Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2014/06/14

Johnny's Jr Fanfic 「Ai Kotoba」 Part 3

Tittle            : Ai Kotoba ~Kimi ga suki de, Aishite Kurete, Konna Kitte, Naite Kurete, Arigatou~ Part 3 [Ending]
Genre                : Romance, Mysterious
Author               : Kazue Hara
Character          :
·         Johnny's Jr [Fujita Yuuya, Hanawa Daiki, Chida Kyohei, Kawaguchi Yuu, Wakiyama Rei, Takahashi Saneyasu, Tanaka Seiji, Yamagata Yuki]
·         OC [Harukawa Mana, Matsumoto Reina]


愛ことば「君が好きで、愛してくれて、こんなきって、ないてくれて、ありがとう」
@chdkyhei
Johnny's Jr Fanfic Book
.
.
----------------------------------------------------

"Apa-apaan ini!?" gumam Mana menjauhkan dirinya dari sosok yang ada didepan itu. Lelaki yang sudah lama tak ingin ia temui itu, pakaian sekolah yang berbeda. Penuh keringat dan kini menatapnya lembut. "Yokatta, aku senang akhirnya kau kembali..." ujarnya seketika. Mana hanya berdiri diam menatap tas sekolah yang ia rangkul dipunggungnya.

"kau.. mencariku?" tanya Mana. Ia perlahan mencoba mengangkat kembali wajahnya dan menghilangkan rasa kesal dalam dirinya.
Hana mengangguk. "ada apa? kau kemana saja? semua orang mencarimu. Bukan hanya aku" jawabnya.
"lalu, dimana yang lain?"
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat Hana terdiam. Matanya terlihat ingin menyampaikan sesuatu yang tak sanggup ia katakan.

...
"kenapa belum mengganti baju sekolahmu?"
"tidak. Kalau aku pulang, ibu takkan memperbolehkanku keluar lagi. Ayo habiskan waktu seharian bersama"

...
"kau takkan marah bila kukatakan sesuatu?"
"kita teman, bukan?"
"ayahmu itu, ayahku.."
... 

"ayo... pulang" Mana mengulurkan tangannya pada Hana. Awalnya Hana terlihat kaget dengan perlakuan dari gadis itu. Tapi perlahan ia menghela nafas dan meraih tangan tersebut. Dengan pelan Mana kembali berbisik, "terima kasih, sudah mencemaskanku". Hana mengangguk. Dan mereka mulai berjalan sepanjang koridor.

.
.
.
Tiba-tiba saja sesuatu menghentikan langkahnya. "musik?" ucap Mana mencari-cari asal suara,

...Musik piano yang menawan...

"kau mendengar apa?" tanya Hana
"seseorang dari ruang musik.."
"jam segini? Tidak mungkin"
"aku dengar!" Mana berjalan menarik tangan Hana. Dengan cepat ia langsung menangkap asal suara itu. Dan kemudian berhenti di depan ruangan kecil di sudut ruangan. Ia mengintip dari balik kaca. Tampak olehnya dua orang anak kecil yang tadi siang ia lihat, "wakki-sama? Reina?" bisiknya.

"wakki-sama, ajarkan aku musik ini!" pinta gadis itu.
"tentu saja. Kau bisa baca not angka didepan sana dan akan kutunjukkan angka itu seharusnya berada dimana. Sebenarnya tidak begitu sulit"
"souka.. aku tidak begitu paham" cetus gadis itu. Ia duduk disebelah wakki dan menyipitkan matanya untuk melihat tulisan di atas kertas tersebut.

"kawaii na~" ujar Mana perlahan.
Hana lalu mendekatkan dirinya kearah kaca, "Itu, Chida?"
Kata-kata yang membuat Mana kaget dan melihat kearah Hana. Musik masih teralun indah yang baru saja ia dengar. "apa maksudmu?" ia kembali melihat ke dalam ruangan. Dan tepat, dua orang tadi menghilang. Sosok Chida Kyohei yang kini duduk di tempat itu. Bermain piano seperti ia sudah dapat menghafali alunan musik dengan baik.

"Chida-kun. Kenapa?" Mana menutup mulutnya. Matanya mulai berbinar-binar dan pada akhirnya ia berlari pergi meninggalkan ruangan itu.

Hingga berada di luar dengan keadaan malam yang gelap, Cahaya lampu ruangan yang menerangi tiap sudut ruangan. Dirinya seperti tak inginkan apapun dan berlari dengan Hana yang mengejarnya terus dibelakang. Semakin mendekat dan Hana menarik tangannya untuk berhenti. "ada apa antara dirimu dengan Chida? Bukankah kalian dekat?"
"kenapa kau mengetahuinya?" tanya Mana menatap lelaki itu.
Hana melepas tangan Mana dan menundukkan wajahnya. Ia hanya diam. Tak sepatah katapun yang tersampaikan dalam ucapannya.

"ada apa dengan anak ini?"
.
.
Akhirnya Mana meraih kembali tangan itu dan berjalan menuju pintu keluar. Ia yang semakin hari semakin dihantui oleh Wakiyama Rei. Semakin berada dalam permainannya. Satu cara menghentikannya, hanya mempertemukannya kembali dengan gadis yang bernama Reina itu.

Di malam itu Mana membuka matanya. Pakaian sekolah yang belum ia ganti. Ia biarkan tubuhnya tergeletak diatas tempat tidur. Angin malam yang menerbangkan tirai-tirainya. Mulai terbuka dan tertutup. Hanya cahaya bulan yang saat itu menyinari kamarnya. Gelap, seperti yang ia rasakan. Tetapi ia hanya diam begitu saja. Dan tiba-tiba ia tersadar. "Tempat yang kemarin kudatangi bersama kawaguchi yuu? Lelaki yang bernama Fujita yuuya itu pasti mengetahui sesuatu, kan?" pikirnya, Ia bangkit dari tidurnya dan menghela nafas, Kembali diraihnya ponselnya diatas meja kecil disudut tempat tidurnya. Ia membukanya. Lalu mendapati pesan yang sudah lama tak terbaca olehnya.

Chida-kun?

"kenapa? lagi-lagi dia" ucap Mana. Ia ingin menutup pesan itu, Akan tetapi tangannya berat untuk klik close di layar. Dan pada akhirnya ia membukanya.

"Kau masih kesal denganku? Apa yang bisa kulakukan untukmu agar kau mau memaafkanku? Aku ingin semuanya seperti biasa" tulis Chida di dalam pesan itu.
Mana menutup ponsel tersebut dan melemparnya kesisi lain. Ia menangis seketika. "Kamu bodoh!" "kapan saatnya kamu menyadari kalau selama ini aku merasa tersakiti, hah!?" kemudian ia kembali terdiam. Menghapus air matanya dan mengambil ponsel tersebut. "lupakan dia, yang terpenting harus menyelesaikan semua ini" bisiknya. Ia mengutak-atik kotak ponsel dan melakukan panggilan ke Kawaguchi Yuu.

"moshi-moshi!" angkat seseorang dalam panggilan tersebut.
"Yuu! Kau punya nomor telfon Fujita-kun atau kau bisa mengantarkanku ke tempat kemarin?" teriak Mana seketika
"ke tempat kemarin? tempat yang mana?"
"ee? bukankah kemarin kita pergi mengikuti Fujita-kun dari belakang?"
"rasanya aku tidak pernah kesana.."

Mana terdiam dan memutuskan panggilan. Tiba-tiba saja pikirannya kembali teralih pada orang yang bernama Wakiyama Rei itu. "apa mungkin....."

Mana berdiri di tempat tidurnya, Melihat ke arah lantai kamarnya. "woy! Kau ada disini kan! Dimana kau! Kau tau segalanya kan? Kalau kau ingin semuanya cepat selesai, bawa aku kesana segera!" bentaknya.

Tiba-tiba saja angin berhembus ke arah lantai kamar itu. Mana mulai merasakan aura yang kuat dan ia melihat bayangan lelaki itu. Ia berjalan kesana, tapi seketika ia mendekat tubuhnya terasa rapuh dan akhirnya ia terjatuh antara angin yang berputar mengelilinginya. Roh wakki yang perlahan mulai terlihat, berdiri di depan Mana. Ia menatap lama gadis yang tak sanggup bergerak itu. Dan dengan cepat ia mendekat dan mulai masuk ke dalamnya.

"kenapa...kau kemari?" suara Mana yang bergetar merasakan sosok tubuh lain di dalam tubuhnya. Tanpa adanya jawaban, tubuh itu bergerak dengan sendirinya, Keluar dari kamar, dan meninggalkan rumah. Mana yang semakin kehilangan kesadarannya itu, menatap jejalanan menjadi buram dan ia menghilang entah kemana.

ibu...
ayah...
Hana...
Chida-kun...

Matanya tiba-tiba saja terbuka dan melihat bayangan-bayangan orang yang sangat ia kenali itu. Bayangan mereka yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. "aku ada dimana?" pikir Mana sesaat. Melihat ibunya yang menangis itu menggenggam tangan ayahnya dari belakang. Buram, wajah ayah yang sangat buram terlihat olehnya. Hanawa yang mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dan ia melihat Chida hanya dengan sebuah piano memainkan musik yang sudah pernah ia dengarkan. Mana berjalan ke arah Chida.

"Chida-kun, musik ini..dimana kau dapatkan?" tanya Mana

Chida tak mendengar itu dan terus bermain, Air mata yang kemudian jatuh membasahi pipinya. Kemudian ketika Mana mengangkat wajahnya, ia melihat beberapa orang gadis yang duduk di lantai menyaksikan musik itu. Gadis-gadis yang tersenyum ceria namun perlahan menghilang dan tak tersisa. Lalu ia melihat Yuu yang tiba-tiba menemui Chida dan menghentikan musik itu berbunyi.

"Oi Chida, ayo bermain bersama!" soraknya sangat bahagia
"aku ingin memainkan musik ini lebih perfect lagi!" jawab Chida
"ayolah~ sebentar saja"
"baiklah~" Chidapun meninggalkan pianonya dan pergi menjauh bersama Yuu. Ia menghilang oleh sesuatu.

Hal yang seketika membuat Mana menangis, tetapi ia mendengar suara Hana dari belakang. "Nakanaide~" ucap suara tersebut. Mana menoleh cepat. Tetapi yang terlihat olehnya hanya sosok Hana dan wajah dirinya diatas frame. Kaca foto yang terlihat sangat lusuh, Hana mengelap itu dengan sapu tangan dan dibersihkan. Wajahnya terlihat sangat lembut sekali.

"ada sesuatu yang dari dulu selalu ingin kusampaikan, tapi kenapa semakin hari kau semakin menjauh. Meninggalkanku? Kau semakin membenciku. Kalau boleh memilih, aku lebih ingin tidak terlahirkan daripada lahir oleh atas ibuku dan ayahmu" ucap Hana pada foto tersebut. Yang perlahan juga mulai menghilang. Dan kemudian mendengar suara pertengkaran kedua orang tuanya. Tetapi ia tak melihat apapun itu. Tempat yang ia datangi itu mulai tertutupi cahaya dan akhirnya kembali ke tubuhnya yang semula.

Tampak dihadapannya sosok gadis yang tak pernah ia temui sebelumnya. Gadis itu cantik. Memiliki mata yang indah dan rambut yang lurus dan rapi sekali. Ia memakai sebuah kimono yang menarik. Duduk di hadapannya. Dua orang lelaki yang juga tak pernah ia temui itu, Gadis itu melihatnya. Tatapan yang sama dengan wakki.

"kenapa kau datang kemari?" tanya gadis itu.
Awalnya Mana bingung harus mengatakan apa, akhirnya ia mulai membuka mulut untuk memulai pembicaraan. "apakah kita dari sekolah yang sama? Kenapa namamu tidak ada di--"

"aku tidak pernah sekolah" balasnya seketika
"kenapa? tapi wakki-sama mengatakan kau itu....." belum selesai Mana melanjutkannya, Gadis itu kaget dan bergerak menjauh. "wakki-sama?"

"lelaki itu yang menuntun aku kemari" ucap Mana
"apa maksudmu? Dia sudah meninggal!"
"maaf, tapi aku bisa melihat hal itu, dan..apa kau sudah melupakannya?"

Gadis yang bernama Reina itu hanya memalingkan wajah dan memasang wajah kesalnya. "dia itu.. jahat!" tambahnya seketika
Kata-kata yang membuat Mana semakin menatapnya, "jahat? Kau tau kenapa dia menghilang setelah sekian lama? Dia mempersiapkan kado ulang tahunmu!"
"Darimana kau mengetahuinya. hah!?"

"Dia sendiri yang menceritakannya padaku."
Reina berubah kesadaran untuk mulai mendengarkan Mana. Waktupun mulai berlalu dengan ceritanya yang sangat panjang itu. Mana menceritakan semua kejadian yang telah ia lalui. Keinginan keras dari roh itu untuk bertemu Reina dan menyampaikan semuanya lewat suara orang yang berbeda. Seperti ia telah terbantu oleh Wakki.

"Kenapa ia hanya menemuimu? Kenapa bukan aku?" tanya Reina
Ia menggelengkan kepala. "aku tidak tau, tapi mungkin karena ia merasa aku telah melihatnya. Dan ia mengganggu ku! Aku harus segera menyelesaikan masalah ini!"

"kau tau kenapa wakki-sama pergi? Kau tau kenapa aku mencari penggantinya? Kau tau kenapa namaku sudah tidak ada dalam daftar manapun?" ujarnya seketika. Aura Reina tiba-tiba berubah sedikit agak dingin.
Hal itu membuat Mana kaget. Jangan bilang kalau gadis ini telah membuat keputusan untuk hilang dari dunia?

"Aku ingat saat itu aku sakit. Ia mengirimkan pesan padaku untuk terus berjuang. Dan ia tak memberitahuku kemana ia pergi. 3 hari aku menjalani operasi, ia saat itu tak ada. Setelah aku selesai operasi, aku mendapat telepon bahwa ia telah meninggal. Saat itu aku masih di kursi roda, tapi aku tak bisa berkata apapun. Padahal aku ingin memperlihatkan padanya kalau aku bisa sembuh dan bermain bersamanya kembali..." jelas anak itu menitikkan air mata. Ia menangis di depan sana, Dan kemudian mengambil sesuatu di dalam lemari.

"anoo.. Reina-san, kalau boleh aku mengetahuinya, kenapa wakki meninggal?"

"ah? itu, saat jalan pulang, bus nya menabrak sebuah mobil. Katanya, ada seorang bapak tua dari arah bawah. Beberapa penumpang dan bapak itu tewas di tempat. Termasuk wakki." jelasnya kembali. Mana menundukkan kepalanya mulai mengerti. Kemudian Reina mengambil sebuah kotak dari lemari. "ini, Fujita-kun yang sempat se bus dengannya dan sempat selamat, memberikan ini padaku. Katanya ia juga menemukan banyak barang-barang penting lainnya dari penumpang. Anak itu...memanfaatkan kesempatan yang ada"

Mana melihat isi kotak yang dibuka Reina. itu sebuah kalung yang cantik dan mewah sekali. Dan sebuah surat kecil di dalamnya. "apa itu?" tunjuk Mana.
"oh ini, Beberapa bait lagu, ia belum selesai menulisnya. Fujita-kun mendapatkannya terpisah dari kotak. Tapi setelah kupikir mungkin di atas bus ia sedang menyelesaikan ini.."

"apa jangan-jangan musik yang pernah di bawakan Chida?" bisiknya
"Chida?"
"bu-bukan siapa-siapa.." Ia mulai berpikir dengan ingatannya saat bersama Hanawa di sekolah. Ia melihat dua orang di depan piano, tapi kemudian berubah menjadi Chida. Pikiran yang membuat nya mulai teringat akan banyak hal.

Reina kemudian menepuk bahu Mana. "Katakan pada wakki, aku meminta maaf. Sejak kejadian itu aku mendekatkan diri pada Fujita. Karena, bagiku cuma dia yang mengerti keadaanku.."
Mana kembali menganggukkan kepalanya. "dan, kenapa namamu sudah tidak ada dalam daftar?"

"itu....."

Namun di tengah pembicaraannya, lagi-lagi suara musik itu terngiang di telinganya, Mana segera menoleh ke belakang, "Chida-kun?" pikirnya. Dan dari sisi lain Reina terdiam tertatap pada satu fokus. "wakki-sama?" bisiknya. Musik yang perlahan membuatnya berdiri dan berjalan. Meninggalkan Mana yang masih melihat ke segala arah asalnya musik itu. Tapi Reina seperti terhipnotis dan berhenti di suatu tempat.

Pertemuan dua orang yang tak ia rasakan. Mana ikut berdiri untuk melihat Reina dari kejauhan. Tubuhnya mulai bergetar.

Ada apa?
Kenapa tak melihat apapun?

Mana masih berdiri di tempat yang sama. Tempat yang perlahan mulai tergerak olehnya. Atap, dinding, lantai rumah kecil itu yang perlahan menghilang. Ia mulai merasakan hembusan angin yang kencang. Tapi jangankan untuk berlari menghindar, bergerak saja ia tak bisa. Karena yang terlihat olehnya adalah dua orang yg menghiraukannya. Mereka berdua saling bertatapan. Musik yang tergerak sendiri dan....

"MANAAAAAA!!!!!!!" teriak seseorang dari arah depan.

"chida-kun?" bisiknya. Matanya mulai bergerak kearah lain. Disaat tempat yang ia injak itu perlahan menghilang, disaat itu ia melihat sosok Chida yang berlari ke arahnya, dan mengajak pergi. Mana mengikuti lelaki itu dan membiarkannya menarik tangannya hingga keluar.

Maka, ia saksikanlah sesuatu yang tak pernah ia rasakan. Rumah, dan seluruhnya menghilang begitu saja hingga meninggalkan puing-puing kecil, Dan kemudian semuanya terlihat hampa. Mana terdiam. "apa yang terjadi?"

Tapi tak ada jawaban yang ia dapatkan. Hanya Chida yang berdiri disebelahnya. Lelaki yang sudah lama tak ia jumpai itu, melihat ke arah depan.

"Chida......" sapanya kembali
Chida menoleh dan melihatnya. "hah? Doushita?" tanyanya
"daijoubu !!"
"oh.. hai!"

Chida masih sama, ya?
Masih sama-sama belum mengerti
Bukankah seharusnya dia menanyakan kenapa
Tapi
....
Kenapa kau ada disini?

#Mana POV

Aku melihat wajahnya yang sedikit berbeda itu. Hingga kami berjalan pulang ke rumah. Ia mengantarku tanpa berbicara apapun. Dan akupun tidak bisa memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Kami berpisah ketika aku membuka pagar rumah. Ia tersenyum, membungkukkan badan dan pergi dari arahku. Sebenarnya tidak masalah jika ia seperti itu, dan aku tak ingin Chida  yang sekarang terlintas di pandanganku adalah wakiyama.Karena aku berharap masalah ini segera selesai, sehingga aku bisa memulai hidup baru.

Aku mulai berjalan ke dalam. Dan kemudian aku melihat banyak sepatu dan sendal di depan rumah, Tanpa berpikir apa-apa aku segera masuk dan menuju ruang tengah. Kagetnya saat aku melihat Hanawa bersama ibunya. Kemudian ibuku yang tampak sedang menangis itu. "kenapa?" tanyaku kaget. Aku berjalan pelan ke arah sana.

Tapi ibu segera berjalan ke arahku dan memeluk erat diriku.

"ada apa ibu? kenapa menangis?" aku melihat ke dua orang di depan sana. "ada apa?" tanyaku berulang kali.

"ibu minta maaf karena selama ini telah menyembunyikannya darimu. Kamu masih sayang ayahmu, kan?" ujar ibu
Awalnya aku menggelengkan kepala, tapi setelah mengingat diriku yang mulai bisa memaafkan semua yang terjadi, aku mengangguk dan memeluk erat ibu. "kenapa dengan ayah, bu?"

"3 tahun lalu ayamu sudah meninggal, nak" jawab ibu
"apa?"
"sebenarnya kemarin ibu keluar ingin mengunjungi makam ayahmu. Semenjak semuanya terjadi, dirimu yang sepertinya sangat membenci keluarga Hanawa, membuat ibu ingin mengatakan padamu tentang ayah. Tapi rasanya sangat berat karena ibu tak ingin kau terlalu memikirkannya. Saat 3 tahun lalu mendapatkan kabar itu, ibu sempat menangis dan tidak tau harus kemana. Ibu tak ingin kau memikirkannya, Tapi mereka berdua datang kemari, lalu Hanawa menjelaskan semuanya pada ibu. Dan...."

"Dan apa ibu!! Kenapa ibu tidak memberitahuku!!" bentakku dan melepas pelukkan ibu. Aku menangis.

"Karena ibu tau dirimu sudah tidak peduli dengan ayah. Tapi kedatangan mereka membuat ibu berubah pikiran. Maafkan ibu.."

Aku menggeleng tak percaya apapun. Ini seperti aku kehilangan seseorang yang pernah berharga dalam hidupku. Walau sempat membencinya, tapi dia tetap seorang ayah.
Akhirnya aku mengambil nafas panjang dan mulai bertanya, "3 tahun lalu.....apakah ayah ada di bus waktu kecelakaan itu?"

"kamu tau itu?"
Semua orang yang saat itu melihat ke arahku. Lalu Hanawa menjawab, "bukan, ayahmu bersama mobil yang tertabrak itu...."
Aku menghela nafas. Aku biarkan jam berdetik dan situasi yang tenang seperti itu.
.
.
.
.
.
Tapi, alasan kenapa nama Reina tidak ada di daftar,
ia belum menjelaskan padaku..

Hingga esok harinya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Aku yang sudah mulai baikan dengan Hanawa, pergi sekolah bersama. Karena tempat sekolah kami yang berbeda, di persimpangan berpisah dan aku berangkat menuju sekolah seorang diri.
Terpikir dalam benakku, kejadian yang barusaja menimpaku. Lelaki dengan wanita yang ia sukai. Kemana ia bawa Reina. Kawaguchi Yuu yang pernah membawaku ke tempat itu, dan sepertinya ia dirasuki oleh wakki. Dan kejadian antara Yamagata-kun dan Hanawa di kelas itu. Apa maksudnya?

Tiba-tiba saja langkahku berhenti. Di depan gerbang sekolah aku melihat seorang wanita menangis di depan temannya. Mendengarnya menangis, aku mulai bersembunyi untuk melihat. "Pacarnya Chida yang kemarin?" pikirku.

"Sudahlah, ayo kembali ke sekolah.. Bel sudah berbunyi, kan?" ujar temannya mengelus kepala gadis itu.
"Kau bodoh. Bagaimana aku bisa belajar? Tiba-tiba saja Chida memutuskan hubungannya denganku. Karena seseorang yang katanya telah ia sukai sejak lama. Kalau begitu kenapa pacaran denganku!!" bentaknya.

Gadis yang sudah ia sukai sejak lama..
Aku tersenyum seketika. Dan kemudian meninggalkannya. Entah kenapa pertama kalinya aku mendengar seorang wanita menangis karenanya.

....kemudian
.
.

"Chida-kun......" sapa ku saat itu melambai tangan di depan kaca kelasnya. Aku tau, aku sudah datang terlambat tapi,,
"doushita?" ucapnya segera keluar kelas.

"etoo...daijoubu!!" jawabku
Chida diam dan menatapku. Kemudian meraih tanganku. "ah akhirnya kau lolos dari masalah itu, ya! Syukurlah kau baik-baik saja!" ucapnya.
"eh?" terasa kehangatan dan jiwaku. Aku menatap balik tatapannya. Berharap sekali saja, ia bisa membalas perasaanku. Walau aku tau, aku masih membencinya.
Ia mulai membuka mulutnya. Dan aku biarkan ia berbicara.

Dan, "Reina-chan itu, sudah meninggal ternyata. Aku baru mendapat kabar dari Yuu. Anak itu, walau sering mengatai, mengajariku, dia ternyata masih peduli, ya! Dia mencari tau langsung pada Fujita. Tapi aneh sekali, semua orang seperti terhipnotis hebat, namanya sudah menghilang dimana-mana. Dan, aku rasa selama itu otakmu dimainkan oleh roh itu, ya?"

"begitukah..aku tidak mengerti. Wakki ingin aku mempertemukan ku dengan Reina. Tapi Reina sudah menghilang kan? Aku bingung.."

"hah, kau itu, otakmu sudah diputar balikkan. Tapi, karena itu kan, kau sudah baik-baik saja dengan Hanawa? Dan kau mengetahui ayahmu sudah pergi tepat bersama kecelakaan itu. Aku rasa wakki ingin menjelaskan sesuatu di balik semua itu. Dan...."

Aku mengangkat kepala. Melihat seseorang yang tinggi dariku. Memegang kedua tanganku.

Kau tau, kan mukaku sudah memerah?
Kau tau, kan ini dalam keadaan belajar?
Kau tau, kan ini di depan kelas?

"Dan, kau tau kan siapapun juga akan nebak kalau aku suka kamu!" ucapnya langsung. Ia menjulurkan lidahnya. Tertawa, lalu melepas tanganku. Dan bergegas masuk kembali ke kelas.

Selama ini pasti ia selalu berada di belakangku
Walau Wakiyama sudah memutar balikkan otakku..
.
.
Arigatou..


Kelas yang berbeda, andai kan aku satu kelas dengannya, pasti akan selalu bersama hingga saat ini. Andai kan sekelas, pasti takkan ada Yamagata-kun. Pasti takkan ada cerita saat aku membuka pintu yang sama, dengan dua orang berbeda. Semua keanehan yang baru saja terjadi membuatku seiring berpikir. Waktu terasa berjalan lambat, dan alur yang berputar ulang. Tapi bagaimanapun, aku harap semuanya selesai. Wakki-sama bisa berbahagia bersama Reina-san di alam sana. Mungkin aku ingin melupakannya, dan akan kembali fokus kembali seperti biasa.


END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman