Click here for more graphics and gifs!
...日本が大好き、音楽が大好き、アニメが大好き、と僕はJ-loversだった..
...ジャニズJr Fans ♪♪♪


... Disini saya akan mengulas semua yang saya pikirkan :)
Mulai dari seni, musik, dan hal lainnya~ Hanya menulis tanpa berpikir penting atau tidaknya..
jadi, semoga blog ini punya peran penting walau hanya sedikit..
-Thank you to visit my blog-

2013/06/26

One word for the past. It's welcome!

fanfic 2013.06.20

Tiba-tiba saja saya terpengaruh akan pesona anak ini ♫♪♫( ´▽`) entah bagaimana langsung mikir "ah ..anak ini kok keren banget". Padahal dia dua tahun lebih muda. Tapi bagaimana pun saya melihatnya itu bukan anak dibawah umur, tapi teman sebaya. Sampai-sampai seringkali membayangkannya bersama dengan teman yang lain *efek fangirl*
kali ini mau bikin fanfic tentang anak ini, boleh dong ya? iya soalnya akun ini punya saya. Jadi bagaimanapun ini hak saya ya. Yang gak suka, langsung klik close, udah gak usah baca ヽ(˘▽˘)ノ

Ini hanya sepucuk cerita kecil yang muncul dalam imajinasiku..

Oke, yang mau baca ..kita lanjut aja XD



Tittle        : One word for the past. It's welcome!
Genre       : Friend + Romance
Length      : Oneshoot
Cast         : Abe Aran, Mizusawa Sana, Kajiyama Asahi, and other
Author      : Nanahira Ichi

***
    Hari ini seminggu aku berada di rumah. Beberapa tahun yang lalu dimana aku juga berada di kota ini. Tapi ayah membawaku untuk menjalani masa SMA di Hokkaido. Rasanya ketika kembali di kota kelahiran itu sangat menyenangkan.
    Aku tersenyum sendiri di ruang tamu sambil duduk di kursi dengan majalah yang sedang kubaca.

    "POOSSS~~!!" tiba-tiba suara paman pos memecah keheningan di rumah
    "Sora, ada surat diluar. Coba cek!" teriakku pada sepupu sebaya yang saat itu juga sedang dirumah.

    Berkali-kali memanggil namun tak ada jawaban itu, akhirnya aku meletakkan majalah yang sedang kubaca dan berdiri menuju pintu keluar.
    Aku segera menandatangani surat tanda terima dan membawa surat itu masuk. Kemudian meletakkan diatas meja. "ayah, ibu, Sora, Asaka, itu ada surat. Mungkin untuk kalian" teriakku lagi. Lalu melanjutkan membaca.

    Tak lama setelah itu, adikku Asaka berlari keluar kamarnya dan mengambil surat itu. Dan ketika ia membaca ....."Abe Aran? Siapa ini?" ucapnya. Kata-kata itu membuatku segera menutup majalah dan menatapi surat yang ada ditangan Asaka.
    "Sora-nee, kau kenal Abe Aran?" teriaknya.

    Aku masih terdiam. Jantungku yang tiba-tiba mulai berdetak itu tak bisa mengatakan pada Asaka kalau, "itu surat untukku?"
    "tidak, mungkin buat Ayah atau ibu?" terdengar jawaban dari Sora.
    Asaka segera berlari ke dalam rumah mencari ayah dan Ibu. Aku yang menatapi Asaka hanya diam tanpa berkata apapun.

    "surat itu, apa aku baru saja menerima balasan?" pikirku. Mataku tiba-tiba berbinar. Pikiran masa lalu yang mengingatkanku. Seketika beberapa tahun yang lalu dimana aku berusaha untuk membuat surat untuknya dan perasaan yang datang saat itu...

................
4 tahun yang lalu
................
.
.
    "Naka, kenapa masih berada di kelas? Ayo ke kantin" ajak beberapa temanku yang lain.
    "nanti saja" jawabku. Kedua tanganku yang masih bergantungan di kaca jendela.

    Entah bagaimana aku bersyukur sekali berada di kelas ini. Letaknya di paling bawah dan sejajar dengan tempat orang itu biasa bermain-main ketika jam istirahat.
    "ah, masih memperhatikan Aran-kun. Kami duluan, ya? Nanti menyusul" ucap mereka yang akupun hanya mendengar suara.

    Namanya Abe Aran. Dia berada di kelas 9-H. Kelas yang jauh bahkan sangat jauh dari kelasku. Tapi ketika istirahat ia selalu bermain bersama temannya di lapangan ini. Dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memperhatikannya dari sini.

...pulang sekolah

    "Mizusawa Sana-chan!!!" panggil seseorang dari belakang.
    Aku segera menoleh. Terlihat sesosok Kajiyama dengan Aran berjalan menuju kearahku.
    "Naka, kami pulang duluan, ya?" ujar teman-teman dan pergi meninggalkanku

    "doushita, Kajiyama-kun?" tanyaku
    "ah nama panggilanmu Naka?" tanya Kaji balik
    "iya, kenapa?"
    "Mizusawa Sana.. Naka?" Aranpun juga ikut memikirkannya.
    "atau dari nama Sana sebenarnya ada kata 'ka' yang tidak bisa kulihat ya?" solot Kaji
    "eeeh kenapa berpikir seperti itu?"
    "berarti nama lengkapmu Mizusawa Sanaka?" Kaji

    Aku menggelengkan kepala dan melanjutkan perjalanan. Hal yang sedikit mendebarkan itu adalah ketika seorang Abe Aran menyebutkan nama lengkapku di depanku. Ingin menghindar dan berteriak sebisaku di belakang sana. Tapi..
    Sejak kecil aku dipanggil "naka" memang karena aku anak tengah.

    "ah Sanachan!" panggil nya lagi.
    "Kajiyama-kun belum pantas memanggilku dengan sebutan Sana. Panggil aku Mizusawa" cetusku berhenti tanpa menoleh kebelakang. Yang boleh memanggilku 'Sana' hanya Aran, ya?

    Dan seketika aku menghentikan pembicaraan, dua orang dibelakangku segera terdiam.
    "nani?" tanyaku segera melihat mereka
    "anoo Mizusawa Sanachan......." Kaji
    "aaaa? Kamu marah gara-gara aku melarangku memanggil Naka?" teriakku
    "bukan bukan, yang memanggilmu bukan aku. Aran yang seenaknya" tunjuk Kaji kearah Aran yang tiba-tiba membuatku tak berkutik untuk melanjutkan pembicaraan.

    "gomen nasai! Tapi, yoroshiku Mizusawa.." Aran membungkukkan badannya di depanku.
    "yo-yoroshiku onegaishimasuuuu!!!" jawabku dengan nada gugup dan segera berlari meninggalkan mereka.

...kediaman Mizusawa
...03.25am

    "jadi semua itu karena kebodohanmu?" tiba-tiba aku mendengar suara dari rumah.
    Suara sepupuku Sora yang daritadi mondar-mandir di depan kamar. Aku hanya berusaha menutup kedua telinga dengan bantalan dan menatap kesetiap detik jam yang berjalan.

    "ah tapi Naka, kamu bisa bilang padanya kalau kamu tidak suka dipanggil 'Mizusawa olehnya?" tambah Sora membuka pintu kamarku
    Aku segera duduk dan melihatnya. "tapi aku baru saja bilang itu tadi.."
    "berharap saja, Abe Aran adalah sosok yang pelupa" ujarnya lagi
    Terdiam seketika dan aku tak membalas ucapan itu dengan jawaban apapun. Tapi hanya mengangguk sambil berpikir besok ia akan lupa dan memanggilku dengan sebutan Naka.

    "oh iya, ngomong-ngomong kamu benar-benar ingin mengikuti ayahmu pindah kerja ke Hokkaido setelah lulus SMP?" tanya Sora mengalihkan pembicaraan.
    Aku menganggukkan kepala.
    "berarti tidak bisa mendapatkan Aran? Kalau begitu Aran untukku, boleh? Nanti keadaannya akan kuberitahu padamu" tambahnya lagi
    "=_= NNNOOOOoooo" aku menatapi gadis aneh yang sekarang berada didepanku itu. Daritadi Sora selalu mengatakan hal yang membuatku ingin mengunci mulutnya dengan berbagai macam kunci di rumah ini, tapi..

    "tapi kalau misalkan saja aku bisa mendapatkannya satu tahun ini, juga percuma saja" balasku. Aku segera berdiri dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar.

    Sejak saat itu ingin berbicara dengannya, "kamu klub mana?" atau "aku bisa memanggilmu dengan sebutan apa?" atau hal lainnya.
    Aku berada di sekolah yang sama dengan Kajiyama sejak sekolah dasar. Tapi baru di SMP aku bisa sedekat ini dengan Aran. Aran itu adalah tetangganya Kaji. Sewaktu main kerumah Kaji aku sering bertemu dengannya. Dan Kaji selalu memperkenalkan Aran berulang kali di depanku.
    "Mizusawa Sanachan, ini tetanggaku. Aran. Tidak lebih keren dariku, tapi aku ingin kalian lebih akrab" dan Kaji selalu mengulang kata itu berkali-kali ketika masa Sekolah Dasar.
    Tapi Aran itu tipe yang tenang. Ketika ada yang lucu ia selalu mencoba tertawa tanpa bersuara. Kalaupun bersuara ia hanya mengeluarkan sedikit saja. Dan ketika disuruh berbicara, kalau ia tak punya sesuatu yang akan dikatakan ia hanya bilang "ada apa?" dan itu terlihat sangat lucu. 

...esok paginya
...di sekolah

    Pagi yang paling menyenangkan ketika Kaji selalu menemuiku di depan kelas. Dan ia tak pernah lupa untuk membawa Aran bersama. Walau Kaji hanya bilang "Ohayou Mizusawa Sanachan, o genki desuka?" dan ketika aku menjawab dengan anggukan, ia segera pergi menuju kelas.

    "Naka, Kaji perhatian, ya?" tanya temanku, Yuka.
    "dia temanku sejak Sekolah Dasar" jawabku
    "souka~ tapi aku tidak begitu tau kenapa teman sebelahnya Kaji menarik perhatianku. Apa kamu tau namanya?"
    Aku kaget mendengar pertanyaan Yuka. Tapi aku berusaha menganggukkan kepala, "Abe Aran desu!" ucapku.
    "Abe Aran? kawaii. Arigatou Nakachan!" Yuka berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan menuju pintu kelas.

    Hari itu aku berpikir kalau Yuka akan segera menemui Aran, kemudian mengungkapkan perasaannya. "maaf, harusnya aku yang lebih dulu" pikirku.

    Lalu aku berdiri dari dudukku dan menuju pintu keluar kelas. Berusaha melangkah menuju kelasnya Aran. Sesekali ingin melihat yang dilakukan Yuka, tapi pagi itu Kaji menemuiku di koridor. "Ohayou Mizusawa sana" sapanya.
    "ohayou ...dimana Aran-kun?" tanyaku balik
    "Aran? oh tadi dia bersama gadis yang bernama Yuka" jawabnya
    "Yappari!"
    "doushita?"
    "betsuni..."
    Aku segera berbalik arah dan kembali ke kelas.

...di rumah

    "ohayo...konnichiwa..konbanwa.. Abe Aran-kun. O genki desuka? Aku Mizusawa Sana.." ejaku di depan meja belajar sambil menulis beberapa kata-kata diatas kertas.
    Sesekali aku melihat kearah jam dinding.
    Masih menunjukkan pukul 5 sore. Tapi aku masih betah berada di dalam kamar.

    "suki da!" tulisku kemudian. "ah tak mungkin aku menulis kata-kata ini!" gumamku. Lalu menghapus kata yang baru saja kutulis.
    Beberapa minggu lagi sudah kenaikan kelas. Dan kami akan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Kemungkinan besar aku akan melanjutkan sekolah ke Hokkaido. Tempat ayah yang akan bekerja di tahun ini. Yang pada akhirnya akupun memilih untuk membuat sepucuk surat untuk Aran terakhir kalinya.

    Padahal berkali-kali Sora menyuruhku untuk membeli ponsel, tapi aku menolak dengan alasan, "aku tak membutuhkannya". Padahal kalau sudah memilikinya aku akan mudah untuk berbicara dengan Aran. Tapi..

    "ah kalau saja aku menulis ini..."
    "Aran-kun, aku tidak punya ponsel jadi aku harus mengirimi mu surat!" Aku terhening seketika. Lalu kembali menghapus tulisan itu.

    "kalau aku menulis ini, akan terlihat seperti lelucon" ujarku
    Aku segera memasukkan kertas itu ke dalam buku, meletakkan pulpen didalam kotak dan menyandarkan kepala kekursi.

    ...waktu SMP kenapa cepat sekali?
    Intinya aku benar-benar sudah memperhatikannya sejak Kaji memperkenalkannya padaku. Aku tertarik dengan sifatnya yang tenang. Sekalipun ia berbicara ia hanya membantu Kaji berbicara dengan celotehannya. Hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata. Dan suaranya sangat bagus sekali untuk anak seusianya.
    Kalau aku mengirimkan surat padanya, kira-kira apa dia akan membalas dengan berapa kata?. pikirku berulang kali.

    Aku segera menutup mata.

    "aaaa Naka naka naka!" teriak Sora segera membuka pintu kamarku
    "....doushita?" tanyaku
    "daritadi aku mendengarmu di balik pintu! Lagi buat surat, ya?" teriaknya
    "hai~" balasku

    Sora masuk ke kamarku dan menatapiku. "sekarang masih sore, kenapa tidak melihat keadaan luar? siapa tau kau bisa berpikir apa kata yang pantas untuk diucapkan padanya"
    "eh? dari luar?"
    "iya, siapa tau bisa menemukan hal yang baru?" Sora menarikku keluar rumah dan kemudian mengunci ku dari dalam.

    ...sebenarnya surat yang tadi baru kutulis beberapa kata, ketinggalan di dalam buku.
    Tapi pada akhirnya aku melangkah kedepan rumah.

...di taman

    "konban wa penghuni taman~" bisikku  berdiri sambil menatap kearah danau. Matahari sudah hampir tenggelam.

    "kira-kira kalau di saat seperti ini aku melihat matahari tenggelam bersama Aran-kun, apakah akan menjadi sesuatu yang mendebarkan?" ucapku pelan. Aku kembali menidurkan kepalaku diatas pagar tempat ku bersandar. Aku tak membawa apa-apa untuk ditulis, dan kalaupun hari ini ada sepucuk kertas di tanganku, aku takkan bisa menulis sesuatu. Karena kutau itu akan menjadi hal yang sulit.

    Kemudian angin yang menghembuskan rambutku, membuatku segera pergi dari tempat itu. Aku tidak punya ponsel untuk menghubungi siapapun, dan aku juga tidak punya sesuatu yang bisa kupakai untuk berjalan di perkotaan seperti ini.

    Hari ini sekitar pukul 6 lewat 15 menit. Langit mulai tampak gelap, dan beberapa pekerja mulai pulang dengan beberapa kendaraan. Masih berjalan ditepian kota sendirian.
    Saat ini pun masih memikirkan sesuatu yang harus kutulis dalam surat.

    "seperti.. Konban wa Aran-kun, kau tau siapa aku? Orang yang sudah menyukaimu sejak masih di Sekolah Dasar. Aku tau tidak memiliki sekolah yang sama ketika Sekolah Dasar, tapi temanmu yang memperkenalkanmu padaku. Dan .....bzzzzz" Aku terhening kembali. Seketika menggelengkan kepala.
   
    "Atau, aku Mizusawa Sana. Waktu itu pernah membentakmu karena kukira yang memanggilku Sana itu adalah Kajiyama-kun. Aku pikir aku tak ingin dipanggil Sana selain dirimu tapi..." langkahku terhenti. "apa itu tidak terlalu susah untuk ditulis ya?" tambahku. Aku mengepalkan kedua tanganku.

    ...Aku takkan mungkin bisa mendapatkan orang seperti Aran.
    Kemudian ketika aku mengangkat kepala, Aku berhenti pada sebuah komplek. Itu komplek perumahan tempat Kajiyama-kun tinggal. Akhirnya tanpa berpikir panjang, aku melewati komplek itu dan lalu..

    "Mizusawa Sanachan!!" panggil Kaji dari dalam halaman rumahnya
    "beneran, kaji akan memanggilku.." pikirku
    Aku segera menoleh dan melihat kedalam pekarangan. Ada banyak sekali orang di dalam dan terlihat sedang menyalakan api diluar rumah.
    "Nani?" ucapku seketika mencari asal suara
    "Mizusawachan!!" panggil seorang lagi. Aku melihat Aran meloncat-loncat tersenyum mencoba menyamai tinggi nya dengan gerbang rumah itu.

    "nani??" balasku lagi.
    Kemudian Aran Kaji keluar dari gerbang rumahnya.
    "darimana malam-malam begini sendirian?" tanya Kaji
    "etoo..dari taman" jawabku
    "bertemu seseorang?" tambahnya lagi
    "bu-bukan!!" aku menggelengkan kepalaku sambil melihat kearah Aran yang masih tersenyum seperti biasanya.

    Lalu mereka berdua terdiam seketika. Sambil melihat kearahku.
    "Mizusawa Sanachan, jangan pulang jam segini. Bahaya~" ujar Kaji menarik tanganku kedalam
    "maaf tapi seperti aku memang harus pulang" aku menghentikan langkahku. Tiba-tiba Aran melihatku dan membuka mulutnya ingin berbicara sesuatu. Seperti..

    ...jangan pulang dulu, aku mengkhawatirkanmu

    Tapi,
    "hari ini aku buat makanan bersama, mau coba makanan buatan kami?" ucapnya
    "souka.." aku menundukkan kepalaku dan berjalan perlahan masuk ke halaman rumah

    Disana ada banyak sekali orang. Seperti perkumpulan kelas mereka. Ketika aku masuk itu, beberapa orang telah melihatku. Kemudian, "Mizusawa, ya?" mereka tersenyum ramah. Dan aku pun menganggukkan kepala.
    "Mizusawa Sana, perkenalkan ini temanku sejak Sekolah Dasar" Kaji mengeraskan suaranya sambil menepuk pelan bahuku. Akupun segera membungkukkan badan memulai perkenalan.

    Ketika melihat Aran, sepintas mataku melalui seorang gadis.

    ...Yuka ada disini?
    ...disebelah Aran?
    ...doushita?

    Seketika aku tak henti menatapi mereka berdua.Rasanya mendebarkan, bukan. Ini debaran yang menyakitkan.

    "Kajiyama-kun, seperti orang di rumah sedang mencariku, aku harus pulang, ya?" ujarku segera berjalan keluar gerbang.

    "Doushita Mizusawa Sanachan?" tanyanya dengan nada sedikit keras.
    "kau kapan berubah? Sebentar lagi lulus SMP kan? Kau selalu saja takut dengan banyak orang. Padahal aku selalu berusaha bagaimana kau bisa berteman baik dengan mereka!" tambahnya dengan bentakan cukup keras.

    Semua orang terdiam saat itu memperhatikan kami berdua.
    ...bukan begitu..
    ...apa Yuka bisa mendapatkan Aran? Kenapa bahagia sekali?

    "Aku hanya ingin pulang!" jawabku. Masih melihat Aran yang memperhatikanku. Wajahnya terlihat sangat panik.
    Lalu tak lama setelah itu, Aran berdiri dari duduknya. Mengambil mangkuk kecil dan mengisinya dengan makanan yang tertera di depan mereka. Memasukkan makanan dan kuah. Masih panas, Kemudian berjalan kearahku.
    "Kau makan ini dulu, baru pulang. Kupikir rasanya enak. Ini resep buatanku" sahutnya pelan. Wajahnya yang tersenyum itu, rasanya ingin berlari sekencang mungkin untuk menghindar.
    "ayo, makan Mizusawa-san?" tambahnya

    Aku perlahan mengambil makanan itu dan duduk ditempat yang paling ujung. Saat itu suasana mulai kembali heboh seperti tadi sebelum aku datang.

    "makanan ini..." aku menatap kearah makanan itu. Makanan pertama Aran yang diberikan padaku.
    "makanlah" ucapnya tiba-tiba duduk disampingku
    "hai~" Aku mengayunkan sendokku dan mulai mencicipinya.

    ...
    "bagaimana?" tanyanya kemudian
    "oishi? ah pedas? eh asin?" ucapku gugup.
    "apa? Asin? be-benarkah?"
    "bu-bukan tapi..." aku tiba-tiba mengatakan asin karena aku sangat gugup ketika ia melihatku panjang.

    Tapi sebelum aku menjelaskan sesuatu, ia segera mengambil sendok yang ada ditanganku dan, ia mencicipinya.

    ...dia ada di depanku? iya ada didepanku!

    "a-anoo..Aran-kun?" gumamku sedikit
    "ah nani?" ia kembali meletakkan sendok itu dan seketika melihatku.

    Aku tau, aku tau apa yang akan aku tulis di dalam surat. Dan aku harus segera kembali pulang untuk menulisnya. "Aran, aku harus pulang!" aku meletakkan piring tersebut dan berjalan untuk bersegera pulang.

    "Mizusawa Sanachan, mau kuantar pulang?" tambah Kaji
    "tidak usah.." akupun kembali melanjutkan perjalanan

...kediaman Mizusawa
...07.25pm

    "bagaimana dengan kejadian diluarnya, Naka? Aku berusaha menyembunyikan dari ibumu kalau kau keluar jam segini" bisik Sora seketika menemuiku di depan halaman rumah
    "jadi ibu tidak tau kalau aku diluar?"
    "tidak, ayo lewat belakang"
    "oh hai~"

    Sorapun kemudian menarik tanganku ke belakang,
    "bagaimana Naka, aku penasaran?"
    "aku akan menulisnya. Tapi kamu tidak boleh melihat,"
    "kenapa?"
    "kalau nggak dibalas, itu memalukan!" aku berlari menuju kamar dan segera mengunci. Aku mengambil kertas yang tadi sempat kutulis sedikit. Mengambil pulpen dan menghapus tulisan yang tadi.

    Tau apa yang ingin kubuat? Sesuatu yang kupikir Aran takkan pernah membalas nya, tapi..

    "konban wa, Aran-kun. Aku tidak akan memberitahu siapa namaku, karena kuyakin kau akan mengetahuinya. Yang tadi malam itu terima kasih ya. Aku senang :) Selamat atas hubungannya bersama Yuka. Musim panas kelulusan ini aku akan ikut ayah ke Hokkaido karena pindah kerja. Aku tidak punya ponsel untuk menghubungimu. Karena kutau itu tidak penting. Sebenarnya aku ingin berbicara denganmu, tapi kupikir aku tidak bisa. Karena aku hanya menyukai mu sejak sekolah dasar. Jadi, jaga Kajiyama-kun ya? Dia teman terbaikku. Satu lagi, sebenarnya hanya ingin di panggil Sana oleh Aran-kun, tapi aku tidak sadar telah melarangmu lebih awal -_- maaf." aku menutup kertas itu dan seketika melihat jam dinding.

    Masih menunjukkan setengah delapan.
    "kalau aku mengirim surat ini besok, kupikir memalukan. atau aku kirim setelah lulus?" pikirku kemudian. Aku memasukkan kertas itu lagi ke dalam buku dan tertidur diatas meja.

...
beberapa hari setelah itu
setelah ujian datang dan semua siswa sibuk dengan belajar dalam keadaan masing-masing
semua siswa yang sibuk dengan ujian

dan beberapa hari setelah ujian selesai...

    "besok!!" sorakku di depan kamar ketika bangun tidur
    "besok menerima hasil kelulusan!!" jawab Sora menyahuti kata-kataku
    "iya!"

    ...bukan, besok mengirim surat untuk Aran

    dan tiba-tiba suara ibu terdengar dari bawah,
    "Naka, ada Kajiyama mencarimu!" teriak ibu
    "eh Kajiyama?" aku segera berlari kebawah menuju pintu keluar

    "Kajiyama-kun?" ucapku ketika melihat sosok Kaji berdiri sambil tersenyum
    "Aran? tidak ikut bersamamu?" tambahku lagi
    "dia tidak bisa pergi karena ada urusan"

    ...bersama Yuka?

    "ada apa kemari, Kaji?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
    "besok kelulusan! Waktu Sekolah Dasar sering bermain keliling komplek, waktu kelulusan SD juga aku mengajak mu, kan? Bagaimana kalau berkeliling lagi?" ujar Kaji
    "boleh, tapi tunggu sebentar" aku kembali berjalan kedalam.

    "ada Kajiyama diluar ya?" tanya Sora seketika
    Aku mengangguk.
    "wah, dia teman yang baik, ya?" tambah Sora
    Aku kembali mengangguk. Setelah berpakaian rapi aku tak lupa membawa kertas yang kutulis surat untuk Aran. Mungkin aku akan menitipkan pada Kaji setelah pulang nanti.

...11.33am

...beberapa komplek yang kami lewati

    Hanya diam sambil mengikuti kemana Kaji berjalan. Tapi pada akhirnya pun aku memulai pembicaraan.
    "Kajiyama-kun, setelah lulus aku akan ke Hokkaido" ucapku
    "eh? Hokkaido?" Kaji menghentikan langkahnya. "kau bercanda?" dan ia tertawa sambil menepuk pundakku
    "Ayahku pindah tugas, jadi ibu menyuruhku untuk mengikuti ayah"
    "bagaimana kau bisa diluar sana tanpa aku?" ucapnya
    Aku menggelengkan kepala. "Kalau aku bisa mencari teman, kenapa harus bergantung padamu?"
    "tapi, aku khawatir!" tambah nya.
    "Kaji teman yang baik. Tidak apa-apa!" balasku

    Ia kemudian terdiam. Ingin berbicara sesuatu tapi beberapa kata yang tak sanggup ia ucapkan. Akhirnya,

    "ini berikan pada Aran!" sahutku
    "surat? kenapa?"
    "aku tau ini agak... tapi kupikir aku harus menulisnya. Aku tak punya ponsel -_-"

    Dan kajiyama sedikit tertawa mendengar pengakuanku.
    "yokatta, aku akan berikan ini! Ganbatte Nakachan!" ujarnya. Lalu kamipun melanjutkan perjalanan.

    Setelah itu ketika esoknya datang dan pengumuman hasil kelulusan. Aku tidak datang ke sekolah. Aku meminta Sora yang memperlihatkan kelulusan itu padaku. Hari ini aku langsung mempersiapkan diri untuk berangkat esok pagi.
    Sebenarnya ayah sudah duluan berangkat beberapa hari lalu, dan sekarang aku yang harus berangkat sendirian menuju Hokkaido. Aku tak memberitahu Kaji tentang hal ini tapi..

    "kalaupun surat itu dibalas, aku juga takkan bisa membacanya.." pikirku.

    Dan setelah hari itu aku menghilang dan melupakan semuanya tentang Tokyo. Hingga 4 tahun kemudian...

....
....

    "Naka, ini Abe Aran teman SMP mu, kan?" ucap Sora tiba-tiba berdiri di depanku sambil membalikkan surat
    "ah, iya?"
    "tadi aku baca, maaf ya. Ini ambillah" Sora meletakkan surat itu diatas meja dan segera pergi dari hadapanku.

    Dengan cepat aku segera membuka.
    Dan di halaman pertama itu..

    "WELCOME, SANA-CHAN!! \(≧∇≦)/"

    ...yappari! hanya beberapa kata ternyata..
    Aku menutup kembali surat itu dan meletakkan diatas meja.
    Tapi seketika pikiranku berubah untuk membuka surat itu lagi. Dan tau? Ada lembar kedua dihalaman terakhir. Dan ia benar-benar membalas suratku!

    ...Konban wa mo! Tadi malam senang bisa bertemu! Aku sebenarnya ingin bilang "jangan pulang dulu" tapi aku lagi-lagi gugup. Dan padahal semua orang bilang enak, dan aku mau membawakannya besok ke sekolah untuk perlihatkan padamu! Tapi aku kaget waktu kamu bilang rasanya asin. Waktu aku nyoba makanan itu di depanmu, aku berdebar-debar jadi tidak tau bagaimana rasa sebenarnya \(≧∇≦)/ Mungkin beneran asin, ya? Oh ya, aku dan Yuka tidak ada hubungan apa-apa. Kemarin dia bilang "suka" padahal dia itu saudaraku dan aku kenal dia. Lebih panjang lagi sebenarnya. Tapi di depanmu aku tak bisa banyak berbicara padahal di depan yang lain aku tipe yang sama seperti Kaji. Menulis ini pun aku berdeba-debar sih! Ohya, Dari Hokkaido, cepat pulang! Ada yang ingin kusampaikan. Sekian, Abe Aran!...

    Membaca tulisan seperti itu aku ingin tersenyum sendiri.
    Sudah 4 tahun berlalu, dan aku yakin dia pasti menulis ini setelah mendapatkan surat dariku.
    "4 tahun, dan ia masih menyimpan surat itu. Sugoii na~" tambah Sora berdiri dibelakang tempat aku duduk.
    "Sora, kenapa membaca ini?"
    "habisnya tadi tidak ada yang mengaku untuk siapa, makanya kubaca." jawabnya

    "ah, sebenarnya aku tidak sepenuhnya mengatakan asin. Aku hanya gugup -_-" jelasku.
    Aku melipat kembali surat itu.

    "temui Aran sekarang, Naka. Dia mau bilang apa itu?" Sora menarikku keluar rumah.
    Dan sambil tersenyum aku menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kaki. Berharap bisa bertemu dan ia bilang..

    ...aku juga suka!

-END-

2 komentar:

  1. aa Ichi-nee >< ceritanya keren >.<

    tp diakhir2nya itu agak gantung ceritanya OuO
    tp selebihnya udh bagus kok :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang retha pernah baca fanfic ku yang cerita nya diselesaiin belum? :)))))
      lanjutin aja, aku nggak kuat lanjutinnya =w="

      Hapus

Total Tayangan Halaman