikirkan sesuatu.
"setelah itu, ada apa?" tanyaku
Ia menggelengkan kepalanya dan kembali
melihatku. "aku sudah tak ingat apa-apa. Ketika sadar, aku melihat semua
orang yang datang beramai di rumahku. Mereka tak melihatku walau aku bersorak.
Menyentuh merekapun aku tak bisa. Dan kemudian aku melihat gadis itu, diatas
kursi roda, Pakaian rumah sakitnya, dan hanya mengeluarkan air mata. sambil
mengatakan, kau kemana saja? kenapa meninggalkanku? apa kau juga ingin sama
seperti yang lainnya? kau berbeda, tapi kemana saja kau? ucapnya. Aku tidak tau, aku berusaha
menemuinya yang sekarang sudah sehat setelah menjalani operasi, tapi ia tak
melihatku. Rasanya menyedihkan, makanya saat ini aku mengikutimu. Aku tau kau
bisa membantuku."
"Jadi sekarang kau ingin aku
memberikan kotak itu padanya, dan mengatakan kalau sekarang kau
bersamaku?" gumamku. Aku mulai mengerti dengan penjelasannya. Tapi, ia
menambahkan beberapa kata lainnya, "dia sekarang, sudah memiliki seorang
penggantiku.."
"siapa gadis yang kau maksud?"
"Namanya, Matsumoto Reina. Dia adik
kelasmu. Dan pacarnya itu, Fujita Yuuya, Orang yang berada dikelasmu"
...Fujita
...Yuuya?
...Yuuya?
Aku terdiam seketika.
Rasa keras pada diriku yang benar-benar
ingin membantunya. Gempalan tanganku... lupakan soal Chida! Akupun juga harus
berkorban dengan roh yang ini. Setelah ini, aku benar-benar ingin kehilangan
semuanya.
Aku menunduk dan menggepalkan tanganku.
Saat itu, aku biarkan langit mulai berputar gelap. Dan semakin gelap. Diriku
yang mulai tergerak. Dan kembali!
...
Normal POV
...
"hoooooi, siapapun yang diluar, bisa
tolong aku?" seseorang berteriak dari arah dalam. Menabrak pintu.
Mana terbangun dari tidurnya. Dirinya
terlihat tergeletak di koridor sekolah. Suasana malam yang sangat gelap, hanya
terlihat lampu-lampu ruangan. Dan tak ada siapapun. Ia segera bangkit, dan
merasakan suatu teriakan dari arah yang tak jauh dari tempatnya. Tanpa
memikirkan ia sedang berada dimana, dengan langkah yang tertatih-tatih itu, ia
mengikuti suara tersebut.
"YamaG?" ucapnya. Sosok orang
yang sangat ia kenal itu baru saja keluar dari ruangan kelasnya. Wajahnya
berkeringat.
"Apa yang terjadi?" tanya Mana
kembali.
"ada dendam apa para hantu
bergentayangan itu padaku, hah?" jawabnya
"hantu? hantu apa? aku tidak melihat
apapun"
"aku piket hari ini. Ketika pulang,
pintu itu terkunci lagi. Ada beberapa orang dari luar yang terdengar tertawa,
dan menahannya dari luar. Tawa anak perempuan. Kalau manusia, tidak mungkin
rela mengunciku sampai jam segini" jelasnya.
Mana melihat anak laki-laki di depannya
itu. Rambutnya berantakan dan mukanya lusuh sekali. "tidak apa-apa,
mungkin saja mereka menyukaimu" balas Mana.
"ayo, pulang. Hanada!" raih
Mana pada tangan kanan lelaki itu. "Hanada?" YamaG terdiam.
Ditatapnya gadis itu dengan wajah sedikit membingungkan,
"ah, maaf. Maksudku YamaG!"
"apa kau, memikirkan Hanada?"
"sudahlah, lupakan"
........................................
__________
Hari-hari pun mulai berlalu setelah itu.
Kehidupan Mana yang mulai berubah. Dirinya yang sudah bangkit dari kesendirian.
Lebih memilih untuk sering bersama Yamagata. Dan melakukan pencariannya
terhadap gadis bernama Matsumoto Reina tersebut. Berulang kali ia menanyakan
kepada orang-orang dimana gadis itu, tak ada yang mengetahui. Begitupun pada
Fujita Yuuya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu,
Hari ini adalah hari libur. Mana yang
masih terduduk di atas tempat tidur nya dengan rambut yang belum ia bereskan.
Ia masih saja mengutak-atik ponselnya. Melakukan pencarian terhadap anak-anak
sekolah se-kotanya. Dan kali ini sudah daftar ke 2.500 lebih siswa yang ia
lacak. Masih belum tertera nama yang ia inginkan.
Sudah pukul 11 siang. Cahaya matahari
yang hampir terangkat. Tapi walau terlihat sedang mencari sesuatu, Mana masih
belum ada pada kesadarannya. Matanya tergerak menutup dan terbuka. Masih ada
raut tidur yang ia bawa. Tubuhnya sedikit melemas. Jendela kamar yang masih ia
biarkan tertutup itu.
Gadis
itu..
Apa normalnya, ia masih ada di dunia?
Apa normalnya, ia masih ada di dunia?
Mana pun menutup kembali ponselnya. Mulai
menyeka matanya yang berair bekas melihat layar ponsel yang terlalu terang. Ia
membuka selimut dan bergerak untuk berdiri dari kasurnya. Berjalan dan melewati
pintu. Kemudian ia sadari bahwa tak ada siapapun di rumahnya. Ia turun menuju
lantai satu dan melihat sebuah surat kecil tertera di atas meja. Ia segera mengambil
itu. Tulisan sang ibu yang seperti nya memang ditujukan untuknya.
"Ibu,
akan segera pulang!"
"kemana Ibu?" pikirnya. Lalu
memasukkan kertas itu ke dalam sakunya. Bergegas untuk segera mandi. Hingga
setelah itu ia melakukan kebiasaan yang membosankan selama hari libur. Seperti
makan sendirian, membersihkan rumah, mengerjakan tugas, dan biasanya ia yang
melanjutkan kembali untuk tidur. Akan tetapi hari ini, ia tak mengerjakan tugas
dan membersihkan rumah. Ia memilih untuk tetap pada pencariannya di depan
ponsel. Ia menemukan banyak sekali nama dan data-data tentang mereka, tapi tak
ada satupun yang menunjukkan tentang keberadaan orang yang dimaksudkan roh
tersebut. Dengan wajah sedikit agak bosan, iapun mengotak-atik komputernya.
Mulai dari website yang ia punya hingga beberapa pencarian lainnya.
Dan ketika membuka website
terakhir, ada satu pesan dari temannya Chida. Kawaguchi Yuu.
"Harukawa-chan, hari ini libur? Mau
keluar bersama?" tulisnya.
Mungkin
jika keluar, bisa lebih banyak membantu..
Baiklah.
Mana membalas pesan itu dan bergegas
untuk mengganti bajunya. Ia merapikan rambutnya dan berjalan keluar. Tampak
sosok Kawaguchi Yuu, lelaki yang tak akrab dengannya itu sedang menungguinya.
Mana sepertinya mengetahui kalau ia pasti ingin membantu Chida. Lelaki yang
belakangan ini sudah tak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi, ada kemungkinan
Mana ingin memanfaatkannya untuk meminta bantuan.
Komplek-komplek yang ia jalani bersama.
Daun yang berguguran di sepanjang jalan. Tak ada yang hendak memulai
pembicaraan. Walaupun berulang kali Mana melihat sedikit ke arah lelaki yang di
sebelahnya. Lelaki itu hanya diam dan sepertinya tak ingin mengatakan sesuatu.
Akhirnya Mana memilih untuk memulai percakapan. Dan tentu saja to the point.
"Kau pernah kenal dengan Fujita Yuuya? Yang sekelas denganku?"
tanyanya
Yuu membuka mata nya seperti mendengar
sebuah pertanyaan yang harus ia jawab. "iya, dia teman se-timku di sepak
bola sekolah" balasnya.
"Kau tau, dia berpacaran dengan
siapa saja?"
Yuu kemudian berpikir. "hmm..
sepertinya dia tidak pernah terbuka dengan siapapun. Yang kutau dia dekat
dengan semua orang."
"Jadi kau tak mengetahui dia lebih
dekat dengan siapa?"
"tidak, tapi sudah beberapa bulan
yang lalu dia selalu bermain dengan Takahashi Saneyasu dan Tanaka Seiji.
Padahal mereka beda kelas dan bukan bagian dari tim"
...siapa itu?
Mana mengangguk dan tak menanyakan apapun lagi. Ia teringat pada roh yang waktu lalu selalu menemuinya. Tetapi sejak saat itu ia menghilang dan sudah tak kembali mengganggu lagi. "aku butuh lelaki itu. Aku tak bisa mencarinya sendiri" pikirnya. Dan tiba-tiba Mana kembali mengangkat kepalanya. "kalau begitu, kau tau dimana Fujita Yuuya tinggal? Tolong bawa aku kesana" ujarnya. Yuu yang sepertinya tak ingin tau apapun yang sedang Mana bicarakan, hanya patuh dan membawanya berbalik arah.
Saat itu setiba nya di depan sebuah
rumah, Yuu menunjuk bagian rumah kecil yang terdapat dari dua blok itu.
"disana!". Tapi belum mulai untuk melangkah, ia melihat sosok Fujita
Yuuya yang tertawa dengan seorang dari dalam mobil. Lalu ia masuk dan mobil
tersebut berjalan. "ah.. itu dia!". Mana tanpa memikirkan banyak hal
segera menarik tangan Yuu dan berlari mengikuti mobil itu. Langkah yang ia
cepatkan tanpa harus di ketahui oleh si pemilik mobil itu membuatnya mengikuti
hingga terlalu jauh. Dari jembatan, perkotaan, hingga desa kecil. Mobil itupun
berhenti.
Air
yang mengalir
Daerah
yang sama sekali tak terurus itu
Pohon-pohonan
tua yang tak memiliki banyak dedaunan
Jalanan
setapak yang sungguh jelek
Gubuk
yang sangat tua sekali
Dan
.
.
Apa
disini...
Mana berhenti melihat sesuatu yang muncul
di depan penglihatannya. Matanya mulai terlinang dengan air. Bibirnya tak
tergerak untuk mengatakan apapun. Kemudian dengan kaget ketika menyadari
tangannya yang sudah tak menggenggam apapun. Ia segera menoleh. Sosok kawaguchi
Yuu yang telah berubah menjadi roh lelaki yang sudah lama tak berjumpa
dengannya. Lelaki bernama Wakiyama Rei itu tersenyum padanya dan mengangguk.
Saat itu Mana kembali kehilangan kesadarannya.
Lalu...
Terlintas dalam bayangannya. Sesuatu yang
ia pernah rasakan saat itu. Mana tersadar. Dirinya kembali berada di
tengah-tengah koridor sedang tergeletak. "langit-langit ruangan? Bukankah
aku sudah pernah mengalami hal ini?" pikirnya sejenak. Ia kembali bangkit.
Kejadian yang kembali terulang itu. Langkah nya menuju sosok suara dalam
ruangan itu.
Dan kali ini ia melihat dengan sangat
jelas, beberapa orang wanita yang tertawa dengan karakternya menyandari pintu
dan seseorang yang bersorak di dalamnya. Tapi ketika melihat Mana yang sedang
berdiri, gadis-gadis itu terdiam dan segera berlari pergi. "aku baru saja
melihatnya!" teriak Mana dan mencoba membuka pintu. Tapi ketika pintu itu
terbuka, bukan sosok YamaG yang ia lihat. Dia adalah...
"Hanawa-kun?"
.
.
Lelaki
yang sangat ia benci itu
Pakaian
sekolah yang berbeda
Dan
tas milik Mana yang ia sandangi di belakang.
"kenapa?"
---
-To
Be Continued-













Tidak ada komentar:
Posting Komentar