“Three
Steps Ahead”
先に3つのステップ
By : Richia Kayoru
Nanahira
Theme Song : KOKIA – Sekai wo Tsutsumu Ribbon in our heart
~PART 2~
“I like you, I saw you so amazing”
“your mean?”
“yeah, I want.. I want to be your boyfriend
:’(“
Dia menemuiku,
Dia seperti apa ?
Hanya menggunakan shall kecil dan berlari
kencang kearahku,
Untuk mengatakan kalau dia ingin aku ..
~Sebelumnya,
Akhirnya
sepulang sekolah, aku langsung menuju ke rumah.
“tok..tok..tok..” aku mengetuk pintu
rumahnya
“hah! Erin ? ada apa?” miya membuka
pintu rumahnya sambil tersenyum
“aku minta maaf ya soal kemarin,
habis nya aku belum siap”
“iya nggak apa-apa Erin, aku juga
minta maaf udah memaksa mu kemarin. Aku harusnya mengerti dirimu, mungkin aku
harus mengajarkan padamu perlahan-lahan lain kali ya. Hahaha”
“oh ya, Miya.. aku mau me….”
“eh tunggu dulu Erin. Ada yang mau
kusampaikan padamu. Titipan dari Yori”
“Yori ? orang yang kamu suka ?”
“iya kemarin aku membawanya, ada
kabar baik untukmu Erin!”
“apa itu?”
“kabarnya temanku yang kubilang
mirip dirimu itu, suka kamu, lho!”
“mirip aku? Yang mana ?
“Hiroko!”
“eh?”
☆ 先にさんすてっぷ ☆
“Erin ?”
“hey Erin !”
Kenapa
jadi begini ? Miya bohong, kan soal itu ? aku bahkan tidak mengenali lelaki
itu, Miya pasti bohong kan ? semua nya pasti untuk Nene, ya! Nene punya
segalanya dan ia pasti yang dimaksud orang yang bernama Hiroko itu !
“Erin ? Erin Erin ?!
ada apaa ? Kenapa kau melamun ? Ada yang salah ?”
Nene
itu cantik, tak jauh berbeda dengan Miya, dia ramah dan bisa berteman dengan
siapa saja. Siapapun yang disukai Nene, pasti bisa didapatkan nya dengan mudah
!
“Hanamiya Erin ?? Hey
! kau mendengarku ?”
Yang
dimaksud Miya pasti Nene, bukan aku ! saat itu kan aku memang tidak ada disana
!! wajah ku mulai berubah, rasa ketidak yakinan itu membuatku serasa
tiba-tiba menghilang dari dunia. Semua gelap dan ketakutan serasa mengejarku.
Aku tidak tau, perasaan apakah ini ? rasa nya aku ingin lari dan tidak ingin
mendengar apa-apa..
“HEY ERIN !! SADAR LAH !!” mendadak
aku mendengar suara teriakan yang membuatku membuka mata dan hilang dari
kegelapan itu.
“Miya ?” saat itu aku melihat Miya
berada di depanku. Oh ya hari ini aku
sedang bertemu Miya.
“kenapa melamun ? kamu tidak suka ?”
Tanya Miya
“bu-bukan, aneh saja. Bahkan aku
tidak mengenalinya. Hahaha!”
“tapi dia mengenalmu Erin…” Miya
kembali tersenyum manis dan menepuk bahuku. “hmm, tadi kamu mau bicara apa ?
maaf tadi aku memutuskan pembicaraanmu” tambahnya
“soal itu…” pembicaraanku segera
terhenti. Entah kenapa aku tak ingin melanjutkannya.
“Erin, bilanglah, kamu mau bicara
apa ?”
“eh besok pagi ke sekolah bareng,
yuk!” aku segera mengganti topic pembicaraan
“Erin kok… Aneh deh, tapi sekolah
kita berbeda!”
“tidak apa-apa, hingga ke tempat
pemisah kita berpisah,”
“boleh juga, yaudah besok ku tunggu
di Stasiun Okubo jam setengah 8, ya!”
“baik! Kalau begitu aku permisi
pulang, Jya~”
Hari itu aku segera meninggalkan
Miya dan berjalan pelan menjauhi rumahnya. Aku mengayuh sepedaku. Aku tidak tau
apa yang akan terjadi esok hari. Ini seperti aku sedang bermimpi. “Miya, pasti
berbohong, kan? Lagipula kalau semua itu benar, mungkin hanya kebetulan. Dan
aku bisa saja lari dari semuanya” pikirku berulang kali.
Jam telah menunjukkan pukul 9 malam.
Aku membaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Masih melihat ke langit-langit
kamar. Pikiranku kosong dan aku hanya melihat cahaya lampu diatas sana. Aku
menyalakan AC, juga televisi yang kubiarkan hidup sendiri di dalam kamar.
Rambutku masih acak-acakan belum kusisir sejak selesai main tadi sore.
Aku seperti merasakan suatu
ketakutan tapi sama sekali membuatku tak ingin lari. Aku ingin terus berjalan
sesuai dengan jarum jam, mengikuti semuanya. Padahal aku yakin aku sangat
ketakutan, jauh lebih dalam di lubuk hatiku, aku telah menangis. Mendengar
sesosok anak laki-laki… aku serasa merinding. Tapi, aku tidak ingin lari? Padahal aku tau kalau Nene sepertinya sangat
menginginkan lelaki yang bernama “Hiroko” itu.
“hah, aku payah! Pasti yang dimaksud
Miya adalah Nene, bukan aku!” aku kembali mengucapkan kata-kata yang sama
berulang kali.
“Erin, belum tidur?” mama membuka
pintu kamar dan melihatku yang masih berbaring.
“belum, ma. Masih belum mengantuk”
“tapi sekarang sudah jam 9 malam dan
kamu masih menghidupkan televisi. Bagaimana dengan AC ? Apa tidak merasa
kedinginan? Selimut pun tidak dipakai!” tegas mama mematikan televise dan juga
AC di kamarku
Aku hanya diam dan menutup tubuhku
dengan selimut. Saat ini aku tidak ingin berfikir apa-apa. Di dalam benakku
hanya ucapan Miya yang kuanggap adalah suatu “kebohongan”
~Esok
pagi di sekolah
“ERIIIINNN!!!” suara teriakan Nene
yang biasanya mendekat ke arahku
“hah, Nene! Ohayou!”
“ohayo Erin.. mmm…”
Coba ku tebak, Nene pasti akan
menanyakan soal…
“eh selamat ya, Erin!” ucapnya
memutuskan pikiranku
“selamat ? selamat buat apa, Nene?”
“iyaa, kemarin malam Miya meneleponku.
Dia bilang Hiroko suka kamu. Waaah, aku senang deh. Kurasa aku bisa membantumu
juga Miya untuk merubahmu” Nene tertawa sambil mengusap-usap rambutku.
Kenapa
dengan Nene ? kenapa ia begitu bahagia ? padahal ia kemarin bahagia sekali,
bukankah saat ia mengetahuinya, ia akan terasa sakit? Aku tidak tau yang sebenarnya
dirasakan semua orang.. tapi..
“aku tak pantas untuk Hiroko, yang
pantas untuknya itu Nene, kan?” ucapku
Nene tak menjawab apa-apa. Wajahnya
datar.. dan kemudian dia menggeleng dan meninggalkanku di koridor kelas.
☆ 先にさんすてっぷ ☆
~Sepulang
sekolah
Hari ini aku tidak bisa pulang
bersama Nene, katanya ia ada urusan dengan teman-teman sekelasnya. Jadi siang
ini aku pulang sendiri.
Cuaca sangat panas. Tetapi angin
berhembus sangat kencang sekali. Aku mengayuh sepeda ku dengan cepat agar
segera sampai di stasiun Oiwake. Stasiun yang biasa kunaiki untuk pulang.
Tempatnya tidak begitu jauh dari sekolah, kira-kira dari sekolah dengan sepeda
dapat di tempuh dengan waktu 10 menit.
Tapi, saat itu..
“maaf dik, hari ini kereta tidak
dapat dipakai. Ada kerusakan dibagian jalur menuju Katagami. Jadi kami harus
memperbaikinya.” Ucap seorang penjaga kereta kepadaku.
“kalau begitu saya akan menunggunya”
“maaf perbaikan akan memakai waktu
lama. Jika rumah adik sangat jauh, mungkin bisa pulang dengan bis”
“tapi kan…” ini pertama kalinya aku
mengalami hal ini.
Sebenarnya aku adalah anak yang
benar-benar payah. Aku bahkan tidak tau jalan pulang. Sejak sekolah dasar aku
hanya turun naik kereta. Dari stasiun ke sekolah arahnya mudah kukenali karena
hanya menggunakan satu arah. Aku tak bisa ingat apa-apa. Kalau menaiki bis….
“pasti rute nya akan berbeda dengan
rute kereta. Pasti berkali-kali turun naik bis. Dan aku tidak tau dimana harus
naik dan turun” pikirku.
Lalu aku meninggalkan stasiun dan
kembali berbalik arah menuju sekolah. Mungkin saja aku bisa mengajak Hikari
pulang ke rumahku. Hikari pasti tau rute dengan bis, biasanya kan dia ke
rumahku dengan bis. “yap!”
Aku mengayuh cepat..
“hey kau yang disana!” seseorang
tiba-tiba memanggilku dari belakang. Terdengar seperti suara anak laki-laki.
Tetapi aku sama sekali tidak menghiraukannya dan terus mengayuh sepeda. Namun
ia terus memanggilku dan mengikutiku dari belakang. Siapa dia?
“berhentilah!!! Jangan mengabaikan
orang bicara!!” ia membentakku.
Membuatku segera berhenti dan
kembali memucat. Perlahan aku mencoba untuk berbalik arah melihat kebelakang.
Dan aku melihatnya!!
“lelaki
kecil yang waktu itu di depan rumahku!!” teriakku kaget di dalam hati
“kenapa kembali ke sekolah?” Tanya
lelaki itu pelan
“a-aku.. aku..akuu…” jawabku
terbata-bata dan sama sekali tidak bisa menyambung apa-apa. Aku sangat
ketakutan..
“kau
itu sampah ! enyahlah dari hadapan kami!!”
“iya,
satu kelas membenci mu! Kenapa kau masih ada disini?”
“a-aku
hanya..”
“hah!
Suara mu itu jelek ! kenapa malah berbicara seperti itu ha???”
“KAMI
BAHKAN TAK INGIN MENDENGAR SUARAMU!
“jelek
! kenapa kau harus berbicara!”
“harusnya
langsung saja kau ambil tas dan keluar lah dari kelas ini!”
“kelas
ini hanya untuk anak-anak jenius seperti kami!”
“kau
tak pantas !!”
“pergilah
!!”
Mataku kembali
terbuka lebar-lebar. Semua itu kembali terlihat dalam benakku. Rasanya
menakutkan! Penglihatanku tiba-tiba gelap dan aku seperti..
“hey! Kau kenapa ? ada yang salah
dengan ku ? kenapa kau sepertinya ketakutan ?” lelaki itu mencoba mendekatiku
“ja-JANGAAAAN… JANGAN SENTUH
AKUU!!!” tiba-tiba mulutku terbuka dan aku berteriak. Aku segera menaiki
sepedaku dan mengayuh nya lebih cepat dari biasanya
Jantungku berdetak sangat keras
sekali. Keringat bercucuran di wajahku, tetapi tubuhku berubah menjadi dingin.
Aku tidak tau, setiap kali melihat semua anak laki-laki dan ia berbicara
padaku, rasanya mereka seperti seolah membawaku ke masa lalu. Menakutkan !! apakah saat ini hatiku berteriak meminta
tolong ?
Aku senang bisa bebas dari mereka,
aku lulus dari Sekolah Dasar dan menuju ke sekolah menengah. Di sini aku
merubah semuanya. Aku menjadi seorang anak aneh yang tak jauh berbeda dari seorang
kutubuku. Aku menjauhi semua orang. Bahkan untuk berbicarapun aku tidak ingin.
Sehingga banyak anak laki-laki yang tidak suka berdekatan denganku. Mereka
malah sebaliknya ikut menjauh. 2 tahun aku di sekolah menengah dan aku tidak
merasakan ketakutan apa-apa. Tetapi, kenapa..
“kenapaaa? Kenapa semuaa.. kenapa
dengan hari ini.. kenapa dengan semua orang.. kenapa denganku? Kenapa lelaki
itu tidak menjauhiku? Kenapa ia mau berbicara sangat ramah denganku? Apakah dia
mengenaliku? Kenapa dia berada disini?” semua pertanyaan bertubi-tubi di
pikiranku. Aku sangat dan bahkan sangat ketakutan. Sudah dua tahun aku tidak
berdekatan seperti ini dengan anak laki-laki.. dan diaaa…
“kenapa
kembali ke sekolah?” dia berbeda, ucapannya sangat pelan dan ramah sekali..
“akh! Diaa….” Aku kembali menoleh ke
belakang.
Dan lelaki itu masih terus
mengikutiku.
“kenapa? Mengikutiku?” tanyaku
dengan nafas terengah-engah
“karena aku ingin pulang bersamamu!”
“hah! Aku bahkan tidak mengenalimu!”
“tapi aku mengenalimu!! Ayo pulang
bersama. Kita tidak usah menaiki bis, kita menggunakan sepeda! Seberapapun
jauhnya, tidak masalah!”
Aku hanya menatapnya dan kemudian
memutar arah sepedaku. Dengan kata lain, tubuhku seolah mengikutinya dan ingin
pulang bersama. Lalu perlahan mengikutinya dari belakang.
“ke-kenapa tidak dengan bis..??”
tanyaku
“kurasa lebih indah apabila melihat
semuanya dengan sepeda.. langit terlihat indah..”
“ta-tapi…” aku tak bisa melanjutkan
pembicaraan. Aku masih gugup
“oh
maksudmu, akan lebih lama dan melelahkan dengan sepeda, ya?” ia menyambung
pembicaraanku
Aku tidak tau siapa lelaki ini, apa
yang ia pikirkan, tapi rasanya berbeda. Aku terasa lebih nyaman. Sedikit dari
ucapannya menghilangkan rasa takutku.
“ke-kenapaa….”
“maksudmu, kenapa aku bisa tau ?
tentu saja, itu pertanyaan yang biasa!” sambungnya
“eh?” dia tau apa yang aku pikirkan
dan senantiasa menjawabnya
~~
“kau
sedang mencari apa ?”
“tas
ku menghilang, kau melihatnya?”
“ooh,
tidak. Tapi aku melihat suatu barang bekas di depan pintu, dan aku
membuangnya!”
“HAH?!
Itu berbentuk seperti apa?”
“tas,
warnanya merah”
“itu
tas ku!”
“dasar
bodoh! Harusnya kau cari di tempat sampah!”
~~
Aku menundukkan
wajahku. Air mataku kembali mengalir..
“kenapa menangis? Memikirkan
sesuatu?” lelaki itu menatapiku dan tetap tersenyum
“tidak..”
“tidak apa-apa?”
“iya”
“kau menyimpan sesuatu? Apa kau
sakit? Kalau merasakan kesakitan yang mendalam, cobalah untuk jujur! Kurasa itu
akan membuatmu tenang! Jangan mencoba memendamnya. Rasa sakit itu perlahan akan
menyakitimu!” seusai berbicara lelaki itu kembali mengayuh sepeda nya dan
meninggalkanku.
Apa
maksudnya? Kalau merasakan kesakitan yang mendalam, cobalah untuk jujur!
Apakah dengan jujur, sakit itu akan hilang ? siapa dia ? apakah dia seorang
malaikat? Rasa takut itu perlahan hilang dari tubuhku dan ia membuatku nyaman..
Hari ini aku menulis semuanya ke
dalam buku Dyari. Aku bertemu dengan seorang malaikat yang membawa ku jauh dari
ketakutan. Aku nyaman bersamanya. Kami pulang bersama. Sedikit demi sedikit aku
bisa mencoba tersenyum padanya. Dia mengajarkan sesuatu yang berharga padaku
hari ini.. Kalau merasakan kesakitan yang
mendalam, cobalah untuk jujur! Aku memang tidak mengerti apa maksudnya,
tapi aku senang. Ia seperti… hah, sebenarnya dia siapa ? apakah aku harus
bertanya pada Miya ? “oh tidak.. miya pasti akan berkata kurasa kamu bisa bersamanya.. lagipula lelaki itu pasti sangat
kenal dengan Miya”
“Hoaaaam..! aku akan segera tidur
dan menanyakan pada Hikari besok.. oyasuminasai!” aku menutup buku Dyariku,
menarik selimut dan mematikan lampu kamar. Aku pikir aku tidak perlu lari,
karena aku masih ingin tau selanjutnya seperti apa.. ini kisah yang
mendebarkan..
☆ 先にさんすてっぷ ☆
Keesokan paginya di sekolah, aku
segera menemui Hikari. Aneh, pagi ini aku tidak melihat Nene.. biasanya dia
selalu menyapaku. Tapi..
“ohayou, Hikari!” sapa ku duduk
disebelahnya
“Ohayou Hanamiya, kamu ceria sekali
hari ini..”
“entahlah, aku merasa seperti itu..
hmm mana Nene ? biasanya dia ada disini, setiap pagi kan dia selalu menungguku
datang..” tanyaku
“kalau soal itu aku tidak tau..
apakah dia marah?”
“kemarin biasa saja..”
“eh kemarin Hanamiya tidak pulang
bersamanya kan ? kenapa dia memilih pulang bersama teman-temannya?”
“oh itu, katanya dia mau belajar
kelompok”
“enggak akh..”
“eh?”
“dia pulang sendiri dengan bis,
kemarin kan kereta nggak bisa dipakai. Dia saja naik bis yang berbeda dengan
teman-temannya..”
Dia
saja naik bis yang berbeda dengan teman-temannya.. kata-kata itu perlahan
membuat jantungku berdetak..
“Nene,
ayo pulang..”
“akh
maaf Erin, hari ini aku ada belajar kelompok dengan teman-teman”
“tapi
biasanya kan Nene pulang dulu”
“aku
sudah menelfon mama pulang telat, Erin pulang sendiri saja, ya”
“baiklah
Nene..”
Tapi kemarin sikap
dia biasa saja. Kenapa dia tidak ingin pulang bersamaku ? membuat alasan ada
kerja kelompok di rumah teman ? untuk apa ?
“Erin ? melamun lagi! Kenapa kau
suka sekali melamun di tengah pembicaraan ?” Hikari membangunkan ku dari
lamunan
“hah, tidak apa-apa Hikari.. mungkin
Nene memang belajar kelompok, tapi kemungkinan dia ketinggalan buku di rumah,
karena aku duluan pulang jadi dia pulang sendiri..”
“sangat tidak masuk akal.. kenapa
sih Erin selalu berprasangka baik sama orang ?”
“salah, ya?”
“tidak! Tapi Erin terlalu lemah!
Seseorang bisa memperdayakan mu lo!”
“tapi kan kita nggak boleh
berprasangka buruk kepada orang lain ! aku sudah kenal Nene sejak Sekolah
Dasar! Dia selalu membelaku, aku tau Nene orangnya baik! Tidak mungkin dia
berusaha menjauhi ku!!” bentakku
“kalau begitu pikiranmu, yasudah!
Terserah saja!!” Hikari pergi dari duduknya dan meninggalkanku.
Aku kembali terdiam. Apa aku salah
bicara ? aku tau siapa Nene. Dia anak yang baik, tidak suka memilih teman. Dia
bahkan selalu ada untukku kapan saja. Dia sahabat yang sangat mengerti aku.
Selalu menolongku dari anak laki-laki waktu sekolah dasar. Tidak mungkin dia
menjauhiku. Tapi kenapa.. kenapa kemarin ia tidak ingin pulang bersamaku ?
~Di
rumah Miya
“jadi begitu ceritanya ?” ucap Miya
setelah aku menjelaskan semuanya
“iya, aku tidak tau dia kenapa”
“coba Erin ingat-ingat, ada masalah
apa sebelumnya. Pasti sebelumnya ada kata-kata Erin yang menyinggungnya yang
Erin tidak menyadarinya, kan?”
Benar, mungkin ada sesuatu yang buat
dia tersinggung.. tapi seperti apa ?
Pagi-pagi kemarin aku bertemu
dengannya dalam keadaan semangat. Ia mengatakan seluruh perasaannya di depanku
juga Hikari. Dia sangat senang sekali bahkan berputar-putar di koridor pun
biasa baginya..
“nanti
sepulang sekolah kamu ke rumah Miya ya, sampaikan padanya kalau aku suka
Hiroko!”
“akh ?
jangan-jangan..” aku kaget dan mengangkat kepalaku
“kau mengingat sesuatu Erin ?”
Dulu.. Nene pernah bilang padaku “aku
benci orang yang tidak amanah! Aku menyuruhnya mengatakan sesuatu kepada orang
itu! Katanya iya! Tapi ia tidak menyampaikannya! Kamu tau Erin, semua pesan-pesan
yang kusampaikan itu, adalah kata-kata yang penting yang tak bisa kusampaikan
pada orang itu langsung karena aku masih gugup” itu kata-kata waktu di Sekolah
Dasar. Karena waktu itu, ia bertengkar dengan Yonna..
“Erin.. ada apa ? katakanlah ? kenapa
kamu selalu begini ?”
“Sebenarnya.. kemarin itu, Nene
menitipkan pesan padaku untukmu. Makanya aku kemarin ke rumahmu, tapi..”
“eh? Itu pesan apa ? kenapa tidak
sampaikan kemarin ?”
“soal itu.. sebenarnya Nene menyukai
Hiroko !”
“apa ? suka Hiroko.. ke-kenapaa ?”
☆ 先にさんすてっぷ ☆
“soal
itu.. sebenarnya Nene menyukai Hiroko !”
“apa ? suka Hiroko.. ke-kenapaa ?”
Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya
menundukkan wajahku terdiam..
“kenapa Nene bisa menyukai Hiroko,
Erin ?? padahal Hiroko kan..” Miya mengulangi terus pembicaraannya ditengah
kediamanku
“a-aku tidak tau !!”
“jangan sebut ini cinta segitiga ..!”
#Miya kebanyakan nonton film#
“aku tidak tau.. makanya kupikir Hiroko
untuk Nene saja.. aku tidak ingin menyakiti Nene.. selama ini dia sudah sangat
baik. Dia seperti seorang kakak..”
“tapi bagaimana dengan mu ?”
“aku tidak peduli.. mungkin lain
kali Miya bisa mencarikan yang lain untukku..” aku tersenyum sambil meneteskan
air mata. Aku berpikir, bukan tentang Hiroko juga Nene. Tapi kurasa, aku ingin
bersama lelaki yang waktu itu.. aku rasa juga, hanya lelaki itu yang dapat
membantuku berubah.. hanya saja aku tidak ingin saat ini Miya tau..
~~
“kenapa Erin baru berbicara sekarang
?” tambah Miya
“aku baru memikirkannya, lagipula
tidak masalah kan kalau aku mengatakannya kapan saja ?”
“bukan begitu.. tadi di sekolah aku
baru saja memberikan nomor telepon mu pada Hiroko.. pasti nanti malah dia akan
menelepon mu, Erin..”
“menelfon ya ? tidak masalah, aku
bisa bilang semuanya pada Hiroko tentang Nene..”
“apa kamu sanggup ? mendengar suara
laki-laki saja kamu tidak sanggup !!”
“hanya mendengar kan ? apa Miya lupa
kalau aku punya adik laki-laki dan seorang papa ? demi Nene aku akan lakukan
apapun, aku tidak ingin menyakiti Nene..”
“Erin…”
Tiba-tiba perasaanku kembali
berubah. Aku begitu semangat dan ingin cepat-cepat menerima telepon dari Hiroko
dan aku akan mengatakan semuanyaa…
~pukul
10.15pm
“pukul 10, ya ? hiroko mana ?” aku
terus duduk diatas tempat tidur sambil menunggu ponselku bordering. Sebenarnya aku
tidak pernah tidur selarut ini.. tapi demi Nene…
“kriiingg..kriiinggg..” seketika aku
berpikir demikian, telpon berdering dan aku segera mengangkat
“mo-moshi moshi..!!” jawabku mulai
gugup
“Temannya Miya ? Hana kah ?”
“Hana ?”
“akh, bukan Hana ? maaf aku salah
sambung..”
“tu-tunggu.. iya aku Hana..”
“syukurlah Miya tidak membohongiku. Malam
Hana, aku Hiroko, belum tidur jam segini ? atau telfon dariku mengganggu
tidurmu ? atau mungkin lagi makan malam, tapi tidak mungkin ya, sudah larut
malam. Mungkin lagi menonton ? hmm sepertinya juga bukan, rumah mu terasa sepi,
atau lagi buat tugas rumah ya ? biasanya anak seperti mu sangat rajin. Jelas dari
raut wajahnya waktu itu”
Lelaki itu terdengar sangat aneh. Dia
seperti sangat gugup sehingga ia tak berfikir untuk menghentikan
pembicaraannya. Dia juga seperti anak laki-laki yang ceroboh. Ia bahkan tidak
menyadari kalau kata-katanya banyak yang tidak tepat.
“ti-tidak.. aku hanya… aku hanya..”
“hanya menunggu batrai ponsel terisi
penuh..?”
“haa, iyaa..” jawaban ku berhasil di
sambungnya. Ini kebetulan, ya? Semua laki-laki
bisa mengatakan apa yang dipikirkan semua wanita?
“kenapa bisa mengetahuinya ?”
“tentu saja, perasaan wanita mudah
di tebak..” jawab Hiroko. Kurasa, jawabannya berbeda. Dia bukan lelaki yang
waktu itu.
“Hana lagi ngapain ?”
“berencana mau tidur..”
“ooh yaudah aku matikan telfonnya
ya, aku tidak mau mengganggu..”
“eh tu-tungguu..”
“ada apa Hana ?”
“aku mau katakan sesuatu..”
“katakan apa?”
“temanku Nene, menyukaimu, kumohon
jadilah pacarnya..”
“tapi kan..”
“iya, aku ingin Hiroko bersamanya..”
Mendengar ucapanku, Hiroko tiba-tiba
terdiam.
“Hiroko ? masih ada kah disana ?
halo…?” panggilku
“iya aku masih.. hmm baiklah..” ia
menjawab dan mematikan telfonnya.
Kenapa
mematikan telfon? Aku melihat panggilan itu. Bahkan ia belum menyelesaikan
pembicaraannya. “mungkin batrai nya low, atau kehabisan pulsa, atau malah
signal kosong.. haha”
Malam itu, tanpa berpikir apa-apa,
aku segera kembali tidur..
Besok aku harus bangun pagi, dan
kata-kata Hiroko tadi, pasti akan ia lakukan. Semoga besok Nene tidak marah
lagi,
Jujur, aku ingin tau bagaimana hari
esok…
つづく













Tidak ada komentar:
Posting Komentar