Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2014/04/02

Johnny's Jr Fanfic 「Ai kotoba ~Kimi wa suki de, Aishite kurete, Konna Kitte, Naite kurete, Arigatou~」






Tittle    : Ai kotoba ~Kimi wa suki de, Aishite kurete, Konna Kitte, Naite kurete, Arigatou~ Part 1

Genre    : Romance

Author : Kazue Hara

Character :
  • Johnny's Jr [Fujita Yuuya, Hanawa Daiki, Wakiyama Rei, Chida Kyohei, Kawaguchi Yu, Takahashi Saneyasu, Tanaka Seiji, Yamagata Yuki]
  • OC [Harukawa Mana, Matsumoto Reina]



愛ことば「君は好きで、愛してくれて、こんなきって、ないてくれて、ありがとう」

@chdkyhei

Johnny's Jr Fanfic Book



.
.



Bahkan ketika kau lambaikan kedua tanganmu

Air mata yang mengalir di sekujur pipimu

Basah

Dan tubuh yang tak terkutik itu

_________________________________



Gadis itu hanya terdiam berjalan ditepian sungai. Baju seragam yang ia kenakan. Menerpa kedua tangannya sepanjang jalan dan membiarkan angin berhembus kearahnya. Ia menutup matanya perlahan, dan merasakan berbagai hawa dari sekujur tubuhnya itu. Helaian rambutnya yang cukup panjang. Coklat gelap, warna yang baru saja menempel di rambutnya itu. Ia tak memikirkan dimana ia berdiri sekarang, dan tali sepatu yang tak diikat itu. Perlahan tubuhnya mulai merasakan seseorang yang mengikuti langkahnya dari belakang. Bayangan yang tak terlihat. Tapi sebuah aura yang membuatnya terhenti untuk bergerak.



Kenapa...



Ia tak menoleh sedikitpun. Kembali menurunkan kedua tangannya. Dan menundukkan kepalanya.



"doushita?" tegurnya dengan suara yang sungguh pelan.



Hanya sebuah angin, tapi seperti layaknya angin yang berkumpul dan mengarah kepadanya. Angin yang perlahan memeluk tubuhnya. Ia, Harukawa Mana hanya terdiam dan membiarkan rasa itu mengikat pada dirinya. Karena hari ini, langkah kakinya lah yang membawanya untuk datang ke tempat ini. Tempat yang sangat sunyi di seberang kota. Yang bahkan anak sekolahpun tak boleh memasuki daerah ini. Tapi merintihpun, sudah tak ada guna.



...Lagi-lagi di tempat seperti ini...





"Harukawa!?" bentak seseorang di depannya.

Lipatan tangan yang menutupi wajahnya itu, membuat ia perlahan mengangkat kepalanya. Melihat kearah sekitar, sorot mata yang sama tertuju kepadanya. Dan lirikan tajam seorang wanita tua didepannya.



"gomennasai sensei" cetusnya.



Wanita tua yang ternyata adalah gurunya itu, mengambil buku yang tertutup rapi di atas mejanya. Membuka beberapa halaman dan memberikan padanya. "kau tertidur pada jam pelajaran saya, berarti kau bisa mengerjakan latihan yang ada di depan hanya dengan melihat buku, kan?" ujar sensei.

Tanpa membantah, Mana mengambil buku itu dan ia berjalan kearah depan. Mulai membalik-balik dan terdiam di depan. Hingga bel pulang berbunyi.





_____________



"Mana, kau terlihat pucat sekali?" sapa Chida yang berjalan di sebelahnya.

"lagi-lagi di tempat yang sama..." jawabnya

"di sungai? Lagi?"



Mana mengangguk. Bibir yang ia biarkan mengering itu. Dan matanya yang tampak layu. "aku harus kesana. Seseorang memanggilku kesana!" ucapnya kembali.



"kau selalu bercerita tentang roh yang datang memelukmu itu, kan? Apa ada hubungannya dengan jiwamu?" Chida menatap pelan gadis yang berada di depannya itu. "Aku tak ingin siapapun mengambil mu dariku!" tambahnya.

Gadis itu hanya diam. Sosok yang tak lain di depannya, orang yang bukan pacarnya, tapi selalu mengatakan hal yang sama. Mana, tersenyum dan memegangi tangan lelaki itu. "suki dayo, zutto!" balasnya. Mereka berdua yang saling bertatapan di gerbang sekolah, tiba-tiba saja seseorang memecah keheningan tersebut. "kalian! dosa!" sorak Yamagata Yuki menepuk bahu mereka berdua. Kemudian melepas tawanya.



"ah, gomennasai!" ujar Chida. Ia lalu berbalik arah dan kembali menyandangi tas nya, "hati-hati dijalan, Mana. Ohya, aku tak ingin kamu pergi kesana!" Iapun melangkah ke depan dan berjalan tanpa menoleh kebelakang.

Mendengar itu Mana hanya mengangguk,



...

"YamaG kenapa lama sekali?" tanya Mana pada seseorang di sebelahnya.

"aku tidak tau, tadi sedang membersihkan kelas, tiba-tiba saja ada angin menutup pintu dan aku terkunci" jelasnya

"angin, ya" Mana melihat ke arah langit. Biru yang memancar dibalik awan yang sangat putih itu. Ia kemudian menggerakkan tangannya dan memegangi tangan YamaG. "ayo pulang"

...



Harukawa Mana, gadis kelas 2 SMA. Termasuk gadis berkarakter dingin. Ia tak banyak berbicara. Semua hal yang sering menghantuinya, Sebuah imajinasi dari roh-roh yang tak ia kenal. Ia terkenal sebagai seorang gadis yang bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain itu. Hal demikian yang membuat ia lebih banyak menyendiri dan membiarkan dirinya hanyut pada sebuah imajinasi yang tak ia inginkan.

Pernah satu kali ia mencoba menahan dirinya untuk tak mengikuti langkahnya, dan ia hampir saja direnggut oleh kematian. Roh yang ingin berbicara dengannya lewat mimpi itu.



Ini hanya sebuah imajinasi

Dan kau yang terhanyut di dalamnya



"Bisa, kau membantuku?"



________________________



"tadaima..." ujarnya sedikit agak lemas. Ia memegangi leher belakang. Tubuhnya terasa agak lemah sekali. Dan di hampiri seorang anak laki-laki di depan ruang tamu. Majalah kecil pada kedua tangannya, dan minuman panas diatas mejanya. Mana berhenti di depan lelaki itu. "kau kemari lagi!" bentaknya. Suaranya yang cukup keras itu membuat sang ibu berlari menghampiri mereka.



"Mana.. kau sudah pulang?" tanya si ibu.

Mana mengangkat kepala dan melihat wajah ibunya. "anak ini, kenapa ibu biarkan saja di dalam?" ucapnya.



Lelaki itu menatap panjang wajah Mana yang terlihat sangat kesal melihat kehadirannya. Hingga ia menutup majalah itu dan berdiri.

"sudah 3 tahun, kau tak ingin berjabat tangan denganku? Aku sudah mengajakmu berdamai, kan?" ia mengulurkan tangan kanannya. Tapi tak mendapatkan respon apa-apa dari gadis itu. Hanya saja Mana pergi dari sana meninggalkan mereka di ruang tamu.



"Daiki, tidak apa-apa, mungkin Mana belum bisa berpikir baik akhir-akhir ini. Mungkin saja ia sedang ada kesibukkan di sekolahnya. Tak usah dipikirkan ya"



Suara ibu yang sama

Berada dalam ketakutan

Anak dari selingkuhan ayah...



"Aku selalu berpikir kenapa Chida tak pernah menanyakan padamu tentang hal itu?"

"menanyakan apa?"

"apa kau mau jadi pacarku?"



...



MANA POV'



"Yang suka Chida itu cuma aku, yang punya perasaan lebih itu cuma aku. Lagipula, lelaki normal mana yang mau dengan anak yang berbeda sepertiku" Aku berulang kali terbayang beberapa hal yang seharusnya tak usah untukku pikirkan. Tapi semakin aku lari dari kenyataan, mereka seolah semakin menghantuiku.



Roh yang selalu mengejarku, Ayah yang meninggalkan kami sekeluarga, Cinta yang tak pernah tersampaikan, Teman-teman yang membedakan tentang kehadiranku. Semua seperti merujuk membuatku gelisah. Tak ada alasan lain yang membuatku akan bertahan hidup. Matipun aku belum bisa merelakannya. Aku membayangkan senyuman ibu, yang mempercayakan padaku. Yang bahkan sekolah ada untuk melindungiku. Prestasi yang dengan mudah ku dapatkan.



Bagiku semuanya tak ada gunanya, aku pikir sepertinya aku ingin menghilangkan semua kelebihan yang kumiliki.



Perlahan aku melihat keluar jendela. Cahaya sore yang menangkap terang kamarku. Aku membuka tirai jendela itu. Tatapan ku pada angin-angin yang menuju kearahku itu. Bayangan-bayangan yang bergelantungan di sepanjang jalan. Satu kata yang akhir-akhir ini terngiang di kepalaku, "bisa, kau membantuku?"



"siapa yang berbicara padaku?" gerak bibirku.



Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku segera membukanya, Pesan baru dari Chida.



Lelaki yang menggantung perasaanku...



"Mana, doko ni?" tulisnya pada pesan bait pertama.

Aku lalu melanjutkan pada tulisan yang di bawah, tulisan yang sudah kuduga ia selalu mengucapkannya, "kau tidak pergi ke tempat itu, kan?"



Aku membuka mulutku merespon apa yang baru saja kubaca itu. "bodoh! Kau selalu saja mengkhawatirkanku! Kau selalu panik ketika aku berada dalam suatu masalah, tapi kau tak pernah membantuku untuk keluar dari masalah itu! Kau hanya banyak omong!" ucapku. Aku mulai membalas pesan tersebut dengan kalimat yang berbeda. "aku di rumah, baik-baik saja" Dan pesan itu kukirim.



Setahun yang lalu, aku yang mengungkapkan perasaan ini padanya. Dan ia tak membalas apa-apa. Hingga hari demi hari kami semakin dekat. Ketika beberapa orang yang menanyakan itu, ia sama sekali tak menjawab apapun. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Pernah sekali aku berusaha menjauh dan membencinya, tapi perasaan ini yang membuatku selalu dekat dengannya. Aku tau, aku ini bodoh. Tapi aku bahkan tak bisa membohongi perasaanku. Setiap kali ia menjalin hubungan dengan anak perempuan lainnya, dan setiap kali ia katakan padaku, tak ingin seseorang mengambilku dari nya. "sebenarnya aku ini siapamu?"

...



Tiga tahun lalu dimana ayah mengakui pada ibu tentang istri barunya. Saat dimana pengakuan ayah lebih memilih meninggalkan kami dan menjalani hidup baru disana. Dan saat dimana aku menyadari, sahabat terbaikku adalah anak dari selingkuhan ayah. Rasanya bagiku dunia benar-benar telah hancur. Aku hidup dalam kebohongan semua orang. Merintih, dan menangis, dua hal yang takkan pernah selamanya bisa kulakukan. Aku menyimpan semuanya dan bersikap tenang di hadapan semua orang. Aku hidup dan mengalir seperti air.



.
.



Normal POV



...

Mana terbaring di tempat tidur nya dengan tatapan yang kosong. Matanya terbuka tanpa berkedip. Langit-langit kamar yang terlintas di kamarnya. Ia membayangkan sosok yang terjadi padanya. Bayangan angin yang menahan kedua tangannya untuk bergerak. Dan wajah seorang gadis yang tiba-tiba saja muncul dalam penglihatannya.



"da-dare?" tegurnya

Gadis yang tak ia pahami wajahnya itu, tersenyum dengan sangat ramah sekali.



"bantu aku..."



Dan suara itu kembali berbisik di telinganya. Dengan tegas Mana segera memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dan happ.. tubuhnya terlempar jauh dari kasurnya. Sesakan nafas dari tubuhnya, dan gemetaran yang ia rasakan.

"bagaimana bisa aku menolongmu, kalau aku tidak bisa melihat siapa dirimu?" teriak Mana.



