Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/07/07

Three Steps Ahead (part 3)


“Three Steps Ahead”
       先に3つのステップ
                                       By : Richia Kayoru Nanahira
                                             Theme Song : Matsuda Takato – Across the Tears

~PART 3~ {Ending}

      

Aku pikir semua untuk hari ini dan hari esok, dimana aku bisa menemui nya kapan pun juga
Rasa itu mulai berubah ketika ia melakukan semua yang terbaik untukku,
Kusadari bahwa itu adalah “cinta” :’)


~Sebelumnya,

Lelaki itu terdengar sangat aneh. Dia seperti sangat gugup sehingga ia tak berfikir untuk menghentikan pembicaraannya. Dia juga seperti anak laki-laki yang ceroboh. Ia bahkan tidak menyadari kalau kata-katanya banyak yang tidak tepat.

            “ti-tidak.. aku hanya… aku hanya..”
            “hanya menunggu batrai ponsel terisi penuh..?”
            “haa, iyaa..” jawaban ku berhasil di sambungnya. Ini kebetulan, ya? Semua laki-laki bisa mengatakan apa yang dipikirkan semua wanita?
            “kenapa bisa mengetahuinya ?”
            “tentu saja, perasaan wanita mudah di tebak..” jawab Hiroko. Kurasa, jawabannya berbeda. Dia bukan lelaki yang waktu itu.

            “Hana lagi ngapain ?”
            “berencana mau tidur..”
            “ooh yaudah aku matikan telfonnya ya, aku tidak mau mengganggu..”
            “eh tu-tungguu..”
            “ada apa Hana ?”
            “aku mau katakan sesuatu..”
            “katakan apa?”
            “temanku Nene, menyukaimu, kumohon jadilah pacarnya..”
            “tapi kan..”   
            “iya, aku ingin Hiroko bersamanya..”

            Mendengar ucapanku, Hiroko tiba-tiba terdiam.
            “Hiroko ? masih ada kah disana ? halo…?” panggilku
            “iya aku masih.. hmm baiklah..” ia menjawab dan mematikan telfonnya.



先にさんすてっぷ

            “Hoaaaaaammm!!” pagi ini aku terbangun dari tidurku.

            Aku tersenyum kepada kaca. Mataku masih berkunang-kunang dan rambutku masih acak-acakan. Aku terduduk diatas tempat tidurku, Suasana pagi yang seperti biasanya.pagi ini pun aku akan melanjutkan aktifitasku, selesai makan pagi di meja makan bersama yang lainnya aku akan mengayuh sepedaku menuju stasiun Okubo. Biasanya selalu begitu..

~~
            “Ohayou!” teriakku ke arah meja makan
            “Ohayou Erin, sudah bangun ternyata” sapa mama yang sedang menyiapkan makanan diatas meja
            Aku segera duduk diatas kursimeja makan, menunggu antrian di kamar mandi. Sebenarnya dua adikku sudah duduk rapi di meja makan. Hanya aku setiap paginya selalu terlambat bangun.
            Tapi itu tidak masalah, karena aku sudah biasa melakukannya.

~waktu berangkat menuju sekolah

            “sudah mau berangkat Erin ?” Tanya mama
            “iya ma, aku berangkat dulu..”
            “hati-hati di jalan ya..”

            Aku kemudian mengayuh sepedaku. Pagi ini rasanya menyenangkan, bahkan aku mudah sekali untuk tersenyum. apalagi seketika aku mengingat kejadian pulang sekolah kemarin…………… rasanya bukan seperti aku yang biasa, yang selalu berlari menjauhi semua kenyataan.
            “tiit…tiiit..tiiit…” tiba-tiba suara ponsel menghentikan pikiranku
            “ada pesan..!” ucapku segera membuka tas yang kusandang di belakang

            From   : Nene
      Number : xxxxxxxxxxxx
      Text  :

Erin, Hiroko mengungkapkan perasaannya padaku ! :D Hari ini 
kamu langsung saja ke kelas ku ya, akan kuceritakan semuanya :)

      “Yokatta…!” begitu teriakanku seusai membaca pesan singkat dari Nene. Aku rasanya tidak percaya kalau Hiroko benar-benar menetapi janjinya. “kira-kira Hiroko itu orang seperti apa ya.. jika bertemu aku ingin sampaikan padanya rasa terima kasihku..”

            “hah! Kenapa aku tidak langsung mengirim message ke dia!” aku segera mencari kontak telfonnya.

            To   : Hiroko (xxxxxxxxxxxx)
      Text :

Hiroko, arrigatou gozaimasu :)

            Sesaat aku mengirim pesan itu dan mencoba menyimpan ponsel ku kembali ke dalam tas, aku segera menerima pesan masuk. “wah, cepat sekali!”

            From : Hiroko
      Number : xxxxxxxxxxxx
      Text :

Iya, sama-sama Hana-chan :)

            Ia membalas sangat cepat sekali. Hari itu, aku berpikir Hiroko adalah orang yang baik. Entah kenapa tiba-tiba..

            “Hey kau!” sekali lagi sesosok suara memanggilku yang sedang mengayuh sepeda menuju stasiun Okubo.
            Aku segera menoleh dan tersenyum. Suara itu sepertinya aku mengenalnya.. lelaki yang kemarin..

            “Ohayou, kamu tinggal di dekat sini ?” tanyaku
            “hmm.. begitulah, ayahku memiliki toko kecil disekitar sini, jadi dari rumah aku berangkat bersama ayah karena jarak rumah dan stasiun cukup jauh”
            “waaah, hebat ya, aku saja sudah kewalahan pergi se…” *eh!*

            Aku segera menghentikan pembicaraanku. Aku kaget, kenapa aku sama sekali tidak gugup? Pikirku. Tatapanku masih melihat kea rah lelaki itu.

            Aku kenapa ? apa aku tidak menyadari ? aku berbicara sangat dekat dengannya, aku tersenyum, aku tidak lari ? aku bahkan tidak pucat dan mengeluarkan keringat dingin sedikitpun. Aku.. aku kenapaa ???

            “kita lempari permen karet bagus kali ya?”
            “iya, permen karet sangat enak, dan seketika tidak enak kita akan..”
            “hey! Kalian para laki-laki, enyahlah dari hadapannya !! kalian selalu saja menyiksanya !”
            “berhenti lah berbicara wanita bodoh ! atau kami akan perlakukan kalian seperti dia !”
            “iya, anak yang berasal dari kelas bawah harus diperlakukan seperti ini”
            “ini pantas untuknya!”

            “ky..ky..kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” aku kembali berteriak ketakutan.
Aku mencoba menutup kedua mataku dan memegangi kepalaku dengan kedua tangan. Aku kembali menangis. Tiba-tiba ingatan itu kembali menyakitiku. Aku seperti berada di tempat gelap yang bahkan sangat gelap lagi..
            Ada apa ? ada apa ? aku baru saja bisa melupakannya.. ke-kena…

            “Kamu kenapa ??” di tengah kekosongan itu aku seperti mendengar suara memanggilku. Saat itu aku lupa semuanya. “aku ada dimana ? kenapa aku tak melihat apa-apa?”

*plakk!
            Baru saja aku merasakan suatu tamparan!
            Aku segera membuka mataku dan melihat lelaki itu berdiri dihadapanku. Ia menamparku ?
            “ke-kenapa kau…”
            “maafkan aku, aku terpaksa melakukannya..” jawabnya menundukkan wajahnya
            “barusan, aku kenapa ?” tanyaku sambil memegangi pipiku bekas tamparan itu
            “harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa setiap aku melihatmu kamu selalu begini ? apa kamu menyembunyikan sesuatu ? kalau iya, ceritakanlah !” bentaknya
            “tidak apa-apa, lupakan saja..”
            “hey, cobalah untuk jujur, jika kamu punya masa lalu yang buruk, ceritakanlah kepada orang yang dapat kamu percaya. Meski orang itu mungkin tak bisa membantu banyak, yang pasti dengan jujur kamu akan mengurangi beban di pikiranmu”

            Kata-kata itu lagi..
            Aku sejenak menghentikan sepedaku, dan kemudian aku kembali melanjutkannya. Bahkan setelah beberapa detik aku berhasil melupakannya, ingatanku kembali menggangguku. “aku ini lemah, aku tak bisa apa-apa, untuk melupakan masa lalu pun aku tak bisa.. bertahun-tahun aku membiarkan diriku terpuruk pada hal yang sangat menakutkan” aku berharap semua itu bisa berubah dengan cepat..
            Orang yang kupercayai itu… “siapa ?”

先にさんすてっぷ

            “Ohayouuuu Erin sayaaaaaaaang !!” Nene meneriaki ku saat aku sampai di depan pintu kelas nya
            “Ohayou, Nene” aku membalas teriakan itu dengan sapaan pelan sambil tersenyum
            “ayo duduk disini, aku mau ceritakan kejadian semalam” Nene menyiapkan tempat duduk di sebelahnya. Secepat mungkin aku berlari kearah Nene

            “oh ya Nene..”
            “apa ?”
            “kenapa hanya aku ? Hikari mana ?”
            “Hikari ? aku hanya mengajakmu”
            “kenapa aku ?
            “iya, aku ceritakan ini hanya padamu Erin..”
            “eh ??”
            “hmm, itu karena aku hanya percaya pada Erin” jawaban Nene itu.. tiba-tiba membuat jantungku berdetak ! aku diam seketika dan menatapi Nene.

            “Eriin, kemarin malam sekitar jam 10 malam lewat Hiroko menelfon ku. Sebenarnya aku sudah tidur tapi karena telfonku berdering, aku mengangkatnya. Dan ternyata itu dari Hiroko.. waaaah malam itu rasa ngantukku hilang..!” jelas Nene
            “hmm? Hiroko bilang apa?”
            “Nene, aku suka kamu, jadilah pacarku. Begitu bilangnya, Erin”
            “benarkah ? syukurlaah.. trus kamu jawab apa ?”
            “bagaimana dengan Erin, kata miya kamu menyukainya. Aku bukan Erin..”

*eh?
Mendengar ucapan Nene aku kembali terkaget. Padahal kupikir Nene akan langsung menerima. Kenapa Nene mengingat aku?

            “lalu Erin, kenapa melamun ?!”
            “aaa, ti-tidak apa-apa. Lalu apa lagi ?”
            “iya kami telfonan sampai aku tertidur sendiri..”
            “bagaimana dengan jawabanmu ?”
            “kubilang aku pikir-pikir dulu.. habisnya ucapan Hiroko sepertinya tidak niat banget, mungkin ada yang menyuruhnya mengatakan begitu”
            “kenapa berfikir begitu ? bukankah kamu sangat menyukainya ?”
            “tentu saja, aku tidak ingat memaksa orang yang kusuka menjadi milikku bila ia tidak ingin”

            Nene orang yang baik..
            Pikirku setelah mendengar Nene mengucapkan hal yang demikian. Sambil duduk di sebelah Nene, aku selalu mendengarkan ceritanya tentang Hiroko. Kurasa, Hiroko pantas untuk Nene. Aku, entah kenapa berfikir seperti itu.
            Aku.. hanya anak bodoh yang tak bisa mendekati anak laki-laki.. aku tidak pantas untuk siapa-siapa. Merasakan rasa sukapun aku rasa aku tak bisa..

~~
            Setelah semua berlalu mengikuti hari-hari ini, jadwal pulang sekolah pun tiba. Seluruh siswa pulang meninggalkan sekolah. Seperti biasa, lelaki yang waktu itu kembali menemuiku. Akan tetapi, kali ini ia berbeda..
            “siang ini, maukah ke taman ? aku ingin berbicara denganmu” ajaknya
            “kenapa harus aku ?”
            “iya, aku ingin mengatakan sesuatu..”
            “mm, iya” aku menganggukkan kepala dan mengikutinya dari belakang
            Hari ini ke tiga kalinya kami bertemu, dan tanpa menakutiku, ia membawaku ketaman. Kurasa tak jauh dari sekolah.
            Padahal langit sangat mendung. Tapi bersamanya, aku sama sekali tidak merasakan panik akan terjadi nya hujan. Sebenarnya.. apa yang sedang aku pikirkan tentang lelaki ini ? bahkan untuk menanyakan nama nya saja aku tidak berani.

先にさんすてっぷ

            “yap, kita sampai” ucapnya seketika kami sampai di suatu daerah hijau yang aku tak pernah kesana. Daerah yang sangat bersih sekali. Tidak begitu banyak orang disini, tapi rasanya damai sekali. Suasana yang tenang dan banyaknya pohon-pohon yang dipenuhi bunga sakura. Di rumput nya pun ada banyak hiasan bunga yang bertebaran dimana-mana. Seperti di surga bunga.
            “kamu suka ?” tambah lelaki itu segera duduk diatas rerumputan
            “mm..” aku mengangguk dan duduk agak berjauhan dari lelaki itu. Jarak kami sekitar 1 meter lebih
            “indah ya..”
            “iyaa..”

            Seketika kami saling berdiaman, tersenyum pada keadaan dan menikmati keindahan taman itu. Tapi beberapa saat kemudian,
            “satu tahun yang lalu, aku putus dengan pacarku..” ucapnya tiba-tiba
            “hah ? putus ? kenapa ?”
            “iya, kurasa aku telah mendapatkan seorang wanita yang bagaikan mutiara..”
            “maksudnya ?”
            “dia cantik terkenal baik hati dan yang pastinya kami saling menyukai”
            “tapi kenapa putus ?”
            “soal itu, karena aku tidak percaya padanya !”

Tidak percaya ?
            “karena kecantikannya, ia berteman banyak dengan semua orang. Ia bersikap ramah pada siapa saja. Sehingga ia selalu jadi rebutan.”
            “…” aku hanya melihat dan mendengarkannya
            “aku ini bodoh ya, saat itu aku merasa kalau aku ini sudah terlempar sangat jauh. Padahal aku tau kalau dia sangat menyukaiku. Ia memahami perasaanku. Tetapi aku berpikir kalau dia sudah jauh meninggalkanku”
            “…..”
            “aku memutuskannya”
            “lalu? Apa yang terjadi ?”  
            “begitulah, tak lama setelah itu temanku memberitahuku kalau selama ini ia selalu menolak semua anak laki-laki yang menyukainya. Dengan alasan, ia memiliki ku..”
            “waaah kalau begitu kenapa tidak minta balik ? kurasa dia masih ada untukmu”
            “haha, apa yang sudah kulepas, aku tak ingin mengambilnya lagi”
            “begitu, ya” aku mengalihkan pandangan dari lelaki itu. Aku melihat ke langit-langit. Apa maksudnya mengatakan semua itu padaku ? padahal aku dan dia sama-sama tidak saling mengenal.

            Dia teman Hiroko, kah ? atau Yori orang yang disukai Miya ?

            “kenapa mengatakan semua itu padaku ?” tanyaku memberikan diri.
            “bertanya padaku kah ?”

Aku terdiam, aku rasa aku sudah mengerti maksud lelaki ini. Untuk jujur..

            “aku, 2 tahun lalu masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarnya kelas ku adalah kelas 6-D. tapi saat itu kelas D kelebihan siswa. Guru-guru memindahkanku ke kelas C. dimana disana adalah kumpulan siswa-siswa pintar dan terpelajar. Aku tidak tau kenapa aku disana, yang jelas, tak ada orang yang menerima keberadaanku. Hanya mereka anak perempuan yang sekedar menyapaku. Mereka tidak pernah mengajakku bermain. Anak laki-lakinya, mereka sangat membenciku. Hari-hari berlalu di kelas C, aku selalu menjadi alasan kebencian anak laki-laki. Mereka melakukanku seperti di neraka.. hiks..hikss..” aku menghentikan kata-kataku. Tiba-tiba jantungku berdebar sangat cepat. Aku menangis dan hatiku rasanya sakit.

            “kalau ingin menangis, menangislah. Dan jika semua tenang, kembalilah lanjutkan ceritamu” ucap lelaki itu

        Matsuda Takato – Across the Tears

            Saat itu, aku terus menangis, aku menangis sekeras-kerasnya. Hal yang tak pernah kulakukan selama ini,. Diperlakukan seperti sampah pun aku selalu berusaha untuk tidak menangis, aku mencoba tertawa pada siapapun. Aku menyimpan rasa sakit itu jauh lebih dalam di lubuk hatiku. Aku tau, perasaan ini akan menyiksaku. Aku tidak tau harus menceritakannya pada siapapun. Aku tetap bersikap seolah lebih baik,. Melakukan apapun dengan tersenyum. Hatiku menangis dan terus menangis, ingatanku semakin memburuk.
            Dan kurasa hari ini, aku rasa aku tak ingin rasa takut terus menghantuiku. Semua telah berlalu. Tidak selama nya aku terus berada pada keterpurukan. Mereka tak selama nya jahat. Aku percaya itu.. aku bertemu beberapa anak laki-laki dan mereka selalu tersenyum padaku..
            Aku ingin untuk coba jujur pada diriku dan semua orang.. kalau aku ingin bangkit dari keterpurukan.. aku tidak ingin terus menangis,

            “aku..aku…”
            “ada apa ? kamu sudah merasa tenang ?”

Aku mengangguk,
            “ajarkan aku untuk berubah, aku tak ingin mengingat masa lalu lagi, aku ingin hidupku semakin berwarna, aku ingin seperti Miya..” ucapku mengusap kedua mataku yang telah mengeluarkan banyak sekali air mata
            “baiklah..”
            “aku percaya padamu.. aku ingin jujur pada perasaanku..”
            “eh ?” lelaki itu tiba-tiba kaget dan membuatku berhenti melanjutkan pembicaraan
            “doushita ?”
            “jujur ya..” ia menundukkan kepalanya
            “iya, bukankah kamu yang mengajarkan itu pada ku ?”
            “oh ya, maafkan aku.. yaudah ayo pulang” ia segera berdiri dari duduknya dan mengambil sepedanya kemudian kembali mengayuhnya

            Dia kenapa..?

先にさんすてっぷ

~di rumah Miya

            “jadi Hiroko bersama Nene, ya ? yah padahal aku mau Hiroko bersama Erin..” Miya baru saja mendengar penjelasan ku tentang Nene
            “mm tapi Nene tidak menjawab apa-apa, ia bilang kalau dia akan segera memikirkannya”
            “haah, aku sudah menyusun rencana ini sangat lama padahal.. aku sudah membayangkan Erin bisa berubah”
            “tapi, seseorang mengajarkan tentang kejujuran dan kepercayaan kepadaku”
            “seseorang ? siapa ?”
            “tidak tau namanya, kurasa hari ini aku sudah mulai tenang. Seseorang itu membuatku jauh dari ketakutan, bahkan sangat jauh sekali”
            “jadi maksudmu dia sudah membuat mu berubah ? hebaaat !! aku saja yang selama ini bersama mu tidak membuat perubahan apa-apa, dia siapa ? laki-laki atau perempuan ? perkenalkan denganku dong !”
            “ne~ne~ bukan begitu, aku rasa dia membuatku berpikir berulang kali. Mulai sekarang aku mau jujur, jujur pada diriku juga jujur pada semua orang, hanya itulah cara yang dapat membuatku kembali bersenang-senang dan melupakan masa lalu..”
            “kata-katamu indah Erin!”
            “dia yang membuatku berkata demikian, Miya” aku lalu mengambil tas ku dan berjalan meninggalkan Miya, aku akan segera pulang

            Dari kejauhan, Miya terus bersorak “Erin, bilanglah lelaki itu siapa ?”
            “yang waktu itu Miya bawa, trus yang waktu itu berjalan mundur di depan rumahku” teriakku dari pintu luar dan tanpa mendengar jawaban Miya, aku segera mengayuh sepedaku untuk segera pulang. Padahal apabila aku mendengar jawaban Miya pasti Miya akan segera memberitahuku siapa lelaki itu..

            Tapi untuk saat ini, bukan tentang nama.. tapi aku ingin dia mengubahku lebih jauh lagi..
            Lalu apa maksudnya tadi dia bilang, “jujur ya..” dia juga menyimpan sesuatu kah ?


            Kemudian hari-hari pun berlalu, beberapa minggu setelah kejadian itu, aku semakin sering bertemu dengannya. Aku mulai terbuka padanya dan perlahan ia telah membuat perubahan padaku. Semakin hari berlalu aku mulai bisa melupakan masa lalu dan sangat dekat dengannya. Akan tetapi soal Nene, ia masih belum memberi jawaban apa-apa pada Hiroko. Hiroko pun sepertinya juga tidak peduli dengan Nene. Aku dan Hiroko sering berkomunikasi lewat pesan. Ia anaknya sangat suka bicara. Bahkan ia membalas pesanku dengan sangat cepat dan banyak sekali. Beberapa waktu saat itu aku sudah tidak bertemu Miya lagi, karena ia mengikuti banyak sekali pelajaran tambahan diluar. Waktu itu lah terakhir aku bertemu dengannya..
            Dan siang ini,

~~

            “Erin, sepulang sekolah kemana ?” Nene dan Hikari menemuiku di gerbang sekolah
            “tidak kemana-mana, memangnya kenapa ?” jawabku
            “temani aku bertemu Hiroko, hari ini aku ingin memberikan jawaban padanya” ucap Nene

            Kalau aku menemani Nene, artinya aku tidak akan bertemu lelaki itu kan ??

            “kenapa diam begitu Erin ?” Tanya Hikari
            “eh tidak apa-apa, ayo pergi.. kalian akan bertemu dimana ?”
            “Matsuyama kouen~” jawab Nene sangat bahagia

Itu taman indah waktu aku diajak bersama laki-laki itu.. akh! Jangan-jangan ?
Bukan, ada banyak orang disana, dan taman itu pasti sangat terkenal !!

            “ayo Erin, kamu suka sekali melamun !” ajak Nene
            “iya,” aku mengayuh sepedaku segera.

Dan beberapa saat lagi kami akan segera tiba di taman..
Sesampai disana aku meletakkan sepedaku di pinggiran pohon, kami bertiga duduk di atas satu kursi panjang menunggu kedatangan Hiroko yang kata Nene akan datang bersama temannya.
            Siang itu aku sibuk dengan ponselku, aku mencoba menghapus pesan masukku yang sudah mulai penuh.

            “Hiroko ?” ucap Nene di tengah kesunyian. Aku yang sibuk dengan ponselku tidak mempedulikan keadaan. Aku membiarkan Nene berbicara sendiri
            “ja, Hiroko kenalkan ini temanku Hikari, dan ini Erin yang waktu itu sempat lari di tragedy rumah Miya” Nene mencoba mengenalkan kami
            “Erin ?” sesosok suara yang sangat kukenal itu memanggil namaku.

            Suara itu, mirip bahkan persis sama dengan suara laki-laki yang dekat denganku itu. Dengan rasa kaget aku segera mengangkat kepalaku dan melihat ke depan.
            Itu… diaa !!


先にさんすてっぷ

“ja, Hiroko kenalkan ini temanku Hikari, dan ini Erin yang waktu itu sempat lari di tragedy rumah Miya” Nene mencoba mengenalkan kami
            “Erin ?” sesosok suara yang sangat kukenal itu memanggil namaku.

            Suara itu, mirip bahkan persis sama dengan suara laki-laki yang dekat denganku itu. Dengan rasa kaget aku segera mengangkat kepalaku dan melihat ke depan.
            Itu… diaa !!

            “kamu, kan ?” aku segera membuka mulutku untuk berbicara. Aku melihat sosok yang sangat kukenal, tentu saja ! dia orang yang telah membuatku berubah dan selama ini kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama.
            “jadi namamu Erin ? kukira Hana..” ucapnya kembali tersenyum padaku
            “apakah kamu Hiroko ?”
            “begitulah, maaf selama ini aku tidak memberitahumu.. dan kamu juga tidak coba untuk bertanya padaku..”

            Sementara itu Nene dan Hikari hanya diam menatapiku. Mereka tidak berbicara sedikitpun.
            “jadi selama ini..?” aku mulai tidak percaya pada keadaan.. rasa percaya itu kemudian membuat ku mengeluarkan air mata.
            “habisnya Miya pernah cerita padaku tentang dirimu, makanya aku ingin dekat denganmu. Sebenarnya aku yang menyuruh Nene untuk membawamu dengan berbagai alasan. Waktu pertama kali aku menelfon mu sebenarnya aku sangat senang sekali dan aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu hanya kamu yang kuingat, kupikir sejak itulah aku suka kamu. Tapi waktu itu, kamu hanya menyuruhku jadi pacar Nene. Awalnya kecewa, tapi kurasa kalau itu yang membuat Erin bahagia, akan kulakukan”
            “eh ?”
            “oh ya, aku pikir, aku juga ingin sepertimu Erin, kamu berani untuk jujur di saat kamu sedang terpuruk. Aku salut atas keberanianmu”
            “tapi..”
            “iya, kamu berubah. Kamu bukan gadis yang lemah, kamu kuat Rin..”
           
            Aku diam, terus mencoba menatapi mereka yang mana mereka juga menatapiku. Jujur, aku tidak mengerti maksud semua ini. Aku hanya berjalan mengikuti alur cerita, dan memang bertekad untuk.. hey, aku punya tekad untuk berubah.. benar, aku pikir aku bukan gadis lemah, aku kuat karena aku punya tekad. Itu karena…

            “mulai hari ini panggil aku Ren ya, dan aku akan memanggilmu Rin. Aku baru sadar kalau kita punya nama yang sama..” tambah lelaki yang bernama Hiroko itu..
            “iyap!” tiba-tiba Nene merangkul kedua bahu kami “maaf ya aku egois, harusnya Erin pantas untuk Hiroko”
            “maksudnya ? bukankah ?”
            “beberapa waktu yang lalu Miya menelfonku, dia bilang kalau Erin menyukai seseorang, Erin bilang kalau bisa berubah karenanya, Erin memiliki kata-kata indah karenanya. Orang yang disadari Miya adalah Hiroko, namun Erin tidak menyadarinya. Jadi kupikir, kalian sama-sama suka. Juga waktu Hiroko mengungkapkan perasaan padaku, ia sama sekali tidak tulus, jelas sekali dari cara bicaranya, bahkan di setiap topic ia hanya membicarakan tentang Erin. Kurasa Erin yang membuat Hiroko terpaksa berkata begitu. Makanya aku tidak menjawab apa-apa waktu itu”
            “Nene..”
            “hah, Erin, kan aku sudah bilang, aku takkan memaksa perasaan orang yang kusuka agar menyukaiku..”

            Iya, kali ini aku mengerti maksud semua ini, aku mengerti semua jalan cerita yang selama ini telah kucoba untuk kutempuh. Jika saja dulu aku mencoba untuk lari, mungkin aku takkan bertemu hari ini. Semua kesakitan itu membawaku kepada jalan yang sangat jauh dari ketakutan.
            Hatiku, aku masih punya hati yang sangat kuat yang kupikir akan segera rapuh.. ini karena semua orang :)

            “lalu, bagaimana dengan hari ini ?” Tanya Hikari tiba-tiba
            “yey! Makan gratis ! makan gratis !” teriak Nene gembira sekali
            “hah ? makan gratis ?” tanyaku kembali sama sekali tidak mengerti
            “iya Erin ! jangan sampai putus ya ! kalau putus berhadapan denganku yang sudah susah payah merelakannya !” jawab Nene membawakan tasku dan beranjak dari sana. “ayo makan-makan Hikari, hari ini aku mau pesan banyak sekali makanan, aku lapar!” tambah Nene pada Hikari mengayuh sepeda keluar taman
            “kalau aku sih semua yang enak mau ku pesan mumpung gratis !” balas Hikari

            Matahari terbenam, taman yang sepi malah menjadi sangat ribut karena ulah Nene dan Hikari. Aku dan Hiroko,, hmm Ren yang sekarang hanya mengikuti dari belakang.
            kurasa lebih indah apabila melihat semuanya dengan sepeda.. langit terlihat indah..
            Tentu saja, melihat semuanya dari bawah. Langit benar-benar indah hari ini.. dan juga perasaanku..
            Untuk sekarang aku akan terus mencoba mengikuti alur, aku tak ingin lari, aku percaya kalau hatiku sangat kuat. Aku takkan menangis dan takkan pernah lagi. Semua tentang Kejujuran dan kepercayaan..
            “Ren..”
            “iya ?”
            “jadi pacarku, ya ?”
            “eh ? ha-harusnya aku yang bilang begitu kan ?”
            “tidak apa-apa, aku ingin mengucapkannya. Hahhahah”
            “hmm, baiklah :)”
            “mulai hari ini ajarkan aku untuk berubah dan bawa aku semakin jauh dari ketakutan ya, soalnya aku percaya padamu..”
            “kyaaaa! Sejak kapan gadis sepertimu punya kata-kata yang indah ?”
            “sejak bertemu denganmu.. hahahhahha!”
            “hahahha”

            Dan walaupun sepeda kami jalannya cukup lambat, tapi kami berdua berhasil tertawa bersama di tengah terbenamnya matahari.. dan meski aku terlambat menyadari nya, tapi aku tau kalau perasaan yang membuat ku seperti ini adalah “cinta”, aku menyukainya sejak pertama kali bertemu..
            Ini, semua tentang kisahku.. “Three Steps Ahead” :)


~3 tahun kemudian~

            “woy, Rin, kenapa masih berdiri disana ? kau pikir dengan melihat kelangit, akan membuatnya terbelah ha ??” teriak Ren di pintu masuk menuju kereta
            “hah ? maaf maaf aku lupa, maaf Reeen!!”
            “iya iya, aku terima maaf nya, tapi untuk hari ini dan selamanya terus berada di hatiku ya dan sepulang sekolah ayo main ke taman matsuyama”
            “Jiaaaah Ren !”

            Semenjak kejadian itu kami masih seperti yang biasanya. Hanya saja sikap kami saling berubah. Kami selalu bertengkar dan terkadang ucapan Ren membuatku ingin terbang! Ia selalu memiliki kata-kata yang indah yang bahkan aku pun tidak bisa sepertinya.
            Ya, tapi itulah dia, Hiroko Ren, pacarku satu-satunya yang kusayang, memiliki kata-kata indah dan aku akan selalu untuknya, untuk hari ini dan hari esok. Hahah!



                                                                                    END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman