Tittle :
Ai kotoba ~Kimi wa suki de, Aishite kurete, Konna Kitte, Naite kurete,
Arigatou~ Part 1
Genre :
Romance
Author :
Kazue Hara
Character :
- Johnny's Jr [Fujita Yuuya, Hanawa Daiki, Wakiyama Rei, Chida Kyohei, Kawaguchi Yu, Takahashi Saneyasu, Tanaka Seiji, Yamagata Yuki]
- OC [Harukawa Mana, Matsumoto Reina]
愛ことば「君は好きで、愛してくれて、こんなきって、ないてくれて、ありがとう」
@chdkyhei
Johnny's
Jr Fanfic Book
.
.
Bahkan
ketika kau lambaikan kedua tanganmu
Air
mata yang mengalir di sekujur pipimu
Basah
Dan
tubuh yang tak terkutik itu
_________________________________
Gadis itu hanya terdiam berjalan ditepian
sungai. Baju seragam yang ia kenakan. Menerpa kedua tangannya sepanjang jalan
dan membiarkan angin berhembus kearahnya. Ia menutup matanya perlahan, dan
merasakan berbagai hawa dari sekujur tubuhnya itu. Helaian rambutnya yang cukup
panjang. Coklat gelap, warna yang baru saja menempel di rambutnya itu. Ia tak
memikirkan dimana ia berdiri sekarang, dan tali sepatu yang tak diikat itu.
Perlahan tubuhnya mulai merasakan seseorang yang mengikuti langkahnya dari
belakang. Bayangan yang tak terlihat. Tapi sebuah aura yang membuatnya terhenti
untuk bergerak.
Kenapa...
Ia tak menoleh sedikitpun. Kembali
menurunkan kedua tangannya. Dan menundukkan kepalanya.
"doushita?" tegurnya dengan
suara yang sungguh pelan.
Hanya sebuah angin, tapi seperti layaknya
angin yang berkumpul dan mengarah kepadanya. Angin yang perlahan memeluk
tubuhnya. Ia, Harukawa Mana hanya terdiam dan membiarkan rasa itu mengikat pada
dirinya. Karena hari ini, langkah kakinya lah yang membawanya untuk datang ke
tempat ini. Tempat yang sangat sunyi di seberang kota. Yang bahkan anak
sekolahpun tak boleh memasuki daerah ini. Tapi merintihpun, sudah tak ada guna.
...Lagi-lagi
di tempat seperti ini...
"Harukawa!?" bentak seseorang
di depannya.
Lipatan tangan yang menutupi wajahnya
itu, membuat ia perlahan mengangkat kepalanya. Melihat kearah sekitar, sorot
mata yang sama tertuju kepadanya. Dan lirikan tajam seorang wanita tua
didepannya.
"gomennasai sensei" cetusnya.
Wanita tua yang ternyata adalah gurunya
itu, mengambil buku yang tertutup rapi di atas mejanya. Membuka beberapa
halaman dan memberikan padanya. "kau tertidur pada jam pelajaran saya,
berarti kau bisa mengerjakan latihan yang ada di depan hanya dengan melihat
buku, kan?" ujar sensei.
Tanpa membantah, Mana mengambil buku itu
dan ia berjalan kearah depan. Mulai membalik-balik dan terdiam di depan. Hingga
bel pulang berbunyi.
_____________
"Mana, kau terlihat pucat
sekali?" sapa Chida yang berjalan di sebelahnya.
"lagi-lagi di tempat yang
sama..." jawabnya
"di sungai? Lagi?"
Mana mengangguk. Bibir yang ia biarkan
mengering itu. Dan matanya yang tampak layu. "aku harus kesana. Seseorang
memanggilku kesana!" ucapnya kembali.
"kau selalu bercerita tentang roh
yang datang memelukmu itu, kan? Apa ada hubungannya dengan jiwamu?" Chida
menatap pelan gadis yang berada di depannya itu. "Aku tak ingin siapapun
mengambil mu dariku!" tambahnya.
Gadis itu hanya diam. Sosok yang tak lain
di depannya, orang yang bukan pacarnya, tapi selalu mengatakan hal yang sama.
Mana, tersenyum dan memegangi tangan lelaki itu. "suki dayo, zutto!"
balasnya. Mereka berdua yang saling bertatapan di gerbang sekolah, tiba-tiba
saja seseorang memecah keheningan tersebut. "kalian! dosa!" sorak
Yamagata Yuki menepuk bahu mereka berdua. Kemudian melepas tawanya.
"ah, gomennasai!" ujar Chida.
Ia lalu berbalik arah dan kembali menyandangi tas nya, "hati-hati dijalan,
Mana. Ohya, aku tak ingin kamu pergi kesana!" Iapun melangkah ke depan dan
berjalan tanpa menoleh kebelakang.
Mendengar itu Mana hanya mengangguk,
...
"YamaG kenapa lama sekali?"
tanya Mana pada seseorang di sebelahnya.
"aku tidak tau, tadi sedang
membersihkan kelas, tiba-tiba saja ada angin menutup pintu dan aku
terkunci" jelasnya
"angin, ya" Mana melihat ke
arah langit. Biru yang memancar dibalik awan yang sangat putih itu. Ia kemudian
menggerakkan tangannya dan memegangi tangan YamaG. "ayo pulang"
...
Harukawa Mana, gadis kelas 2 SMA.
Termasuk gadis berkarakter dingin. Ia tak banyak berbicara. Semua hal yang
sering menghantuinya, Sebuah imajinasi dari roh-roh yang tak ia kenal. Ia
terkenal sebagai seorang gadis yang bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat
orang lain itu. Hal demikian yang membuat ia lebih banyak menyendiri dan
membiarkan dirinya hanyut pada sebuah imajinasi yang tak ia inginkan.
Pernah satu kali ia mencoba menahan
dirinya untuk tak mengikuti langkahnya, dan ia hampir saja direnggut oleh
kematian. Roh yang ingin berbicara dengannya lewat mimpi itu.
Ini
hanya sebuah imajinasi
Dan
kau yang terhanyut di dalamnya
"Bisa,
kau membantuku?"
________________________
"tadaima..." ujarnya sedikit
agak lemas. Ia memegangi leher belakang. Tubuhnya terasa agak lemah sekali. Dan
di hampiri seorang anak laki-laki di depan ruang tamu. Majalah kecil pada kedua
tangannya, dan minuman panas diatas mejanya. Mana berhenti di depan lelaki itu.
"kau kemari lagi!" bentaknya. Suaranya yang cukup keras itu membuat
sang ibu berlari menghampiri mereka.
"Mana.. kau sudah pulang?"
tanya si ibu.
Mana mengangkat kepala dan melihat wajah
ibunya. "anak ini, kenapa ibu biarkan saja di dalam?" ucapnya.
Lelaki itu menatap panjang wajah Mana
yang terlihat sangat kesal melihat kehadirannya. Hingga ia menutup majalah itu
dan berdiri.
"sudah 3 tahun, kau tak ingin
berjabat tangan denganku? Aku sudah mengajakmu berdamai, kan?" ia
mengulurkan tangan kanannya. Tapi tak mendapatkan respon apa-apa dari gadis
itu. Hanya saja Mana pergi dari sana meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Daiki, tidak apa-apa, mungkin Mana
belum bisa berpikir baik akhir-akhir ini. Mungkin saja ia sedang ada kesibukkan
di sekolahnya. Tak usah dipikirkan ya"
Suara
ibu yang sama
Berada
dalam ketakutan
Anak
dari selingkuhan ayah...
"Aku selalu berpikir kenapa Chida
tak pernah menanyakan padamu tentang hal itu?"
"menanyakan apa?"
"apa kau mau jadi pacarku?"
...
MANA POV'
"Yang suka Chida itu cuma aku, yang
punya perasaan lebih itu cuma aku. Lagipula, lelaki normal mana yang mau dengan
anak yang berbeda sepertiku" Aku berulang kali terbayang beberapa hal yang
seharusnya tak usah untukku pikirkan. Tapi semakin aku lari dari kenyataan,
mereka seolah semakin menghantuiku.
Roh yang selalu mengejarku, Ayah yang
meninggalkan kami sekeluarga, Cinta yang tak pernah tersampaikan, Teman-teman
yang membedakan tentang kehadiranku. Semua seperti merujuk membuatku gelisah.
Tak ada alasan lain yang membuatku akan bertahan hidup. Matipun aku belum bisa
merelakannya. Aku membayangkan senyuman ibu, yang mempercayakan padaku. Yang
bahkan sekolah ada untuk melindungiku. Prestasi yang dengan mudah ku dapatkan.
Bagiku semuanya tak ada gunanya, aku
pikir sepertinya aku ingin menghilangkan semua kelebihan yang kumiliki.
Perlahan aku melihat keluar jendela.
Cahaya sore yang menangkap terang kamarku. Aku membuka tirai jendela itu.
Tatapan ku pada angin-angin yang menuju kearahku itu. Bayangan-bayangan yang
bergelantungan di sepanjang jalan. Satu kata yang akhir-akhir ini terngiang di
kepalaku, "bisa, kau membantuku?"
"siapa yang berbicara padaku?"
gerak bibirku.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku
segera membukanya, Pesan baru dari Chida.
Lelaki
yang menggantung perasaanku...
"Mana, doko ni?" tulisnya pada
pesan bait pertama.
Aku lalu melanjutkan pada tulisan yang di
bawah, tulisan yang sudah kuduga ia selalu mengucapkannya, "kau tidak
pergi ke tempat itu, kan?"
Aku membuka mulutku merespon apa yang
baru saja kubaca itu. "bodoh! Kau selalu saja mengkhawatirkanku! Kau selalu
panik ketika aku berada dalam suatu masalah, tapi kau tak pernah membantuku
untuk keluar dari masalah itu! Kau hanya banyak omong!" ucapku. Aku mulai
membalas pesan tersebut dengan kalimat yang berbeda. "aku di rumah,
baik-baik saja" Dan pesan itu kukirim.
Setahun yang lalu, aku yang mengungkapkan
perasaan ini padanya. Dan ia tak membalas apa-apa. Hingga hari demi hari kami
semakin dekat. Ketika beberapa orang yang menanyakan itu, ia sama sekali tak
menjawab apapun. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Pernah sekali aku
berusaha menjauh dan membencinya, tapi perasaan ini yang membuatku selalu dekat
dengannya. Aku tau, aku ini bodoh. Tapi aku bahkan tak bisa membohongi
perasaanku. Setiap kali ia menjalin hubungan dengan anak perempuan lainnya, dan
setiap kali ia katakan padaku, tak ingin seseorang mengambilku dari nya. "sebenarnya
aku ini siapamu?"
...
Tiga tahun lalu dimana ayah mengakui pada
ibu tentang istri barunya. Saat dimana pengakuan ayah lebih memilih
meninggalkan kami dan menjalani hidup baru disana. Dan saat dimana aku
menyadari, sahabat terbaikku adalah anak dari selingkuhan ayah. Rasanya bagiku
dunia benar-benar telah hancur. Aku hidup dalam kebohongan semua orang.
Merintih, dan menangis, dua hal yang takkan pernah selamanya bisa kulakukan.
Aku menyimpan semuanya dan bersikap tenang di hadapan semua orang. Aku hidup
dan mengalir seperti air.
.
.
Normal POV
...
Mana terbaring di tempat tidur nya dengan
tatapan yang kosong. Matanya terbuka tanpa berkedip. Langit-langit kamar yang
terlintas di kamarnya. Ia membayangkan sosok yang terjadi padanya. Bayangan
angin yang menahan kedua tangannya untuk bergerak. Dan wajah seorang gadis yang
tiba-tiba saja muncul dalam penglihatannya.
"da-dare?" tegurnya
Gadis yang tak ia pahami wajahnya itu,
tersenyum dengan sangat ramah sekali.
"bantu aku..."
Dan suara itu kembali berbisik di
telinganya. Dengan tegas Mana segera memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dan happ..
tubuhnya terlempar jauh dari kasurnya. Sesakan nafas dari tubuhnya, dan
gemetaran yang ia rasakan.
"bagaimana bisa aku menolongmu,
kalau aku tidak bisa melihat siapa dirimu?" teriak Mana.
Angin yang ia rasakan itu mulai berjalan
mendekat kearahnya. Bayangan yang tak berbentuk. Tapi sangat jelas terasakan,
permintaan tolong dan ucapannya. Semakin mendekat dan bayangan itu kemudian
datang memegangi kedua tangannya. "si-apa kau..."
Gambaran yang tiba-tiba saja teracak pada
benaknya, berputar pada tatapannya. Dan perlahan ia melihat bayangan air sungai
itu melintas pada penglihatannya. "jangan bawa aku kesana..." gumam
Mana
"kenapa?!"
.
.
aku
tak ingin kamu pergi kesana!
"dia itu siapamu, hah? hanya orang
yang menggantung perasaanmu!" bisikan yang terdengar seperti bentakan itu.
Membuat Mana berhenti untuk bergerak. "kenapa, kau mengetahuinya?"
"kau itu bagaimanapun tetap saja
menjadi seorang yang bodoh. Cih!"
.
.
.
...Aku
bodoh...
menghilang
saja
untuk
selamanya !
.
.
"ada heboh apa diatas, tante?"
ucap Hana menghentikan gerakan pisaunya.
Ia melihat dari bawah ke depan kamar Mana
dilantai dua. Dirinya yang sedang sibuk mengupas apel dengan orang yang ia
sebut 'tante' itu. Dengan wajah yang sedikit agak panik, ia meletakkan pisau
tersebut. Tapi wanita tua di sebelahnya menghalangi langkahnya. "tidak
apa-apa, Mana memang selalu ribut sendiri di kamarnya" jelas wanita itu.
Tetapi walau dihalangi seperti itu, Hana
masih diam sambil berpikir tentang apa yang baru saja terjadi.
Sedangkan semua yang baru saja di alami
Mana....
"kau ingin meminta tolong padaku,
atau ingin membunuhku?!" bentak Maba. Roh yang tak terlihat itu hanya
berputar mengelilingi gadis itu. Angin yang mengguncang keadaan kamar. Dan
tiba-tiba ketika mulai menutup mata, Mana mulai melihat sesuatu yang sudah
biasa terlihat oleh pandangannya. Gadis kecil berkincir kuda di rambutnya, di
tepian sungai dengan balon-balon yang terbang dari segala arah. Gadis kecil
yang sangat cantik itu. Pakaiannya yang terlihat seperti pakaian beberapa tahun
yang lalu.
...Dare...
.
.
"Mana, Mana! Daijoubu?"
seseorang yang memegangi wajahnya. Merangkulnya dari belakang. Buram yang
terlihat perlahan-lahan mulai jelas olehnya.
Ia mulai membuka matanya.
"kau...." gumamnya. Melihat sosok Hana yang ada di dekatnya, membuat
Mana segera terbangun dan menjauh. "siapa yang menyuruhmu masuk kemari,
hah!" bentaknya.
Lelaki itu hanya diam. Matanya sedikit
berbinar melihat seorang gadis yang membentakinya. Dengan pelan ia mulai
berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Mana. Hal itu membuat keadaan rumah
kembali seperti biasa.
.
.
.
Hari ini lagi-lagi suara panggilan keras
dari sensei atas nama Mana. Lagi-lagi ia tertidur di kelas. Karena terlalu
emosi, sensei menyuruhnya untuk segera keluar dari kelas dan tidak di izinkan
untuk masuk selama pelajarannya. Bahkan tanpa membantah apapun, ia segera
keluar tanpa membawa apapun. Dan berdiri tenang di depan pintu.
Sudah beberapa menit berlalu.
Mana hanya diam memasukkan kedua
tangannya kedalam saku switternya, Bersandar pada pintu dan menundukkan
wajahnya. Pikirannya mulai terlihat kosong.
...Dia
membawaku kembali...
Ia mulai meneteskan air mata, mulai
menyesali kehidupannya.
Hingga seseorang menghapuskan air mata
yang membasahi pipinya dengan tisu. Dengan kaget Mana segera mengangkat
kepalanya.
"Chida....?" ucapnya pelan
"Ssssst...." seseorang di
depannya itu mengangkat jari telunjuk ke bibirnya menyuruh Mana mengecilkan
suaranya.
"ke-kenapa kau ada disini?"
tanya Mana. Chida berdiri tenang sambil tersenyum di depannya. "suara
sensei memarahimu terdengar hingga kekelasku. Makanya aku menyuruh pacarku
untuk memberi tau sensei saat itu bahwa aku sakit.." jelasnya
...Pacar?
...Yang ke berapa?
"Aku tak bisa membiarkanmu berdiri
sendiri disini, Ke kantin, yuk!" ajaknya mulai menarik tangan Mana.
Tapi gadis itu menahannya. Ia menatap lama lelaki yang ada di depannya. Dan
mulai membuka mulut, "perasaanmu padaku, sebenarnya seperti apa? Atau tak
ada sama sekali?"
Pertanyaan itu membuat Chida diam dan
melepas genggamannya. Sama sekali tak tergambar di wajahnya jawaban apa yang
hendak ia katakan. Tapi seperti ia tak pedulikan apapun.
"roh itu, kembali
menghantuimu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Roh itu seperti meminta pertolongan
padaku. Aku melihat gadis itu. Dan aku tidak mengerti, apakah dia roh ataukan
orang yang dimaksud roh itu" jawab Mana
Dan ia kembali menyambung kata-katanya
tanpa menunggu balasan dari Chida.
"Aku ingin segera menyelesaikan
masalahnya, setelah ini selesai aku ingin mencabut semua yang bisa kulihat,
kudengar, dan kurasakan ini. Aku hanya ingin menjadi gadis normal. Sudah cukup
kehidupan nyataku sudah sangat rusak. Aku sama sekali juga tak ingin menyakiti
diriku sendiri. Makanya..."
"kalau kau tau aku tak membalas
perasaanmu, kalau kau tak melihatku dengan kepastian, kenapa kau harus
mengikuti saranku, hah!" Bantah Chida
Mana kaget dengan penjelasan itu.
Tangannya yang mulai bergetar dan dirinya yang mulai kehilangan kesadaran.
Kenapa?
Karena
aku suka dirimu!
"jadi kau untuk apa selalu berada
didekatku!" Bantah Mana balik. "kau tau aku suka, kau mendekatiku.
Kau tak membalas perasaanku, dan sudah berapa kali kau membawa pacarmu di
depanku? Apa maksudmu? Kau juga ingin menyiksa batinku?" tambahnya
kembali. Pertengkaran yang mulai terdengar di sepanjang koridor yang tak ia
pedulikan. Kata-kata Chida yang baru saja menusuk pada jantungnya itu
membuatnya tak bisa memahami kondisi dimana ia sedang berdiri itu. Ia biarkan
dirinya membentak dengan isakan tangis seorang wanita.
Chida tak membalas dengan kata-kata
apapun. Tampak pada wajahnya rasa kasihan. Tangannya seperti ingin bergerak
membelai wajah seseorang di depannya itu. Tapi tak sanggup mengayunkan, ia
hanya sanggup mengepalkan kedua tangannya.
"ayah... tak memberi kabar padaku
setelah tiga tahun meninggalkan kami. Hana itu sahabatku yang sudah kupercayai
sejak SMP, dan ketika aku meninggalkannya ia sama sekali tak mengejarku.
Kau.... kenapa semua anak laki-laki itu menyebalkan! Aku benci!" tambah
Mana. Ia berlari meninggalkan Chida, berlari tanpa tau kemana arahnya.
Sepanjang jalan, ia biarkan air mata itu
jatuh, hingga ia tiba-tiba saja berhenti. Ia merasakan seseorang yang
menghentikan langkahnya. Roh yang selama ini mengikutinya itu. Berdiri di
depannya. Berbentuk seperti sebuah bayangan, dan kemudian mulai membentuk
sebuah wujud yang samar. Mengulurkan tangannya ke hadapan Mana. Dan tersenyum.
Rambutnya berterbang oleh angin. "ayo, ikut aku..." ucapnya lembut.
Mana yang tak bisa berpikir apapun,
membalas uluran tangan itu, dan genggaman kedua tangan yang membawanya pergi.
-To
be Continued-
Note :
-
Maaf kalau alurnya sedikit maju mundur dan cerita yang sering
lompat-lompat. Entah bagaimana aku lebih nyaman dengan alur yang
membingungkan seperti ini.
- Terima kasih bagi yang sudah membaca :)
- MInta kritik dan sarannya dong! Untuk melanjutkan di part berikutnya, hehe












Tidak ada komentar:
Posting Komentar