Angin yang ia rasakan itu mulai berjalan mendekat kearahnya. Bayangan yang tak berbentuk. Tapi sangat jelas terasakan, permintaan tolong dan ucapannya. Semakin mendekat dan bayangan itu kemudian datang memegangi kedua tangannya. "si-apa kau..."



Gambaran yang tiba-tiba saja teracak pada benaknya, berputar pada tatapannya. Dan perlahan ia melihat bayangan air sungai itu melintas pada penglihatannya. "jangan bawa aku kesana..." gumam Mana

"kenapa?!"

.

.

aku tak ingin kamu pergi kesana!





"dia itu siapamu, hah? hanya orang yang menggantung perasaanmu!" bisikan yang terdengar seperti bentakan itu. Membuat Mana berhenti untuk bergerak. "kenapa, kau mengetahuinya?"

"kau itu bagaimanapun tetap saja menjadi seorang yang bodoh. Cih!"

.

.

.

...Aku bodoh...

menghilang saja

untuk selamanya !



.

.

"ada heboh apa diatas, tante?" ucap Hana menghentikan gerakan pisaunya.

Ia melihat dari bawah ke depan kamar Mana dilantai dua. Dirinya yang sedang sibuk mengupas apel dengan orang yang ia sebut 'tante' itu. Dengan wajah yang sedikit agak panik, ia meletakkan pisau tersebut. Tapi wanita tua di sebelahnya menghalangi langkahnya. "tidak apa-apa, Mana memang selalu ribut sendiri di kamarnya" jelas wanita itu.



Tetapi walau dihalangi seperti itu, Hana masih diam sambil berpikir tentang apa yang baru saja terjadi.

Sedangkan semua yang baru saja di alami Mana....



"kau ingin meminta tolong padaku, atau ingin membunuhku?!" bentak Maba. Roh yang tak terlihat itu hanya berputar mengelilingi gadis itu. Angin yang mengguncang keadaan kamar. Dan tiba-tiba ketika mulai menutup mata, Mana mulai melihat sesuatu yang sudah biasa terlihat oleh pandangannya. Gadis kecil berkincir kuda di rambutnya, di tepian sungai dengan balon-balon yang terbang dari segala arah. Gadis kecil yang sangat cantik itu. Pakaiannya yang terlihat seperti pakaian beberapa tahun yang lalu.



...Dare...



.

.

"Mana, Mana! Daijoubu?" seseorang yang memegangi wajahnya. Merangkulnya dari belakang. Buram yang terlihat perlahan-lahan mulai jelas olehnya.

Ia mulai membuka matanya. "kau...." gumamnya. Melihat sosok Hana yang ada di dekatnya, membuat Mana segera terbangun dan menjauh. "siapa yang menyuruhmu masuk kemari, hah!" bentaknya.

Lelaki itu hanya diam. Matanya sedikit berbinar melihat seorang gadis yang membentakinya. Dengan pelan ia mulai berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Mana. Hal itu membuat keadaan rumah kembali seperti biasa.

.
.
.




Hari ini lagi-lagi suara panggilan keras dari sensei atas nama Mana. Lagi-lagi ia tertidur di kelas. Karena terlalu emosi, sensei menyuruhnya untuk segera keluar dari kelas dan tidak di izinkan untuk masuk selama pelajarannya. Bahkan tanpa membantah apapun, ia segera keluar tanpa membawa apapun. Dan berdiri tenang di depan pintu.



Sudah beberapa menit berlalu.

Mana hanya diam memasukkan kedua tangannya kedalam saku switternya, Bersandar pada pintu dan menundukkan wajahnya. Pikirannya mulai terlihat kosong.

...Dia membawaku kembali...



Ia mulai meneteskan air mata, mulai menyesali kehidupannya.



Hingga seseorang menghapuskan air mata yang membasahi pipinya dengan tisu. Dengan kaget Mana segera mengangkat kepalanya.

"Chida....?" ucapnya pelan

"Ssssst...." seseorang di depannya itu mengangkat jari telunjuk ke bibirnya menyuruh Mana mengecilkan suaranya.



"ke-kenapa kau ada disini?" tanya Mana. Chida berdiri tenang sambil tersenyum di depannya. "suara sensei memarahimu terdengar hingga kekelasku. Makanya aku menyuruh pacarku untuk memberi tau sensei saat itu bahwa aku sakit.." jelasnya



...Pacar?

...Yang ke berapa?



"Aku tak bisa membiarkanmu berdiri sendiri disini, Ke kantin, yuk!" ajaknya mulai menarik tangan Mana. Tapi gadis itu menahannya. Ia menatap lama lelaki yang ada di depannya. Dan mulai membuka mulut, "perasaanmu padaku, sebenarnya seperti apa? Atau tak ada sama sekali?"

Pertanyaan itu membuat Chida diam dan melepas genggamannya. Sama sekali tak tergambar di wajahnya jawaban apa yang hendak ia katakan. Tapi seperti ia tak pedulikan apapun.



"roh itu, kembali menghantuimu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Roh itu seperti meminta pertolongan padaku. Aku melihat gadis itu. Dan aku tidak mengerti, apakah dia roh ataukan orang yang dimaksud roh itu" jawab Mana



Dan ia kembali menyambung kata-katanya tanpa menunggu balasan dari Chida.

"Aku ingin segera menyelesaikan masalahnya, setelah ini selesai aku ingin mencabut semua yang bisa kulihat, kudengar, dan kurasakan ini. Aku hanya ingin menjadi gadis normal. Sudah cukup kehidupan nyataku sudah sangat rusak. Aku sama sekali juga tak ingin menyakiti diriku sendiri. Makanya..."



"kalau kau tau aku tak membalas perasaanmu, kalau kau tak melihatku dengan kepastian, kenapa kau harus mengikuti saranku, hah!" Bantah Chida

Mana kaget dengan penjelasan itu. Tangannya yang mulai bergetar dan dirinya yang mulai kehilangan kesadaran.



Kenapa?

Karena aku suka dirimu!



"jadi kau untuk apa selalu berada didekatku!" Bantah Mana balik. "kau tau aku suka, kau mendekatiku. Kau tak membalas perasaanku, dan sudah berapa kali kau membawa pacarmu di depanku? Apa maksudmu? Kau juga ingin menyiksa batinku?" tambahnya kembali. Pertengkaran yang mulai terdengar di sepanjang koridor yang tak ia pedulikan. Kata-kata Chida yang baru saja menusuk pada jantungnya itu membuatnya tak bisa memahami kondisi dimana ia sedang berdiri itu. Ia biarkan dirinya membentak dengan isakan tangis seorang wanita.



Chida tak membalas dengan kata-kata apapun. Tampak pada wajahnya rasa kasihan. Tangannya seperti ingin bergerak membelai wajah seseorang di depannya itu. Tapi tak sanggup mengayunkan, ia hanya sanggup mengepalkan kedua tangannya.



"ayah... tak memberi kabar padaku setelah tiga tahun meninggalkan kami. Hana itu sahabatku yang sudah kupercayai sejak SMP, dan ketika aku meninggalkannya ia sama sekali tak mengejarku. Kau.... kenapa semua anak laki-laki itu menyebalkan! Aku benci!" tambah Mana. Ia berlari meninggalkan Chida, berlari tanpa tau kemana arahnya.



Sepanjang jalan, ia biarkan air mata itu jatuh, hingga ia tiba-tiba saja berhenti. Ia merasakan seseorang yang menghentikan langkahnya. Roh yang selama ini mengikutinya itu. Berdiri di depannya. Berbentuk seperti sebuah bayangan, dan kemudian mulai membentuk sebuah wujud yang samar. Mengulurkan tangannya ke hadapan Mana. Dan tersenyum. Rambutnya berterbang oleh angin. "ayo, ikut aku..." ucapnya lembut.



Mana yang tak bisa berpikir apapun, membalas uluran tangan itu, dan genggaman kedua tangan yang membawanya pergi.



-To be Continued-

 Note :
- Maaf kalau alurnya sedikit maju mundur dan cerita yang sering lompat-lompat. Entah bagaimana aku lebih nyaman dengan alur yang membingungkan seperti ini.
- Terima kasih bagi yang sudah membaca :)
- MInta kritik dan sarannya dong! Untuk melanjutkan di part berikutnya, hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman