“Three
Steps Ahead”
先に3つのステップ
By : Richia Kayoru Nanahira
~PART 3~
{Ending}
Aku pikir semua untuk hari ini dan hari esok,
dimana aku bisa menemui nya kapan pun juga
Rasa itu mulai berubah ketika ia melakukan
semua yang terbaik untukku,
Kusadari bahwa itu adalah “cinta” :’)
~Sebelumnya,
Lelaki
itu terdengar sangat aneh. Dia seperti sangat gugup sehingga ia tak berfikir
untuk menghentikan pembicaraannya. Dia juga seperti anak laki-laki yang
ceroboh. Ia bahkan tidak menyadari kalau kata-katanya banyak yang tidak tepat.
“ti-tidak.. aku hanya… aku hanya..”
“hanya menunggu batrai ponsel terisi
penuh..?”
“haa, iyaa..” jawaban ku berhasil di
sambungnya. Ini kebetulan, ya? Semua laki-laki bisa mengatakan apa yang
dipikirkan semua wanita?
“kenapa bisa mengetahuinya ?”
“tentu saja, perasaan wanita mudah
di tebak..” jawab Hiroko. Kurasa, jawabannya berbeda. Dia bukan lelaki yang
waktu itu.
“Hana lagi ngapain ?”
“berencana mau tidur..”
“ooh yaudah aku matikan telfonnya
ya, aku tidak mau mengganggu..”
“eh tu-tungguu..”
“ada apa Hana ?”
“aku mau katakan sesuatu..”
“katakan apa?”
“temanku Nene, menyukaimu, kumohon
jadilah pacarnya..”
“tapi kan..”
“iya, aku ingin Hiroko bersamanya..”
Mendengar ucapanku, Hiroko tiba-tiba
terdiam.
“Hiroko ? masih ada kah disana ?
halo…?” panggilku
“iya aku masih.. hmm baiklah..” ia
menjawab dan mematikan telfonnya.
☆ 先にさんすてっぷ ☆
“Hoaaaaaammm!!” pagi ini aku
terbangun dari tidurku.
Aku tersenyum kepada kaca. Mataku
masih berkunang-kunang dan rambutku masih acak-acakan. Aku terduduk diatas
tempat tidurku, Suasana pagi yang seperti biasanya.pagi ini pun aku akan
melanjutkan aktifitasku, selesai makan pagi di meja makan bersama yang lainnya
aku akan mengayuh sepedaku menuju stasiun Okubo. Biasanya selalu begitu..
~~
“Ohayou!” teriakku ke arah meja
makan
“Ohayou Erin, sudah bangun ternyata”
sapa mama yang sedang menyiapkan makanan diatas meja
Aku segera duduk diatas kursimeja
makan, menunggu antrian di kamar mandi. Sebenarnya dua adikku sudah duduk rapi
di meja makan. Hanya aku setiap paginya selalu terlambat bangun.
Tapi itu tidak masalah, karena aku
sudah biasa melakukannya.
~waktu berangkat
menuju sekolah
“sudah mau berangkat Erin ?” Tanya
mama
“iya ma, aku berangkat dulu..”
“hati-hati di jalan ya..”
Aku kemudian mengayuh sepedaku. Pagi
ini rasanya menyenangkan, bahkan aku mudah sekali untuk tersenyum. apalagi
seketika aku mengingat kejadian pulang sekolah kemarin…………… rasanya bukan
seperti aku yang biasa, yang selalu berlari menjauhi semua kenyataan.
“tiit…tiiit..tiiit…” tiba-tiba suara
ponsel menghentikan pikiranku
“ada pesan..!” ucapku segera membuka
tas yang kusandang di belakang
From : Nene
Number : xxxxxxxxxxxx
Text :
Erin, Hiroko mengungkapkan
perasaannya padaku ! :D Hari ini
kamu langsung saja ke kelas
ku ya, akan kuceritakan semuanya :)
“Yokatta…!” begitu teriakanku seusai membaca
pesan singkat dari Nene. Aku rasanya tidak percaya kalau Hiroko benar-benar
menetapi janjinya. “kira-kira Hiroko itu orang seperti apa ya.. jika bertemu
aku ingin sampaikan padanya rasa terima kasihku..”
“hah! Kenapa aku tidak langsung
mengirim message ke dia!” aku segera mencari kontak telfonnya.
To : Hiroko
(xxxxxxxxxxxx)
Text :
Hiroko, arrigatou gozaimasu
:)
Sesaat aku mengirim pesan itu dan
mencoba menyimpan ponsel ku kembali ke dalam tas, aku segera menerima pesan
masuk. “wah, cepat sekali!”
From : Hiroko
Number : xxxxxxxxxxxx
Text :
Iya, sama-sama Hana-chan :)
Ia membalas sangat cepat sekali.
Hari itu, aku berpikir Hiroko adalah orang yang baik. Entah kenapa tiba-tiba..
“Hey kau!” sekali lagi sesosok suara
memanggilku yang sedang mengayuh sepeda menuju stasiun Okubo.
Aku segera menoleh dan tersenyum.
Suara itu sepertinya aku mengenalnya.. lelaki
yang kemarin..
“Ohayou, kamu tinggal di dekat sini
?” tanyaku
“hmm.. begitulah, ayahku memiliki
toko kecil disekitar sini, jadi dari rumah aku berangkat bersama ayah karena
jarak rumah dan stasiun cukup jauh”
“waaah, hebat ya, aku saja sudah
kewalahan pergi se…” *eh!*
Aku segera menghentikan
pembicaraanku. Aku kaget, kenapa aku sama
sekali tidak gugup? Pikirku. Tatapanku masih melihat kea rah lelaki itu.
Aku kenapa ? apa aku tidak menyadari
? aku berbicara sangat dekat dengannya, aku tersenyum, aku tidak lari ? aku bahkan
tidak pucat dan mengeluarkan keringat dingin sedikitpun. Aku.. aku kenapaa ???
“kita
lempari permen karet bagus kali ya?”
“iya,
permen karet sangat enak, dan seketika tidak enak kita akan..”
“hey!
Kalian para laki-laki, enyahlah dari hadapannya !! kalian selalu saja
menyiksanya !”
“berhenti
lah berbicara wanita bodoh ! atau kami akan perlakukan kalian seperti dia !”
“iya,
anak yang berasal dari kelas bawah harus diperlakukan seperti ini”
“ini
pantas untuknya!”
“ky..ky..kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
aku kembali berteriak ketakutan.
Aku
mencoba menutup kedua mataku dan memegangi kepalaku dengan kedua tangan. Aku
kembali menangis. Tiba-tiba ingatan itu kembali menyakitiku. Aku seperti berada
di tempat gelap yang bahkan sangat gelap lagi..
Ada apa ? ada apa ? aku baru saja
bisa melupakannya.. ke-kena…
“Kamu kenapa ??” di tengah
kekosongan itu aku seperti mendengar suara memanggilku. Saat itu aku lupa
semuanya. “aku ada dimana ? kenapa aku tak melihat apa-apa?”
*plakk!
Baru saja aku merasakan suatu tamparan!
Aku segera membuka mataku dan
melihat lelaki itu berdiri dihadapanku. Ia menamparku ?
“ke-kenapa kau…”
“maafkan aku, aku terpaksa
melakukannya..” jawabnya menundukkan wajahnya
“barusan, aku kenapa ?” tanyaku
sambil memegangi pipiku bekas tamparan itu
“harusnya aku yang bertanya padamu,
kenapa setiap aku melihatmu kamu selalu begini ? apa kamu menyembunyikan
sesuatu ? kalau iya, ceritakanlah !” bentaknya
“tidak apa-apa, lupakan saja..”
“hey, cobalah untuk jujur, jika kamu
punya masa lalu yang buruk, ceritakanlah kepada orang yang dapat kamu percaya.
Meski orang itu mungkin tak bisa membantu banyak, yang pasti dengan jujur kamu
akan mengurangi beban di pikiranmu”
Kata-kata
itu lagi..
Aku sejenak menghentikan sepedaku,
dan kemudian aku kembali melanjutkannya. Bahkan setelah beberapa detik aku
berhasil melupakannya, ingatanku kembali menggangguku. “aku ini lemah, aku tak
bisa apa-apa, untuk melupakan masa lalu pun aku tak bisa.. bertahun-tahun aku
membiarkan diriku terpuruk pada hal yang sangat menakutkan” aku berharap semua
itu bisa berubah dengan cepat..
Orang yang kupercayai itu… “siapa ?”
☆ 先にさんすてっぷ ☆
“Ohayouuuu Erin sayaaaaaaaang !!”
Nene meneriaki ku saat aku sampai di depan pintu kelas nya
“Ohayou, Nene” aku membalas teriakan
itu dengan sapaan pelan sambil tersenyum
“ayo duduk disini, aku mau ceritakan
kejadian semalam” Nene menyiapkan tempat duduk di sebelahnya. Secepat mungkin
aku berlari kearah Nene
“oh ya Nene..”
“apa ?”
“kenapa hanya aku ? Hikari mana ?”
“Hikari ? aku hanya mengajakmu”
“kenapa aku ?
“iya, aku ceritakan ini hanya padamu
Erin..”
“eh ??”
“hmm, itu karena aku hanya percaya
pada Erin” jawaban Nene itu.. tiba-tiba membuat jantungku berdetak ! aku diam
seketika dan menatapi Nene.
“Eriin, kemarin malam sekitar jam 10
malam lewat Hiroko menelfon ku. Sebenarnya aku sudah tidur tapi karena telfonku
berdering, aku mengangkatnya. Dan ternyata itu dari Hiroko.. waaaah malam itu
rasa ngantukku hilang..!” jelas Nene
“hmm? Hiroko bilang apa?”
“Nene, aku suka kamu, jadilah
pacarku. Begitu bilangnya, Erin”
“benarkah ? syukurlaah.. trus kamu
jawab apa ?”
“bagaimana dengan Erin, kata miya
kamu menyukainya. Aku bukan Erin..”
*eh?
Mendengar
ucapan Nene aku kembali terkaget. Padahal kupikir Nene akan langsung menerima. Kenapa Nene mengingat aku?
“lalu Erin, kenapa melamun ?!”
“aaa, ti-tidak apa-apa. Lalu apa
lagi ?”
“iya kami telfonan sampai aku
tertidur sendiri..”
“bagaimana dengan jawabanmu ?”
“kubilang aku pikir-pikir dulu..
habisnya ucapan Hiroko sepertinya tidak niat banget, mungkin ada yang
menyuruhnya mengatakan begitu”
“kenapa berfikir begitu ? bukankah
kamu sangat menyukainya ?”
“tentu saja, aku tidak ingat memaksa
orang yang kusuka menjadi milikku bila ia tidak ingin”
Nene
orang yang baik..
Pikirku setelah
mendengar Nene mengucapkan hal yang demikian. Sambil duduk di sebelah Nene, aku
selalu mendengarkan ceritanya tentang Hiroko. Kurasa, Hiroko pantas untuk Nene.
Aku, entah kenapa berfikir seperti itu.
Aku.. hanya anak bodoh yang tak bisa
mendekati anak laki-laki.. aku tidak pantas untuk siapa-siapa. Merasakan rasa
sukapun aku rasa aku tak bisa..
~~
Setelah semua berlalu mengikuti
hari-hari ini, jadwal pulang sekolah pun tiba. Seluruh siswa pulang
meninggalkan sekolah. Seperti biasa, lelaki yang waktu itu kembali menemuiku.
Akan tetapi, kali ini ia berbeda..
“siang ini, maukah ke taman ? aku
ingin berbicara denganmu” ajaknya
“kenapa harus aku ?”
“iya, aku ingin mengatakan
sesuatu..”
“mm, iya” aku menganggukkan kepala
dan mengikutinya dari belakang
Hari ini ke tiga kalinya kami
bertemu, dan tanpa menakutiku, ia membawaku ketaman. Kurasa tak jauh dari
sekolah.
Padahal langit sangat mendung. Tapi
bersamanya, aku sama sekali tidak merasakan panik akan terjadi nya hujan.
Sebenarnya.. apa yang sedang aku pikirkan tentang lelaki ini ? bahkan untuk
menanyakan nama nya saja aku tidak berani.
☆ 先にさんすてっぷ ☆
“yap, kita sampai” ucapnya seketika
kami sampai di suatu daerah hijau yang aku tak pernah kesana. Daerah yang
sangat bersih sekali. Tidak begitu banyak orang disini, tapi rasanya damai
sekali. Suasana yang tenang dan banyaknya pohon-pohon yang dipenuhi bunga
sakura. Di rumput nya pun ada banyak hiasan bunga yang bertebaran dimana-mana.
Seperti di surga bunga.
“kamu suka ?” tambah lelaki itu
segera duduk diatas rerumputan
“mm..” aku mengangguk dan duduk agak
berjauhan dari lelaki itu. Jarak kami sekitar 1 meter lebih
“indah ya..”
“iyaa..”
Seketika kami saling berdiaman,
tersenyum pada keadaan dan menikmati keindahan taman itu. Tapi beberapa saat
kemudian,
“satu tahun yang lalu, aku putus
dengan pacarku..” ucapnya tiba-tiba
“hah ? putus ? kenapa ?”
“iya, kurasa aku telah mendapatkan
seorang wanita yang bagaikan mutiara..”
“maksudnya ?”
“dia cantik terkenal baik hati dan
yang pastinya kami saling menyukai”
“tapi kenapa putus ?”
“soal itu, karena aku tidak percaya
padanya !”
Tidak percaya ?
“karena kecantikannya, ia berteman
banyak dengan semua orang. Ia bersikap ramah pada siapa saja. Sehingga ia
selalu jadi rebutan.”
“…” aku hanya melihat dan
mendengarkannya
“aku ini bodoh ya, saat itu aku
merasa kalau aku ini sudah terlempar sangat jauh. Padahal aku tau kalau dia
sangat menyukaiku. Ia memahami perasaanku. Tetapi aku berpikir kalau dia sudah
jauh meninggalkanku”
“…..”
“aku memutuskannya”
“lalu? Apa yang terjadi ?”
“begitulah, tak lama setelah itu
temanku memberitahuku kalau selama ini ia selalu menolak semua anak laki-laki
yang menyukainya. Dengan alasan, ia memiliki ku..”
“waaah kalau begitu kenapa tidak
minta balik ? kurasa dia masih ada untukmu”
“haha, apa yang sudah kulepas, aku
tak ingin mengambilnya lagi”
“begitu, ya” aku mengalihkan
pandangan dari lelaki itu. Aku melihat ke langit-langit. Apa maksudnya
mengatakan semua itu padaku ? padahal aku dan dia sama-sama tidak saling
mengenal.
Dia
teman Hiroko, kah ? atau Yori orang yang disukai Miya ?
“kenapa mengatakan semua itu padaku
?” tanyaku memberikan diri.
“bertanya padaku kah ?”
Aku
terdiam, aku rasa aku sudah mengerti maksud lelaki ini. Untuk jujur..
“aku, 2 tahun lalu masih duduk di
bangku sekolah dasar. Sebenarnya kelas ku adalah kelas 6-D. tapi saat itu kelas
D kelebihan siswa. Guru-guru memindahkanku ke kelas C. dimana disana adalah
kumpulan siswa-siswa pintar dan terpelajar. Aku tidak tau kenapa aku disana, yang
jelas, tak ada orang yang menerima keberadaanku. Hanya mereka anak perempuan
yang sekedar menyapaku. Mereka tidak pernah mengajakku bermain. Anak
laki-lakinya, mereka sangat membenciku. Hari-hari berlalu di kelas C, aku
selalu menjadi alasan kebencian anak laki-laki. Mereka melakukanku seperti di
neraka.. hiks..hikss..” aku menghentikan kata-kataku. Tiba-tiba jantungku
berdebar sangat cepat. Aku menangis dan hatiku rasanya sakit.
“kalau ingin menangis, menangislah.
Dan jika semua tenang, kembalilah lanjutkan ceritamu” ucap lelaki itu
Saat itu, aku terus menangis, aku
menangis sekeras-kerasnya. Hal yang tak pernah kulakukan selama ini,.
Diperlakukan seperti sampah pun aku selalu berusaha untuk tidak menangis, aku
mencoba tertawa pada siapapun. Aku menyimpan rasa sakit itu jauh lebih dalam di
lubuk hatiku. Aku tau, perasaan ini akan menyiksaku. Aku tidak tau harus
menceritakannya pada siapapun. Aku tetap bersikap seolah lebih baik,. Melakukan
apapun dengan tersenyum. Hatiku menangis dan terus menangis, ingatanku semakin
memburuk.
Dan kurasa hari ini, aku rasa aku
tak ingin rasa takut terus menghantuiku. Semua telah berlalu. Tidak selama nya
aku terus berada pada keterpurukan. Mereka tak selama nya jahat. Aku percaya
itu.. aku bertemu beberapa anak laki-laki dan mereka selalu tersenyum padaku..
Aku
ingin untuk coba jujur pada diriku dan semua orang.. kalau aku ingin bangkit
dari keterpurukan.. aku tidak ingin terus menangis,
“aku..aku…”
“ada apa ? kamu sudah merasa tenang
?”
Aku
mengangguk,
“ajarkan aku untuk berubah, aku tak
ingin mengingat masa lalu lagi, aku ingin hidupku semakin berwarna, aku ingin
seperti Miya..” ucapku mengusap kedua mataku yang telah mengeluarkan banyak
sekali air mata
“baiklah..”
“aku percaya padamu.. aku ingin
jujur pada perasaanku..”
“eh ?” lelaki itu tiba-tiba kaget
dan membuatku berhenti melanjutkan pembicaraan
“doushita ?”
“jujur ya..” ia menundukkan
kepalanya
“iya, bukankah kamu yang mengajarkan
itu pada ku ?”
“oh ya, maafkan aku.. yaudah ayo
pulang” ia segera berdiri dari duduknya dan mengambil sepedanya kemudian kembali
mengayuhnya
Dia
kenapa..?
☆ 先にさんすてっぷ ☆
~di
rumah Miya
“jadi Hiroko bersama Nene, ya ? yah
padahal aku mau Hiroko bersama Erin..” Miya baru saja mendengar penjelasan ku
tentang Nene
“mm tapi Nene tidak menjawab
apa-apa, ia bilang kalau dia akan segera memikirkannya”
“haah, aku sudah menyusun rencana
ini sangat lama padahal.. aku sudah membayangkan Erin bisa berubah”
“tapi, seseorang mengajarkan tentang
kejujuran dan kepercayaan kepadaku”
“seseorang ? siapa ?”
“tidak tau namanya, kurasa hari ini
aku sudah mulai tenang. Seseorang itu membuatku jauh dari ketakutan, bahkan
sangat jauh sekali”
“jadi maksudmu dia sudah membuat mu
berubah ? hebaaat !! aku saja yang selama ini bersama mu tidak membuat
perubahan apa-apa, dia siapa ? laki-laki atau perempuan ? perkenalkan denganku
dong !”
“ne~ne~ bukan begitu, aku rasa dia
membuatku berpikir berulang kali. Mulai sekarang aku mau jujur, jujur pada
diriku juga jujur pada semua orang, hanya itulah cara yang dapat membuatku
kembali bersenang-senang dan melupakan masa lalu..”
“kata-katamu indah Erin!”
“dia yang membuatku berkata
demikian, Miya” aku lalu mengambil tas ku dan berjalan meninggalkan Miya, aku
akan segera pulang
Dari kejauhan, Miya terus bersorak
“Erin, bilanglah lelaki itu siapa ?”
“yang waktu itu Miya bawa, trus yang
waktu itu berjalan mundur di depan rumahku” teriakku dari pintu luar dan tanpa
mendengar jawaban Miya, aku segera mengayuh sepedaku untuk segera pulang.
Padahal apabila aku mendengar jawaban Miya pasti Miya akan segera memberitahuku
siapa lelaki itu..
Tapi untuk saat ini, bukan tentang
nama.. tapi aku ingin dia mengubahku lebih jauh lagi..
Lalu apa maksudnya tadi dia bilang,
“jujur ya..” dia juga menyimpan
sesuatu kah ?
Kemudian hari-hari pun berlalu,
beberapa minggu setelah kejadian itu, aku semakin sering bertemu dengannya. Aku
mulai terbuka padanya dan perlahan ia telah membuat perubahan padaku. Semakin hari
berlalu aku mulai bisa melupakan masa lalu dan sangat dekat dengannya. Akan tetapi
soal Nene, ia masih belum memberi jawaban apa-apa pada Hiroko. Hiroko pun
sepertinya juga tidak peduli dengan Nene. Aku dan Hiroko sering berkomunikasi
lewat pesan. Ia anaknya sangat suka bicara. Bahkan ia membalas pesanku dengan
sangat cepat dan banyak sekali. Beberapa waktu saat itu aku sudah tidak bertemu
Miya lagi, karena ia mengikuti banyak sekali pelajaran tambahan diluar. Waktu itu
lah terakhir aku bertemu dengannya..
Dan siang ini,
~~
“Erin, sepulang sekolah kemana ?”
Nene dan Hikari menemuiku di gerbang sekolah
“tidak kemana-mana, memangnya kenapa
?” jawabku
“temani aku bertemu Hiroko, hari ini
aku ingin memberikan jawaban padanya” ucap Nene
Kalau
aku menemani Nene, artinya aku tidak akan bertemu lelaki itu kan ??
“kenapa diam begitu Erin ?” Tanya Hikari
“eh tidak apa-apa, ayo pergi..
kalian akan bertemu dimana ?”
“Matsuyama kouen~” jawab Nene sangat
bahagia
Itu taman indah waktu aku diajak bersama
laki-laki itu.. akh! Jangan-jangan ?
Bukan, ada banyak orang disana, dan taman itu
pasti sangat terkenal !!
“ayo Erin, kamu suka sekali melamun
!” ajak Nene
“iya,” aku mengayuh sepedaku segera.
Dan beberapa
saat lagi kami akan segera tiba di taman..
Sesampai
disana aku meletakkan sepedaku di pinggiran pohon, kami bertiga duduk di atas
satu kursi panjang menunggu kedatangan Hiroko yang kata Nene akan datang
bersama temannya.
Siang itu aku sibuk dengan ponselku,
aku mencoba menghapus pesan masukku yang sudah mulai penuh.
“Hiroko ?” ucap Nene di tengah
kesunyian. Aku yang sibuk dengan ponselku tidak mempedulikan keadaan. Aku membiarkan
Nene berbicara sendiri
“ja, Hiroko kenalkan ini temanku
Hikari, dan ini Erin yang waktu itu sempat lari di tragedy rumah Miya” Nene mencoba
mengenalkan kami
“Erin ?” sesosok suara yang sangat
kukenal itu memanggil namaku.
Suara itu, mirip bahkan persis sama
dengan suara laki-laki yang dekat denganku itu. Dengan rasa kaget aku segera
mengangkat kepalaku dan melihat ke depan.
Itu… diaa !!
☆ 先にさんすてっぷ ☆
“ja,
Hiroko kenalkan ini temanku Hikari, dan ini Erin yang waktu itu sempat lari di
tragedy rumah Miya” Nene mencoba mengenalkan kami
“Erin ?” sesosok suara yang sangat
kukenal itu memanggil namaku.
Suara itu, mirip bahkan persis sama
dengan suara laki-laki yang dekat denganku itu. Dengan rasa kaget aku segera
mengangkat kepalaku dan melihat ke depan.
Itu… diaa !!
“kamu, kan ?” aku segera membuka
mulutku untuk berbicara. Aku melihat sosok yang sangat kukenal, tentu saja !
dia orang yang telah membuatku berubah dan selama ini kami selalu pergi dan
pulang sekolah bersama.
“jadi namamu Erin ? kukira Hana..”
ucapnya kembali tersenyum padaku
“apakah kamu Hiroko ?”
“begitulah, maaf selama ini aku
tidak memberitahumu.. dan kamu juga tidak coba untuk bertanya padaku..”
Sementara itu Nene dan Hikari hanya
diam menatapiku. Mereka tidak berbicara sedikitpun.
“jadi selama ini..?” aku mulai tidak
percaya pada keadaan.. rasa percaya itu kemudian membuat ku mengeluarkan air
mata.
“habisnya Miya pernah cerita padaku
tentang dirimu, makanya aku ingin dekat denganmu. Sebenarnya aku yang menyuruh
Nene untuk membawamu dengan berbagai alasan. Waktu pertama kali aku menelfon mu
sebenarnya aku sangat senang sekali dan aku ingin mengungkapkan perasaanku
padamu. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu hanya kamu yang kuingat,
kupikir sejak itulah aku suka kamu. Tapi waktu itu, kamu hanya menyuruhku jadi
pacar Nene. Awalnya kecewa, tapi kurasa kalau itu yang membuat Erin bahagia,
akan kulakukan”
“eh ?”
“oh ya, aku pikir, aku juga ingin
sepertimu Erin, kamu berani untuk jujur di saat kamu sedang terpuruk. Aku salut
atas keberanianmu”
“tapi..”
“iya, kamu berubah. Kamu bukan gadis
yang lemah, kamu kuat Rin..”
Aku diam, terus mencoba menatapi
mereka yang mana mereka juga menatapiku. Jujur, aku tidak mengerti maksud semua
ini. Aku hanya berjalan mengikuti alur cerita, dan memang bertekad untuk.. hey,
aku punya tekad untuk berubah.. benar,
aku pikir aku bukan gadis lemah, aku kuat karena aku punya tekad. Itu karena…
“mulai hari ini panggil aku Ren ya,
dan aku akan memanggilmu Rin. Aku baru sadar kalau kita punya nama yang sama..”
tambah lelaki yang bernama Hiroko itu..
“iyap!” tiba-tiba Nene merangkul
kedua bahu kami “maaf ya aku egois, harusnya Erin pantas untuk Hiroko”
“maksudnya ? bukankah ?”
“beberapa waktu yang lalu Miya
menelfonku, dia bilang kalau Erin menyukai seseorang, Erin bilang kalau bisa
berubah karenanya, Erin memiliki kata-kata indah karenanya. Orang yang disadari
Miya adalah Hiroko, namun Erin tidak menyadarinya. Jadi kupikir, kalian
sama-sama suka. Juga waktu Hiroko mengungkapkan perasaan padaku, ia sama sekali
tidak tulus, jelas sekali dari cara bicaranya, bahkan di setiap topic ia hanya
membicarakan tentang Erin. Kurasa Erin yang membuat Hiroko terpaksa berkata
begitu. Makanya aku tidak menjawab apa-apa waktu itu”
“Nene..”
“hah, Erin, kan aku sudah bilang,
aku takkan memaksa perasaan orang yang kusuka agar menyukaiku..”
Iya, kali ini aku mengerti maksud
semua ini, aku mengerti semua jalan cerita yang selama ini telah kucoba untuk
kutempuh. Jika saja dulu aku mencoba untuk lari, mungkin aku takkan bertemu
hari ini. Semua kesakitan itu membawaku kepada jalan yang sangat jauh dari
ketakutan.
Hatiku, aku masih punya hati yang
sangat kuat yang kupikir akan segera rapuh.. ini karena semua orang :)
“lalu, bagaimana dengan hari ini ?” Tanya
Hikari tiba-tiba
“yey! Makan gratis ! makan gratis !”
teriak Nene gembira sekali
“hah ? makan gratis ?” tanyaku kembali
sama sekali tidak mengerti
“iya Erin ! jangan sampai putus ya !
kalau putus berhadapan denganku yang sudah susah payah merelakannya !” jawab
Nene membawakan tasku dan beranjak dari sana. “ayo makan-makan Hikari, hari ini
aku mau pesan banyak sekali makanan, aku lapar!” tambah Nene pada Hikari
mengayuh sepeda keluar taman
“kalau aku sih semua yang enak mau
ku pesan mumpung gratis !” balas Hikari
Matahari terbenam, taman yang sepi
malah menjadi sangat ribut karena ulah Nene dan Hikari. Aku dan Hiroko,, hmm
Ren yang sekarang hanya mengikuti dari belakang.
kurasa
lebih indah apabila melihat semuanya dengan sepeda.. langit terlihat indah..
Tentu saja, melihat
semuanya dari bawah. Langit benar-benar indah hari ini.. dan juga perasaanku..
Untuk sekarang aku akan terus
mencoba mengikuti alur, aku tak ingin lari, aku percaya kalau hatiku sangat
kuat. Aku takkan menangis dan takkan pernah lagi. Semua tentang Kejujuran dan
kepercayaan..
“Ren..”
“iya ?”
“jadi pacarku, ya ?”
“eh ? ha-harusnya aku yang bilang
begitu kan ?”
“tidak apa-apa, aku ingin
mengucapkannya. Hahhahah”
“hmm, baiklah :)”
“mulai hari ini ajarkan aku untuk
berubah dan bawa aku semakin jauh dari ketakutan ya, soalnya aku percaya
padamu..”
“kyaaaa! Sejak kapan gadis sepertimu
punya kata-kata yang indah ?”
“sejak bertemu denganmu..
hahahhahha!”
“hahahha”
Dan walaupun sepeda kami jalannya
cukup lambat, tapi kami berdua berhasil tertawa bersama di tengah terbenamnya
matahari.. dan meski aku terlambat menyadari nya, tapi aku tau kalau perasaan
yang membuat ku seperti ini adalah “cinta”, aku menyukainya sejak pertama kali
bertemu..
Ini, semua tentang kisahku.. “Three
Steps Ahead” :)
~3
tahun kemudian~
“woy, Rin, kenapa masih berdiri
disana ? kau pikir dengan melihat kelangit, akan membuatnya terbelah ha ??”
teriak Ren di pintu masuk menuju kereta
“hah ? maaf maaf aku lupa, maaf
Reeen!!”
“iya iya, aku terima maaf nya, tapi
untuk hari ini dan selamanya terus berada di hatiku ya dan sepulang sekolah ayo
main ke taman matsuyama”
“Jiaaaah Ren !”
Semenjak kejadian itu kami masih
seperti yang biasanya. Hanya saja sikap kami saling berubah. Kami selalu
bertengkar dan terkadang ucapan Ren membuatku ingin terbang! Ia selalu memiliki
kata-kata yang indah yang bahkan aku pun tidak bisa sepertinya.
Ya, tapi itulah dia, Hiroko Ren,
pacarku satu-satunya yang kusayang, memiliki kata-kata indah dan aku akan
selalu untuknya, untuk hari ini dan hari esok. Hahah!
END













Tidak ada komentar:
Posting Komentar