Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/07/02

Three Steps Ahead (part 1)

“Three Steps Ahead”
  先に3つのステップ
            By : Richia Kayoru Nanahira

 Theme Song : Kokia - Give & Take (Lyric)

                      ~BEFORE~
                                                               

~PART 1~

          

Ini bukan tentang sebuah cerita cinta yang romantis seperti hal nya anak-anak lain..
Ini juga bukan tentang kisah cinta seperti hal nya tentara perang..
Juga bukan tentang cerita cinta yang bahkan memiliki awal dan akhir..

Tapi ini adalah tentang kisah ku dengan dirinya..
“hold me and take me anywhere” :’)

 
            Pagi itu aku mengayuh sepedaku meninggalkan rumah di Katagami, aku akan berangkat sekolah. Dengan matahari yang mulai terbit perlahan, angin yang berhembus sepoi-sepoi dan beberapa siswa bersepeda sudah mulai memenuhi jalanan kota.
            Pagi ini aku akan berangkat ke sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Aku menunggu pacarku di kota dengan sepeda. Ya, jarak yang cukup jauh itu membuat kami setiap pagi harus berangkat secepatnya.
            Kami berangkat dari stasiun Okubo dan kemudian berpisah di stasiun Oiwake
Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan ku dengan sepeda menuju akitanishi gakuen dan dia menuju kanaashi gakuen 
“Erin!” tiba-tiba sesosok suara yang melantun indah di telingaku, memanggilku. Aku menoleh.
“Ren!!”sambil tersenyum manis aku segera menghentikan sepedaku. Yap, itu pacarku. Namanya Ren.

Pakaian sekolahnya yang berbeda membuat kami selalu menjadi bahan perbincangan banyak orang di sekitar. Tentu saja, kami berasal dari sekolah yang berbeda.
            Mungkin saja kalau tidak ada hari itu…..
            Aku dan Ren mungkin takkan pernah saling mengenal..




~Katagami-shi Akita-ken~ (3 tahun yang lalu)

            Hari ini senin, sekolah ku SMP Akitakita pulang cepat dan siang ini aku bertemu temanku dari SMP Tennominami. Ia mengajakku untuk bermain di rumahnya. Ya, kuterima dan aku pergi kerumahnya.
            Siang itu mataharti tampak sangat tinggi sekali, aku bahkan tak merasakan panas di hari itu. Bahkan baju switter dari sekolah yang biasanya kuikatkan di pinggang, terasa nyaman kupakai..

            “Erin, hari ini kamu pulang bersama siapa?” Tanya temanku miya membawakan secangkir teh ke arahku
            “bersama Nene” jawabku singkat sambil duduk bersimpuh di depan meja kecil milik miya
            “nene ya? Sesekali pulang dengan pacarmu, gimana?” tambah miya yang tiba-tiba membuatku terkaget

            Aku diam dan menundukkan kepala. Wajahku yang tersenyum dengannya berubah menjadi panik. Mungkin karena aku tak bisa menjawab pertanyaan Miya.
            Lagipula, aku memang belum punya pacar dan aku rasa aku tidak pernah tertarik untuk mencobanya. Membayangkan bersama pacar berjalan bersama, bergandengan bersama, berbicara langsung tatap muka, dan tertawa bersama, itu menyeramkan!

#aku tidak suka anak laki-laki#

            “erin? Kenapa diam?” Tanya Miya
            “haha, tidak apa-apa kok Miya, oh ya bagaimana dengan sekolahmu?” aku mulai mengalihkan pembicaraan
            “baik-baik saja sih. Eh Erin, di kelasku ada cowok yang mirip kamu lo!”

Byuuuuur!! Mendengar ucapan itu, aku kaget dan mengeluarkan seluruh air yang ada di mulutku.
            “mi-mirip? Maksudnya?”
            “iya, kalau melihat dia…… aku jadi teringat dirimu Erin. Lagipula kita kan jarang bertemu walau dekat rumah. Haha!” Miya tertawa dan tidak mempedulikan air yang tumpah di rok sekolahnya.

            “kamu suka dia, Miya?”
            “tidak, aku pikir dia cocok denganmu!”

Gubraak! Aku kembali terkaget dan ikut tertawa bersama Miya. “jadi maksudmu berbicara begitu bukan ingin….:
            “iya, aku ingin kamu bersamanya Erin!” sambung Miya

Aku kembali diam dan melanjutkan minum ku.
Sebenarnya, aku tidak pernah peduli dengan setiap ucapan Miya. Aku hanya mendengarkan ia berbicara dan kemudian melupakannya. Aku dan Miya sangat berbeda, walau kami adalah teman sejak kecil. Ia sepertinya sangat terkenal dikalangan lelaki. Cantik, ramah, dan pintar. Sedangkan aku… #lupakan itu

            Berkali-kali Miya selalu mengatakan “kau pantas untuknya”, “lelaki itu cocok buatmu”, semua hanya ku respon dengan tertawa dan aku kembali terdiam.
            Entah kenapa, mengingat tentang laki-laki, aku jadi teringat masa lalu ## yang mungkin sama sekali tak ingin kuingat dalam hidupku. “aku benci laki-laki”, pikir ku selalu begitu setiap aku mengenal anak laki-laki sebayaku.
            Tapi hari ini, wajah Miya berbeda. Dia seperti menginginkan aku dengan anak laki-laki yang baru saja ia maksudkan.

            “aku ingin Erin pulang dengan pacarnya, melihat Erin tersenyum ke semua anak laki-laki. Dan kurasa aku ingin Erin bersama laki-laki itu, sungguh! Dia baik, dan aku ingin melihat kalian berdua bergandengan tangan berjalan di depanku” ucap Miya menatapiku dengan manis
            “haha! Miya kebanyakan nonton film nih! Miya sendiri juga belum punya pacar! Hahahha” aku tertawa, dan tidak banyak memberikan respon
            Miya tetap menatapku. Selama ini Miya memang kenal dengan semua orang, dekat dengan semua orang, tetapi ia memiliki masalah dalam hal itu, jauh berbeda denganku. Ia menyukai seorang lelaki di kelas yang sama dengannya, dan lelaki itu hanya menganggap dirinya seorang kakak ##

            “akh Erin! Aku biasa aja kali, teman laki-lakiku banyak! Sementara Erin? Besok kuajak dia ke rumahku sepulang sekolah, kamu datang ya ke rumahku dan jangan lupa ajak Nene!” Miya membantah perkataanku dengan nada tinggi
            “hahaha Miya salah memilih orang, harusnya Miya tadi memanggil Nene, bukan memanggilku!” aku ikut membantah. “oh ya aku pulang dulu ya, sudah lama sekali aku di rumahmu, aku harus mengerjakan pekerjaan rumahku. Aku pulang dulu ya, jya~” aku segera berdiri dari dudukku, mengambil tas dan berjalan ke pintu keluar.

            Aku takut, aku takut kembali mengingat masa lalu itu. Rasanya menyedihkan dan aku ingin mengeluarkan air mataku. Aku tak pernah menceritakan ini pada Miya, dan dari dulu aku berharap Miya menyadari apa yang kurasakan. Tapi sepertinyaa…

            “hari ini Miya serius dengan ucapannya.. Tasukete kudasai!”



☆ 先にさんすてっぷ ☆


“waaaa ? Kamu bertemu Miya ?” teriak Nene di kelas

            Pagi itu aku datang sangat cepat ke sekolah untuk menemui Nene di kelas yang berbeda. Aku berharap Nene bisa membantu ku. Tetapi…

“kyaaaa! Hisashiburi Miyaaa, aku pengen cepat-cepat pulang supaya bisa ketemu Miyaaa~!!”
           
            Itu maksudnya bukan “bertemu Miya” tapi “bertemu temannya”

“Nene, aku sudah ke surga..” ucapku segera mengambil tas dan beranjak keluar kelas. Wajahku berubah menjadi sangat lemas. Padahal aku baru saja bahagia, tidak bisa bertemu dengan anak laki-laki. #seharusnya Erin berada di sekolah khusus wanita

“hey! Kau tangkap ini”
“iyaa!”
“mana tas nya, bawa kemari!”
“ini ini,”
“JANGAN PERIKSA TAS KU!”
“sini, bawa kemari,”
“kyahahahhah, dibuang ke tong sampah aja bagus tuh”
“dasar sampah!”
“hiks..hiks..hiks…”

            Rasa takut itu kian sering menghantuiku. Aku tidak tau, dulu aku seperti apa. Bagaikan seorang sampah di kelas anak-anak pintar. Aku memang tidak bisa apa-apa, bahkan otakku pun tidak sepintar yang lainnya. Dulu aku pikir, “kenapa aku tidak dipindahkan ke kelas yang paling ujung?” aku mungkin akan betah disana dengan banyak siswa yang memiliki banyak kekurangan yang sama sepertiku.
            Sejak SD aku mulai menjauhi semua anak laki-laki. Aku tidak peduli, mereka seperti apa. Tentu saja.. aku benci mereka! Bahkan hingga kelas 8 ini..
            Berharap Miya benar-benar telah lupa ingatan, hari ini dia kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, kemudian dia tidak ingat semuanya *gubrak

“kyaaaaa!! Segitu bencinya kah aku pada anak la…”
“Hanamiya?” tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku
“eh?”
“kenapa berteriak ? kau sedang berbicara dengan hantu?” dia, matsuoka hikari, teman dan juga saudaraku. Dia berpikir dari sikap ku yang sangat dingin pada banyak orang, mengira aku adalah utusan dari (…) sejenis makhluk aneh yang bisa melihat dan berbicara dengan roh *oh my god*
“eeh? Sejak kapan hikari ada disini?”
“hanamiya, jangan mengabaikan pembicaraanku!!”
“hahah, gomen ne~ aku sedang refreshing suara, beberapa hari ini aku terlalu banyak bicara sih, heheheh”
“jelas bohongnya!” jawab hikari singkat dan meninggalkanku

Akhirnya hari itu aku kembali terdiam. Aku mulai melanjutkan perjalanan menuju ke kelas C yang jaraknya cukup jauh dari kelas Nene. Aku mulai menenangkan diri. Namun…

“erin!!” teriakan aneh yang tak ingin ku dengar itu kembali memanggilku di halaman sepulang sekolah.
Aku segera menoleh tanpa berbicara apapun.
“Mi-miya kecelakaan! Trus tangannya patah, dan sekarang dia ada di rumah, Erin!” teriak Nene di depanku
“kyaaa! Tangannya patah?” aku terkaget dan kembali teringat, Berharap Miya benar-benar telah lupa ingatan, hari ini dia kecelakaan dan dirawat. “ya ampuuuun!” apa yang kuharapkan benar-benar terwujud!
“ayo Erin, kita tunggu apa lagi? Ayo ke rumahnya sekarang”
“tapi kan..”
“eh! Miya membutuhkan kita, ayo ke rumahnya!”
“i-iyaaa!”

Pada akhirnya aku dan Nene segera menuju rumah Miya dengan sangat cepat. Aku panik sekali saat itu. Aku takut sekali terjadi apa-apa pada Miya! Walaupun dia suka memaksa tetapi dia orangnya mudah mengerti orang lain dan sangat ramah. “aku ingin mengambil kembali kata-kataku tadi!”
“kata-kata apa?” tiba-tiba Nene mendengar ucapanku
“bu-bukan apa-apa Nene”


                                                先にさんすてっぷ

~sesampainya di depan rumah Miya~

            “loh? Kok rumah nya Miya rasanya ramai ya?” bisikku pada Nene yang perlahan turun dari sepeda
            “perasaan kamu aja kali..”
            “enggak, rasanya ramai sekali, apakah teman-temannya datang untuk melihatnya?”
            “nggak mungkin lah Erin, kita lihat saja dulu. Ayo masuk!”
            “nggak akh Nene, perasaan ku nggak enak. Mungkin teman-teman melihatnya. Kalau gitu ayo pulang saja, nanti sore aja kita kembali kesini~”
            “ya ampun Erin, ayolah masuk, tidak ada orang di dalam,” Nene mulai memaksa dan memegang tangan kananku.

Saat itu perasaanku mulai tidak enak. Entah kenapa, aku merasa sepertinya ada banyak orang di dalam. Bukan suara, tapi rasanya seperti itu.
“Nene, aku pulang saja, kamu kalau masuk, masuk saja, aku nanti sore ya” ucapku mulai terlihat ketakutan
“erin, ayolaaaaaaah~”
“aku gak mau! Aku mau pu…..”

Tiba-tiba di tengah pembicaraanku, aku melihat dua sosok makhluk yang tak lain dan tak bukan adalah….

“kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! Kalian menipuku yaaaa????” aku segera berteriak sangat keras sekali seketika melihat makhluk itu adalah dua anak laki-laki yang bahkan tak pernah kukenali sebelumnya.

Melihatku berteriak, dua anak laki-laki yang keluar dari rumahnya Miya itu, melihatku dengan tatapan yang aneh.
“Miya, itu temanmu bukan?” salah seorang masuk ke dalam
“iyaa! Aku akan segera keluar” suara Miya bahkan terdengar baik-baik saja

“NENE! LEPASKAN AKU! AKU BENCI KALIAN! AKU MAU PULAANG!!” bentakku mencoba melepaskan diri dari Nene
“Erin kau seperti melihat hantu! TENANG dan MASUKLAH KEDALAM!!” Nene tetap memegangiku sangat kuat sekali.

Hari itu entah kenapa, aku bagaikan seorang anak kecil yang tak mau minum obat, padahal sedang sakit parah. #benar-benar menakutkan

“Erin!” lalu Miya keluar dari rumahnya dan menemuiku
“Miyaaaaaaaa! Aku mau pulaaaaaang!” ucapku sambil mengeluarkan air mata, berharap Miya memberiku belas kasihan dan memperbolehkan untuk pulang
“Erin, kenapa menangis? Apa yang dilakukan Nene padamu?”
“a-aku mau pulaaaaaaaang”

Miya tersenyum manis, “aku mau Erin nggak takut lagi sama anak laki-laki, aku mau Erin berubah, makanya kubawa teman-temanku, nggak banyak kok, dan mereka semua baik”
Aku diam dan menundukkan kepala,
Saat itu Nene membawa sepedaku kedalam dan Miya mulai menarik tanganku perlahan ke dalam rumahnya, tapi..

“Miya, aku sudah memikirkan sesuatu” ucapku tiba-tiba
“hah? Apa?”
“aku…aku mau pulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!!!” teriakku dan aku segera melepaskan tanganku dari Miya dan berlari secepat-cepatnya menjauhi rumah Miya.

Iya, kurasa aku belum siap dan aku takkan pernah sanggup. Aku berlari dan Miya juga Nene mengejarku dari belakang. Syukurlah komplek rumahku berada di depan komplek rumah Miya, jadi aku bisa berlari secepatnya untuk menuju rumah..

“hosh..hosh..hosh..” aku terengah-engah segera membuka pintu rumah.
“tadaiima!!” ucapku seperti tidak terjadi apa-apa.

Ya, kupikir Miya dan Nene takkan mengejarku hingga kemari. “aman!” aku tersenyum dan menyandarkan diri di depan pintu.

~beberapa saat kemudian

            “kak, kenapa?” Tanya adik perempuan menemuiku
            “nggak kenapa-napa, haha”
            “trus itu siapa kak?” adikku menunjuk ke luar jendela.

            Tampak seorang anak laki-laki berbadan kecil berjalan mundur di depan halaman rumahku, ia seperti berbicara dengan seseorang dari kejauhan. Aku bahkan tidak bisa melihat dia dari bawah jendela karena badannya lebih kecil dari pagar rumahku.

            “Tennominami gakuen junior high school ?! temannya Miya, ya?” pikirku mencoba melihat lelaki itu.
            Dia hanya berdiri menyampingkan rumahku, seketika dia sedikit melihat dan kemudian tersenyum-senyum aneh.

            “kakak kenal ya?” Tanya adikku yang ia sepertinya sudah mulai kesusahan melihat anak itu.
            “enggak, udahlah nggak usah dipikirkan, pergi main sana gih!”
            “hah! Kakak!” ia membuka pintu rumah dan bermain keluar.
            Sementara aku yang berada di dalam rumahnya, masih melihat lelaki itu. dia siapa? Untuk apa dia disana? Pikirku.

            “kak erin!!” tiba-tiba suara adik perempuan mengagetkan ku dari luar.
            Lelaki tadi yang berjalan mundur di depan rumahku juga ikut terkaget dan segera berlari ke depan. Aku lalu secepatnya bersembunyi, “Miya atau Nene?”

            “kak Erin, teman kakak memanggil nih! Kak Hime!” teriaknya sekali lagi
            “hah? Hime?” aku beranjak dari persembunyianku dan mengintip dari jendela.
            Hime! Teman satu sekolah denganku, yang bahkan aku yakin dia tidak ada hubungannya dengan Nene dan Miya.
            Aku tersenyum dan membuka pintu rumah.

            “Hime-chan ?! Doushita ?” tanyaku
            “kesini lah!” panggil Hime

            Aku secepatnya berlari ke arah Hime,
            “lihat tuh, Nene bersama siapa ?” tunjuk Hime yang ternyata mereka berada di depan komplek rumahku.
            “kyaaaa!” aku kaget dan menyembunyikan diri di balik pagar
            “mereka anak SMP Tennominami, kan?”
            “i-iyaa,”
            “kamu kenal mereka, Erin ?”
            “aku Cuma kenal satu orang..” jawabku ketakutan
            “ya ampun, panggil gih Nene! Jangan buat malu nama SMP Akitakita lah!” Wajah Hime seketika berubah menjadi wajah devil. #kowaii~

            Tanpa berpikir apa-apa aku segera membuka mulut dan berteriak “NENEEEEEEE!!”
            Semua terdiam dan melihat ke arahku. Termasuk teman-teman Miya yang tadinya sedang tertawa. Mereka tak berkutik sedikitpun.
            “apa, Erin?” teriak Nene balik
            “Nene kemarilah!” ucap Hime memanggil seketika aku yang ikut tak berkutik melihat situasi itu. Aku memucat.
            “ada apa Hime?” Nene masih berdiri disana.

            “yasudahlah Erin, biarin aja mereka, aku pulang dulu yaa” Hime meninggalkanku yang dalam keadaan pucat. Hingga akhirnya aku memilih berjalan ke dalam seperti seorang robot yang ketakutan.




先にさんすてっぷ

~esok paginya di sekolah di depan kelas bersama Hikari~

            “Erin! Kenapa kamu seperti itu kemarin haa??!!” nene mendadak menemuiku dengan nada kesal
            “kalian menipuku! Aku nggak suka!”
            “kalau kami nggak menipumu, kamu nggak bakalan datang kan?”
            “sama saja!!”
            “eh? Ini ada masalah apa?” tanya Hikari
            “saudara mu tuh! Ngeliat anak laki-laki kayak ngeliat Monster!”
            “Hanamiya kebanyakan nonton kartun kali!” jawab Hikari simple.
            “bukan itu masalahnya, bayangkan lah nangis gara-gara Cuma dipaksa bertemu anak laki-laki. Kemarin aku bermain bersama mereka. Mereka orangnya ramah dan baik. Mereka menghargai anak perempuan dan bersikap manis sekali. Lagipula mereka Cuma 3 orang kok! Dan aku berkenalan dengan mereka dan kami jadi teman baik!!” jelas Nene
            “aku nggak peduli! Aku benci mereka!!” tambah ku dengan nada cuek
            “trus ada yang paling imut diantara mereka. Sugeeeeeee!! Si Hiroko tuuuuh!!” nene seperti sedang berbunga-bunga. Bahkan seorang gadis tomboy seperti Nene mencoba berputar-putar bagaikan seorang putri di koridor sekolah.

            Aku dan Hikari yang tidak mengerti apa-apa hanya diam.
            “cieee, jangan-jangan Nene suka nih sama lelaki imut yang bernama Hiroko itu” ucap Hikari di tengah kediaman kami.
            “jiaaaaah.. Hikari tau deh! Dia keren lucu imut tampan unik dan baik jugaa. Senyumannya menggoda lo Hikari!!”
           
            “hah, aku pergi, aku nggak ngerti kalian!” ucapku segera masuk ke dalam kelas.
            Tapi tentang Hiroko.. aku penasaran~ dan siapa lelaki kemarin?
            “oh ya Erin..” Nene
            “apa ?”
            “nanti sepulang sekolah kamu ke rumah Miya ya, sampaikan padanya kalau aku suka Hiroko!”
            “fiuuuh~ baiklah Nene~” aku berjalan meninggalkan Nene dan Hikari yang berbincang seperti berada di surga di depan kelas~

~~
            Akhirnya sepulang sekolah, aku langsung menuju ke rumah.
            “tok..tok..tok..” aku mengetuk pintu rumahnya
            “hah! Erin ? ada apa?” miya membuka pintu rumahnya sambil tersenyum
            “aku minta maaf ya soal kemarin, habis nya aku belum siap”
            “iya nggak apa-apa Erin, aku juga minta maaf udah memaksa mu kemarin. Aku harusnya mengerti dirimu, mungkin aku harus mengajarkan padamu perlahan-lahan lain kali ya. Hahaha”
            “oh ya, Miya.. aku mau me….”
            “eh tunggu dulu Erin. Ada yang mau kusampaikan padamu. Titipan dari Yori”
            “Yori ? orang yang kamu suka ?”
            “iya kemarin aku membawanya, ada kabar baik untukmu Erin!”
            “apa itu?”
            “kabarnya temanku yang kubilang mirip dirimu itu, suka kamu, lho!”
            “mirip aku? Yang mana ?
            “Hiroko!”
            “eh?”

                                                                             つづく

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman