Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2012/07/05

Three Steps Ahead (Part 2)


“Three Steps Ahead”
      先に3つのステップ
                                 By : Richia Kayoru Nanahira
                        Theme Song : KOKIA – Sekai wo Tsutsumu Ribbon in our heart
       ~Before~

~PART 2~

        


“I like you, I saw you so amazing”
“your mean?”
“yeah, I want.. I want to be your boyfriend :’(“

Dia menemuiku,
Dia seperti apa ?
Hanya menggunakan shall kecil dan berlari kencang kearahku,
Untuk mengatakan kalau dia ingin aku ..

Lalu bagaimana dengan sahabatku yang menyukainya ?

~Sebelumnya,

Akhirnya sepulang sekolah, aku langsung menuju ke rumah.
            “tok..tok..tok..” aku mengetuk pintu rumahnya
            “hah! Erin ? ada apa?” miya membuka pintu rumahnya sambil tersenyum
            “aku minta maaf ya soal kemarin, habis nya aku belum siap”
            “iya nggak apa-apa Erin, aku juga minta maaf udah memaksa mu kemarin. Aku harusnya mengerti dirimu, mungkin aku harus mengajarkan padamu perlahan-lahan lain kali ya. Hahaha”
            “oh ya, Miya.. aku mau me….”
            “eh tunggu dulu Erin. Ada yang mau kusampaikan padamu. Titipan dari Yori”
            “Yori ? orang yang kamu suka ?”
            “iya kemarin aku membawanya, ada kabar baik untukmu Erin!”
            “apa itu?”
            “kabarnya temanku yang kubilang mirip dirimu itu, suka kamu, lho!”
            “mirip aku? Yang mana ?
            “Hiroko!”
            “eh?”


先にさんすてっぷ

            “Erin ?”
            “hey Erin !”

            Kenapa jadi begini ? Miya bohong, kan soal itu ? aku bahkan tidak mengenali lelaki itu, Miya pasti bohong kan ? semua nya pasti untuk Nene, ya! Nene punya segalanya dan ia pasti yang dimaksud orang yang bernama Hiroko itu !
           
            “Erin ? Erin Erin ?! ada apaa ? Kenapa kau melamun ? Ada yang salah ?”

            Nene itu cantik, tak jauh berbeda dengan Miya, dia ramah dan bisa berteman dengan siapa saja. Siapapun yang disukai Nene, pasti bisa didapatkan nya dengan mudah !

            “Hanamiya Erin ?? Hey ! kau mendengarku ?”

            Yang dimaksud Miya pasti Nene, bukan aku ! saat itu kan aku memang tidak ada disana !! wajah ku mulai berubah, rasa ketidak yakinan itu membuatku serasa tiba-tiba menghilang dari dunia. Semua gelap dan ketakutan serasa mengejarku. Aku tidak tau, perasaan apakah ini ? rasa nya aku ingin lari dan tidak ingin mendengar apa-apa..

            “HEY ERIN !! SADAR LAH !!” mendadak aku mendengar suara teriakan yang membuatku membuka mata dan hilang dari kegelapan itu.
            “Miya ?” saat itu aku melihat Miya berada di depanku. Oh ya hari ini aku sedang bertemu Miya.
            “kenapa melamun ? kamu tidak suka ?” Tanya Miya
            “bu-bukan, aneh saja. Bahkan aku tidak mengenalinya. Hahaha!”
            “tapi dia mengenalmu Erin…” Miya kembali tersenyum manis dan menepuk bahuku. “hmm, tadi kamu mau bicara apa ? maaf tadi aku memutuskan pembicaraanmu” tambahnya
            “soal itu…” pembicaraanku segera terhenti. Entah kenapa aku tak ingin melanjutkannya.
            “Erin, bilanglah, kamu mau bicara apa ?”
            “eh besok pagi ke sekolah bareng, yuk!” aku segera mengganti topic pembicaraan
            “Erin kok… Aneh deh, tapi sekolah kita berbeda!”
            “tidak apa-apa, hingga ke tempat pemisah kita berpisah,”
            “boleh juga, yaudah besok ku tunggu di Stasiun Okubo jam setengah 8, ya!”
            “baik! Kalau begitu aku permisi pulang, Jya~”

            Hari itu aku segera meninggalkan Miya dan berjalan pelan menjauhi rumahnya. Aku mengayuh sepedaku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi esok hari. Ini seperti aku sedang bermimpi. “Miya, pasti berbohong, kan? Lagipula kalau semua itu benar, mungkin hanya kebetulan. Dan aku bisa saja lari dari semuanya” pikirku berulang kali.

            Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Aku membaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Masih melihat ke langit-langit kamar. Pikiranku kosong dan aku hanya melihat cahaya lampu diatas sana. Aku menyalakan AC, juga televisi yang kubiarkan hidup sendiri di dalam kamar. Rambutku masih acak-acakan belum kusisir sejak selesai main tadi sore.
            Aku seperti merasakan suatu ketakutan tapi sama sekali membuatku tak ingin lari. Aku ingin terus berjalan sesuai dengan jarum jam, mengikuti semuanya. Padahal aku yakin aku sangat ketakutan, jauh lebih dalam di lubuk hatiku, aku telah menangis. Mendengar sesosok anak laki-laki… aku serasa merinding. Tapi, aku tidak ingin lari? Padahal aku tau kalau Nene sepertinya sangat menginginkan lelaki yang bernama “Hiroko” itu.

            “hah, aku payah! Pasti yang dimaksud Miya adalah Nene, bukan aku!” aku kembali mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali.
           
            “Erin, belum tidur?” mama membuka pintu kamar dan melihatku yang masih berbaring.
            “belum, ma. Masih belum mengantuk”
            “tapi sekarang sudah jam 9 malam dan kamu masih menghidupkan televisi. Bagaimana dengan AC ? Apa tidak merasa kedinginan? Selimut pun tidak dipakai!” tegas mama mematikan televise dan juga AC di kamarku
           
            Aku hanya diam dan menutup tubuhku dengan selimut. Saat ini aku tidak ingin berfikir apa-apa. Di dalam benakku hanya ucapan Miya yang kuanggap adalah suatu “kebohongan”


~Esok pagi di sekolah

            “ERIIIINNN!!!” suara teriakan Nene yang biasanya mendekat ke arahku
            “hah, Nene! Ohayou!”
            “ohayo Erin.. mmm…”

            Coba ku tebak, Nene pasti akan menanyakan soal…

            “eh selamat ya, Erin!” ucapnya memutuskan pikiranku
            “selamat ? selamat buat apa, Nene?”
            “iyaa, kemarin malam Miya meneleponku. Dia bilang Hiroko suka kamu. Waaah, aku senang deh. Kurasa aku bisa membantumu juga Miya untuk merubahmu” Nene tertawa sambil mengusap-usap rambutku.

            Kenapa dengan Nene ? kenapa ia begitu bahagia ? padahal ia kemarin bahagia sekali, bukankah saat ia mengetahuinya, ia akan terasa sakit? Aku tidak tau yang sebenarnya dirasakan semua orang.. tapi..

            “aku tak pantas untuk Hiroko, yang pantas untuknya itu Nene, kan?” ucapku
           
            Nene tak menjawab apa-apa. Wajahnya datar.. dan kemudian dia menggeleng dan meninggalkanku di koridor kelas.


先にさんすてっぷ

~Sepulang sekolah

            Hari ini aku tidak bisa pulang bersama Nene, katanya ia ada urusan dengan teman-teman sekelasnya. Jadi siang ini aku pulang sendiri.

            Cuaca sangat panas. Tetapi angin berhembus sangat kencang sekali. Aku mengayuh sepeda ku dengan cepat agar segera sampai di stasiun Oiwake. Stasiun yang biasa kunaiki untuk pulang. Tempatnya tidak begitu jauh dari sekolah, kira-kira dari sekolah dengan sepeda dapat di tempuh dengan waktu 10 menit.

            Tapi, saat itu..
            “maaf dik, hari ini kereta tidak dapat dipakai. Ada kerusakan dibagian jalur menuju Katagami. Jadi kami harus memperbaikinya.” Ucap seorang penjaga kereta kepadaku.
            “kalau begitu saya akan menunggunya”
            “maaf perbaikan akan memakai waktu lama. Jika rumah adik sangat jauh, mungkin bisa pulang dengan bis”
            “tapi kan…” ini pertama kalinya aku mengalami hal ini.

            Sebenarnya aku adalah anak yang benar-benar payah. Aku bahkan tidak tau jalan pulang. Sejak sekolah dasar aku hanya turun naik kereta. Dari stasiun ke sekolah arahnya mudah kukenali karena hanya menggunakan satu arah. Aku tak bisa ingat apa-apa. Kalau menaiki bis….

            “pasti rute nya akan berbeda dengan rute kereta. Pasti berkali-kali turun naik bis. Dan aku tidak tau dimana harus naik dan turun” pikirku.

            Lalu aku meninggalkan stasiun dan kembali berbalik arah menuju sekolah. Mungkin saja aku bisa mengajak Hikari pulang ke rumahku. Hikari pasti tau rute dengan bis, biasanya kan dia ke rumahku dengan bis. “yap!”
            Aku mengayuh cepat..

            “hey kau yang disana!” seseorang tiba-tiba memanggilku dari belakang. Terdengar seperti suara anak laki-laki. Tetapi aku sama sekali tidak menghiraukannya dan terus mengayuh sepeda. Namun ia terus memanggilku dan mengikutiku dari belakang. Siapa dia?

            “berhentilah!!! Jangan mengabaikan orang bicara!!” ia membentakku.
            Membuatku segera berhenti dan kembali memucat. Perlahan aku mencoba untuk berbalik arah melihat kebelakang. Dan aku melihatnya!!

            “lelaki kecil yang waktu itu di depan rumahku!!” teriakku kaget di dalam hati

            “kenapa kembali ke sekolah?” Tanya lelaki itu pelan
            “a-aku.. aku..akuu…” jawabku terbata-bata dan sama sekali tidak bisa menyambung apa-apa. Aku sangat ketakutan..


            “kau itu sampah ! enyahlah dari hadapan kami!!”
            “iya, satu kelas membenci mu! Kenapa kau masih ada disini?”
            “a-aku hanya..”
            “hah! Suara mu itu jelek ! kenapa malah berbicara seperti itu ha???”
            “KAMI BAHKAN TAK INGIN MENDENGAR SUARAMU!
            “jelek ! kenapa kau harus berbicara!”
            “harusnya langsung saja kau ambil tas dan keluar lah dari kelas ini!”
            “kelas ini hanya untuk anak-anak jenius seperti kami!”
            “kau tak pantas !!”
            “pergilah !!”

            Mataku kembali terbuka lebar-lebar. Semua itu kembali terlihat dalam benakku. Rasanya menakutkan! Penglihatanku tiba-tiba gelap dan aku seperti..

            “hey! Kau kenapa ? ada yang salah dengan ku ? kenapa kau sepertinya ketakutan ?” lelaki itu mencoba mendekatiku
            “ja-JANGAAAAN… JANGAN SENTUH AKUU!!!” tiba-tiba mulutku terbuka dan aku berteriak. Aku segera menaiki sepedaku dan mengayuh nya lebih cepat dari biasanya

            Jantungku berdetak sangat keras sekali. Keringat bercucuran di wajahku, tetapi tubuhku berubah menjadi dingin. Aku tidak tau, setiap kali melihat semua anak laki-laki dan ia berbicara padaku, rasanya mereka seperti seolah membawaku ke masa lalu. Menakutkan !! apakah saat ini hatiku berteriak meminta tolong ?
            Aku senang bisa bebas dari mereka, aku lulus dari Sekolah Dasar dan menuju ke sekolah menengah. Di sini aku merubah semuanya. Aku menjadi seorang anak aneh yang tak jauh berbeda dari seorang kutubuku. Aku menjauhi semua orang. Bahkan untuk berbicarapun aku tidak ingin. Sehingga banyak anak laki-laki yang tidak suka berdekatan denganku. Mereka malah sebaliknya ikut menjauh. 2 tahun aku di sekolah menengah dan aku tidak merasakan ketakutan apa-apa. Tetapi, kenapa..

            “kenapaaa? Kenapa semuaa.. kenapa dengan hari ini.. kenapa dengan semua orang.. kenapa denganku? Kenapa lelaki itu tidak menjauhiku? Kenapa ia mau berbicara sangat ramah denganku? Apakah dia mengenaliku? Kenapa dia berada disini?” semua pertanyaan bertubi-tubi di pikiranku. Aku sangat dan bahkan sangat ketakutan. Sudah dua tahun aku tidak berdekatan seperti ini dengan anak laki-laki.. dan diaaa…
            “kenapa kembali ke sekolah?” dia berbeda, ucapannya sangat pelan dan ramah sekali..
            “akh! Diaa….” Aku kembali menoleh ke belakang.
            Dan lelaki itu masih terus mengikutiku.
            “kenapa? Mengikutiku?” tanyaku dengan nafas terengah-engah
            “karena aku ingin pulang bersamamu!”
            “hah! Aku bahkan tidak mengenalimu!”
            “tapi aku mengenalimu!! Ayo pulang bersama. Kita tidak usah menaiki bis, kita menggunakan sepeda! Seberapapun jauhnya, tidak masalah!”

            Aku hanya menatapnya dan kemudian memutar arah sepedaku. Dengan kata lain, tubuhku seolah mengikutinya dan ingin pulang bersama. Lalu perlahan mengikutinya dari belakang.

            “ke-kenapa tidak dengan bis..??” tanyaku
            “kurasa lebih indah apabila melihat semuanya dengan sepeda.. langit terlihat indah..”
            “ta-tapi…” aku tak bisa melanjutkan pembicaraan. Aku masih gugup

            “oh maksudmu, akan lebih lama dan melelahkan dengan sepeda, ya?” ia menyambung pembicaraanku

            Aku tidak tau siapa lelaki ini, apa yang ia pikirkan, tapi rasanya berbeda. Aku terasa lebih nyaman. Sedikit dari ucapannya menghilangkan rasa takutku.

            “ke-kenapaa….”
            “maksudmu, kenapa aku bisa tau ? tentu saja, itu pertanyaan yang biasa!” sambungnya
            “eh?” dia tau apa yang aku pikirkan dan senantiasa menjawabnya

~~
            “kau sedang mencari apa ?”
            “tas ku menghilang, kau melihatnya?”
            “ooh, tidak. Tapi aku melihat suatu barang bekas di depan pintu, dan aku membuangnya!”
            “HAH?! Itu berbentuk seperti apa?”
            “tas, warnanya merah”
            “itu tas ku!”
            “dasar bodoh! Harusnya kau cari di tempat sampah!”
           
~~

            Aku menundukkan wajahku. Air mataku kembali mengalir..
            “kenapa menangis? Memikirkan sesuatu?” lelaki itu menatapiku dan tetap tersenyum
            “tidak..”
            “tidak apa-apa?”
            “iya”
            “kau menyimpan sesuatu? Apa kau sakit? Kalau merasakan kesakitan yang mendalam, cobalah untuk jujur! Kurasa itu akan membuatmu tenang! Jangan mencoba memendamnya. Rasa sakit itu perlahan akan menyakitimu!” seusai berbicara lelaki itu kembali mengayuh sepeda nya dan meninggalkanku.

            Apa maksudnya? Kalau merasakan kesakitan yang mendalam, cobalah untuk jujur! Apakah dengan jujur, sakit itu akan hilang ? siapa dia ? apakah dia seorang malaikat? Rasa takut itu perlahan hilang dari tubuhku dan ia membuatku nyaman..

            Hari ini aku menulis semuanya ke dalam buku Dyari. Aku bertemu dengan seorang malaikat yang membawa ku jauh dari ketakutan. Aku nyaman bersamanya. Kami pulang bersama. Sedikit demi sedikit aku bisa mencoba tersenyum padanya. Dia mengajarkan sesuatu yang berharga padaku hari ini.. Kalau merasakan kesakitan yang mendalam, cobalah untuk jujur! Aku memang tidak mengerti apa maksudnya, tapi aku senang. Ia seperti… hah, sebenarnya dia siapa ? apakah aku harus bertanya pada Miya ? “oh tidak.. miya pasti akan berkata kurasa kamu bisa bersamanya.. lagipula lelaki itu pasti sangat kenal dengan Miya”

            “Hoaaaam..! aku akan segera tidur dan menanyakan pada Hikari besok.. oyasuminasai!” aku menutup buku Dyariku, menarik selimut dan mematikan lampu kamar. Aku pikir aku tidak perlu lari, karena aku masih ingin tau selanjutnya seperti apa.. ini kisah yang mendebarkan..


                                                先にさんすてっぷ

            Keesokan paginya di sekolah, aku segera menemui Hikari. Aneh, pagi ini aku tidak melihat Nene.. biasanya dia selalu menyapaku. Tapi..

            “ohayou, Hikari!” sapa ku duduk disebelahnya
            “Ohayou Hanamiya, kamu ceria sekali hari ini..”
            “entahlah, aku merasa seperti itu.. hmm mana Nene ? biasanya dia ada disini, setiap pagi kan dia selalu menungguku datang..” tanyaku
            “kalau soal itu aku tidak tau.. apakah dia marah?”
            “kemarin biasa saja..”
            “eh kemarin Hanamiya tidak pulang bersamanya kan ? kenapa dia memilih pulang bersama teman-temannya?”
            “oh itu, katanya dia mau belajar kelompok”
            “enggak akh..”
            “eh?”
            “dia pulang sendiri dengan bis, kemarin kan kereta nggak bisa dipakai. Dia saja naik bis yang berbeda dengan teman-temannya..”

            Dia saja naik bis yang berbeda dengan teman-temannya.. kata-kata itu perlahan membuat jantungku berdetak..
            “Nene, ayo pulang..”
            “akh maaf Erin, hari ini aku ada belajar kelompok dengan teman-teman”
            “tapi biasanya kan Nene pulang dulu”
            “aku sudah menelfon mama pulang telat, Erin pulang sendiri saja, ya”
            “baiklah Nene..”
            Tapi kemarin sikap dia biasa saja. Kenapa dia tidak ingin pulang bersamaku ? membuat alasan ada kerja kelompok di rumah teman ? untuk apa ?

            “Erin ? melamun lagi! Kenapa kau suka sekali melamun di tengah pembicaraan ?” Hikari membangunkan ku dari lamunan
            “hah, tidak apa-apa Hikari.. mungkin Nene memang belajar kelompok, tapi kemungkinan dia ketinggalan buku di rumah, karena aku duluan pulang jadi dia pulang sendiri..”
            “sangat tidak masuk akal.. kenapa sih Erin selalu berprasangka baik sama orang ?”
            “salah, ya?”
            “tidak! Tapi Erin terlalu lemah! Seseorang bisa memperdayakan mu lo!”
            “tapi kan kita nggak boleh berprasangka buruk kepada orang lain ! aku sudah kenal Nene sejak Sekolah Dasar! Dia selalu membelaku, aku tau Nene orangnya baik! Tidak mungkin dia berusaha menjauhi ku!!” bentakku
            “kalau begitu pikiranmu, yasudah! Terserah saja!!” Hikari pergi dari duduknya dan meninggalkanku.

            Aku kembali terdiam. Apa aku salah bicara ? aku tau siapa Nene. Dia anak yang baik, tidak suka memilih teman. Dia bahkan selalu ada untukku kapan saja. Dia sahabat yang sangat mengerti aku. Selalu menolongku dari anak laki-laki waktu sekolah dasar. Tidak mungkin dia menjauhiku. Tapi kenapa.. kenapa kemarin ia tidak ingin pulang bersamaku ?


~Di rumah Miya

            “jadi begitu ceritanya ?” ucap Miya setelah aku menjelaskan semuanya
            “iya, aku tidak tau dia kenapa”
            “coba Erin ingat-ingat, ada masalah apa sebelumnya. Pasti sebelumnya ada kata-kata Erin yang menyinggungnya yang Erin tidak menyadarinya, kan?”

            Benar, mungkin ada sesuatu yang buat dia tersinggung.. tapi seperti apa ?
            Pagi-pagi kemarin aku bertemu dengannya dalam keadaan semangat. Ia mengatakan seluruh perasaannya di depanku juga Hikari. Dia sangat senang sekali bahkan berputar-putar di koridor pun biasa baginya..
            “nanti sepulang sekolah kamu ke rumah Miya ya, sampaikan padanya kalau aku suka Hiroko!”
            “akh ? jangan-jangan..” aku kaget dan mengangkat kepalaku
            “kau mengingat sesuatu Erin ?”

            Dulu.. Nene pernah bilang padaku “aku benci orang yang tidak amanah! Aku menyuruhnya mengatakan sesuatu kepada orang itu! Katanya iya! Tapi ia tidak menyampaikannya! Kamu tau Erin, semua pesan-pesan yang kusampaikan itu, adalah kata-kata yang penting yang tak bisa kusampaikan pada orang itu langsung karena aku masih gugup” itu kata-kata waktu di Sekolah Dasar. Karena waktu itu, ia bertengkar dengan Yonna..

            “Erin.. ada apa ? katakanlah ? kenapa kamu selalu begini ?”
            “Sebenarnya.. kemarin itu, Nene menitipkan pesan padaku untukmu. Makanya aku kemarin ke rumahmu, tapi..”
            “eh? Itu pesan apa ? kenapa tidak sampaikan kemarin ?”
            “soal itu.. sebenarnya Nene menyukai Hiroko !”
            “apa ? suka Hiroko.. ke-kenapaa ?”




先にさんすてっぷ



“soal itu.. sebenarnya Nene menyukai Hiroko !”
            “apa ? suka Hiroko.. ke-kenapaa ?”

            Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya menundukkan wajahku terdiam..

            “kenapa Nene bisa menyukai Hiroko, Erin ?? padahal Hiroko kan..” Miya mengulangi terus pembicaraannya ditengah kediamanku
            “a-aku tidak tau !!”
            “jangan sebut ini cinta segitiga ..!” #Miya kebanyakan nonton film#
            “aku tidak tau.. makanya kupikir Hiroko untuk Nene saja.. aku tidak ingin menyakiti Nene.. selama ini dia sudah sangat baik. Dia seperti seorang kakak..”
            “tapi bagaimana dengan mu ?”
            “aku tidak peduli.. mungkin lain kali Miya bisa mencarikan yang lain untukku..” aku tersenyum sambil meneteskan air mata. Aku berpikir, bukan tentang Hiroko juga Nene. Tapi kurasa, aku ingin bersama lelaki yang waktu itu.. aku rasa juga, hanya lelaki itu yang dapat membantuku berubah.. hanya saja aku tidak ingin saat ini Miya tau..

~~

            “kenapa Erin baru berbicara sekarang ?” tambah Miya
            “aku baru memikirkannya, lagipula tidak masalah kan kalau aku mengatakannya kapan saja ?”
            “bukan begitu.. tadi di sekolah aku baru saja memberikan nomor telepon mu pada Hiroko.. pasti nanti malah dia akan menelepon mu, Erin..”
            “menelfon ya ? tidak masalah, aku bisa bilang semuanya pada Hiroko tentang Nene..”
            “apa kamu sanggup ? mendengar suara laki-laki saja kamu tidak sanggup !!”
            “hanya mendengar kan ? apa Miya lupa kalau aku punya adik laki-laki dan seorang papa ? demi Nene aku akan lakukan apapun, aku tidak ingin menyakiti Nene..”
            “Erin…”

            Tiba-tiba perasaanku kembali berubah. Aku begitu semangat dan ingin cepat-cepat menerima telepon dari Hiroko dan aku akan mengatakan semuanyaa…

~pukul 10.15pm

            “pukul 10, ya ? hiroko mana ?” aku terus duduk diatas tempat tidur sambil menunggu ponselku bordering. Sebenarnya aku tidak pernah tidur selarut ini.. tapi demi Nene…

            “kriiingg..kriiinggg..” seketika aku berpikir demikian, telpon berdering dan aku segera mengangkat

            “mo-moshi moshi..!!” jawabku mulai gugup
            “Temannya Miya ? Hana kah ?”
            “Hana ?”
            “akh, bukan Hana ? maaf aku salah sambung..”
            “tu-tunggu.. iya aku Hana..”
            “syukurlah Miya tidak membohongiku. Malam Hana, aku Hiroko, belum tidur jam segini ? atau telfon dariku mengganggu tidurmu ? atau mungkin lagi makan malam, tapi tidak mungkin ya, sudah larut malam. Mungkin lagi menonton ? hmm sepertinya juga bukan, rumah mu terasa sepi, atau lagi buat tugas rumah ya ? biasanya anak seperti mu sangat rajin. Jelas dari raut wajahnya waktu itu”

            Lelaki itu terdengar sangat aneh. Dia seperti sangat gugup sehingga ia tak berfikir untuk menghentikan pembicaraannya. Dia juga seperti anak laki-laki yang ceroboh. Ia bahkan tidak menyadari kalau kata-katanya banyak yang tidak tepat.

            “ti-tidak.. aku hanya… aku hanya..”
            “hanya menunggu batrai ponsel terisi penuh..?”
            “haa, iyaa..” jawaban ku berhasil di sambungnya. Ini kebetulan, ya? Semua laki-laki bisa mengatakan apa yang dipikirkan semua wanita?
            “kenapa bisa mengetahuinya ?”
            “tentu saja, perasaan wanita mudah di tebak..” jawab Hiroko. Kurasa, jawabannya berbeda. Dia bukan lelaki yang waktu itu.

            “Hana lagi ngapain ?”
            “berencana mau tidur..”
            “ooh yaudah aku matikan telfonnya ya, aku tidak mau mengganggu..”
            “eh tu-tungguu..”
            “ada apa Hana ?”
            “aku mau katakan sesuatu..”
            “katakan apa?”
            “temanku Nene, menyukaimu, kumohon jadilah pacarnya..”
            “tapi kan..”   
            “iya, aku ingin Hiroko bersamanya..”

            Mendengar ucapanku, Hiroko tiba-tiba terdiam.
            “Hiroko ? masih ada kah disana ? halo…?” panggilku
            “iya aku masih.. hmm baiklah..” ia menjawab dan mematikan telfonnya.

            Kenapa mematikan telfon? Aku melihat panggilan itu. Bahkan ia belum menyelesaikan pembicaraannya. “mungkin batrai nya low, atau kehabisan pulsa, atau malah signal kosong.. haha”

            Malam itu, tanpa berpikir apa-apa, aku segera kembali tidur..
            Besok aku harus bangun pagi, dan kata-kata Hiroko tadi, pasti akan ia lakukan. Semoga besok Nene tidak marah lagi,
            Jujur, aku ingin tau bagaimana hari esok…


                                                                                                つづく

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman