Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/11/28

Anata wa Appuru ga suki desu ka ?



Tittle      : Anata wa Appuru ga suki desu ka ? (Do you Like Apple?)
Genre    : Friendly, Family
Length   : Oneshoot
Author   : Hara Negumi
Cast       :
·         Kamiya Enma
·         Moriya Toma
·         And other

-------------------------------------------------------

.
.
.
Hidup itu adalah sebuah kisah dimana kita yang memulai dan mengikuti semuanya untuk mengakhiri. Kadang kala kita hidup karena mereka, dan kadang kala pula kita terlahir hidup di dunia karena beberapa alasan. Terkadang kita bisa tertawa, dan kadang pula kita menangis karena suatu hal. Semua dapat berputar sesuai dengan apa yang kita lakukan.

“Kamiya, what are you doing ?” sorak sensei yang tiba-tiba menghentikan keributan kelas.
Hari itu semua tatapan mereka mengarah padaku.
“nande?” sahutku melepaskan kedua headset kecil dari telingaku. Aku menghentikan tulisan dan meletakkan pena diatas kertas.
Sensei, guru bahasa inggrisku pun berjalan kearahku. Seketika ia mengambil buku yang terletak diatas meja. “apa yang kau lakukan ketika saya sedang berbicara di depan?” omelnya.
Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku.
“sepulang sekolah segera temui saya di ruang guru. Buku ini akan saya sita hingga nanti” jelasnya dan kemudian kembali ke depan.

ruang guru lagi?

Cuaca hari ini sangat buruk sekali, hujan turun tak henti sudah tiga hari ini. Kami terpaksa membeli baju sekolah lagi untuk mengganti ketika pulang nanti kebasahan. Dengan payung yang hanya bisa melindungi kami dari guyuran itu.

Aku, Enma Kamiya, siswi kelas 3 SMA yang dua bulan lagi akan menghadapi ujian kelulusan. Diriku masih saja orang yang sama yang tak peduli dengan pelajaran.
Karena bagiku, aku tak butuh pembelajaran, iya, itupun karena masa depan kita hanya di tentukan oleh orang tua. Zaman ini pun begitu, yang memiliki banyak uang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, dan yang biasa, bisa saja bebas sesuai kemauannya. Terkadang mereka belajar paruh waktu, banyak waktu terbuang yang hanya mereka gunakan untuk belajar. Namun mereka tak punya kepastian untuk masa depan.
Kedua orangtuaku seorang direktur perusahaan terkenal di kota ini. Ya, kemungkinan aku tak butuh nilai tinggi untuk mendapatkan jabatan itu. Aku bisa hidup semauku dengan uang yang bisa kudapatkan kapanpun.
Kupikir, yang salah itu adalah guru. Yang terlalu menuntut murid untuk berpikir sesuai peraturan.

aku membenci peraturan itu !
peraturan itu ada untuk dilanggar, bukan ?

Hari ini sepulang sekolah.
“Enma, serius ingin menemui sensei ? kupikir kau hanya di maki-maki saja di dalam sana” ujar beberapa teman yang menemuiku di koridor.
“HAHA ! Siapa juga yang mau menemui guru bodoh itu. Lagipula buku itu tidak begitu penting untukku” balasku dengan tertawa sepuasnya.

Tsumi, Nao, Mana. Mereka tiga teman yang selalu percaya padaku. Mereka mengerti bagaimana perasaanku saat ini.
Aku ingin cepat-cepat lulus, agar bisa sebebasnya berkeliaran dimana saja.
Aku hanya anak perempuan yang tak begitu di pedulikan oleh orang sekitar. Hidup disini sesuai kemauanku. Kedua orangtuaku hanya sibuk pada pekerjaannya, dan memberikanku uang saku seenaknya.
Itupun, kalau ku mau aku bisa saja berhenti dari sekolah ini. Dan cukup untuk bersantai di dalam rumah.

“Tsumichan, Naochan, Manachan, hari ini kita ke restoran tempat biasa yuk?” pintaku berjalan di depan mereka.
“maaf Enma, sepertinya kami harus belajar untuk ujian kelulusan besok” jelas Naochan. Yang lainpun ikut menundukkan kepalanya.
“ayolah, kau tidak perlu rajin belajar. Sekolah pasti akan meluluskan semua siswanya. Ya, kalau-kalau ada siswa yang lulus mereka pasti akan berpikir itu dapat mencoreng nama baik sekolah” tambahku
“bagimu ! kami ingin lulus dan melanjutkan ke peguruan tinggi favorite kami” ucap Mana
Aku terdiam seketika. Mataku tiba-tiba melihat kearah Tsumi yang hanya terdiam itu. “Tsumichan mau pergi bersamaku? Aku traktir makan deh”
“anoo.. gomen nasai!” Tsumi membungkukkan badannya.

Tiba-tiba sikap mereka itu membuatku sedikit kecewa. Dan akhirnya aku pergi sendirian ke restoran tempat biasa.
Aku duduk di bagian depan dan memesan banyak sekali makanan. Aku berharap Tsumi dan yang lainnya berubah pikiran dan menemuiku disini.

untuk apa kelulusan kalau masa depan kita hanya di tentukan oleh orang lain ?
…kenapa harus ada hari dimana kita menghentikan waktu luang hanya untuk belajar
…konyol !

Aku terdiam sendiri diatas meja makan.
Beberapa menit berlalu ketika pesanan datang. Satu meja itu dipenuhi oleh makanan. Mungkin saja beberapa orang terheran kenapa aku memesan makanan sebanyak ini. Sambil menatapi makanan, aku menunggu detik-detik jam berlalu.

Satu jam setelah itu,
Mereka yang tak kunjung datang itu membuatku segera memegang sendok.
“mereka pasti sedang belajar sekarang!” pikirku keras. Lalu semua makanan itupun terpaksa ku lahap sendiri.
Hingga akhirnya setiba di rumahpun aku segera menuju tempat tidur.

Seketika aku melihat kearah rak-rak buku di kamar ku. Mereka masih tersusun sangat rapi.

…aku percaya, masa depanku pasti jauh lebih indah daripada yang lain !

.
.
Hingga keesokkan paginya.

“Ohayou” sapaku di depan meja mereka
“Ohayou, enma” cetus mereka serempak menatapiku.
“eh, satu lagi mana ?” kagetku ketika melihat Tsumi tak ada di hadapanku.

“oh, mereka menemani Mizuki ke toilet” jawab Mana
“souka” aku mengangguk dan segera meletakkan tas.

Switter ku yang tebal dan kaos rok ku yang cukup basah terguyur hujan pagi ini.

“musim hujan memang membuat semua orang sering ke toilet, ya?” tambahku
Mana dan Nao pun menganggukkan kepalanya. Arah mata mereka hanya melihat kepada buku bacaan yang ada di depan mereka.

“pelajaran apa itu?” tanyaku sedikit judes
“Fisika, kau tidak belajar?” jawab Nao yang kemudian bertanya padaku.
Seperti biasa akupun menggelengkan kepala. Lalu mengeluarkan buku kosong lagi dan mendengarkan musik di telingaku sambil menunggu bel masuk berbunyi. Aku mencoret beberapa kertas kosong dengan gambar manga ku. Entah kenapa aku lebih tertarik menggambar seperti ini daripada fokus pada pelajaran yang tak jelas itu.

Jam pun mulai belajar. Beberapa kali guru yang berbeda masuk ke dalam kelas, aku berusaha tak mendengarnya. Aku membencinya.

mungkin besok aku tak usah saja hadir, dan seterusnya

Seketika bel pulang berbunyi, aku melangkahkan kakiku keluar. Mengembangkan payung dan berjalan sendiri tanpa menunggui Tsumi dan yang lainnya.
Mereka pasti sibuk sekali dengan buku-buku itu hari ini. Pikirku.

Masih menunjukkan pukul tiga sore. Kalaupun aku pulang hari ini, takkan ada siapapun di rumah. Aku pikir aku akan kesepian. Tapi hari ini hujan terlihat sangat deras sekali.

Tiba-tiba saja ponselku berdering.
Satu pesan di terima dari nomor yang tak dikenal.

“hari ini sibuk? Aku ke rumahmu, ya? Aku ada game baru untuk dimainkan! Dan kau masih suka Apel, kan? Kakekku baru saja membawakannya dari Kanagawa” tulisnya. “Toma-kun?” tambahku.
Teman SMP ku yang kini tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. Tapi kami sangat dekat sekali. Sudah lama tak bertemu dengannya…

Aku mempercepat langkahku dan segera menuju rumah.
Agak lama setelah itu, lelaki bernama Toma itu kemudian menelfonku.

“moshi-moshi” jawabku pelan
“ano Kamiya! Rumahmu masih disana kan? Aku sudah menuju kesana. Keranjang apel ini berat sekali !” jelasnya
“unn~” jawabku singkat.

Lalu Toma mematikan telfonnya. Saat itulah aku membuka kunci rumah. Rumahku yang sangat besar itu tapi terlihat sangat sepi sekali. Kadang kalau dipikir percuma saja memiliki rumah sebesar ini tapi sama sekali tak berpenghuni.
Aku masuk ke dalam. Bahkan rumah ini tak mengganggu istirahatku, masih saja dengan bentuk yang sama. Tersusun sangat rapi dan tak ada tambahan barang lagi disini.

jadi memang buat apa aku harus mendapatan nilai tinggi kalau memang uang dapat membeli segalanya!

.
.
Beberapa jam kemudian, aku melihat Toma dari arah luar. Dengan keranjang tua nya, ia mengetuk pintu. Padahal ada bel yang di sediakan di samping pintu.
Aku berjalan kesana untuk membuka pintu.

“Toma-kun!” sapa ku dengan senyuman.
Toma pun menyahutinya. “ini apel untukmu, kamu mau?” berinya. Aku mengambil keranjang itu dan masuk ke dalam.

Terakhir aku bertemu Toma itu ketika kelas 1 SMA, kupikir dengan kepintarannya ia bisa melanjutkan ke sekolah favorite. Tapi ketika saat itu, ia hanya memberitahuku tentang dia yang tak melanjutkan sekolah karena suatu hal.
Aku tak bertanya apapun padanya lagi karena mungkin dia punya alasan lain dan memilih bekerja semenjak itu.
Selama SMP aku juga termasuk orang yang berbakat, aku selalu bersaing dengan Toma untuk memperebutkan peringkat pertama. Tapi akhirnya malah jadi seperti ini. Orang tuaku memaksaku masuk ke sekolah ini. Sekolah yang terkenal popular. Hanya orang yang pintar saja yang bisa masuk sekolah ini, dan.. ya, dengan dukungan uang juga.
Saat itu aku memang percaya, orang yang pintar takkan selamanya bisa hidup bahagia di masa depan. Iya, dan kita hanya butuh uang untuk itu.

Aku menatap wajah Toma yang terlihat kusam. Dan beberapa bekas luka di tangannya. Ingin kubertanya sedikit saja, tapi mungkin itu tak begitu penting untuk ku dengarkan. Bodoh!

“dimana kedua orang tua mu? Masih sama?” Tanya Toma
Aku hanya menganggukkan kepala.
Dengan tersenyum, Toma kembali bertanya, “bagaimana sekolahmu? Jarang sekali yang bisa masuk sekolah itu, berarti kau memang lebih pintar dariku. Apakah disana kau punya saingan sepertiku juga?” bahasnya.
Aku melihatnya. Yang kemudian ia sibuk mengeluarkan beberapa CD game dan mengotak-atik televisi ku di ruang tamu.

“anoo…nanti saja. Sepertinya apel ini enak, aku mungkin akan mencucinya terlebih dahulu di belakang.” Cetusku mengalihkan pembicaraan. Sambil membawa keranjang aku mempercepat langkahku menuju dapur.

Aku tak bisa membayangkan apa yang dilakukan Toma ketika tau aku menjadi seperti ini.
Tapi, belajar ataupun tidak, aku masih bisa naik kelas. Mungkin nanti aku juga bisa lulus, dan segera bergabung dengan kantornya ayah.

Aku mencuci satu persatu apel ini.
Semua teringat ketika masih SMP beberapa tahun yang lalu. Aku dan Toma selalu belajar bersama, dan ia selalu tak lupa memberiku sebuah apel. Mungkin saja karena di dekat rumah kakeknya ada tanaman apel yang banyak sekali.

tapi aku belum pernah kesana, sih!

Beberapa saat setelahnya, apel-apel yang sudah kucuci bersih dan kupindahkan ke beberapa piring itupun segera kubawa keluar.
Aku melihat Toma yang sudah semangat sekali bermain Game di depan kamera. Dan ketika melihatku, “yo, Kamiya! Ayo bermain bersamaku!” ulasnya.
Aku menganggukkan kepalaku dan segera duduk di sebelahnya. Lalu mencoba mengulang kembali untuk bermain bersama.

Di tengah permainan…

“aku iri padamu. Bisa melanjutkan sekolah ke tempat itu. Dari dulu aku ingin sekali kesana. Hanya saja…” Toma menghentikan pembicaraannya tanpa melihatku. Terlihat jelas sekali kekecewaan dalam dirinya.

kenapa kau tidak melanjutkannya? Kupikir kau masih punya kedua orang tua yang sanggup membiayaimu?

Tapi aku hanya menjawab sedikit saja, dan tak begitu menghiraukannya.

Kupikir sejak SMA aku mulai menjadi seperti ini. Aku tak pernah belajar, dan tak begitu mempedulikan orang lain. Bagiku, bukan urusanku ketika mereka sedang dalam masalah apapun.
Aku hanya ingin menikmati hidup yang begini saja..

“Kamiya, apa manga mu sudah jauh lebih bagus?” Tanya Toma lagi
“ya, begitulah”
“apa kamu pernah berpikir menggambar satu buah apel yang kuberikan sejak dulu?”
“eh? Buat apa?”

Pertanyaan itu hanya di jawab dengan gelengannya. Dan, “apa kamu benar-benar suka apel?” tanyanya lagi
“kupikir itu….”

“jadi kau hanya suka karena kubawakan, ya? Tidak apa-apa. Aku paham” sahutnya membantah perkataanku.
Aku hanya diam dan fokus pada layar televisi.

“di Kanagawa, kakek hanya membeli apel-apel itu. Menurutnya, aku sangat suka. Ia tak pernah berusaha membeli buah-buahan yang lain. Awalnya kupikir aku membohongi kakek. Aku tak suka Apel, ketika kakek membelinya aku selalu membagikannya padamu. Dan aku hanya memakan separoh dari apel tersebut. Rasanya tidak begitu kusuka. Kasihan kakek, yang selalu semangat menemuiku hanya untuk memberiku ini. Tapi ketika kusadari itu hanya membuang uang.. akhirnya akupun memberitahu kakek untuk tidak membelinya, karena aku tidak menyukainya” jelas Toma

apel itu di beli? Bukan diambil langsung?

“kamiya, sejak SMA kamu sudah mulai agak pendiam, ya? Apa kamu punya banyak teman disana?” tambah Toma sekali lagi
Aku menganggukkan kepala.

“bisakah kau jelaskan padaku siapa saja temanmu disana?” Toma menatapku dan menghentikan bermainnya.
“sudahlah, nanti saja!” jawabku

“apa yang kau sembunyikan? Aku tak suka sifatmu yang begini”

Aku menatapnya perlahan.
“kau ingin aku kembali seperti dulu? Ceria? Atau rajin belajar?” ulasku.
“kembali seperti dulu? Apa maksudmu? Jadi sekarang ini kau….”

“aku sudah muak dengan keadaan seperti ini! Aku benci dengan orang-orang yang hanya menghabiskan waktu luangnya dengan belajar dan belajar! Bahkan orang yang selalu mendapat peringkat teratas, belum tentu punya masa depan yang bahagia! Sama sepertimu! Kupikir kau juga akan masuk SMA terfavorite. Kau selalu mengatakan itu juga padaku, kan? Tapi kau sendiri tak melanjutkannya! Itu apa? Ayah dan ibu memaksaku atas kehendaknya masuk ke sekolah yang sekarang. Kami punya uang! Kami bisa lakukan apapun untuk berada dimana saja. Uang dapat membeli segalanya! Bahkan sekarang aku punya teman! Semua banyak mengenaliku. Jadi untuk apa aku belajar lebih rajin kalau-kalau di perguruan tinggi aku hanya mengikuti kemauan ayah dan ibu. Tidak lulus disana, mereka masih punya uang agar aku bisa masuk!” bentakku. Aku berdiri dari dudukku.

Melihat Toma yang hanya menatapku dari bawah sana. Seketika matanya mulai berbinar-binar. Dan ia tersenyum kembali perlahan.

sudah kuduga! Uang takkan bisa membeli segalanya. Kau sudah dibutakan oleh kebahagiaan sesaat. Percayalah, kedua orangtuamu itu takkan hidup selamanya. Dan ketika kau kehilangan mereka, aku yakin kau akan menyadarinya!”
Toma mematikan televisi dan berdiri dari duduknya. Mengambil beberapa CD itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
“aku kecewa padamu, Kamiya. Kupikir setelah lama tak bertemu, kita bisa belajar bersama lagi dengan apel-apel ini” Toma menyandangi tasnya dan keluar dari rumahku.
Aku tak bisa berkutik apapun untuk melarangnya keluar dari rumah.

…apa aku mengatakan hal yang salah?
…Toma kecewa padaku?
…kenapa?

Keesokkan paginya di sekolah, aku datang sedikit agak cepat dari biasanya. Kedua headset masih berbunyi di telingaku. Dengan langkah perlahan, aku mulai menuju kelas yang terletak di sudut ruangan.
.
.
“akhir-akhir ini kau jarang bermain bersama kami! Kau terlalu sibuk belajar ya?” suara bentakkan dari kelas itu tiba-tiba kudengar sedikit keras. Aku menghentikan langkah kakiku dan bersembunyi di balik sudut pintu.

Manachan?

“sudah kubilang, kalau dia masih seperti itu jangan harapkan aku betah bermain bersama kalian! Kalau kalian ingin terus mendampingi orang bodoh seperti itu, terserah saja ! aku ingin lulus dan masuk ke perguruan tinggi itu! Aku tak butuh orang-orang seperti kalian!!”

Tsumi-chan?

Mereka membicarakan siapa?
Suara mereka terdengar begitu keras sekali. Ingin masuk kesana, tapi.. sepertinya tak ada hubungannya denganku.
Akhirnya aku memilih tetap mendengarkan musik dan berjalan masuk ke dalam kelas.
“Ohayou” sapaku sesaat menyapa mereka yang masih baru bertiga di dalam kelas.
“Ohayou” jawab Tsumichan dengan nada cuek dan mengambil tasnya. Lalu keluar.

“Manachan, Naochan, kalian bertengkar dengan Tsumichan?” tanyaku menghampiri mereka
Nao menggelengkan kepalanya. “Anoo…Enma…” ujar Nao
“ya? Doushita?”
“kalau kami katakan ini kau takkan marah, kan?” tambah Mana
“marah? Memangnya kenapa? Mungkin aku bisa membantu? Ada apa?” jawabku sambil tertawa.

“bisakah kau lebih menghentikan bermain dan cara belajarmu yang santai itu? Bisakah kau sedikit saja berusaha memikirkan masa depanmu?” sahut Nao
“kami tau kau adalah orang kaya, tapi setidaknya kau harus berpikir itu semua uang dari orangtuamu, kan? Apa kau tidak pernah berpikir untuk memperoleh uang dari hasil jerih payahmu sendiri?” Mana menatapku dengan wajahku sedikit agak takut.

“kalian bicara apa! Aku tak perlu memikirkannya!” jawabku menepuk bahu mereka dan kembali ketempat duduk.

…kenapa semua orang sibuk sekali belajar?
…itu tidak penting, kan?

Aku membuka lembaran bukuku dan mulai mencoret. Berpikir apa yang orang lain pikirkan tentang masa depan. Rumit sekali mereka!

Tiba-tiba aku menerima pesan masuk dari Toma.

“kau tidak suka apel kan? Cobalah berpikir. Kalau kau tidak suka, segeralah kembalikan padaku ketika kau menyadarinya! Aku masih di rumah yang dulu” tulisnya.

…suka apel?
…aku hanya memakannya ketika kau memberikannya padaku, Toma

Dengan raut wajah yang biasa saja aku tetap melanjutkan coretanku. Ayah dan ibu takkan bisa kehabisan uang. Dan kami masih bisa memilikinya untuk keturunan yang berikutnya.
Aku anak tunggal dari mereka. Selalu kesepian, dan mereka tak pernah menuntut ku untuk lebih giat belajar. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan. Kupikir kalau mereka tak mencemaskan masa depanku, berarti aku masih aman saja untuk beberapa tahun yang akan datang. Bahkan sampai aku punya keluarga dan anak.
Iya, masih terlalu cepat untukku memikirkannya!

Siang ini pertama kalinya ayah menelfonku disaat jam pelajaran. Dengan semangatnya aku meminta izin keluar kelas dan mengangkat telfon darinya.

“moshi-moshi, ayah” sapaku lembut
“hari ini dimana, Enma? Ayah mau mengajakmu dengan ibu ke Shibuya, kau mau ikut, kan?”
“dengan senang hati, ayah!” balasku

Aku mematikan telfon itu dan meminta izin pada guru untuk pulang. Karena tak punya alasan yang jelas, aku hanya mengatakan pada mereka kalau ayahku kecelakaan dan aku harus melihatnya di rumah sakit.

Setelah diizinkan itu, aku berlari pulang menuju rumah.
Jarang sekali ayah mengajakku seperti ini. Tapi belum sampai di rumah, ayah telah menungguiku di gerbang sekolah. Akupun segera menaiki mobil itu.

“ayah, sudah lama tak bertemuuu!!” sapaku dengan semangatnya
“iya, kau masih saja bersemangat ya, sayang?” jawab ayah. Ibu di depan juga melihatku dengan tersenyum.

Kupikir memang jarang sekali aku melihat wajah mereka.

“ayah tumben sekali mengajakku ke shibuya? Ada angin apa, ayah?” tanyaku
“hari ini ayah mengambil hari libur. Ayah pikir ada banyak yang ingin ditanyakan padamu, dan kami sangat rindu sekali berkumpul bersamamu, nak”
Aku mengangguk perlahan. Mobilpun mulai bergerak maju ke depan. Ayah masih sama, membawa mobil itu dengan kecepatan rendah.

Ditengah perjalanan, ayah memulai pertanyaannya dengan yang sama dengan Toma..

“bagaimana sekolahmu, Enma?” Tanya ayah
“etoo…” aku sedikit berpikir dengan nilai-nilaiku yang mulai jelek itu. Perlahan melihat ke luar jendela.
“masih sebagus yang dulu kan? Apapun akan ayah lakukan asal kamu masuk ke sekolah favorite mu. Ayah ingin kamu punya masa depan yang lebih baik, yang bahkan lebih baik dari yang kami miliki sekarang” sambung ayah. Aku hanya menganggukkan kepala dengan sedikit tersenyum.

…ingin punya masa depan yang lebih baik, bahkan lebih baik dari yang kalian punya?
…rasanya masa depan kalian itu sudah jauh lebih baik,kan? Ayah, ibu?

Suasana mobil hanya terdiam. Aku tak berani memulai kata.

“sayang sekali, ya Toma temanmu itu tidak melanjutkan sekolah? Padahal kalau bisa, dia pasti bisa jadi pemandu hidupmu, mungkin? Kalian serasi sekali!” tambah ibu. Dan dilanjutkan dengan tawa ayah.
“ibu bicara apa? Aku dan Toma hanya dekat karena bersaing nilai!”

“kau kan bisa lanjutkan ke SMA, harusnya kau bisa lebih pintar darinya. Cari nilai yang tinggi, agar kau tak bergantung pada kami. Kami takkan bisa hidup selamanya” ujar ayah
Aku segera memukul pelan pundak ayah. “ayah bicara apa, kalian bisa hidup lebih lama kok. Jaga kesehatan saja”
“kadang orang meninggal bukan karna sakit, kadang mereka juga mengalami kecelakaan dan disaat itu nyawa mereka ditarik” ibu melanjutkannya.

“ah, kalian seperti mau pergi saja! Tentu saja, nilaiku selalu baik tiap tahunnya” jawabku sedikit kesal. Aku menyandarkan diri pada kursi mobil itu. Melihat keluar jalanan.

Dari jauh aku terdengar suara yang keras sekali.

…tiba-tiba saja, dan jantungku berdegup keras. Doushita?

Suara keras itu semakin mendekat.
Ibu melihat kearahku. “suara apa itu?” Tanya ibu
Aku menggelengkan kepala. Gara-gara mendengarkan suara itu ayah mulai mempercepat kecepatan mobilnya.

“ada tabrakan beruntun di belakang sana!” ujar ayah
“eh?” aku membuka kaca dan mengintip keluar.
“Enma, masukkan kepalamu. Nanti kau kena!” teriak ibu terlihat sangat panik. “ayah, lebih percepat mobilnya” tambah ibu.

Ayah menancap gas sangat keras.
Tapi sesuatu terjadi di depan mataku. Beberapa seng-seng mobil yang terlepas itu jatuh di depan kaca mobil dan itu mengenai ayah dan ibu. Di depan mataku saat itu juga aku melihat banyak sekali darah. Ayah kehilangan kesadarannya dan tak menstabilkan mobilnya. Sehingga mobil tak tentu arah dan menabrak sebuah pohon besar disudut kota. Mobil kami terbalik dan aku terhimpit oleh bagian-bagian mobil. Saat itulah aku mulai tak sadarkan diri.

.
“bagimu ! kami ingin lulus dan melanjutkan ke peguruan tinggi favorite kami”
.
“aku iri padamu. Bisa melanjutkan sekolah ke tempat itu. Dari dulu aku ingin sekali kesana”
.
“aku kecewa padamu, Kamiya. Kupikir setelah lama tak bertemu, kita bisa belajar bersama lagi dengan apel-apel ini”
.
“sudah kubilang, kalau dia masih seperti itu jangan harapkan aku betah bermain bersama kalian!”
.
“kau kan bisa lanjutkan ke SMA, harusnya kau bisa lebih pintar darinya. Cari nilai yang tinggi, agar kau tak bergantung pada kami. Kami takkan bisa hidup selamanya”

…apa yang kupikirkan?
…aku tak pernah peka terhadap kejadian itu
…dan aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri
…darah yang bercucuran dari kepala ayah, dan dari mulut ibu. Mereka menutup kedua matanya dan seketika mobil kami terhenti gara-gara sebuah tabrakan itu
…kenapa aku sedih? Mereka masih selamatkan? Kejadian yang hanya terjadi beberapa detik saja..

Aku perlahan membuka mataku. Langit-langit ruangan yang putih itu kulihat dengan mataku yang masih bergoyang karena sinarnya.
Aku berusaha bangkit dari tidurku.

“akh! Ittai!” ucapku ketika melihat kaki kananku terasa sangat ngilu sekali.
Lalu Mana dan Nao berdiri di depanku. “kami turut berduka cita atas apa yang terjadi padamu” Nao menghapus air matanya yang bercucuran itu dengan tisu.
“ada apa? Berduka cita atas apa? Aku tidak apa-apa kan?”
“bukan dirimu, tapi kedua orangtuamu!” bantah Mana
“ayah? Ibu? Apa yang terjadi dengan mereka!!! Mereka baik-baik saja kan? Dimana mereka sekarang? Aku ingin bertemu!!!” teriakku. Sontak saja jantungku berdegup kencang dan terasa panik sekali.

Perasaan yang tak pernah kurasa itu..
Dan air mata yang mulai membasahi wajahku. Aku tiba-tiba saja memeluk kedua mereka dan terisak-isak tangis.

…ayah
…ibu
…daijoubu desuka?

Waktu pun mulai berjalan. Ketika aku sudah di perbolehkan untuk berdiri. Dan kedua temanku membimbingku menuju ruangan yang terletak di ujung rumah sakit tersebut. Aku tak berani berkata apapun pada mereka. Hanya saja ketika di depan ruangan itu, aku melihat kedua mereka yang telah tertidur lelap dan wajah mereka tertutupi kain.
Ingin menangis lebih keras lagi, tapi…
Rasanya ingin menyalahkan diriku sendiri.
“manusia itu tak bisa hidup selamanya, kau baru paham, kan?” ucap Nao

Terkadang roda memang berputar. Aku pun juga tak bisa menyesali keadaan yang terjadi. Hanya dalam hitungan detik, kecelakaan itu merenggut nyawa mereka berdua. Apa aku salah? Dosa apa yang kulakukan?

Aku menggelengkan kepalaku serasa tak percaya dan berjalan pelan mencari tempat duduk dari ruangan yang tak jauh dari tempat ku berdiri.
Pikiranku tiba-tiba kosong begitu saja.

Beberapa jam setelah itu, mayat ibu dan ayah dibawa ke rumah. Semua orang datang mengunjungi rumahku. Dan termasuk Toma yang datang bersama kakeknya. Aku melihat wajah semua orang yang tengah berduka. Dengan kaki yang masih di perban aku hanya duduk melamun di sudut ruangan.

…masih belum percaya apapun…

…apel yang di maksud Toma waktu itu…

“kau tidak suka apel kan? Cobalah berpikir. Kalau kau tidak suka, segeralah kembalikan padaku ketika kau menyadarinya! Aku masih di rumah yang dulu” suara seseorang di dekatku. Aku melihatnya duduk di sebelah dengan wajah sedikit tersenyum.
“apa yang sedang kau pikirkan saat ini? Kau tak perlu menunggu waktu kan? Terkadang kita pikir hidup ini terjadi selamanya, kan? Kau hanya dibutakan oleh kesenangan yang terlihat dari kehidupan orang tuamu.” Tambahnya
Aku hanya diam dan menundukkan kepala.

“dari dulu, kau juga tak suka apel kan? Kau berusaha menyembunyikannya dariku, kan?” Toma kembali berbicara
Air mata yang mulai membasahi wajahku.
“kalau ingin menangis, menangis lah. Ungkapkan semua yang kau pikirkan saat ini. Aku yakin arwah mereka masih ada di sebelahmu saat ini” melihat wajah Toma itu, tangisanku mulai sedikit bersuara dan tiba-tiba kedua tanganku tergerak untuk memeluknya.

Rasanya jantungku terasa tersusuk sekali.
Di saat terakhirnya mereka melihatku masih anak yang sama saat SMP. Aku mencoba menyembunyikannya. “aku belum sempat membahagiakan mereka! Aku hanya anak yang menyusahkan!” bentakku

“sudahlah, penyesalan takkan ada gunanya. Kau masih memiliki waktu dua bulan lagi untuk lebih rajin belajar. Naikkan nilaimu dan bawa kembali pandangan baik semua guru-guru di sekolahmu” jelas Toma. Ia melepas genggamanku dan segera pergi.

“kalau aku rajin belajar, mungkin aku bisa menunjukkan pada ayah dan ibu. Aku bisa membawa kembali Tsumichan. Berteman baik dengan mereka, dan membuat Toma tak kecewa lagi denganku…” pikirku.

Sepulang acara di rumahku, aku segera menemui Tsumi, Mana, Nao dan meminta maaf pada mereka. “tolong bantu aku di dua bulan terakhir ini!” tambahku.
Mereka memberikan senyumannya padaku. Dan menganggukkan kepalanya.
Lalu aku mengambil keranjang apel di dapur. Yang sudah kututup dengan kaleng. Berlari mencari Toma, dan seketika aku melihatnya di depan gerbang rumahku yang besar.

“Tomaaaa!!” panggilku
Toma menghentikan langkahnya, “Kamiya?”
“ini! Ini apel-apelmu, aku memberikan separoh nya padamu. Sebenarnya….” Aku menjulurkan tanganku yang memegang keranjang kecil itu dihadapannya
“sebenarnya, kau tak suka juga, kan? Haha, ternyata kita sama!” tambahnya tertawa. Ia mengambil keranjangku.

“setidaknya, berusaha menyukai apa yang tidak kita sukai. Selagi itu pemberian orang lain. Aku membayangkan senyuman kakek saat tiap hari membeli ini. Dan aku tak ingin mengecewakannya. Aku berusaha untuk menyukainya. Saat ini, aku menyukainya, lo” jelas Toma

“Toma, sebenarnya.. semua maksud perkataanmu apa?” cetusku
Toma terdiam dan menatapiku.
Hal yang dari dulu ingin kukatakan, ia selalu berbicara hal yang aneh dan aku tak pernah menanyakannya.

“dari SD, aku tak pernah menyukai belajar. Tapi semua guru selalu masuk kelas dengan tersenyum. Ia dengan semangat rela menghabiskan suara nya demi kita.  Begadang hingga larut malam demi menilai semua tugas-tugas kita. Aku tak ingin mengecewakan usaha mereka, karena itulah aku ingin terus belajar agar mereka bahagia” jelasnya

…aku paham…

“dan.. kalau kau tak ingin mengecewakannya, kenapa kau tak melanjutkannya ke SMA ? apa karena kau tak sanggup membuat guru-guru itu bahagia?”
“itu…”

Suasana terhening seketika.

Aku menatap raut wajahnya yang berubah menjadi menyedihkan.
“setelah lulus SMP aku juga mengalami keadaan yang sama denganmu. Tapi hanya saja… orangtuaku bercerai dan ayah menghilang entah kemana. Aku tinggal bersama ibu. Saat itu, sore hari ibu memasak di dapur dan tak sengaja lupa mematikan kompor. Aku sedang bersama kakek diluar. Rumah itu terbakar dan aku baru menyadarinya ketika malam tiba. Aku belum sempat melihat ibu untuk terakhir kalinya” jelas Toma
“kenapa kau tak pernah bercerita apapun padaku?”
“karena ku tau kau takkan pernah mengerti. Sekarang, kau baru menyadarinya, kan? Setelah kehilangan mereka?”

Aku menggelengkan kepala, tapi tatapan ku tak lepas dari Toma.
“sukai apa yang saat ini tak kau sukai. Karena suatu hari pasti akan berguna untukmu!” Toma melemparkan satu buah apel ke hadapanku. Dan seketika aku menangkapnya, Toma meninggalkanku dan keluar dari gerbang.

Aku menatapi apel yang berwarna merah itu. Terlihat sangat manis sekali.
Mungkin aku baru saja menyadari apa yang selama ini kulakukan sangat bodoh. Banyak orang diluar sana yang membutuhkan pendidikan, takdir tak bisa membuat mereka merasakannya.
Harusnya aku bersyukur masih punya kedua orang tua yang melakukan apapun asalkan aku bahagia. Aku hanya bisa membuat mereka kecewa, dan sekarang mereka sudah tak ada lagi.

…aku tak bisa katakan sebuah penyesalan.
Penyesalan hanya menjatuhkan. Aku hanya perlu melanjutkan dan merubahnya lebih baik. Aku disadari atas kejadian ini, dan tak ingin yang lebih buruk terjadi padaku.

“gomennasai ayah, gomennasai ibu!”

 -END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman