“Three
Steps Ahead”
先に3つのステップ
By
: Richia Kayoru Nanahira
~PART
1~
Ini bukan tentang sebuah cerita cinta yang
romantis seperti hal nya anak-anak lain..
Ini juga bukan tentang kisah cinta seperti
hal nya tentara perang..
Juga bukan tentang cerita cinta yang bahkan
memiliki awal dan akhir..
Tapi ini adalah tentang kisah ku dengan
dirinya..
Pagi itu aku mengayuh sepedaku
meninggalkan rumah di Katagami, aku akan berangkat sekolah. Dengan matahari yang mulai
terbit perlahan, angin yang berhembus sepoi-sepoi dan beberapa siswa bersepeda
sudah mulai memenuhi jalanan kota.
Pagi ini aku akan berangkat ke
sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Aku menunggu pacarku di kota
dengan sepeda. Ya, jarak yang cukup jauh itu membuat kami setiap pagi harus
berangkat secepatnya.
Kami berangkat dari stasiun Okubo dan
kemudian berpisah di stasiun Oiwake
Selanjutnya
aku melanjutkan perjalanan ku dengan sepeda menuju akitanishi gakuen dan dia
menuju kanaashi gakuen
“Erin!”
tiba-tiba sesosok suara yang melantun indah di telingaku, memanggilku. Aku
menoleh.
“Ren!!”sambil
tersenyum manis aku segera menghentikan sepedaku. Yap, itu pacarku. Namanya
Ren.
Pakaian
sekolahnya yang berbeda membuat kami selalu menjadi bahan perbincangan banyak
orang di sekitar. Tentu saja, kami berasal dari sekolah yang berbeda.
Mungkin saja kalau tidak ada hari
itu…..
Aku dan Ren mungkin takkan pernah
saling mengenal..
~Katagami-shi Akita-ken~ (3 tahun yang lalu)
Hari ini senin, sekolah ku SMP Akitakita pulang cepat dan siang ini aku bertemu temanku dari SMP Tennominami. Ia
mengajakku untuk bermain di rumahnya. Ya, kuterima dan aku pergi kerumahnya.
Siang itu mataharti tampak sangat
tinggi sekali, aku bahkan tak merasakan panas di hari itu. Bahkan baju switter dari
sekolah yang biasanya kuikatkan di pinggang, terasa nyaman kupakai..
“Erin, hari ini kamu pulang bersama
siapa?” Tanya temanku miya membawakan secangkir teh ke arahku
“bersama Nene” jawabku singkat
sambil duduk bersimpuh di depan meja kecil milik miya
“nene ya? Sesekali pulang dengan
pacarmu, gimana?” tambah miya yang tiba-tiba membuatku terkaget
Aku diam dan menundukkan kepala.
Wajahku yang tersenyum dengannya berubah menjadi panik. Mungkin karena aku tak
bisa menjawab pertanyaan Miya.
Lagipula, aku memang belum punya
pacar dan aku rasa aku tidak pernah tertarik untuk mencobanya. Membayangkan
bersama pacar berjalan bersama, bergandengan bersama, berbicara langsung tatap
muka, dan tertawa bersama, itu menyeramkan!
#aku tidak suka anak laki-laki#
“erin? Kenapa diam?” Tanya Miya
“haha, tidak apa-apa kok Miya, oh ya
bagaimana dengan sekolahmu?” aku mulai mengalihkan pembicaraan
“baik-baik saja sih. Eh Erin, di
kelasku ada cowok yang mirip kamu lo!”
Byuuuuur!! Mendengar ucapan itu, aku kaget dan
mengeluarkan seluruh air yang ada di mulutku.
“mi-mirip? Maksudnya?”
“iya, kalau melihat dia…… aku jadi
teringat dirimu Erin. Lagipula kita kan jarang bertemu walau dekat rumah.
Haha!” Miya tertawa dan tidak mempedulikan air yang tumpah di rok sekolahnya.
“kamu suka dia, Miya?”
“tidak, aku pikir dia cocok
denganmu!”
Gubraak! Aku kembali terkaget dan ikut tertawa
bersama Miya. “jadi maksudmu berbicara begitu bukan ingin….:
“iya, aku ingin kamu bersamanya
Erin!” sambung Miya
Aku
kembali diam dan melanjutkan minum ku.
Sebenarnya,
aku tidak pernah peduli dengan setiap ucapan Miya. Aku hanya mendengarkan ia
berbicara dan kemudian melupakannya. Aku dan Miya sangat berbeda, walau kami
adalah teman sejak kecil. Ia sepertinya sangat terkenal dikalangan lelaki.
Cantik, ramah, dan pintar. Sedangkan aku… #lupakan itu
Berkali-kali Miya selalu mengatakan
“kau pantas untuknya”, “lelaki itu cocok buatmu”, semua hanya ku respon dengan
tertawa dan aku kembali terdiam.
Entah kenapa, mengingat tentang
laki-laki, aku jadi teringat masa lalu ## yang mungkin sama sekali tak ingin
kuingat dalam hidupku. “aku benci laki-laki”, pikir ku selalu begitu setiap aku
mengenal anak laki-laki sebayaku.
Tapi hari ini, wajah Miya berbeda.
Dia seperti menginginkan aku dengan anak laki-laki yang baru saja ia maksudkan.
“aku ingin Erin pulang dengan
pacarnya, melihat Erin tersenyum ke semua anak laki-laki. Dan kurasa aku ingin
Erin bersama laki-laki itu, sungguh! Dia baik, dan aku ingin melihat kalian
berdua bergandengan tangan berjalan di depanku” ucap Miya menatapiku dengan
manis
“haha! Miya kebanyakan nonton film
nih! Miya sendiri juga belum punya pacar! Hahahha” aku tertawa, dan tidak
banyak memberikan respon
Miya tetap menatapku. Selama ini
Miya memang kenal dengan semua orang, dekat dengan semua orang, tetapi ia
memiliki masalah dalam hal itu, jauh berbeda denganku. Ia menyukai seorang
lelaki di kelas yang sama dengannya, dan lelaki itu hanya menganggap dirinya seorang
kakak ##
“akh Erin! Aku biasa aja kali, teman
laki-lakiku banyak! Sementara Erin? Besok kuajak dia ke rumahku sepulang
sekolah, kamu datang ya ke rumahku dan jangan lupa ajak Nene!” Miya membantah
perkataanku dengan nada tinggi
“hahaha Miya salah memilih orang,
harusnya Miya tadi memanggil Nene, bukan memanggilku!” aku ikut membantah. “oh
ya aku pulang dulu ya, sudah lama sekali aku di rumahmu, aku harus mengerjakan
pekerjaan rumahku. Aku pulang dulu ya, jya~” aku segera berdiri dari dudukku, mengambil
tas dan berjalan ke pintu keluar.
Aku
takut, aku takut kembali mengingat masa lalu itu. Rasanya menyedihkan dan aku
ingin mengeluarkan air mataku. Aku tak pernah menceritakan ini pada Miya, dan
dari dulu aku berharap Miya menyadari apa yang kurasakan. Tapi sepertinyaa…
“hari ini Miya serius dengan
ucapannya.. Tasukete kudasai!”
☆
先にさんすてっぷ ☆
“waaaa ?
Kamu bertemu Miya ?” teriak Nene di kelas
Pagi itu aku datang sangat cepat ke
sekolah untuk menemui Nene di kelas yang berbeda. Aku berharap Nene bisa
membantu ku. Tetapi…
“kyaaaa! Hisashiburi
Miyaaa, aku pengen cepat-cepat pulang supaya bisa ketemu Miyaaa~!!”
Itu maksudnya bukan “bertemu Miya”
tapi “bertemu temannya”
“Nene,
aku sudah ke surga..” ucapku segera mengambil tas dan beranjak keluar kelas. Wajahku
berubah menjadi sangat lemas. Padahal aku baru saja bahagia, tidak bisa bertemu
dengan anak laki-laki. #seharusnya Erin berada di sekolah khusus wanita
“hey! Kau tangkap ini”
“iyaa!”
“mana tas nya, bawa kemari!”
“ini ini,”
“JANGAN PERIKSA TAS KU!”
“sini, bawa kemari,”
“kyahahahhah, dibuang ke tong
sampah aja bagus tuh”
“dasar sampah!”
“hiks..hiks..hiks…”
Rasa takut itu kian sering
menghantuiku. Aku tidak tau, dulu aku seperti apa. Bagaikan seorang sampah di
kelas anak-anak pintar. Aku memang tidak bisa apa-apa, bahkan otakku pun tidak
sepintar yang lainnya. Dulu aku pikir, “kenapa aku tidak dipindahkan ke kelas
yang paling ujung?” aku mungkin akan
betah disana dengan banyak siswa yang memiliki banyak kekurangan yang sama
sepertiku.
Sejak SD aku mulai menjauhi semua
anak laki-laki. Aku tidak peduli, mereka seperti apa. Tentu saja.. aku benci
mereka! Bahkan hingga kelas 8 ini..
Berharap Miya benar-benar telah lupa
ingatan, hari ini dia kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, kemudian dia tidak
ingat semuanya *gubrak
“kyaaaaa!!
Segitu bencinya kah aku pada anak la…”
“Hanamiya?”
tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku
“eh?”
“kenapa
berteriak ? kau sedang berbicara dengan hantu?” dia, matsuoka hikari, teman dan
juga saudaraku. Dia berpikir dari sikap ku yang sangat dingin pada banyak
orang, mengira aku adalah utusan dari (…) sejenis makhluk aneh yang bisa
melihat dan berbicara dengan roh *oh my god*
“eeh? Sejak
kapan hikari ada disini?”
“hanamiya,
jangan mengabaikan pembicaraanku!!”
“hahah,
gomen ne~ aku sedang refreshing suara, beberapa hari ini aku terlalu banyak
bicara sih, heheheh”
“jelas
bohongnya!” jawab hikari singkat dan meninggalkanku
Akhirnya hari
itu aku kembali terdiam. Aku mulai melanjutkan perjalanan menuju ke kelas C
yang jaraknya cukup jauh dari kelas Nene. Aku mulai menenangkan diri. Namun…
“erin!!”
teriakan aneh yang tak ingin ku dengar itu kembali memanggilku di halaman
sepulang sekolah.
Aku segera
menoleh tanpa berbicara apapun.
“Mi-miya
kecelakaan! Trus tangannya patah, dan sekarang dia ada di rumah, Erin!” teriak
Nene di depanku
“kyaaa! Tangannya
patah?” aku terkaget dan kembali teringat, Berharap
Miya benar-benar telah lupa ingatan, hari ini dia kecelakaan dan dirawat. “ya
ampuuuun!” apa yang kuharapkan benar-benar terwujud!
“ayo
Erin, kita tunggu apa lagi? Ayo ke rumahnya sekarang”
“tapi
kan..”
“eh! Miya
membutuhkan kita, ayo ke rumahnya!”
“i-iyaaa!”
Pada akhirnya
aku dan Nene segera menuju rumah Miya dengan sangat cepat. Aku panik sekali
saat itu. Aku takut sekali terjadi apa-apa pada Miya! Walaupun dia suka memaksa tetapi dia orangnya mudah mengerti orang lain
dan sangat ramah. “aku ingin mengambil kembali kata-kataku tadi!”
“kata-kata
apa?” tiba-tiba Nene mendengar ucapanku
“bu-bukan
apa-apa Nene”
☆ 先にさんすてっぷ ☆
~sesampainya
di depan rumah Miya~
“loh? Kok rumah nya Miya rasanya
ramai ya?” bisikku pada Nene yang perlahan turun dari sepeda
“perasaan kamu aja kali..”
“enggak, rasanya ramai sekali,
apakah teman-temannya datang untuk melihatnya?”
“nggak mungkin lah Erin, kita lihat
saja dulu. Ayo masuk!”
“nggak akh Nene, perasaan ku nggak
enak. Mungkin teman-teman melihatnya. Kalau gitu ayo pulang saja, nanti sore
aja kita kembali kesini~”
“ya ampun Erin, ayolah masuk, tidak
ada orang di dalam,” Nene mulai memaksa dan memegang tangan kananku.
Saat itu
perasaanku mulai tidak enak. Entah kenapa, aku merasa sepertinya ada banyak
orang di dalam. Bukan suara, tapi rasanya seperti itu.
“Nene,
aku pulang saja, kamu kalau masuk, masuk saja, aku nanti sore ya” ucapku mulai
terlihat ketakutan
“erin,
ayolaaaaaaah~”
“aku gak
mau! Aku mau pu…..”
Tiba-tiba
di tengah pembicaraanku, aku melihat dua sosok makhluk yang tak lain dan tak
bukan adalah….
“kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!
Kalian menipuku yaaaa????” aku segera berteriak sangat keras sekali seketika
melihat makhluk itu adalah dua anak laki-laki yang bahkan tak pernah kukenali
sebelumnya.
Melihatku
berteriak, dua anak laki-laki yang keluar dari rumahnya Miya itu, melihatku
dengan tatapan yang aneh.
“Miya,
itu temanmu bukan?” salah seorang masuk ke dalam
“iyaa! Aku
akan segera keluar” suara Miya bahkan terdengar baik-baik saja
“NENE!
LEPASKAN AKU! AKU BENCI KALIAN! AKU MAU PULAANG!!” bentakku mencoba melepaskan
diri dari Nene
“Erin kau
seperti melihat hantu! TENANG dan MASUKLAH KEDALAM!!” Nene tetap memegangiku
sangat kuat sekali.
Hari itu
entah kenapa, aku bagaikan seorang anak kecil yang tak mau minum obat, padahal
sedang sakit parah. #benar-benar menakutkan
“Erin!”
lalu Miya keluar dari rumahnya dan menemuiku
“Miyaaaaaaaa!
Aku mau pulaaaaaang!” ucapku sambil mengeluarkan air mata, berharap Miya
memberiku belas kasihan dan memperbolehkan untuk pulang
“Erin,
kenapa menangis? Apa yang dilakukan Nene padamu?”
“a-aku
mau pulaaaaaaaang”
Miya tersenyum
manis, “aku mau Erin nggak takut lagi sama anak laki-laki, aku mau Erin
berubah, makanya kubawa teman-temanku, nggak banyak kok, dan mereka semua baik”
Aku diam
dan menundukkan kepala,
Saat itu
Nene membawa sepedaku kedalam dan Miya mulai menarik tanganku perlahan ke dalam
rumahnya, tapi..
“Miya,
aku sudah memikirkan sesuatu” ucapku tiba-tiba
“hah? Apa?”
“aku…aku
mau pulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!!!” teriakku dan aku segera melepaskan
tanganku dari Miya dan berlari secepat-cepatnya menjauhi rumah Miya.
Iya,
kurasa aku belum siap dan aku takkan pernah sanggup. Aku berlari dan Miya juga
Nene mengejarku dari belakang. Syukurlah komplek rumahku berada di depan
komplek rumah Miya, jadi aku bisa berlari secepatnya untuk menuju rumah..
“hosh..hosh..hosh..”
aku terengah-engah segera membuka pintu rumah.
“tadaiima!!”
ucapku seperti tidak terjadi apa-apa.
Ya,
kupikir Miya dan Nene takkan mengejarku hingga kemari. “aman!” aku tersenyum
dan menyandarkan diri di depan pintu.
~beberapa
saat kemudian
“kak, kenapa?” Tanya adik perempuan
menemuiku
“nggak kenapa-napa, haha”
“trus itu siapa kak?” adikku
menunjuk ke luar jendela.
Tampak seorang anak laki-laki
berbadan kecil berjalan mundur di depan halaman rumahku, ia seperti berbicara
dengan seseorang dari kejauhan. Aku bahkan tidak bisa melihat dia dari bawah
jendela karena badannya lebih kecil dari pagar rumahku.
“Tennominami gakuen junior high school ?!
temannya Miya, ya?” pikirku mencoba melihat lelaki itu.
Dia hanya berdiri menyampingkan
rumahku, seketika dia sedikit melihat dan kemudian tersenyum-senyum aneh.
“kakak kenal ya?” Tanya adikku yang
ia sepertinya sudah mulai kesusahan melihat anak itu.
“enggak, udahlah nggak usah
dipikirkan, pergi main sana gih!”
“hah! Kakak!” ia membuka pintu rumah
dan bermain keluar.
Sementara aku yang berada di dalam
rumahnya, masih melihat lelaki itu. dia
siapa? Untuk apa dia disana? Pikirku.
“kak erin!!” tiba-tiba suara adik
perempuan mengagetkan ku dari luar.
Lelaki tadi yang berjalan mundur di
depan rumahku juga ikut terkaget dan segera berlari ke depan. Aku lalu
secepatnya bersembunyi, “Miya atau Nene?”
“kak Erin, teman kakak memanggil
nih! Kak Hime!” teriaknya sekali lagi
“hah? Hime?” aku beranjak dari
persembunyianku dan mengintip dari jendela.
Hime! Teman satu sekolah denganku,
yang bahkan aku yakin dia tidak ada hubungannya dengan Nene dan Miya.
Aku tersenyum dan membuka pintu rumah.
“Hime-chan ?! Doushita ?” tanyaku
“kesini lah!” panggil Hime
Aku secepatnya berlari ke arah Hime,
“lihat tuh, Nene bersama siapa ?”
tunjuk Hime yang ternyata mereka berada di depan komplek rumahku.
“kyaaaa!” aku kaget dan menyembunyikan
diri di balik pagar
“mereka anak SMP Tennominami, kan?”
“i-iyaa,”
“kamu kenal mereka, Erin ?”
“aku Cuma kenal satu orang..”
jawabku ketakutan
“ya ampun, panggil gih Nene! Jangan buat
malu nama SMP Akitakita lah!” Wajah Hime seketika berubah menjadi wajah devil. #kowaii~
Tanpa berpikir apa-apa aku segera
membuka mulut dan berteriak “NENEEEEEEE!!”
Semua terdiam dan melihat ke arahku.
Termasuk teman-teman Miya yang tadinya sedang tertawa. Mereka tak berkutik
sedikitpun.
“apa, Erin?” teriak Nene balik
“Nene kemarilah!” ucap Hime
memanggil seketika aku yang ikut tak berkutik melihat situasi itu. Aku memucat.
“ada apa Hime?” Nene masih berdiri
disana.
“yasudahlah Erin, biarin aja mereka,
aku pulang dulu yaa” Hime meninggalkanku yang dalam keadaan pucat. Hingga akhirnya
aku memilih berjalan ke dalam seperti seorang robot yang ketakutan.
☆ 先にさんすてっぷ ☆
~esok
paginya di sekolah di depan kelas bersama Hikari~
“Erin! Kenapa kamu seperti itu
kemarin haa??!!” nene mendadak menemuiku dengan nada kesal
“kalian menipuku! Aku nggak suka!”
“kalau kami nggak menipumu, kamu
nggak bakalan datang kan?”
“sama saja!!”
“eh? Ini ada masalah apa?” tanya
Hikari
“saudara mu tuh! Ngeliat anak
laki-laki kayak ngeliat Monster!”
“Hanamiya kebanyakan nonton kartun
kali!” jawab Hikari simple.
“bukan itu masalahnya, bayangkan lah
nangis gara-gara Cuma dipaksa bertemu anak laki-laki. Kemarin aku bermain
bersama mereka. Mereka orangnya ramah dan baik. Mereka menghargai anak
perempuan dan bersikap manis sekali. Lagipula mereka Cuma 3 orang kok! Dan aku
berkenalan dengan mereka dan kami jadi teman baik!!” jelas Nene
“aku nggak peduli! Aku benci
mereka!!” tambah ku dengan nada cuek
“trus ada yang paling imut diantara
mereka. Sugeeeeeee!! Si Hiroko tuuuuh!!” nene seperti sedang berbunga-bunga.
Bahkan seorang gadis tomboy seperti Nene mencoba berputar-putar bagaikan
seorang putri di koridor sekolah.
Aku dan Hikari yang tidak mengerti
apa-apa hanya diam.
“cieee, jangan-jangan Nene suka nih
sama lelaki imut yang bernama Hiroko itu” ucap Hikari di tengah kediaman kami.
“jiaaaaah.. Hikari tau deh! Dia
keren lucu imut tampan unik dan baik jugaa. Senyumannya menggoda lo Hikari!!”
“hah, aku pergi, aku nggak ngerti
kalian!” ucapku segera masuk ke dalam kelas.
Tapi tentang Hiroko.. aku penasaran~
dan siapa lelaki kemarin?
“oh ya Erin..” Nene
“apa ?”
“nanti sepulang sekolah kamu ke
rumah Miya ya, sampaikan padanya kalau aku suka Hiroko!”
“fiuuuh~ baiklah Nene~” aku berjalan
meninggalkan Nene dan Hikari yang berbincang seperti berada di surga di depan
kelas~
~~
Akhirnya sepulang sekolah, aku
langsung menuju ke rumah.
“tok..tok..tok..” aku mengetuk pintu
rumahnya
“hah! Erin ? ada apa?” miya membuka
pintu rumahnya sambil tersenyum
“aku minta maaf ya soal kemarin,
habis nya aku belum siap”
“iya nggak apa-apa Erin, aku juga
minta maaf udah memaksa mu kemarin. Aku harusnya mengerti dirimu, mungkin aku
harus mengajarkan padamu perlahan-lahan lain kali ya. Hahaha”
“oh ya, Miya.. aku mau me….”
“eh tunggu dulu Erin. Ada yang mau
kusampaikan padamu. Titipan dari Yori”
“Yori ? orang yang kamu suka ?”
“iya kemarin aku membawanya, ada
kabar baik untukmu Erin!”
“apa itu?”
“kabarnya temanku yang kubilang
mirip dirimu itu, suka kamu, lho!”
“mirip aku? Yang mana ?
“Hiroko!”
“eh?”
つづく















Tidak ada komentar:
Posting Komentar