Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2014/04/13

Johnny's Jr Fanfic 「Ai Ko toba」 Part 2



Tittle                : Ai Kotoba ~Kimi ga suki de, Aishite Kurete, Konna Kitte, Naite Kurete, Arigatou~ Part 2
Genre                : Romance, Mysterious
Author              : Kazue Hara 
Character          :
·         Johnny's Jr [Fujita Yuuya, Hanawa Daiki, Chida Kyohei, Kawaguchi Yuu, Wakiyama Rei, Takahashi Saneyasu, Tanaka Seiji, Yamagata Yuki]
·         OC [Harukawa Mana, Matsumoto Reina]

                                                                                 __________
愛ことば「君が好きで、愛してくれて、こんなきって、ないてくれて、ありがとう」
@chdkyhei
Johnny's Jr Fanfic Book
.
.
Past
"Kenapa semua anak laki-laki itu menyebalkan!"  
Kau biarkan dirimu berlari tanpa arah
. 
Kau yang kehilangan rasa percaya
Kau yang menangis di sepanjang jalan itu 
Basah
 Air mata yang menetes di pipimu 
Kau benar-benar merasa kecewa? Sedih?
 Menangislah 
Aku ulurkan tanganku untukmu
 Lihatlah wajah yang sekarang kau ingin lihat 
Menatap matamu
 "ayo, ikut aku..." 

__________________________________

"hosh...hosh...hosh... Ka-wa-gu-chi!!!!!!!!" teriakan yang sangat keras saat itu di sebuah rumah.
Dengan cepat pintu itu segera di buka dari dalam. "ada apa?" tanya seseorang yang keluar dari dalam ruangan itu. Ia masih menggantung sisir di rambutnya yang cukup tebal. Chida dengan nafas terengah engah hanya diam dengan tubuh penuh rasa panik. Pikirannya bercampur aduk dari segala arah. Matanya berair.
"kau itu kenapa menangis! Laki-laki woy!" bentak lelaki bernama Kawaguchi Yuu. Ia menyisir perlahan rambutnya sambil menatap aneh temannya.

Chida mengambil nafas nya sedikit agak dalam. "Mana, membenciku!" ucapnya kemudian.
Yuu memiringkan sedikit kepalanya. Lalu tertawa. "doushita? Kalian sudah lama bersama. aku pikir...."
 
"aku tidak bisa.." sambungnya memotong pembicaraan. "Kalau aku mengungkapkan perasaanku sekarang, aku pikir dengan kelebihan yang ia miliki hanya membuat hubungannya renggang" tambahnya kembali, 
"jadi kau ingin dia kehilangan apa yang sekarang ia miliki?"
Chida mengangguk pelan. Seolah mengerti, Yuu memegang bahu Chida dan tertawa lebar sambil menepuk bahu tersebut.

...
Mana POV
...

Aku terbangun dari alam bawah sadarku. Aku membuka mataku sedikit. Guncangan ringan di kepalaku yang masih terasa. Hamparan langit yang biru di hadapanku. Tawa riang burung-burung di langit itu. "bahagia sekali..."
Aku tersenyum sesaat. Merasakan terpaan angin di wajahku. Hawa yang sangat dingin, kelembutan yang kurasakan. Aku seperti telah melupakan rasa kecewa yang telah ada dalam hidupku, 

Dan tiba-tiba di tengah kelembutan yang kurasakan itu, aku mendengar suara anak kecil tertawa, manis sekali. Mendengarnya aku lalu bangun dari tidurku. Aku baru saja menyadari dimana aku berada. Tempat yang selama ini selalu kukunjungi dalam tidurku. Sungai kecil itu, Tapi saat ini sungai itu terlihat sungguh berbeda. Beberapa pondok kecil, Rerumputan yang masih hijau, Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar, tak ada bangunan besar diatas sana, Tak ada kendaraan juga tak ada jalan setapak. Sungai kecil yang masih bersih.

Sambil melihat kesekeliling itu, aku dikagetkan oleh sesuatu yang meletus di wajahku. Aku lalu memeganginya. Merasakan sebuah gelembung sabun yang wangi sekali. Dengan cepat aku segera menoleh dari kumpulan gelembung sabun yang berterbangan itu. 

Dari balik tangan yang perlahan ku geser untuk memperjelas pandanganku, aku melihat dua sosok anak kecil, eh, itu seperti anak tiga atau dua tahun dibawahku. Gadis yang cantik dengan dress pink, dan seorang anak laki-laki dengan pakaian sekolahnya. Mereka membuat gelembung sabun di sebuah pondok kecil tersebut. Gadis itu menghembuskannya. Berulang kali gagal, dan ketika berhasil, anak laki-laki disebelahnya selalu bertepuk tangan dan mengatakan sesuatu yang tak jelas oleh pendengaranku.

...siapa mereka...

"wakki-sama, coba kau yang meniup balon itu" sahut gadis kecil itu. Ia memberikan tangkai peniup nya pada lelaki yang ia panggil dengan sebutan 'sama' itu.
"hai~" dengan ramah lelaki itu mengambil dan menghembuskannya. Hingga berbentuk sebuah balon sabun yang besar.
"Sugoooooiiiii!" teriak gadis itu sambil meloncat-loncat kegirangan. 

Entah bagaimana melihat mereka bereaksi seperti itu, aku jadi ingat saat-saat aku belum bertengkar dengan Hanada, Walau kami hanya bertemu sejak kelas 1 SMP dan berpisah ketika akhir kelas 2 SMP, tapi rasa persahabatan kami sangat kuat. Tertawa bersama dan mengalami semua yang tidak sanggup dialami anak seusia kami.
Mataku yang berbinar tiba-tiba saja mengubah pandanganku, mengubah wajah mereka seperti wajah kami.
 
"Hanada, hari ini kau tak pulang dulu? seperti mengganti baju sekolah mu?" tanya gadis kecil yang samar-samar terlihat seperti diriku itu.
"Kalau aku pulang, aku sudah harus membantu ibu. Sekarang, selagi aku diluar kita puaskan main bersama!" jelasnya.
Aku seperti mengangguk dengan ajakan itu, meraih tangan Hana dan menarik nya ke sekeliling sungai. Mereka berdua yang sepertinya tak menyaksikan keberadaanku, berputar dan hanya lewat begitu saja. Tertawa yang tulus, bahagia, dan sangat lucu itu. 

Perlahan aku memegangi dadaku. Ada detakan keras dari dalam. Dan aku seperti ingin menangis.

"Mana-chan, Gomennasai!"
"doushita, Hanada?"
"Ada suatu hal yang ingin kukatakan, tapi tolong jangan membenciku. Aku juga baru saja menyadarinya"
"kita berteman, kan? Untuk apa aku marah denganmu? Apa itu?"

"Janji ya...."
"iya!"

"Sebenarnya, alasan ayahmu tak pulang itu, sudah memiliki istri lain di luar sana. Dan itu, ternyata adalah.. ibuku.."

Mendengar kata-kata itu aku yang pada awalnya, hanya bersikap sedikit tenang. Walau ketika saat itu, tepat dimana rasanya jantungku berdenyut sangat cepat, dan aku seperti tak berada dalam kehidupan. Tanganku bergetar. Tapi di depannya aku berusaha tenang dan tersenyum. Sambil menepuk bahunya, "itu bukan salahmu.." kata-kata yang perlahan membuat kami semakin renggang, dan jauh lebih renggang. Hingga ketika kelas 3 SMP, saat dimana ia memilih untuk pindah sekolah dan kemudian kami tak pernah bertemu lagi. Jarak yang jauh, membuatku semakin membencinya karena perasaan tenang yang berbalik dengan rasa kecewa. Aku mulai melupakan senyuman dan kebahagiaan itu. Hidup sebagai orang yang menyendiri dan membiarkan ketakutan dari apa yang menghantuiku setiap hari.
 
"ah...."
Aku kaget pada satu hal. Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah depan. Masih di tempat yang sama. Namun aku sama sekali tak mendengar suara apapun di sekitarku. "dimana mereka?" pikirku.

Menanyakan itu, tiba-tiba saja aku merasakan sebuah arwah kembali mendekat kearahku. Angin yang membuatku merinding. "dimana? di belakang? depan? Kanan atau Kiriku?" ucapku dengan nada keras. Roh itu seperti mengelilingi tubuhku Dan berdiri pada satu garis. Di depan!
Aku merasakan hal yang jelas sekali. 

"apa maksudmu dengan semua ini?" tanyaku.
Perlahan roh itu menampakkan kembali wujudnya. Matanya yang sipit dan alisnya yang rebah sangat manis itu, ia tersenyum padaku. "sekarang, apa kau sudah paham, maksudku?" tanyanya balik padaku.

"siapa dua orang itu? Kenapa mereka tiba-tiba menghilang? Dimana sungai yang tak terurus dulu? Kenapa menjadi tempat yang sunyi dan terawat seperti ini? Siapa kau?" Aku menatapnya dengan wajah yang sedikit agak panik.
 
"Mereka bukan menghilang, tapi mereka dipisahkan, mereka sama-sama kehilangan arah dan tidak tau bagaimana cara untuk kembali kemari. Aku, Wakiyama Rei" jelasnya.

Wakiyama Rei?
Wakki-sama?
...
kau...

"Iya, bocah itu aku, sebelum aku menjadi seperti ini" tambahnya kembali.
"bisa kau jelaskan sesuatu padaku?"

Ia mengangguk pelan. Lalu berusaha duduk di depanku. Menatap mataku seolah pembicaraan itu adalah yang terpenting baginya.

"Pertemuan kami yang sementara, gadis yang sudah lama kuinginkan. Aku mengira, ia yang lebih dulu pergi dariku. Penyakitnya di tahun itu, membuat semua orang menjauhinya. Wajahnya berubah menjadi sangat keriput. Penyakit menular, tapi aku selalu menungguinya di rumah sakit. Hari itu, 3 hari sebelum ulangtahunnya. Aku menghilang beberapa minggu, menuju kota, bekerja untuk memberikan sebuah hadiah. Kotak kecil, berisikan bel emas. Bel dengan suara yang menarik. Aku yakin dia sangat menyukainya. Aku berharap ketika mendapatkannya, ia bisa melupakan rasa sakitnya. Tapi hari itu, aku....." ia menghentikan pembicaraannya. Menundukkan wajahnya. Aku yakin dia ingin mengatakan kalau saat itu ia meninggal, tapi ia sama sekali tak terlihat bersedih. Memikirkan sesuatu.

"setelah itu, ada apa?" tanyaku
Ia menggelengkan kepalanya dan kembali melihatku. "aku sudah tak ingat apa-apa. Ketika sadar, aku melihat semua orang yang datang beramai di rumahku. Mereka tak melihatku walau aku bersorak. Menyentuh merekapun aku tak bisa. Dan kemudian aku melihat gadis itu, diatas kursi roda, Pakaian rumah sakitnya, dan hanya mengeluarkan air mata. sambil mengatakan, kau kemana saja? kenapa meninggalkanku? apa kau juga ingin sama seperti yang lainnya? kau berbeda, tapi kemana saja kau?  ucapnya. Aku tidak tau, aku berusaha menemuinya yang sekarang sudah sehat setelah menjalani operasi, tapi ia tak melihatku. Rasanya menyedihkan, makanya saat ini aku mengikutimu. Aku tau kau bisa membantuku."

"Jadi sekarang kau ingin aku memberikan kotak itu padanya, dan mengatakan kalau sekarang kau bersamaku?" gumamku. Aku mulai mengerti dengan penjelasannya. Tapi, ia menambahkan beberapa kata lainnya, "dia sekarang, sudah memiliki seorang penggantiku.."

"siapa gadis yang kau maksud?"

"Namanya, Matsumoto Reina. Dia adik kelasmu. Dan pacarnya itu, Fujita Yuuya, Orang yang berada dikelasmu"

...Fujita
...Yuuya?

Aku terdiam seketika.
Rasa keras pada diriku yang benar-benar ingin membantunya. Gempalan tanganku... lupakan soal Chida! Akupun juga harus berkorban dengan roh yang ini. Setelah ini, aku benar-benar ingin kehilangan semuanya.
Aku menunduk dan menggepalkan tanganku. Saat itu, aku biarkan langit mulai berputar gelap. Dan semakin gelap. Diriku yang mulai tergerak. Dan kembali!

...

Normal POV
...

"hoooooi, siapapun yang diluar, bisa tolong aku?" seseorang berteriak dari arah dalam. Menabrak pintu.
Mana terbangun dari tidurnya. Dirinya terlihat tergeletak di koridor sekolah. Suasana malam yang sangat gelap, hanya terlihat lampu-lampu ruangan. Dan tak ada siapapun. Ia segera bangkit, dan merasakan suatu teriakan dari arah yang tak jauh dari tempatnya. Tanpa memikirkan ia sedang berada dimana, dengan langkah yang tertatih-tatih itu, ia mengikuti suara tersebut.

"YamaG?" ucapnya. Sosok orang yang sangat ia kenal itu baru saja keluar dari ruangan kelasnya. Wajahnya berkeringat.
"Apa yang terjadi?" tanya Mana kembali.
"ada dendam apa para hantu bergentayangan itu padaku, hah?" jawabnya
"hantu? hantu apa? aku tidak melihat apapun"

"aku piket hari ini. Ketika pulang, pintu itu terkunci lagi. Ada beberapa orang dari luar yang terdengar tertawa, dan menahannya dari luar. Tawa anak perempuan. Kalau manusia, tidak mungkin rela mengunciku sampai jam segini" jelasnya.
Mana melihat anak laki-laki di depannya itu. Rambutnya berantakan dan mukanya lusuh sekali. "tidak apa-apa, mungkin saja mereka menyukaimu" balas Mana.

"ayo, pulang. Hanada!" raih Mana pada tangan kanan lelaki itu. "Hanada?" YamaG terdiam. Ditatapnya gadis itu dengan wajah sedikit membingungkan,
"ah, maaf. Maksudku YamaG!"

"apa kau, memikirkan Hanada?"
"sudahlah, lupakan"
........................................

__________

Hari-hari pun mulai berlalu setelah itu. Kehidupan Mana yang mulai berubah. Dirinya yang sudah bangkit dari kesendirian. Lebih memilih untuk sering bersama Yamagata. Dan melakukan pencariannya terhadap gadis bernama Matsumoto Reina tersebut. Berulang kali ia menanyakan kepada orang-orang dimana gadis itu, tak ada yang mengetahui. Begitupun pada Fujita Yuuya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu,

Hari ini adalah hari libur. Mana yang masih terduduk di atas tempat tidur nya dengan rambut yang belum ia bereskan. Ia masih saja mengutak-atik ponselnya. Melakukan pencarian terhadap anak-anak sekolah se-kotanya. Dan kali ini sudah daftar ke 2.500 lebih siswa yang ia lacak. Masih belum tertera nama yang ia inginkan.
Sudah pukul 11 siang. Cahaya matahari yang hampir terangkat. Tapi walau terlihat sedang mencari sesuatu, Mana masih belum ada pada kesadarannya. Matanya tergerak menutup dan terbuka. Masih ada raut tidur yang ia bawa. Tubuhnya sedikit melemas. Jendela kamar yang masih ia biarkan tertutup itu.


Gadis itu..
Apa normalnya, ia masih ada di dunia?

Mana pun menutup kembali ponselnya. Mulai menyeka matanya yang berair bekas melihat layar ponsel yang terlalu terang. Ia membuka selimut dan bergerak untuk berdiri dari kasurnya. Berjalan dan melewati pintu. Kemudian ia sadari bahwa tak ada siapapun di rumahnya. Ia turun menuju lantai satu dan melihat sebuah surat kecil tertera di atas meja. Ia segera mengambil itu. Tulisan sang ibu yang seperti nya memang ditujukan untuknya. 

"Ibu, akan segera pulang!"

"kemana Ibu?" pikirnya. Lalu memasukkan kertas itu ke dalam sakunya. Bergegas untuk segera mandi. Hingga setelah itu ia melakukan kebiasaan yang membosankan selama hari libur. Seperti makan sendirian, membersihkan rumah, mengerjakan tugas, dan biasanya ia yang melanjutkan kembali untuk tidur. Akan tetapi hari ini, ia tak mengerjakan tugas dan membersihkan rumah. Ia memilih untuk tetap pada pencariannya di depan ponsel. Ia menemukan banyak sekali nama dan data-data tentang mereka, tapi tak ada satupun yang menunjukkan tentang keberadaan orang yang dimaksudkan roh tersebut. Dengan wajah sedikit agak bosan, iapun mengotak-atik komputernya. Mulai dari website yang ia punya hingga beberapa pencarian lainnya.

Dan ketika membuka website terakhir, ada satu pesan dari temannya Chida. Kawaguchi Yuu.
"Harukawa-chan, hari ini libur? Mau keluar bersama?" tulisnya.  

Mungkin jika keluar, bisa lebih banyak membantu..
Baiklah.

Mana membalas pesan itu dan bergegas untuk mengganti bajunya. Ia merapikan rambutnya dan berjalan keluar. Tampak sosok Kawaguchi Yuu, lelaki yang tak akrab dengannya itu sedang menungguinya. Mana sepertinya mengetahui kalau ia pasti ingin membantu Chida. Lelaki yang belakangan ini sudah tak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi, ada kemungkinan Mana ingin memanfaatkannya untuk meminta bantuan.

Komplek-komplek yang ia jalani bersama. Daun yang berguguran di sepanjang jalan. Tak ada yang hendak memulai pembicaraan. Walaupun berulang kali Mana melihat sedikit ke arah lelaki yang di sebelahnya. Lelaki itu hanya diam dan sepertinya tak ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya Mana memilih untuk memulai percakapan. Dan tentu saja to the point. "Kau pernah kenal dengan Fujita Yuuya? Yang sekelas denganku?" tanyanya
Yuu membuka mata nya seperti mendengar sebuah pertanyaan yang harus ia jawab. "iya, dia teman se-timku di sepak bola sekolah" balasnya.

"Kau tau, dia berpacaran dengan siapa saja?"
Yuu kemudian berpikir. "hmm.. sepertinya dia tidak pernah terbuka dengan siapapun. Yang kutau dia dekat dengan semua orang."
"Jadi kau tak mengetahui dia lebih dekat dengan siapa?"
"tidak, tapi sudah beberapa bulan yang lalu dia selalu bermain dengan Takahashi Saneyasu dan Tanaka Seiji. Padahal mereka beda kelas dan bukan bagian dari tim"

...siapa itu?


Mana mengangguk dan tak menanyakan apapun lagi. Ia teringat pada roh yang waktu lalu selalu menemuinya. Tetapi sejak saat itu ia menghilang dan sudah tak kembali mengganggu lagi. "aku butuh lelaki itu. Aku tak bisa mencarinya sendiri" pikirnya. Dan tiba-tiba Mana kembali mengangkat kepalanya. "kalau begitu, kau tau dimana Fujita Yuuya tinggal? Tolong bawa aku kesana" ujarnya. Yuu yang sepertinya tak ingin tau apapun yang sedang Mana bicarakan, hanya patuh dan membawanya berbalik arah.
Saat itu setiba nya di depan sebuah rumah, Yuu menunjuk bagian rumah kecil yang terdapat dari dua blok itu. "disana!". Tapi belum mulai untuk melangkah, ia melihat sosok Fujita Yuuya yang tertawa dengan seorang dari dalam mobil. Lalu ia masuk dan mobil tersebut berjalan. "ah.. itu dia!". Mana tanpa memikirkan banyak hal segera menarik tangan Yuu dan berlari mengikuti mobil itu. Langkah yang ia cepatkan tanpa harus di ketahui oleh si pemilik mobil itu membuatnya mengikuti hingga terlalu jauh. Dari jembatan, perkotaan, hingga desa kecil. Mobil itupun berhenti. 

Air yang mengalir

Daerah yang sama sekali tak terurus itu
Pohon-pohonan tua yang tak memiliki banyak dedaunan
Jalanan setapak yang sungguh jelek
Gubuk yang sangat tua sekali
Dan
.
.
Apa disini...

Mana berhenti melihat sesuatu yang muncul di depan penglihatannya. Matanya mulai terlinang dengan air. Bibirnya tak tergerak untuk mengatakan apapun. Kemudian dengan kaget ketika menyadari tangannya yang sudah tak menggenggam apapun. Ia segera menoleh. Sosok kawaguchi Yuu yang telah berubah menjadi roh lelaki yang sudah lama tak berjumpa dengannya. Lelaki bernama Wakiyama Rei itu tersenyum padanya dan mengangguk. Saat itu Mana kembali kehilangan kesadarannya.

Lalu...
Terlintas dalam bayangannya. Sesuatu yang ia pernah rasakan saat itu. Mana tersadar. Dirinya kembali berada di tengah-tengah koridor sedang tergeletak. "langit-langit ruangan? Bukankah aku sudah pernah mengalami hal ini?" pikirnya sejenak. Ia kembali bangkit. Kejadian yang kembali terulang itu. Langkah nya menuju sosok suara dalam ruangan itu.

Dan kali ini ia melihat dengan sangat jelas, beberapa orang wanita yang tertawa dengan karakternya menyandari pintu dan seseorang yang bersorak di dalamnya. Tapi ketika melihat Mana yang sedang berdiri, gadis-gadis itu terdiam dan segera berlari pergi. "aku baru saja melihatnya!" teriak Mana dan mencoba membuka pintu. Tapi ketika pintu itu terbuka, bukan sosok YamaG yang ia lihat. Dia adalah... 
 

"Hanawa-kun?"
.
.
Lelaki yang sangat ia benci itu
Pakaian sekolah yang berbeda
Dan tas milik Mana yang ia sandangi di belakang.

"kenapa?"
---

-To Be Continued-


 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman