Tittle : Anata wa Appuru ga suki desu ka ? (Do
you Like Apple?)
Genre : Friendly, Family
Length : Oneshoot
Author : Hara Negumi
Cast :
·
Kamiya Enma
·
Moriya Toma
·
And other
Hidup itu adalah sebuah
kisah dimana kita yang memulai dan mengikuti semuanya untuk mengakhiri. Kadang
kala kita hidup karena mereka, dan kadang kala pula kita terlahir hidup di
dunia karena beberapa alasan. Terkadang kita bisa tertawa, dan kadang pula kita
menangis karena suatu hal. Semua dapat berputar sesuai dengan apa yang kita
lakukan.
…
“Kamiya,
what are you doing ?” sorak sensei yang tiba-tiba menghentikan keributan kelas.
Hari
itu semua tatapan mereka mengarah padaku.
“nande?”
sahutku melepaskan kedua headset kecil dari telingaku. Aku menghentikan tulisan
dan meletakkan pena diatas kertas.
Sensei,
guru bahasa inggrisku pun berjalan kearahku. Seketika ia mengambil buku yang
terletak diatas meja. “apa yang kau lakukan ketika saya sedang berbicara di
depan?” omelnya.
Aku
hanya diam dan menundukkan kepalaku.
“sepulang
sekolah segera temui saya di ruang guru. Buku ini akan saya sita hingga nanti”
jelasnya dan kemudian kembali ke depan.
…ruang guru lagi?
Cuaca
hari ini sangat buruk sekali, hujan turun tak henti sudah tiga hari ini. Kami
terpaksa membeli baju sekolah lagi untuk mengganti ketika pulang nanti
kebasahan. Dengan payung yang hanya bisa melindungi kami dari guyuran itu.
Aku,
Enma Kamiya, siswi kelas 3 SMA yang
dua bulan lagi akan menghadapi ujian kelulusan. Diriku masih saja orang yang
sama yang tak peduli dengan pelajaran.
Karena
bagiku, aku tak butuh pembelajaran, iya, itupun karena masa depan kita hanya di
tentukan oleh orang tua. Zaman ini pun begitu, yang memiliki banyak uang dapat
melanjutkan ke perguruan tinggi, dan yang biasa, bisa saja bebas sesuai
kemauannya. Terkadang mereka belajar paruh waktu, banyak waktu terbuang yang hanya
mereka gunakan untuk belajar. Namun mereka tak punya kepastian untuk masa
depan.
Kedua
orangtuaku seorang direktur perusahaan terkenal di kota ini. Ya, kemungkinan
aku tak butuh nilai tinggi untuk mendapatkan jabatan itu. Aku bisa hidup
semauku dengan uang yang bisa kudapatkan kapanpun.
Kupikir,
yang salah itu adalah guru. Yang terlalu menuntut murid untuk berpikir sesuai
peraturan.
…aku membenci peraturan itu !
…peraturan itu ada untuk dilanggar, bukan ?
Hari
ini sepulang sekolah.
“Enma,
serius ingin menemui sensei ? kupikir kau hanya di maki-maki saja di dalam sana”
ujar beberapa teman yang menemuiku di koridor.
“HAHA
! Siapa juga yang mau menemui guru bodoh itu. Lagipula buku itu tidak begitu
penting untukku” balasku dengan tertawa sepuasnya.
Tsumi,
Nao, Mana. Mereka tiga teman yang selalu percaya padaku. Mereka mengerti
bagaimana perasaanku saat ini.
Aku
ingin cepat-cepat lulus, agar bisa sebebasnya berkeliaran dimana saja.
Aku
hanya anak perempuan yang tak begitu di pedulikan oleh orang sekitar. Hidup
disini sesuai kemauanku. Kedua orangtuaku hanya sibuk pada pekerjaannya, dan
memberikanku uang saku seenaknya.
Itupun,
kalau ku mau aku bisa saja berhenti dari sekolah ini. Dan cukup untuk bersantai
di dalam rumah.
“Tsumichan,
Naochan, Manachan, hari ini kita ke restoran tempat biasa yuk?” pintaku
berjalan di depan mereka.
“maaf
Enma, sepertinya kami harus belajar untuk ujian kelulusan besok” jelas Naochan.
Yang lainpun ikut menundukkan kepalanya.
“ayolah,
kau tidak perlu rajin belajar. Sekolah pasti akan meluluskan semua siswanya. Ya,
kalau-kalau ada siswa yang lulus mereka pasti akan berpikir itu dapat mencoreng
nama baik sekolah” tambahku
“bagimu
! kami ingin lulus dan melanjutkan ke peguruan tinggi favorite kami” ucap Mana
Aku
terdiam seketika. Mataku tiba-tiba melihat kearah Tsumi yang hanya terdiam itu.
“Tsumichan mau pergi bersamaku? Aku traktir makan deh”
“anoo..
gomen nasai!” Tsumi membungkukkan badannya.
Tiba-tiba
sikap mereka itu membuatku sedikit kecewa. Dan akhirnya aku pergi sendirian ke
restoran tempat biasa.
Aku
duduk di bagian depan dan memesan banyak sekali makanan. Aku berharap Tsumi dan
yang lainnya berubah pikiran dan menemuiku disini.
…untuk apa kelulusan kalau masa depan kita
hanya di tentukan oleh orang lain ?
…kenapa harus ada hari
dimana kita menghentikan waktu luang hanya untuk belajar
…konyol !
Aku
terdiam sendiri diatas meja makan.
Beberapa
menit berlalu ketika pesanan datang. Satu meja itu dipenuhi oleh makanan. Mungkin
saja beberapa orang terheran kenapa aku memesan makanan sebanyak ini. Sambil
menatapi makanan, aku menunggu detik-detik jam berlalu.
Satu
jam setelah itu,
Mereka
yang tak kunjung datang itu membuatku segera memegang sendok.
“mereka
pasti sedang belajar sekarang!” pikirku keras. Lalu semua makanan itupun
terpaksa ku lahap sendiri.
Hingga
akhirnya setiba di rumahpun aku segera menuju tempat tidur.
Seketika
aku melihat kearah rak-rak buku di kamar ku. Mereka masih tersusun sangat rapi.
…aku percaya, masa depanku
pasti jauh lebih indah daripada yang lain !
.
.
Hingga
keesokkan paginya.
“Ohayou”
sapaku di depan meja mereka
“Ohayou,
enma” cetus mereka serempak menatapiku.
“eh,
satu lagi mana ?” kagetku ketika melihat Tsumi tak ada di hadapanku.
“oh,
mereka menemani Mizuki ke toilet” jawab Mana
“souka”
aku mengangguk dan segera meletakkan tas.
Switter
ku yang tebal dan kaos rok ku yang cukup basah terguyur hujan pagi ini.
“musim
hujan memang membuat semua orang sering ke toilet, ya?” tambahku
Mana
dan Nao pun menganggukkan kepalanya. Arah mata mereka hanya melihat kepada buku
bacaan yang ada di depan mereka.
“pelajaran
apa itu?” tanyaku sedikit judes
“Fisika,
kau tidak belajar?” jawab Nao yang kemudian bertanya padaku.
Seperti
biasa akupun menggelengkan kepala. Lalu mengeluarkan buku kosong lagi dan
mendengarkan musik di telingaku sambil menunggu bel masuk berbunyi. Aku
mencoret beberapa kertas kosong dengan gambar manga ku. Entah kenapa aku lebih
tertarik menggambar seperti ini daripada fokus pada pelajaran yang tak jelas
itu.
Jam
pun mulai belajar. Beberapa kali guru yang berbeda masuk ke dalam kelas, aku
berusaha tak mendengarnya. Aku membencinya.
…mungkin besok aku tak usah saja hadir, dan
seterusnya
Seketika
bel pulang berbunyi, aku melangkahkan kakiku keluar. Mengembangkan payung dan
berjalan sendiri tanpa menunggui Tsumi dan yang lainnya.
Mereka
pasti sibuk sekali dengan buku-buku itu hari ini. Pikirku.
Masih
menunjukkan pukul tiga sore. Kalaupun aku pulang hari ini, takkan ada siapapun
di rumah. Aku pikir aku akan kesepian. Tapi hari ini hujan terlihat sangat
deras sekali.
Tiba-tiba
saja ponselku berdering.
Satu
pesan di terima dari nomor yang tak dikenal.
“hari
ini sibuk? Aku ke rumahmu, ya? Aku ada game baru untuk dimainkan! Dan kau masih
suka Apel, kan? Kakekku baru saja membawakannya dari Kanagawa” tulisnya. “Toma-kun?” tambahku.
Teman
SMP ku yang kini tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya. Tapi kami
sangat dekat sekali. Sudah lama tak bertemu dengannya…
Aku
mempercepat langkahku dan segera menuju rumah.
Agak
lama setelah itu, lelaki bernama Toma itu kemudian menelfonku.
“moshi-moshi”
jawabku pelan
“ano
Kamiya! Rumahmu masih disana kan? Aku sudah menuju kesana. Keranjang apel ini
berat sekali !” jelasnya
“unn~”
jawabku singkat.
Lalu
Toma mematikan telfonnya. Saat itulah aku membuka kunci rumah. Rumahku yang
sangat besar itu tapi terlihat sangat sepi sekali. Kadang kalau dipikir percuma
saja memiliki rumah sebesar ini tapi sama sekali tak berpenghuni.
Aku
masuk ke dalam. Bahkan rumah ini tak mengganggu istirahatku, masih saja dengan
bentuk yang sama. Tersusun sangat rapi dan tak ada tambahan barang lagi disini.
…jadi memang buat apa aku harus mendapatan
nilai tinggi kalau memang uang dapat membeli segalanya!
.
.
Beberapa
jam kemudian, aku melihat Toma dari arah luar. Dengan keranjang tua nya, ia
mengetuk pintu. Padahal ada bel yang di sediakan di samping pintu.
Aku
berjalan kesana untuk membuka pintu.
“Toma-kun!”
sapa ku dengan senyuman.
Toma
pun menyahutinya. “ini apel untukmu, kamu mau?” berinya. Aku mengambil
keranjang itu dan masuk ke dalam.
Terakhir
aku bertemu Toma itu ketika kelas 1 SMA, kupikir dengan kepintarannya ia bisa
melanjutkan ke sekolah favorite. Tapi ketika saat itu, ia hanya memberitahuku
tentang dia yang tak melanjutkan sekolah karena suatu hal.
Aku
tak bertanya apapun padanya lagi karena mungkin dia punya alasan lain dan
memilih bekerja semenjak itu.
Selama
SMP aku juga termasuk orang yang berbakat, aku selalu bersaing dengan Toma
untuk memperebutkan peringkat pertama. Tapi akhirnya malah jadi seperti ini. Orang
tuaku memaksaku masuk ke sekolah ini. Sekolah yang terkenal popular. Hanya
orang yang pintar saja yang bisa masuk sekolah ini, dan.. ya, dengan dukungan
uang juga.
Saat
itu aku memang percaya, orang yang pintar takkan selamanya bisa hidup bahagia
di masa depan. Iya, dan kita hanya butuh uang untuk itu.
Aku
menatap wajah Toma yang terlihat kusam. Dan beberapa bekas luka di tangannya. Ingin
kubertanya sedikit saja, tapi mungkin itu tak begitu penting untuk ku dengarkan.
Bodoh!
“dimana
kedua orang tua mu? Masih sama?” Tanya Toma
Aku
hanya menganggukkan kepala.
Dengan
tersenyum, Toma kembali bertanya, “bagaimana sekolahmu? Jarang sekali yang bisa
masuk sekolah itu, berarti kau memang lebih pintar dariku. Apakah disana kau
punya saingan sepertiku juga?” bahasnya.
Aku
melihatnya. Yang kemudian ia sibuk mengeluarkan beberapa CD game dan
mengotak-atik televisi ku di ruang tamu.
“anoo…nanti
saja. Sepertinya apel ini enak, aku mungkin akan mencucinya terlebih dahulu di
belakang.” Cetusku mengalihkan pembicaraan. Sambil membawa keranjang aku
mempercepat langkahku menuju dapur.
Aku
tak bisa membayangkan apa yang dilakukan Toma ketika tau aku menjadi seperti
ini.
Tapi,
belajar ataupun tidak, aku masih bisa naik kelas. Mungkin nanti aku juga bisa
lulus, dan segera bergabung dengan kantornya ayah.
…
Aku
mencuci satu persatu apel ini.
Semua
teringat ketika masih SMP beberapa tahun yang lalu. Aku dan Toma selalu belajar
bersama, dan ia selalu tak lupa memberiku sebuah apel. Mungkin saja karena di
dekat rumah kakeknya ada tanaman apel yang banyak sekali.
…tapi aku belum pernah kesana, sih!
Beberapa
saat setelahnya, apel-apel yang sudah kucuci bersih dan kupindahkan ke beberapa
piring itupun segera kubawa keluar.
Aku
melihat Toma yang sudah semangat sekali bermain Game di depan kamera. Dan
ketika melihatku, “yo, Kamiya! Ayo bermain bersamaku!” ulasnya.
Aku
menganggukkan kepalaku dan segera duduk di sebelahnya. Lalu mencoba mengulang
kembali untuk bermain bersama.
Di
tengah permainan…
“aku
iri padamu. Bisa melanjutkan sekolah ke tempat itu. Dari dulu aku ingin sekali
kesana. Hanya saja…” Toma menghentikan pembicaraannya tanpa melihatku. Terlihat
jelas sekali kekecewaan dalam dirinya.
…kenapa kau tidak melanjutkannya? Kupikir kau
masih punya kedua orang tua yang sanggup membiayaimu?
Tapi
aku hanya menjawab sedikit saja, dan tak begitu menghiraukannya.
Kupikir
sejak SMA aku mulai menjadi seperti ini. Aku tak pernah belajar, dan tak begitu
mempedulikan orang lain. Bagiku, bukan urusanku ketika mereka sedang dalam
masalah apapun.
Aku
hanya ingin menikmati hidup yang begini saja..
“Kamiya,
apa manga mu sudah jauh lebih bagus?” Tanya Toma lagi
“ya,
begitulah”
“apa
kamu pernah berpikir menggambar satu buah apel yang kuberikan sejak dulu?”
“eh?
Buat apa?”
Pertanyaan
itu hanya di jawab dengan gelengannya. Dan, “apa kamu benar-benar suka apel?”
tanyanya lagi
“kupikir
itu….”
“jadi
kau hanya suka karena kubawakan, ya? Tidak apa-apa. Aku paham” sahutnya
membantah perkataanku.
Aku
hanya diam dan fokus pada layar televisi.
“di
Kanagawa, kakek hanya membeli apel-apel itu. Menurutnya, aku sangat suka. Ia
tak pernah berusaha membeli buah-buahan yang lain. Awalnya kupikir aku
membohongi kakek. Aku tak suka Apel, ketika kakek membelinya aku selalu membagikannya
padamu. Dan aku hanya memakan separoh dari apel tersebut. Rasanya tidak begitu
kusuka. Kasihan kakek, yang selalu semangat menemuiku hanya untuk memberiku
ini. Tapi ketika kusadari itu hanya membuang uang.. akhirnya akupun memberitahu
kakek untuk tidak membelinya, karena aku tidak menyukainya” jelas Toma
…apel itu di beli? Bukan diambil langsung?
“kamiya,
sejak SMA kamu sudah mulai agak pendiam, ya? Apa kamu punya banyak teman
disana?” tambah Toma sekali lagi
Aku
menganggukkan kepala.
“bisakah
kau jelaskan padaku siapa saja temanmu disana?” Toma menatapku dan menghentikan
bermainnya.
“sudahlah,
nanti saja!” jawabku
“apa
yang kau sembunyikan? Aku tak suka sifatmu yang begini”
Aku
menatapnya perlahan.
“kau
ingin aku kembali seperti dulu? Ceria? Atau rajin belajar?” ulasku.
“kembali
seperti dulu? Apa maksudmu? Jadi sekarang ini kau….”
“aku
sudah muak dengan keadaan seperti ini! Aku benci dengan orang-orang yang hanya
menghabiskan waktu luangnya dengan belajar dan belajar! Bahkan orang yang selalu
mendapat peringkat teratas, belum tentu punya masa depan yang bahagia! Sama
sepertimu! Kupikir kau juga akan masuk SMA terfavorite. Kau selalu mengatakan
itu juga padaku, kan? Tapi kau sendiri tak melanjutkannya! Itu apa? Ayah dan
ibu memaksaku atas kehendaknya masuk ke sekolah yang sekarang. Kami punya uang!
Kami bisa lakukan apapun untuk berada dimana saja. Uang dapat membeli
segalanya! Bahkan sekarang aku punya teman! Semua banyak mengenaliku. Jadi
untuk apa aku belajar lebih rajin kalau-kalau di perguruan tinggi aku hanya
mengikuti kemauan ayah dan ibu. Tidak lulus disana, mereka masih punya uang
agar aku bisa masuk!” bentakku. Aku berdiri dari dudukku.
Melihat
Toma yang hanya menatapku dari bawah sana. Seketika matanya mulai
berbinar-binar. Dan ia tersenyum kembali perlahan.
“sudah kuduga! Uang takkan bisa membeli
segalanya. Kau sudah dibutakan oleh kebahagiaan sesaat. Percayalah, kedua
orangtuamu itu takkan hidup selamanya. Dan ketika kau kehilangan mereka, aku
yakin kau akan menyadarinya!”
Toma
mematikan televisi dan berdiri dari duduknya. Mengambil beberapa CD itu dan
memasukkannya kembali ke dalam tas.
“aku
kecewa padamu, Kamiya. Kupikir setelah lama tak bertemu, kita bisa belajar
bersama lagi dengan apel-apel ini” Toma menyandangi tasnya dan keluar dari
rumahku.
Aku
tak bisa berkutik apapun untuk melarangnya keluar dari rumah.
…apa aku mengatakan hal yang
salah?
…Toma kecewa padaku?
…kenapa?
Keesokkan
paginya di sekolah, aku datang sedikit agak cepat dari biasanya. Kedua headset
masih berbunyi di telingaku. Dengan langkah perlahan, aku mulai menuju kelas
yang terletak di sudut ruangan.
.
.
“akhir-akhir
ini kau jarang bermain bersama kami! Kau terlalu sibuk belajar ya?” suara
bentakkan dari kelas itu tiba-tiba kudengar sedikit keras. Aku menghentikan
langkah kakiku dan bersembunyi di balik sudut pintu.
…Manachan?
“sudah
kubilang, kalau dia masih seperti itu jangan harapkan aku betah bermain bersama
kalian! Kalau kalian ingin terus mendampingi orang bodoh seperti itu, terserah
saja ! aku ingin lulus dan masuk ke perguruan tinggi itu! Aku tak butuh
orang-orang seperti kalian!!”
…Tsumi-chan?
Mereka
membicarakan siapa?
Suara
mereka terdengar begitu keras sekali. Ingin masuk kesana, tapi.. sepertinya tak
ada hubungannya denganku.
Akhirnya
aku memilih tetap mendengarkan musik dan berjalan masuk ke dalam kelas.
“Ohayou”
sapaku sesaat menyapa mereka yang masih baru bertiga di dalam kelas.
“Ohayou”
jawab Tsumichan dengan nada cuek dan mengambil tasnya. Lalu keluar.
“Manachan,
Naochan, kalian bertengkar dengan Tsumichan?” tanyaku menghampiri mereka
Nao
menggelengkan kepalanya. “Anoo…Enma…” ujar Nao
“ya?
Doushita?”
“kalau
kami katakan ini kau takkan marah, kan?” tambah Mana
“marah?
Memangnya kenapa? Mungkin aku bisa membantu? Ada apa?” jawabku sambil tertawa.
“bisakah
kau lebih menghentikan bermain dan cara belajarmu yang santai itu? Bisakah kau
sedikit saja berusaha memikirkan masa depanmu?” sahut Nao
“kami
tau kau adalah orang kaya, tapi setidaknya kau harus berpikir itu semua uang
dari orangtuamu, kan? Apa kau tidak pernah berpikir untuk memperoleh uang dari
hasil jerih payahmu sendiri?” Mana menatapku dengan wajahku sedikit agak takut.
“kalian
bicara apa! Aku tak perlu memikirkannya!” jawabku menepuk bahu mereka dan
kembali ketempat duduk.
…kenapa semua orang sibuk
sekali belajar?
…itu tidak penting, kan?
Aku
membuka lembaran bukuku dan mulai mencoret. Berpikir apa yang orang lain
pikirkan tentang masa depan. Rumit sekali mereka!
Tiba-tiba
aku menerima pesan masuk dari Toma.
“kau
tidak suka apel kan? Cobalah berpikir. Kalau kau tidak suka, segeralah
kembalikan padaku ketika kau menyadarinya! Aku masih di rumah yang dulu”
tulisnya.
…suka apel?
…aku hanya memakannya ketika
kau memberikannya padaku, Toma
Dengan
raut wajah yang biasa saja aku tetap melanjutkan coretanku. Ayah dan ibu takkan
bisa kehabisan uang. Dan kami masih bisa memilikinya untuk keturunan yang
berikutnya.
Aku
anak tunggal dari mereka. Selalu kesepian, dan mereka tak pernah menuntut ku
untuk lebih giat belajar. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan. Kupikir kalau
mereka tak mencemaskan masa depanku, berarti aku masih aman saja untuk beberapa
tahun yang akan datang. Bahkan sampai aku punya keluarga dan anak.
Iya,
masih terlalu cepat untukku memikirkannya!
Siang
ini pertama kalinya ayah menelfonku disaat jam pelajaran. Dengan semangatnya
aku meminta izin keluar kelas dan mengangkat telfon darinya.
“moshi-moshi,
ayah” sapaku lembut
“hari
ini dimana, Enma? Ayah mau mengajakmu dengan ibu ke Shibuya, kau mau ikut, kan?”
“dengan
senang hati, ayah!” balasku
Aku
mematikan telfon itu dan meminta izin pada guru untuk pulang. Karena tak punya
alasan yang jelas, aku hanya mengatakan pada mereka kalau ayahku kecelakaan dan
aku harus melihatnya di rumah sakit.
Setelah
diizinkan itu, aku berlari pulang menuju rumah.
Jarang
sekali ayah mengajakku seperti ini. Tapi belum sampai di rumah, ayah telah
menungguiku di gerbang sekolah. Akupun segera menaiki mobil itu.
“ayah,
sudah lama tak bertemuuu!!” sapaku dengan semangatnya
“iya,
kau masih saja bersemangat ya, sayang?” jawab ayah. Ibu di depan juga melihatku
dengan tersenyum.
Kupikir
memang jarang sekali aku melihat wajah mereka.
“ayah
tumben sekali mengajakku ke shibuya? Ada angin apa, ayah?” tanyaku
“hari
ini ayah mengambil hari libur. Ayah pikir ada banyak yang ingin ditanyakan
padamu, dan kami sangat rindu sekali berkumpul bersamamu, nak”
Aku
mengangguk perlahan. Mobilpun mulai bergerak maju ke depan. Ayah masih sama,
membawa mobil itu dengan kecepatan rendah.
Ditengah
perjalanan, ayah memulai pertanyaannya dengan yang sama dengan Toma..
“bagaimana
sekolahmu, Enma?” Tanya ayah
“etoo…”
aku sedikit berpikir dengan nilai-nilaiku yang mulai jelek itu. Perlahan
melihat ke luar jendela.
“masih
sebagus yang dulu kan? Apapun akan ayah lakukan asal kamu masuk ke sekolah
favorite mu. Ayah ingin kamu punya masa depan yang lebih baik, yang bahkan
lebih baik dari yang kami miliki sekarang” sambung ayah. Aku hanya
menganggukkan kepala dengan sedikit tersenyum.
…ingin punya masa depan yang
lebih baik, bahkan lebih baik dari yang kalian punya?
…rasanya masa depan kalian
itu sudah jauh lebih baik,kan? Ayah, ibu?
Suasana
mobil hanya terdiam. Aku tak berani memulai kata.
“sayang
sekali, ya Toma temanmu itu tidak melanjutkan sekolah? Padahal kalau bisa, dia
pasti bisa jadi pemandu hidupmu, mungkin? Kalian serasi sekali!” tambah ibu. Dan
dilanjutkan dengan tawa ayah.
“ibu
bicara apa? Aku dan Toma hanya dekat karena bersaing nilai!”
“kau
kan bisa lanjutkan ke SMA, harusnya kau bisa lebih pintar darinya. Cari nilai
yang tinggi, agar kau tak bergantung pada kami. Kami takkan bisa hidup
selamanya” ujar ayah
Aku
segera memukul pelan pundak ayah. “ayah bicara apa, kalian bisa hidup lebih
lama kok. Jaga kesehatan saja”
“kadang
orang meninggal bukan karna sakit, kadang mereka juga mengalami kecelakaan dan
disaat itu nyawa mereka ditarik” ibu melanjutkannya.
“ah,
kalian seperti mau pergi saja! Tentu saja, nilaiku selalu baik tiap tahunnya”
jawabku sedikit kesal. Aku menyandarkan diri pada kursi mobil itu. Melihat
keluar jalanan.
Dari
jauh aku terdengar suara yang keras sekali.
…tiba-tiba saja, dan
jantungku berdegup keras. Doushita?
Suara
keras itu semakin mendekat.
Ibu
melihat kearahku. “suara apa itu?” Tanya ibu
Aku
menggelengkan kepala. Gara-gara mendengarkan suara itu ayah mulai mempercepat
kecepatan mobilnya.
“ada
tabrakan beruntun di belakang sana!” ujar ayah
“eh?”
aku membuka kaca dan mengintip keluar.
“Enma,
masukkan kepalamu. Nanti kau kena!” teriak ibu terlihat sangat panik. “ayah,
lebih percepat mobilnya” tambah ibu.
Ayah
menancap gas sangat keras.
Tapi
sesuatu terjadi di depan mataku. Beberapa seng-seng mobil yang terlepas itu
jatuh di depan kaca mobil dan itu mengenai ayah dan ibu. Di depan mataku saat
itu juga aku melihat banyak sekali darah. Ayah kehilangan kesadarannya dan tak
menstabilkan mobilnya. Sehingga mobil tak tentu arah dan menabrak sebuah pohon
besar disudut kota. Mobil kami terbalik dan aku terhimpit oleh bagian-bagian
mobil. Saat itulah aku mulai tak sadarkan diri.
.
“bagimu
! kami ingin lulus dan melanjutkan ke peguruan tinggi favorite kami”
.
“aku
iri padamu. Bisa melanjutkan sekolah ke tempat itu. Dari dulu aku ingin sekali
kesana”
.
“aku
kecewa padamu, Kamiya. Kupikir setelah lama tak bertemu, kita bisa belajar
bersama lagi dengan apel-apel ini”
.
“sudah
kubilang, kalau dia masih seperti itu jangan harapkan aku betah bermain bersama
kalian!”
.
“kau
kan bisa lanjutkan ke SMA, harusnya kau bisa lebih pintar darinya. Cari nilai
yang tinggi, agar kau tak bergantung pada kami. Kami takkan bisa hidup
selamanya”
…apa yang kupikirkan?
…aku tak pernah peka
terhadap kejadian itu
…dan aku baru saja melihat
dengan mata kepalaku sendiri
…darah yang bercucuran dari
kepala ayah, dan dari mulut ibu. Mereka menutup kedua matanya dan seketika
mobil kami terhenti gara-gara sebuah tabrakan itu
…kenapa aku sedih? Mereka
masih selamatkan? Kejadian yang hanya terjadi beberapa detik saja..
Aku
perlahan membuka mataku. Langit-langit ruangan yang putih itu kulihat dengan
mataku yang masih bergoyang karena sinarnya.
Aku
berusaha bangkit dari tidurku.
“akh!
Ittai!” ucapku ketika melihat kaki kananku terasa sangat ngilu sekali.
Lalu
Mana dan Nao berdiri di depanku. “kami turut berduka cita atas apa yang terjadi
padamu” Nao menghapus air matanya yang bercucuran itu dengan tisu.
“ada
apa? Berduka cita atas apa? Aku tidak apa-apa kan?”
“bukan
dirimu, tapi kedua orangtuamu!” bantah Mana
“ayah?
Ibu? Apa yang terjadi dengan mereka!!! Mereka baik-baik saja kan? Dimana mereka
sekarang? Aku ingin bertemu!!!” teriakku. Sontak saja jantungku berdegup
kencang dan terasa panik sekali.
Perasaan
yang tak pernah kurasa itu..
Dan
air mata yang mulai membasahi wajahku. Aku tiba-tiba saja memeluk kedua mereka
dan terisak-isak tangis.
…ayah
…ibu
…daijoubu desuka?
Waktu
pun mulai berjalan. Ketika aku sudah di perbolehkan untuk berdiri. Dan kedua
temanku membimbingku menuju ruangan yang terletak di ujung rumah sakit
tersebut. Aku tak berani berkata apapun pada mereka. Hanya saja ketika di depan
ruangan itu, aku melihat kedua mereka yang telah tertidur lelap dan wajah
mereka tertutupi kain.
Ingin
menangis lebih keras lagi, tapi…
Rasanya
ingin menyalahkan diriku sendiri.
“manusia
itu tak bisa hidup selamanya, kau baru paham, kan?” ucap Nao
Terkadang roda memang
berputar. Aku pun juga tak bisa menyesali keadaan yang terjadi. Hanya dalam
hitungan detik, kecelakaan itu merenggut nyawa mereka berdua. Apa aku salah? Dosa
apa yang kulakukan?
Aku
menggelengkan kepalaku serasa tak percaya dan berjalan pelan mencari tempat
duduk dari ruangan yang tak jauh dari tempat ku berdiri.
Pikiranku
tiba-tiba kosong begitu saja.
Beberapa
jam setelah itu, mayat ibu dan ayah dibawa ke rumah. Semua orang datang
mengunjungi rumahku. Dan termasuk Toma yang datang bersama kakeknya. Aku
melihat wajah semua orang yang tengah berduka. Dengan kaki yang masih di perban
aku hanya duduk melamun di sudut ruangan.
…masih belum percaya apapun…
…apel yang di maksud Toma
waktu itu…
“kau
tidak suka apel kan? Cobalah berpikir. Kalau kau tidak suka, segeralah
kembalikan padaku ketika kau menyadarinya! Aku masih di rumah yang dulu” suara
seseorang di dekatku. Aku melihatnya duduk di sebelah dengan wajah sedikit
tersenyum.
“apa
yang sedang kau pikirkan saat ini? Kau tak perlu menunggu waktu kan? Terkadang
kita pikir hidup ini terjadi selamanya, kan? Kau hanya dibutakan oleh
kesenangan yang terlihat dari kehidupan orang tuamu.” Tambahnya
Aku
hanya diam dan menundukkan kepala.
“dari
dulu, kau juga tak suka apel kan? Kau berusaha menyembunyikannya dariku, kan?”
Toma kembali berbicara
Air
mata yang mulai membasahi wajahku.
“kalau
ingin menangis, menangis lah. Ungkapkan semua yang kau pikirkan saat ini. Aku
yakin arwah mereka masih ada di sebelahmu saat ini” melihat wajah Toma itu,
tangisanku mulai sedikit bersuara dan tiba-tiba kedua tanganku tergerak untuk
memeluknya.
Rasanya
jantungku terasa tersusuk sekali.
Di
saat terakhirnya mereka melihatku masih anak yang sama saat SMP. Aku mencoba
menyembunyikannya. “aku belum sempat membahagiakan mereka! Aku hanya anak yang
menyusahkan!” bentakku
“sudahlah,
penyesalan takkan ada gunanya. Kau masih memiliki waktu dua bulan lagi untuk
lebih rajin belajar. Naikkan nilaimu dan bawa kembali pandangan baik semua
guru-guru di sekolahmu” jelas Toma. Ia melepas genggamanku dan segera pergi.
“kalau aku rajin belajar,
mungkin aku bisa menunjukkan pada ayah dan ibu. Aku bisa membawa kembali
Tsumichan. Berteman baik dengan mereka, dan membuat Toma tak kecewa lagi
denganku…” pikirku.
Sepulang
acara di rumahku, aku segera menemui Tsumi, Mana, Nao dan meminta maaf pada
mereka. “tolong bantu aku di dua bulan terakhir ini!” tambahku.
Mereka
memberikan senyumannya padaku. Dan menganggukkan kepalanya.
Lalu
aku mengambil keranjang apel di dapur. Yang sudah kututup dengan kaleng. Berlari
mencari Toma, dan seketika aku melihatnya di depan gerbang rumahku yang besar.
“Tomaaaa!!”
panggilku
Toma
menghentikan langkahnya, “Kamiya?”
“ini!
Ini apel-apelmu, aku memberikan separoh nya padamu. Sebenarnya….” Aku
menjulurkan tanganku yang memegang keranjang kecil itu dihadapannya
“sebenarnya,
kau tak suka juga, kan? Haha, ternyata kita sama!” tambahnya tertawa. Ia
mengambil keranjangku.
“setidaknya,
berusaha menyukai apa yang tidak kita sukai. Selagi itu pemberian orang lain. Aku
membayangkan senyuman kakek saat tiap hari membeli ini. Dan aku tak ingin mengecewakannya.
Aku berusaha untuk menyukainya. Saat ini, aku menyukainya, lo” jelas Toma
“Toma,
sebenarnya.. semua maksud perkataanmu apa?” cetusku
Toma
terdiam dan menatapiku.
Hal
yang dari dulu ingin kukatakan, ia selalu berbicara hal yang aneh dan aku tak
pernah menanyakannya.
“dari
SD, aku tak pernah menyukai belajar. Tapi semua guru selalu masuk kelas dengan
tersenyum. Ia dengan semangat rela menghabiskan suara nya demi kita. Begadang hingga larut malam demi menilai
semua tugas-tugas kita. Aku tak ingin mengecewakan usaha mereka, karena itulah
aku ingin terus belajar agar mereka bahagia” jelasnya
…aku paham…
“dan..
kalau kau tak ingin mengecewakannya, kenapa kau tak melanjutkannya ke SMA ? apa
karena kau tak sanggup membuat guru-guru itu bahagia?”
“itu…”
Suasana
terhening seketika.
Aku
menatap raut wajahnya yang berubah menjadi menyedihkan.
“setelah
lulus SMP aku juga mengalami keadaan yang sama denganmu. Tapi hanya saja…
orangtuaku bercerai dan ayah menghilang entah kemana. Aku tinggal bersama ibu. Saat
itu, sore hari ibu memasak di dapur dan tak sengaja lupa mematikan kompor. Aku
sedang bersama kakek diluar. Rumah itu terbakar dan aku baru menyadarinya
ketika malam tiba. Aku belum sempat melihat ibu untuk terakhir kalinya” jelas
Toma
“kenapa
kau tak pernah bercerita apapun padaku?”
“karena
ku tau kau takkan pernah mengerti. Sekarang, kau baru menyadarinya, kan? Setelah
kehilangan mereka?”
Aku
menggelengkan kepala, tapi tatapan ku tak lepas dari Toma.
“sukai
apa yang saat ini tak kau sukai. Karena suatu hari pasti akan berguna untukmu!”
Toma melemparkan satu buah apel ke hadapanku. Dan seketika aku menangkapnya,
Toma meninggalkanku dan keluar dari gerbang.
Aku
menatapi apel yang berwarna merah itu. Terlihat sangat manis sekali.
Mungkin
aku baru saja menyadari apa yang selama ini kulakukan sangat bodoh. Banyak orang
diluar sana yang membutuhkan pendidikan, takdir tak bisa membuat mereka
merasakannya.
Harusnya
aku bersyukur masih punya kedua orang tua yang melakukan apapun asalkan aku
bahagia. Aku hanya bisa membuat mereka kecewa, dan sekarang mereka sudah tak
ada lagi.
…aku tak bisa katakan sebuah
penyesalan.
Penyesalan hanya
menjatuhkan. Aku hanya perlu melanjutkan dan merubahnya lebih baik. Aku disadari
atas kejadian ini, dan tak ingin yang lebih buruk terjadi padaku.
“gomennasai
ayah, gomennasai ibu!”
-END-













Tidak ada komentar:
Posting Komentar