Tittle :
Ai Kotoba ~Kimi ga suki de, Aishite Kurete, Konna Kitte, Naite Kurete,
Arigatou~ Part 3 [Ending]
Genre :
Romance, Mysterious
Author :
Kazue Hara
Character :
·
Johnny's Jr [Fujita Yuuya, Hanawa Daiki, Chida
Kyohei, Kawaguchi Yuu, Wakiyama Rei, Takahashi Saneyasu, Tanaka Seiji, Yamagata
Yuki]
·
OC [Harukawa Mana, Matsumoto Reina]
愛ことば「君が好きで、愛してくれて、こんなきって、ないてくれて、ありがとう」
@chdkyhei
Johnny's
Jr Fanfic Book
.
.
----------------------------------------------------
"Apa-apaan ini!?" gumam Mana
menjauhkan dirinya dari sosok yang ada didepan itu. Lelaki yang sudah lama tak
ingin ia temui itu, pakaian sekolah yang berbeda. Penuh keringat dan kini
menatapnya lembut. "Yokatta, aku senang akhirnya kau kembali..."
ujarnya seketika. Mana hanya berdiri diam menatap tas sekolah yang ia rangkul
dipunggungnya.
"kau.. mencariku?" tanya Mana.
Ia perlahan mencoba mengangkat kembali wajahnya dan menghilangkan rasa kesal
dalam dirinya.
Hana mengangguk. "ada apa? kau
kemana saja? semua orang mencarimu. Bukan hanya aku" jawabnya.
"lalu, dimana yang lain?"
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat Hana
terdiam. Matanya terlihat ingin menyampaikan sesuatu yang tak sanggup ia
katakan.
...
"kenapa
belum mengganti baju sekolahmu?"
"tidak.
Kalau aku pulang, ibu takkan memperbolehkanku keluar lagi. Ayo habiskan waktu
seharian bersama"
...
"kau
takkan marah bila kukatakan sesuatu?"
"kita
teman, bukan?"
"ayahmu
itu, ayahku.."
...
"ayo... pulang" Mana
mengulurkan tangannya pada Hana. Awalnya Hana terlihat kaget dengan perlakuan
dari gadis itu. Tapi perlahan ia menghela nafas dan meraih tangan tersebut.
Dengan pelan Mana kembali berbisik, "terima kasih, sudah
mencemaskanku". Hana mengangguk. Dan mereka mulai berjalan sepanjang
koridor.
.
.
.
Tiba-tiba saja sesuatu menghentikan
langkahnya. "musik?" ucap Mana mencari-cari asal suara,
...Musik
piano yang menawan...
"kau mendengar apa?" tanya Hana
"seseorang dari ruang musik.."
"jam segini? Tidak mungkin"
"aku dengar!" Mana berjalan
menarik tangan Hana. Dengan cepat ia langsung menangkap asal suara itu. Dan
kemudian berhenti di depan ruangan kecil di sudut ruangan. Ia mengintip dari
balik kaca. Tampak olehnya dua orang anak kecil yang tadi siang ia lihat,
"wakki-sama? Reina?" bisiknya.
"wakki-sama, ajarkan aku musik
ini!" pinta gadis itu.
"tentu saja. Kau bisa baca not angka
didepan sana dan akan kutunjukkan angka itu seharusnya berada dimana.
Sebenarnya tidak begitu sulit"
"souka.. aku tidak begitu paham"
cetus gadis itu. Ia duduk disebelah wakki dan menyipitkan matanya untuk melihat
tulisan di atas kertas tersebut.
"kawaii na~" ujar Mana
perlahan.
Hana lalu mendekatkan dirinya kearah
kaca, "Itu, Chida?"
Kata-kata yang membuat Mana kaget dan
melihat kearah Hana. Musik masih teralun indah yang baru saja ia dengar.
"apa maksudmu?" ia kembali melihat ke dalam ruangan. Dan tepat, dua
orang tadi menghilang. Sosok Chida Kyohei yang kini duduk di tempat itu. Bermain
piano seperti ia sudah dapat menghafali alunan musik dengan baik.
"Chida-kun. Kenapa?" Mana
menutup mulutnya. Matanya mulai berbinar-binar dan pada akhirnya ia berlari
pergi meninggalkan ruangan itu.
Hingga berada di luar dengan keadaan
malam yang gelap, Cahaya lampu ruangan yang menerangi tiap sudut ruangan.
Dirinya seperti tak inginkan apapun dan berlari dengan Hana yang mengejarnya
terus dibelakang. Semakin mendekat dan Hana menarik tangannya untuk berhenti.
"ada apa antara dirimu dengan Chida? Bukankah kalian dekat?"
"kenapa kau mengetahuinya?"
tanya Mana menatap lelaki itu.
Hana melepas tangan Mana dan menundukkan
wajahnya. Ia hanya diam. Tak sepatah katapun yang tersampaikan dalam ucapannya.
"ada
apa dengan anak ini?"
.
.
Akhirnya Mana meraih kembali tangan itu
dan berjalan menuju pintu keluar. Ia yang semakin hari semakin dihantui oleh
Wakiyama Rei. Semakin berada dalam permainannya. Satu cara menghentikannya,
hanya mempertemukannya kembali dengan gadis yang bernama Reina itu.
Di malam itu Mana membuka matanya.
Pakaian sekolah yang belum ia ganti. Ia biarkan tubuhnya tergeletak diatas
tempat tidur. Angin malam yang menerbangkan tirai-tirainya. Mulai terbuka dan
tertutup. Hanya cahaya bulan yang saat itu menyinari kamarnya. Gelap, seperti
yang ia rasakan. Tetapi ia hanya diam begitu saja. Dan tiba-tiba ia tersadar.
"Tempat yang kemarin kudatangi bersama kawaguchi yuu? Lelaki yang bernama
Fujita yuuya itu pasti mengetahui sesuatu, kan?" pikirnya, Ia bangkit dari
tidurnya dan menghela nafas, Kembali diraihnya ponselnya diatas meja kecil
disudut tempat tidurnya. Ia membukanya. Lalu mendapati pesan yang sudah lama
tak terbaca olehnya.
Chida-kun?
"kenapa? lagi-lagi dia" ucap
Mana. Ia ingin menutup pesan itu, Akan tetapi tangannya berat untuk klik close
di layar. Dan pada akhirnya ia membukanya.
"Kau masih kesal denganku? Apa yang
bisa kulakukan untukmu agar kau mau memaafkanku? Aku ingin semuanya seperti
biasa" tulis Chida di dalam pesan itu.
Mana menutup ponsel tersebut dan
melemparnya kesisi lain. Ia menangis seketika. "Kamu bodoh!"
"kapan saatnya kamu menyadari kalau selama ini aku merasa tersakiti,
hah!?" kemudian ia kembali terdiam. Menghapus air matanya dan mengambil
ponsel tersebut. "lupakan dia, yang terpenting harus menyelesaikan semua
ini" bisiknya. Ia mengutak-atik kotak ponsel dan melakukan panggilan ke
Kawaguchi Yuu.
"moshi-moshi!" angkat seseorang
dalam panggilan tersebut.
"Yuu! Kau punya nomor telfon
Fujita-kun atau kau bisa mengantarkanku ke tempat kemarin?" teriak Mana
seketika
"ke tempat kemarin? tempat yang
mana?"
"ee? bukankah kemarin kita pergi
mengikuti Fujita-kun dari belakang?"
"rasanya aku tidak pernah
kesana.."
Mana terdiam dan memutuskan panggilan.
Tiba-tiba saja pikirannya kembali teralih pada orang yang bernama Wakiyama Rei
itu. "apa mungkin....."
Mana berdiri di tempat tidurnya, Melihat
ke arah lantai kamarnya. "woy! Kau ada disini kan! Dimana kau! Kau tau
segalanya kan? Kalau kau ingin semuanya cepat selesai, bawa aku kesana
segera!" bentaknya.
Tiba-tiba saja angin berhembus ke arah
lantai kamar itu. Mana mulai merasakan aura yang kuat dan ia melihat bayangan
lelaki itu. Ia berjalan kesana, tapi seketika ia mendekat tubuhnya terasa rapuh
dan akhirnya ia terjatuh antara angin yang berputar mengelilinginya. Roh wakki
yang perlahan mulai terlihat, berdiri di depan Mana. Ia menatap lama gadis yang
tak sanggup bergerak itu. Dan dengan cepat ia mendekat dan mulai masuk ke
dalamnya.
"kenapa...kau kemari?" suara
Mana yang bergetar merasakan sosok tubuh lain di dalam tubuhnya. Tanpa adanya
jawaban, tubuh itu bergerak dengan sendirinya, Keluar dari kamar, dan
meninggalkan rumah. Mana yang semakin kehilangan kesadarannya itu, menatap
jejalanan menjadi buram dan ia menghilang entah kemana.
ibu...
ayah...
Hana...
Chida-kun...
Matanya tiba-tiba saja terbuka dan
melihat bayangan-bayangan orang yang sangat ia kenali itu. Bayangan mereka yang
sibuk dengan pekerjaan masing-masing. "aku ada dimana?" pikir
Mana sesaat. Melihat ibunya yang menangis itu menggenggam tangan ayahnya dari
belakang. Buram, wajah ayah yang sangat buram terlihat olehnya. Hanawa yang
mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dan ia melihat Chida hanya dengan
sebuah piano memainkan musik yang sudah pernah ia dengarkan. Mana berjalan ke
arah Chida.
"Chida-kun, musik ini..dimana kau
dapatkan?" tanya Mana
Chida tak mendengar itu dan terus
bermain, Air mata yang kemudian jatuh membasahi pipinya. Kemudian ketika Mana
mengangkat wajahnya, ia melihat beberapa orang gadis yang duduk di lantai
menyaksikan musik itu. Gadis-gadis yang tersenyum ceria namun perlahan
menghilang dan tak tersisa. Lalu ia melihat Yuu yang tiba-tiba menemui Chida
dan menghentikan musik itu berbunyi.
"Oi Chida, ayo bermain
bersama!" soraknya sangat bahagia
"aku ingin memainkan musik ini lebih
perfect lagi!" jawab Chida
"ayolah~ sebentar saja"
"baiklah~" Chidapun
meninggalkan pianonya dan pergi menjauh bersama Yuu. Ia menghilang oleh
sesuatu.
Hal yang seketika membuat Mana menangis,
tetapi ia mendengar suara Hana dari belakang. "Nakanaide~"
ucap suara tersebut. Mana menoleh cepat. Tetapi yang terlihat olehnya hanya
sosok Hana dan wajah dirinya diatas frame. Kaca foto yang terlihat
sangat lusuh, Hana mengelap itu dengan sapu tangan dan dibersihkan. Wajahnya
terlihat sangat lembut sekali.
"ada sesuatu yang dari dulu selalu
ingin kusampaikan, tapi kenapa semakin hari kau semakin menjauh.
Meninggalkanku? Kau semakin membenciku. Kalau boleh memilih, aku lebih ingin
tidak terlahirkan daripada lahir oleh atas ibuku dan ayahmu" ucap Hana pada
foto tersebut. Yang perlahan juga mulai menghilang. Dan kemudian mendengar
suara pertengkaran kedua orang tuanya. Tetapi ia tak melihat apapun itu. Tempat
yang ia datangi itu mulai tertutupi cahaya dan akhirnya kembali ke tubuhnya
yang semula.
Tampak dihadapannya sosok gadis yang tak
pernah ia temui sebelumnya. Gadis itu cantik. Memiliki mata yang indah dan
rambut yang lurus dan rapi sekali. Ia memakai sebuah kimono yang menarik. Duduk
di hadapannya. Dua orang lelaki yang juga tak pernah ia temui itu, Gadis itu
melihatnya. Tatapan yang sama dengan wakki.
"kenapa kau datang kemari?"
tanya gadis itu.
Awalnya Mana bingung harus mengatakan
apa, akhirnya ia mulai membuka mulut untuk memulai pembicaraan. "apakah
kita dari sekolah yang sama? Kenapa namamu tidak ada di--"
"aku tidak pernah sekolah"
balasnya seketika
"kenapa? tapi wakki-sama mengatakan
kau itu....." belum selesai Mana melanjutkannya, Gadis itu kaget dan
bergerak menjauh. "wakki-sama?"
"lelaki itu yang menuntun aku
kemari" ucap Mana
"apa maksudmu? Dia sudah
meninggal!"
"maaf, tapi aku bisa melihat hal
itu, dan..apa kau sudah melupakannya?"
Gadis yang bernama Reina itu hanya
memalingkan wajah dan memasang wajah kesalnya. "dia itu.. jahat!"
tambahnya seketika
Kata-kata yang membuat Mana semakin
menatapnya, "jahat? Kau tau kenapa dia menghilang setelah sekian lama? Dia
mempersiapkan kado ulang tahunmu!"
"Darimana kau mengetahuinya.
hah!?"
"Dia sendiri yang menceritakannya
padaku."
Reina berubah kesadaran untuk mulai
mendengarkan Mana. Waktupun mulai berlalu dengan ceritanya yang sangat panjang
itu. Mana menceritakan semua kejadian yang telah ia lalui. Keinginan keras dari
roh itu untuk bertemu Reina dan menyampaikan semuanya lewat suara orang yang
berbeda. Seperti ia telah terbantu oleh Wakki.
"Kenapa ia hanya menemuimu? Kenapa
bukan aku?" tanya Reina
Ia menggelengkan kepala. "aku tidak
tau, tapi mungkin karena ia merasa aku telah melihatnya. Dan ia mengganggu ku!
Aku harus segera menyelesaikan masalah ini!"
"kau tau kenapa wakki-sama pergi?
Kau tau kenapa aku mencari penggantinya? Kau tau kenapa namaku sudah tidak ada
dalam daftar manapun?" ujarnya seketika. Aura Reina tiba-tiba berubah
sedikit agak dingin.
Hal itu membuat Mana kaget. Jangan
bilang kalau gadis ini telah membuat keputusan untuk hilang dari dunia?
"Aku ingat saat itu aku sakit. Ia
mengirimkan pesan padaku untuk terus berjuang. Dan ia tak memberitahuku kemana
ia pergi. 3 hari aku menjalani operasi, ia saat itu tak ada. Setelah aku
selesai operasi, aku mendapat telepon bahwa ia telah meninggal. Saat itu aku
masih di kursi roda, tapi aku tak bisa berkata apapun. Padahal aku ingin
memperlihatkan padanya kalau aku bisa sembuh dan bermain bersamanya
kembali..." jelas anak itu menitikkan air mata. Ia menangis di depan sana,
Dan kemudian mengambil sesuatu di dalam lemari.
"anoo.. Reina-san, kalau boleh aku
mengetahuinya, kenapa wakki meninggal?"
"ah? itu, saat jalan pulang, bus nya
menabrak sebuah mobil. Katanya, ada seorang bapak tua dari arah bawah. Beberapa
penumpang dan bapak itu tewas di tempat. Termasuk wakki." jelasnya
kembali. Mana menundukkan kepalanya mulai mengerti. Kemudian Reina mengambil
sebuah kotak dari lemari. "ini, Fujita-kun yang sempat se bus dengannya
dan sempat selamat, memberikan ini padaku. Katanya ia juga menemukan banyak
barang-barang penting lainnya dari penumpang. Anak itu...memanfaatkan
kesempatan yang ada"
Mana melihat isi kotak yang dibuka Reina.
itu sebuah kalung yang cantik dan mewah sekali. Dan sebuah surat kecil di dalamnya.
"apa itu?" tunjuk Mana.
"oh ini, Beberapa bait lagu, ia
belum selesai menulisnya. Fujita-kun mendapatkannya terpisah dari kotak. Tapi
setelah kupikir mungkin di atas bus ia sedang menyelesaikan ini.."
"apa jangan-jangan musik yang pernah
di bawakan Chida?" bisiknya
"Chida?"
"bu-bukan siapa-siapa.." Ia
mulai berpikir dengan ingatannya saat bersama Hanawa di sekolah. Ia melihat dua
orang di depan piano, tapi kemudian berubah menjadi Chida. Pikiran yang membuat
nya mulai teringat akan banyak hal.
Reina kemudian menepuk bahu Mana.
"Katakan pada wakki, aku meminta maaf. Sejak kejadian itu aku mendekatkan
diri pada Fujita. Karena, bagiku cuma dia yang mengerti keadaanku.."
Mana kembali menganggukkan kepalanya.
"dan, kenapa namamu sudah tidak ada dalam daftar?"
"itu....."
Namun di tengah pembicaraannya, lagi-lagi
suara musik itu terngiang di telinganya, Mana segera menoleh ke belakang,
"Chida-kun?" pikirnya. Dan dari sisi lain Reina terdiam tertatap pada
satu fokus. "wakki-sama?" bisiknya. Musik yang perlahan membuatnya
berdiri dan berjalan. Meninggalkan Mana yang masih melihat ke segala arah
asalnya musik itu. Tapi Reina seperti terhipnotis dan berhenti di suatu tempat.
Pertemuan dua orang yang tak ia rasakan.
Mana ikut berdiri untuk melihat Reina dari kejauhan. Tubuhnya mulai bergetar.
Ada
apa?
Kenapa
tak melihat apapun?
Mana masih berdiri di tempat yang sama.
Tempat yang perlahan mulai tergerak olehnya. Atap, dinding, lantai rumah kecil
itu yang perlahan menghilang. Ia mulai merasakan hembusan angin yang kencang.
Tapi jangankan untuk berlari menghindar, bergerak saja ia tak bisa. Karena yang
terlihat olehnya adalah dua orang yg menghiraukannya. Mereka berdua saling
bertatapan. Musik yang tergerak sendiri dan....
"MANAAAAAA!!!!!!!" teriak
seseorang dari arah depan.
"chida-kun?" bisiknya. Matanya
mulai bergerak kearah lain. Disaat tempat yang ia injak itu perlahan
menghilang, disaat itu ia melihat sosok Chida yang berlari ke arahnya, dan
mengajak pergi. Mana mengikuti lelaki itu dan membiarkannya menarik tangannya
hingga keluar.
Maka, ia saksikanlah sesuatu yang tak
pernah ia rasakan. Rumah, dan seluruhnya menghilang begitu saja hingga
meninggalkan puing-puing kecil, Dan kemudian semuanya terlihat hampa. Mana
terdiam. "apa yang terjadi?"
Tapi tak ada jawaban yang ia dapatkan.
Hanya Chida yang berdiri disebelahnya. Lelaki yang sudah lama tak ia jumpai
itu, melihat ke arah depan.
"Chida......" sapanya kembali
Chida menoleh dan melihatnya. "hah?
Doushita?" tanyanya
"daijoubu !!"
"oh.. hai!"
Chida
masih sama, ya?
Masih
sama-sama belum mengerti
Bukankah
seharusnya dia menanyakan kenapa
Tapi
....
Kenapa
kau ada disini?
#Mana POV
Aku melihat wajahnya yang sedikit berbeda
itu. Hingga kami berjalan pulang ke rumah. Ia mengantarku tanpa berbicara
apapun. Dan akupun tidak bisa memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Kami
berpisah ketika aku membuka pagar rumah. Ia tersenyum, membungkukkan badan dan
pergi dari arahku. Sebenarnya tidak masalah jika ia seperti itu, dan aku tak
ingin Chida yang sekarang terlintas di
pandanganku adalah wakiyama.Karena aku berharap masalah ini segera selesai,
sehingga aku bisa memulai hidup baru.
Aku mulai berjalan ke dalam. Dan kemudian
aku melihat banyak sepatu dan sendal di depan rumah, Tanpa berpikir apa-apa aku
segera masuk dan menuju ruang tengah. Kagetnya saat aku melihat Hanawa bersama
ibunya. Kemudian ibuku yang tampak sedang menangis itu. "kenapa?"
tanyaku kaget. Aku berjalan pelan ke arah sana.
Tapi ibu segera berjalan ke arahku dan
memeluk erat diriku.
"ada apa ibu? kenapa menangis?"
aku melihat ke dua orang di depan sana. "ada apa?" tanyaku berulang
kali.
"ibu minta maaf karena selama ini
telah menyembunyikannya darimu. Kamu masih sayang ayahmu, kan?" ujar ibu
Awalnya aku menggelengkan kepala, tapi
setelah mengingat diriku yang mulai bisa memaafkan semua yang terjadi, aku
mengangguk dan memeluk erat ibu. "kenapa dengan ayah, bu?"
"3 tahun lalu ayamu sudah meninggal,
nak" jawab ibu
"apa?"
"sebenarnya kemarin ibu keluar ingin
mengunjungi makam ayahmu. Semenjak semuanya terjadi, dirimu yang sepertinya
sangat membenci keluarga Hanawa, membuat ibu ingin mengatakan padamu tentang
ayah. Tapi rasanya sangat berat karena ibu tak ingin kau terlalu memikirkannya.
Saat 3 tahun lalu mendapatkan kabar itu, ibu sempat menangis dan tidak tau
harus kemana. Ibu tak ingin kau memikirkannya, Tapi mereka berdua datang
kemari, lalu Hanawa menjelaskan semuanya pada ibu. Dan...."
"Dan apa ibu!! Kenapa ibu tidak
memberitahuku!!" bentakku dan melepas pelukkan ibu. Aku menangis.
"Karena ibu tau dirimu sudah tidak
peduli dengan ayah. Tapi kedatangan mereka membuat ibu berubah pikiran. Maafkan
ibu.."
Aku menggeleng tak percaya apapun. Ini
seperti aku kehilangan seseorang yang pernah berharga dalam hidupku. Walau
sempat membencinya, tapi dia tetap seorang ayah.
Akhirnya aku mengambil nafas panjang dan
mulai bertanya, "3 tahun lalu.....apakah ayah ada di bus waktu kecelakaan
itu?"
"kamu tau itu?"
Semua orang yang saat itu melihat ke
arahku. Lalu Hanawa menjawab, "bukan, ayahmu bersama mobil yang tertabrak
itu...."
Aku menghela nafas. Aku biarkan jam
berdetik dan situasi yang tenang seperti itu.
.
.
.
.
.
Tapi,
alasan kenapa nama Reina tidak ada di daftar,
ia
belum menjelaskan padaku..
Hingga esok harinya aku pergi ke sekolah
seperti biasa. Aku yang sudah mulai baikan dengan Hanawa, pergi sekolah
bersama. Karena tempat sekolah kami yang berbeda, di persimpangan berpisah dan
aku berangkat menuju sekolah seorang diri.
Terpikir dalam benakku, kejadian yang
barusaja menimpaku. Lelaki dengan wanita yang ia sukai. Kemana ia bawa Reina.
Kawaguchi Yuu yang pernah membawaku ke tempat itu, dan sepertinya ia dirasuki oleh
wakki. Dan kejadian antara Yamagata-kun dan Hanawa di kelas itu. Apa maksudnya?
Tiba-tiba saja langkahku berhenti. Di
depan gerbang sekolah aku melihat seorang wanita menangis di depan temannya.
Mendengarnya menangis, aku mulai bersembunyi untuk melihat. "Pacarnya
Chida yang kemarin?" pikirku.
"Sudahlah, ayo kembali ke sekolah..
Bel sudah berbunyi, kan?" ujar temannya mengelus kepala gadis itu.
"Kau bodoh. Bagaimana aku bisa
belajar? Tiba-tiba saja Chida memutuskan hubungannya denganku. Karena seseorang
yang katanya telah ia sukai sejak lama. Kalau begitu kenapa pacaran
denganku!!" bentaknya.
Gadis yang sudah ia sukai sejak lama..
Aku tersenyum seketika. Dan kemudian
meninggalkannya. Entah kenapa pertama kalinya aku mendengar seorang wanita
menangis karenanya.
....kemudian
.
.
"Chida-kun......" sapa ku saat
itu melambai tangan di depan kaca kelasnya. Aku tau, aku sudah datang terlambat
tapi,,
"doushita?" ucapnya segera
keluar kelas.
"etoo...daijoubu!!" jawabku
Chida diam dan menatapku. Kemudian meraih
tanganku. "ah akhirnya kau lolos dari masalah itu, ya! Syukurlah kau
baik-baik saja!" ucapnya.
"eh?" terasa kehangatan dan
jiwaku. Aku menatap balik tatapannya. Berharap sekali saja, ia bisa membalas
perasaanku. Walau aku tau, aku masih membencinya.
Ia mulai membuka mulutnya. Dan aku
biarkan ia berbicara.
Dan, "Reina-chan itu, sudah
meninggal ternyata. Aku baru mendapat kabar dari Yuu. Anak itu, walau sering
mengatai, mengajariku, dia ternyata masih peduli, ya! Dia mencari tau langsung
pada Fujita. Tapi aneh sekali, semua orang seperti terhipnotis hebat, namanya
sudah menghilang dimana-mana. Dan, aku rasa selama itu otakmu dimainkan oleh
roh itu, ya?"
"begitukah..aku tidak mengerti.
Wakki ingin aku mempertemukan ku dengan Reina. Tapi Reina sudah menghilang kan?
Aku bingung.."
"hah, kau itu, otakmu sudah diputar
balikkan. Tapi, karena itu kan, kau sudah baik-baik saja dengan Hanawa? Dan kau
mengetahui ayahmu sudah pergi tepat bersama kecelakaan itu. Aku rasa wakki
ingin menjelaskan sesuatu di balik semua itu. Dan...."
Aku mengangkat kepala. Melihat seseorang
yang tinggi dariku. Memegang kedua tanganku.
Kau
tau, kan mukaku sudah memerah?
Kau
tau, kan ini dalam keadaan belajar?
Kau
tau, kan ini di depan kelas?
"Dan, kau tau kan siapapun juga akan
nebak kalau aku suka kamu!" ucapnya langsung. Ia menjulurkan lidahnya.
Tertawa, lalu melepas tanganku. Dan bergegas masuk kembali ke kelas.
Selama
ini pasti ia selalu berada di belakangku
Walau
Wakiyama sudah memutar balikkan otakku..
.
.
Arigatou..
Kelas yang berbeda, andai kan aku satu
kelas dengannya, pasti akan selalu bersama hingga saat ini. Andai kan sekelas,
pasti takkan ada Yamagata-kun. Pasti takkan ada cerita saat aku membuka pintu
yang sama, dengan dua orang berbeda. Semua keanehan yang baru saja terjadi
membuatku seiring berpikir. Waktu terasa berjalan lambat, dan alur yang
berputar ulang. Tapi bagaimanapun, aku harap semuanya selesai. Wakki-sama bisa
berbahagia bersama Reina-san di alam sana. Mungkin aku ingin melupakannya, dan
akan kembali fokus kembali seperti biasa.
END












Tidak ada komentar:
Posting Komentar